FATED TO LOVE YOU - DUA BELAS
Aaron PoV.
Tidak pernah terbersit dalam hidupku akan merasakan perasaan seperti ini. Dan demi Tuhan, bagaimana bisa wanita itu membuatku harus berusaha mengendalikan energi sebesar ini. Aku tidak masalah jika energi itu dihabiskan di kamarku. Diatas ranjang besar dengan tubuh yang saling berhimpitan dan mendengar desahan darinya.
Tapi, sepertinya melihat sikapnya yang seperti itu, aku mulai meragukan. Alana sangat berbeda dari wanita manapun yang pernah tidur denganku.
Charles memberitahuku tepat setelah aku keluar dari ruang rapat dadakan bahwa dia bertemu wanita itu di studio tempat dimana aku memintanya agar mewakili melakukan permohonan maaf sekaligus ganti rugi atas apa yang sudah kulakukan, meskipun aku sama sekali tidak menyesal telah memukul pria yang berani menempatkan tangannya di tubuh calon ibu dari anakku.
Tidak sulit menemukan wanita itu. Charles telah memberitahuku kemana wanita itu pergi dan benar saja. Belum satu jam aku mengantarnya pulang, dia sudah berada di tempat lain, sambil tertawa- tawa dengan kedua temannya yang memberinya tatapan kejam.
Alana bahkan sama sekali tidak mengindahkan sikap kedua temannya itu dan terus menyeret kedua temannya agar berjalan menyusuri seluruh pusat pertokoan.
"Bagaimana bisa kau menyembunyikan semuanya dariku?" Wanita yang kuketahui bernama Jane berseru kepadanya.
Aku sengaja memilih tempat duduk yang membelakangi Alana agar wanita itu tidak melihatku ketika ia memasuki kafe dan benar saja. Dia benar- benar tidak menyadarinya.
"Rasanya kakiku hampir patah karena berjalan seharian." Kulirik dirinya sekilas dan mendapati dirinya memegang sebelah betis dan seketika membuatku mengernyit. Heels?
"Jangan mengalihkan pembicaraan Alana." Jane kembali bersuara. "Sudah sejak tadi aku menahan diri dan membiarkanmu menyeret kami kesana kemari."
"Ya." Suara wanita yang satunya ikut menambahkan. "Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau mengenal Aaron Bass?"
"Aku memang tidak mengenalnya." Sanggah Alana.
"Tapi dia ayah dari anakmu."
"Aku tahu tapi itu tidak penting."
Tidak penting?
"Apa maksudmu tidak penting?" Jane bertanya. "Apa dia menolak bertanggung jawab? Tidak... Tidak. Melihat sikapnya kemarin, aku meragukannya."
Jeda sesaat dan aku berani bersumpah ada hal lain- yang mungkin tidak akan kusukai yang akan segera terjadi.
"Aku tidak berniat melahirkan anak ini."
A-ap...?
"Aku akan menggugurkannya."
Cukup sudah!
Aku berdiri dari tempatku duduk dan melihat baik Jane dan temannya yang satu terbelalak ketika melihatku.
"Apa kau sudah selesai disini, sayang?" Tanyaku mencoba agar tidak segera merenggut tangannya dan menyeretnya keluar.
"Mr. Bass?"
Jadi dia kembali dengan urutan Mr. Bass? Baiklah.
"Apa yang anda lakukan disini?" Keningnya berkerut dan memandangi kedua temannya dengan bingung.
Bukankah wanita ini sangat lucu? Belum dua puluh jam kami berciuman dan dia sudah kembali menjadi orang yang sama sekali berbeda.
"Aku kesini untuk menjemputmu." Kusunggingkan senyumku, meraih tangannya agar kukecup. "Aku merindukanmu, sayang."
Sekali lagi kedua matanya mengerjap.
Aku segera berpaling dari wajah Alana dan melihat kedua wajah temannya yang masih terlihat bingung.
"Maafkan aku. Kuharap aku tidak menganggu acara kalian."
"Oh tidak... Tidak..." Seru wanita yang tak kukenal sebelum dia menyadari kesalahannya dan berdiri agar bisa berjabat tangan denganku. "Aku Jessi. Sama dengan Jane, aku juga sahabat Alana."
Aku mengangguk. "Senang bertemu denganmu, Jessi." Kataku membalas uluran tangan wanita itu dan melihat wajahnya yang merona. Alana jarang terlihat merona jika bersamaku. Satu hal yang membuatnya berbeda dari wanita kebanyakan.
"Kurasa aku bisa pulang sendiri." Aku berpaling dan menyadari jika Alana memberiku tatapan penuh kejengkelan itu lagi. "Kau tidak perlu repot- repot."
"Aku tahu tapi aku menginginkannya." Balasku. "Terlebih lagi, aku sudah merindukan anakku. Bagaimana keadaannya?" Tanyaku langsung menyentuh perutnya dengan sebelah tanganku dan mendengarnya terkesiap. Perutnya terasa sedikit menonjol di tempat aku menyentuhnya dan sedikit tergugah menyadari ada bagian dalam diriku disana.
"Aaron..."
Aku mendongak. "Ya?"
Dia terdiam lalu menghembuskan napasnya. "Aku akan menemui kalian besok." Ujarnya pada kedua temannya yang dibalas dengan anggukan kepala dari keduanya.
"Sampai besok, Alana." Kata Jane sembari mencium kedua pipi Alana secara bergantian dan diikuti oleh Jessi.
Alana sama sekali belum mengeluarkan sepatah kata pun dan berjalan menuju mobilnya ketika aku menarik tubuhnya tepat setelah dia membuka pintu mobilnya dan menyeretnya ke kursi disamping kemudi.
"Hey, apa yang kau lakukan?!" Hardiknya mencoba melepaskan diri.
"Aku akan mengantarmu."
"Aku tidak perlu diantar."
Tahan dirimu... Tahan dirimu...
"Apa kau berniat bertengkar denganku disini? Karena aku juga tidak akan peduli. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Sejenak dia terdiam tapi aku bisa melihat kedua matanya yang melirik sekitarnya dan melihatnya mendesah.
"Kau bisa bicara denganku disini."
"Tidak."
"Mr. Bass!"
Aku mendengus. "Apa sekarang kau ingin memulai hubungan kita dengan saling memanggil Mr. Bass dan Miss. Sparks lagi?" Tanyaku sinis.
Dia terdiam.
"Kita tidak punya hubungan apapun." Gumamnya.
"Aku tidak setuju." Balasku tapi tetap membukakan pintu untuknya. Sejenak dia melihatku lalu kembali menghela napas pelan ketika masuk dan duduk disisi kemudi,
Aku tidak mengerti kenapa sulit sekali memahami wanita disampingku ini. Alana bukan tipe wanita yang biasa kukencani. Alana bukan wanita penurut melainkan wanita keras kepala yang pernah kutemui. Dia seringkali membuat emosiku naik hingga ingin rasanya aku membawanya ke tempat tidur. Hasrat dan emosi yang kurasakan akan lebih baik jika disalurkan ke aktivitas positif yang bisa membuat kami berdua puas. Lagipula tidak mungkin Alana tidak puas, mengingat malam itu kami sama- sama mengerang penuh kenikmatan hingga mendapatkan hasilnya saat ini.
"Dengar," suara Alana membuyarkan pikiranku tentangnya dan menyadari kami sudah berada di depan rumahnya. Wow. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? "Kau tidak perlu repot- repot melakukannya."
"Aku tidak merasa jika aku kerepotan."
Dia kembali menghela napas. "Aku tidak ingin ini terjadi."
Aku mengernyit.
Aku tidak berniat melahirkan anak ini.... Aku akan menggugurkannya.
"Jangan macam- macam, Alana." Tekanku menahan diri. "Dia anakku. Dia adalah darah dagingku dan aku tidak akan membiarkanmu."
Seketika mata Alana berubah tajam dan menusuk. "Aku tidak peduli." Serunya. "Dengarkan aku, kita sama- sama tidak menginginkan ini."
"Oh bagus." Sinisku. "Sekarang kau bisa tahu apa yang kuinginkan?"
Dia mengibaskan sebelah tangannya, seakan tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan. "Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban darimu." Setelah itu dia beralih dan membuka pintu mobilnya dan keluar sebelum aku bisa bereaksi.
Sialan!
Kubuka pintu mobilnya juga dan langsung merenggut lengannya. Menghentikan sebelum dia berjalan terlalu jauh.
"Apa yang kau lakukan?!" Rontanya,
Tuhan! Apa yang kau pikirkan ketika menciptakan makhluk pemarah tapi juga cantik ini?
"Aaron!"
"Bagus! Kenapa harus membuatmu marah dulu agar kau bisa memanggil namaku?"
"Dasar sinting! Lepaskan aku!"
Aku tidak tahan lagi. Kutarik tubuhnya tapi berusaha agar tidak terlalu kasar. Biar bagaimanapun aku tidak mau terjadi sesuatu padanya dan juga anak dalam kandungannya.
"Aaron! Ap-" kuraih bibirnya dengan bibirku dan menahan kepalanya dengan sebelah tanganku.
"Hentikan! Orang- orang akan melihat kita." Sahutnya disela aku menciumi lehernya. Dia mengejang karena sensasi yang kuberikan dan itu semakin membuatku berhasrat akan dirinya.
"Aaron... Ahh," kedua tangannya memegang erat kerah kemeja yang kukenakan dan aku kembali mengarahkan bibirku ke bibirnya. "A-Aaron... Aku... Kau...."
"Ya, sayang. Apa yang kau inginkan?" Aku tidak masalah jika harus bercinta didalam mobilnya.
"Kau gila."
Aku terkekeh. "Ya. Aku gila karenamu." Balasku semakin memperdalam ciumanku di mulutnya. Dia memang terasa sangat manis. "Tinggallah denganku." Aku tidak tahu apa yang merasukiku ketika mengatakannya. Maksudku aku memang menginginkan dirinya tapi mengatakan untuk tinggal bersama bukanlah sesuatu yang kurencanakan tapi meskipun begitu, aku juga menyakininya.
Berbeda denganku. Alana tampak seperti baru mendengar malaikat kematian menghampirinya. Matanya membelalak karena terkejut.
"Apa?"
"Tinggallah denganku." Kataku merengkuh kedua tangannya dan menciumnya secara bergantian. "Aku ingin kita membentuk sebuah keluarga."
Aku tidak tahu apa yang salah tapi kedua matanya semakin terbelalak lebar.
"Kau. Aku dan calon anak kita." Lanjutku mengarahkan tanganku kembali ke perutnya. "Aku juga ingin melihatnya berkembang." Lalu aku menunduk agar bisa mencium perut Alana. "Hai malaikat kecilku disana. Ini daddy. Apa kau bisa mendengarku?"
Alana kembali terkesiap dan tanpa bisa kucegah dia mundur beberapa langkah dariku.
Mendadak aku bingung dengan sikapnya sekarang dan kembali menegakkan diri. "Sayang?"
"Alana?"
Aku dan Alana sama- sama berpaling dan melihat seorang wanita paruh baya yang tak kalah cantiknya dengan Alana berdiri di depan pagar rumahnya dan sedang menatapku dan Alana secara bergantian.
"Kau... Hamil?"
Entah bagaimana Alana seperti berhasil mempertahankan kedua bola matanya agar tidak keluar dari rongganya ketika sedetik kemudian aku mendengar suaranya yang nyaris seperti kucing tercekik.
"Mom..."
***
Comments
Post a Comment