FATED TO LOVE YOU - DUA DUA

Alana PoV.

Aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan tapi dari raut wajah serta tangan yang terkepal. Aaron sepertinya tersinggung dengan apa yang dikatakan dad padanya. Cih! Seperti aku peduli saja.

Di sisi lain, aku juga tidak mengerti dengan apa yang ada dibenak Aaron. Kami pulang dari rumah dad kembali ke apartemenku tapi entah kenapa hubungan diantara kedua pria yang tadinya tampak seperti bersitegang itu menjadi layaknya air yang kembali tenang.

Aaron tidak mengatakan apa- apa tapi jelas terlihat di wajahnya kalau dia lega. Tenang dan seakan baru saja memenangkan tender yang sangat besar. Apa mereka tadi membicarakan pekerjaan? Tapi tidak terlihat ada kertas diantara mereka. Jadi kenapa ini seakan mengangguku?

Sebentar lagi aku akan melahirkan. Syukurlah. Aku juga tidak sabar menantikan kehadiran malaikat kecilku ini. Seperti apa wajahnya. Apakah akan mirip denganku? Oh semoga saja mirip denganku. Akan jadi sisi yang terombang- ambing untuk diriku jika mirip Aaron. Karena itu berarti aku semakin tidak bisa melupakan wajah Aaron jika ada tiruannya yang nanti muncul.

Aku tidak mau... Entahlah. Aku hanya tidak yakin dengan apa yang kurasakan padanya. Aku jelas menginginkan dia berada di dekatku tapi aku juga tidak boleh memaksakan kehendak. Bagaimana jika pada akhirnya dia menyadari kalau dia tidak mencintaiku melainkan hanya ingin bertanggung jawab atas bayi yang masih berada dalam kandunganku.

Oh! Aku mencintainya tapi cinta tidak bisa dijadikan patokan. Lihat saja, mom dan dad. Mereka awalnya mengatakan saling mencintai tapi apa yang terjadi selanjutnya? Mereka akhirnya menyadari kalau apa yang terjadi hanya sekedar tanggung jawab. Dan ini semua karena aku.

Setidaknya aku sudan bertahan sejauh ini. Aku pasti bisa melakukannya. Bukankah itu yang selama ini kulakukan? Mengurus hidupku dan bertahan untuk kehidupan selanjutnya jadi kenapa sekarang aku mulai...

"Berhentilah memikirkan hal- hal yang tidak penting, Alana."

Kudongakkan kepalaku. Akhir- akhir dia sering pergi. Entah apa yang dia urus dan itu juga melibatkan dad.

Aaron seperti biasa terlihat sangat kelelahan. Bukan berarti aku memperhatikan tapi sulit rasanya memalingkan wajah jika dia juga sangat tampan meskipun yah, itu tadi sangat lelah. Sialan! Apa yang baru saja kupikirkan?

Aku berdehem pelan sebelum menanyakan apa maksudnya ketika dia berjalan. Satu hal yang akhir- akhir ini sering ia lakukan adalah mengecup perutku yang semakin membesar setiap harinya lalu terakhir mengecup keningku.

"Ketika kau memikirkan sesuatu yang rumit-" dia menyentuh kedua alisku, mengelusnya dengan lembut disana."- akan tercipta kerutan- kerutan samar yang sejujurnya tampak mengerikan dan aku ingin menciumnya untuk bisa menghilangkannya." Dan dia benar- benar menyentuh masing- masing alisku, membuatku menahan napas karena dirinya.

Setelah selesai. Aku semakin terhanyut dalam tatapannya lalu aku merasakan dia yang mencium sebelah pipiku.

"Aku akan mandi dulu." Dan dia pergi meninggalkanku yang melonggo karena sikapnya.

Letak kamar mandi berada di dalam kamar jadi jika ia mandi maka dia juga harus masuk ke kamarku dan jujur setiap kali kami berpapasan disana. Aku merasa seperti gravitasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Pernah suatu kali, aku melupakan sesuatu di dalam kamar dan melupakan dia yang sedang mandi. Dan ketika pintu kamar mandi terbuka dan hanya menampilkan dirinya dengan balutan handuk yang melilit sebagian pinggangnya. Aku terkesiap. Benar- benar terkesiap seperti gadis perawan melihat tubuh setengah telanjang miliknya dan seperti pemanasan global yang semakin merajalela. Aku kepanasan dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan cuaca di luar.

Aaron masih setia tidur di sofa, yang sebenarnya ikut kusesali. Pasti tubuhnya luar biasa sakit dengan sofa yang tidak nyaman itu tapi Aaron keras kepala. Alih- alih menuruti permintaanku untuk pergi dari apartemenku. Dia mengambil semua barangnya yang berada di hotel dan memindahkannya di sini.

Ketika dia keluar dari kamar mandi. Dengan kaos dan celana di bawah lutut. Lucu sekali bagaimana dia bisa terlihat sangat jauh berbeda dengan setelan mahalnya dan kaos yang sekarang dikenakannya. Tapi biar bagaimanapun dia masih tetap saja tampan. Membuat jantungku berkeliaran kesana- kemari dengan riang gembira, seakan memaksaku untuk menyentuhnya atau mungkin... Melepaskan kaos itu dari tubuhnya dan melihat perutnya hasil latihan yang selalu dilakukannya.

Sialan. Aku harus pergi dari sini sebelum sisiku yang lain mengambil alih.

Kau benar- benar payah, mom.

Aku mengerang bahkan anak dalam kandunganku pun seakan ikut mengipasi gairahku.

Aku sengaja berlama- lama berada di dalam kamar mandi. Berharap Aaron langsung tidur di sofa seperti yang biasa dilakukannya hingga aku tercengang. Sofa itu kosong dan Aaron berada diatas tempat tidurku dengan tangan yang dipakai untuk menyanggah kepalanya.

"Apa yang kau lakukan disana?" Aku menanyainya dengan marah.

"Tidur." Dia menjawab santai bahkan kelewat santai di mataku.

Kuhampiri tempat tidur dan menyibak selimut yang menutupi kakinya,

"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain merecokiku disini?"

Dia mengangkat sebelah alisnya dan aku menguatkan diri untuk tidak terpengaruh. "Punya."

"Dan?"

"Dan itu memiliki hubungan yang sangat erat denganmu. Oh. Aku memang ingin merecokimu, sayang." Dia meraih tanganku, menggenggamnya disana dan aku sulit berpikir. "Sungguh mengherankan kau baru menyadarinya."

Kusentakkan tangan yang digenggam olehnya tapi alih- alih terlepas. Aku justru seketika berada dalam pangkuannya. Eh kapan dia bergerak?

"Jadi kau tidak akan menyerah?" Tanyaku menahan debaran jantungku yang menggila.

"Sama sekali tidak pernah terpikir olehku." Dia menarikan jari- jarinya di atas perutku sementara napasnya seakan menggelitik leherku. "Kau wangi. Kau selalu wangi."

"Itu karena aku baru saja mandi." Tukasku

Dia tertawa. "Benar juga. Sepertinya kita tidak pernah mandi bersama."

Oh sial! "Aku memiliki banyak persedian air jadi tidak perlu menghemat air."

Lagi- lagi aku mendengar suara tawanya. "Hm," dia mengecup leherku naik turun.

Oh Tuhan.

Kupejamkan mataku, menikmati sensasinya.

"Aaron?"

"Ya, sayang."

"Jika kau tidak ingin kutendang keluar dari sini, sebaiknya kau bersikap baik."

Dia terdiam dari menciumi pundakku lalu kemudian aku mendengar suaranya yang tertawa.

"Ah, aku mengerti." Ucapnya melepaskanku dan berbaring lagi.

"Maksudku kau kembali ke sofa, tempatmu selama ini tidur." Geramku.

"Aku sungguh kelelahan, Alana. Ada banyak yang harus kukerjakan begitupun dengan besok pagi. Tidak bisakah aku merasakan kenyamanan satu malam sebelum kau menyiksaku lagi dengan sofamu itu?"

Aku mendesah. Dia benar. Aaron pasti sangat tidak nyaman berada disana.

"Baiklah. Aku yang akan tidur di sofa."

Sebelum aku bergerak, mendadak Aaron bangun dari tidurnya dan menatapku dengan marah.

"Pikirmu apa yang kau lakukan?"

Hah?

"Kau tidur disini." Dia menarikku dan menidurkanku di atas tempat tidurku.

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau bilang kau tidak nyaman berada di sofa?"

"Bisakah kau minggir sedikit?" Tanyanya. Aku mengangguk, menuruti perkataannya. "Apa itu posisi ternyamanmu?" Masih dengan bingung. Aku menyamping, aku tidak bisa tidur terlentang dengan perut yang membesar seperti ini. Jadi posisi nyamanku adalah dengan menyamping dengan beberapa bantal yang kutempatkan di bawah perutku dan pahaku.

Aaron menyunggingkan senyum sekilas dan sebelum aku bisa mencerna apa yang dilakukannya. Dia membawa tubuhnya ikut berada diatas tempat tidur dan memelukku dari belakang.

"A-apa yang kau lakukan?" Tanyaku gagap karena intimnya posisi kami sekarang.

"Memelukmu."

"Kurasa ini bukan ide yang bagus."

"Tenang, sayang." Aku terkesiap ketika menyadari tangannya yang menyentuh perutku juga- seakan Aaron memeluk kami berdua. "Kita hanya akan tidur."

"Tapi..."

"Shhh." Dia makin merekatkan tubuhnya di belakangku. "Ah, rasanya melegakan bisa meluruskan tubuh seperti ini."

"Kau seharusnya tidak perlu repot- repot tinggal disini."

"Dan melewatkan setiap pertumbuhan anakku?"

"Dia bahkan belum lahir."

"Tapi bahkan belum lahir pun dia sudah menunjukkan kalau dia memang nyata."

Kuhembuskan napasku sekali lagi. Aaron sangat senang ketika merasakan tendangan bayi kami didalam perutku dan semakin terobsesi dengan itu.

"Aku mencintaimu, Alana." Aku tertegun, merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja kudengar.  "Good night. Have a nice dream, angel" dan itu ditujukan pada bayi kami.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS