FATED TO LOVE YOU - DUA EMPAT

Aaron PoV.

"Kau tahu Aaron, " Alana kembali memulai pembicaraan yang bahkan entah sudah berapa kali dia katakan. Tidak hentinya dia menertawakan aksi konyolnya ketika kami berbelanja di supermarket kemarin dan mengulangnya setibanya kami di rumah. "Harusnya tempat itu memberikan tanda, yang mana letak paprikanya jadi aku tidak perlu bersusah payah mencari letaknya." Lalu kedua matanya mengernyit. "Dan hei, bukan salahku kalau aku tidak melihat apa yang ada didepanku, iya kan?"

Aku mengangguk. Sejak kematian Rianna, Alana menampilkan sikap aneh. Dia tidak menangis ketika melihat mayat ibu kandungnya, hanya sesekali menatap Rianna dengan ekspresi dingin yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Alana hanya diam semalaman dan ketika pagi hari, dia mulai tertawa dan tersenyum seperti tidak terjadi apa- apa. Tapi siapapun yang melihatnya dan mengenalnya pasti akan merasa kalau ada yang aneh dengan diri Alana. Bahkan Jimmy, yang adalah ayah dari Alana tidak tahu harus berbuat apa. Alana seperti membentengi dirinya dengan dinding tak kasat mata.

Rianna meninggal akibat kecelakaan jalan raya. Kemungkinan ada sebuah mobil yang melaju kencang yang mengarah kearahnya dan Rianna tidak bisa menghindarinya. Rianna sempat mengalami koma selama dua hari sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir.

"Ah, aku lapar lagi." Alana melepaskan genggaman tanganku dan tangannya, beralih menuju dapur.

Jujur, aku menyukai dirinya yang sering tertawa dan tersenyum tapi entah mengapa kali ini aku tidak menyukai tawa dan senyum yang dilontarkannya. Ini membuatku merasa jika dia menghindariku. Tubuhnya memang berada di dunia tapi jiwanya sepertinya tidak berada di tempat yang sama dan itu membuatku semakin marah.

Marah karena dia masih ingin menjaga jarak dariku.

Marah karena dia tidak mempercayai perasaanku padanya.

Dan marah karena aku tidak tahu harus berbuat apa.

Apa yang kau pikirkan Alana sayang?

"Jaga dia, Aaron. Dia mungkin selalu menampilkan sikap acuh tapi dia menyayangi ibunya, lebih daripada dia menyayangiku sebagai ayahnya. Terlepas dari apa yang sudah kami perbuat dulu,"

Itulah kali terakhir aku bertemu Jimmy Sparks sebelum dia dan Mayu kembali ke Jepang.

Jika Alana yang dulu kukenal akan secara langsung menolak keinginanku agar kami pindah ke rumah yang dulu sudah kupersiapkan. Ketika aku menyampaikannya minggu lalu, tanpa banyak bicara disertai perdebatan yang cukup panjang. Alana langsung mengemasi barang- barangnya dan tinggal bersamaku. Dia bahkan tidak menolak ketika dengan bercanda aku mengusulkan agar kami tidak pisah kamar. Sesuatu yang bahkan sama sekali tidak kuduga akan mendapatkan persetujuan darinya.

Dan sekarang, aku bahkan tidak tahu lagi yang mana lebih kusukai. Alana yang penurut dan tidak banyak perdebatan didalamnya atau Alana yang dulu, yang meskipun selalu membuat urat syarafku seperti tercerai berai karena kekeras kepalaannya tapi ada saat dimana aku cukup terhibur dengan sifatnya yang seperti itu.

"Sayang?"

Hening.

"Alana?"

Sama sekali tidak ada jawaban.

Kemana dia? "Alana?" Kulangkahkan kakiku menuju dapur dan sama sekali tidak melihat sosoknya berada disana. Apa dia tertidur di kamar? Pikirku tapi setelah membuka pintu kamar. Dia juga tidak berada disana. Hanya samar terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Apa dia sedang mandi?

"Alana, kau didalam?" Kuketuk pintu kamar mandi dari luar dan hanya keheningan total yang membalasku. "Alana?" Jantungku berdebar kencang di setiap detiknya, biar bagaimanapun Alana sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya di dalam. "Alana, jika kau tidak membalas ucapanku, aku akan langsung masuk!" Ancamku tapi bahkan suara sedikitpun nyaris tidak terdengar,

Persetan! Biar saja dia marah jika aku melihatnya tanpa busana. Toh, aku sudah pernah melihat tubuhnya dan tertegun ketika apa yang kulihat tidak sama dengan apa yang kupikirkan.

Alana berdiri dibawah pancuran air dengan tubuh yang masih berpakaian lengkap. Bibirnya sudah mulai berubah warna dan matanya... Tunggu, apa dia baru saja menangis? Tidak. Dia masih menangis tapi Alana sama sekali menahannya agar isak tangisnya tidak keluar.

"Sialan, Alana! Apa yang kau pikirkan?!" Kuhentikan pancuran air dan menarik sebuah handuk, "Kau menggigil." Tambahku ketika menutupi tubuhnya dengan handuk. Dia tidak berkomentar dan tidak juga menolak ketika kulepaskan baju yang dikenakannya dan menghela napas. Aku benar- benar tidak mengerti dengan dirinya.

"Ah, Aaron." Seperti baru saja melihatku. Dia menyunggingkan senyum yang sejak beberapa hari ini selalu ditampilkannya dan itu semakin membuatku muak.

"Hentikan!"

Senyumnya lenyap, digantikan dengan tatapan bingung darinya.

"Apa kau sudah tidak menyukaiku lagi?"

"Apa?" Kali ini gantian aku yang memberinya tatapan bingung. "Apa yang kau katakan?" Kuangkat tubuhnya yang berbalut handuk menuju tempat tidur kami.

Dia menghela napas pelan, setelah aku menempatkannya di sisi ranjang sementara aku mengambil pakaian baru untuknya. Aku juga perlu mengganti pakaianku yang basah karena mengeluarkan Alana tadi dan langsung membukanya tepat dihadapan Alana. Alana tidak mengernyit atau memperlihatkan raut wajah kesal yang dulu diperlihatkannya setiap kali aku membuka baju dihadapannya.

"Kau memiliki tubuh yang bagus." Aku mendengarnya berguman dan menyadari kalau dia membandingkan tubuhnya dengan tubuhku.

Aku mencoba untuk tidak mengeluarkan tawa geliku karena sikap yang ditunjukkannya dan mendekatinya.

"Kau sempurna, sayang." Kataku.

"Aku seperti paus."

"Tapi paus yang sangat seksi."

Dia terdiam, mengarahkan matanya tepat ke mataku. "Tidak ada paus yang seksi, Aaron."

Aku tersenyum, sembari menimpalinya. Kudekap pipinya yang luar biasa berisi. Bahkan dengan semakin bertambahnya hari. Alana semakin cantik dan menggemaskan. Dalam hati aku bertanya- tanya. Butuh berapa lama untuk membuatnya hamil lagi nanti. Jelas Alana tidak akan suka jika aku membuatnya hamil setelah tiga bulan dia melahirkan.

"Tapi paus yang ini berbeda." Kusentuh lekuk bibirnya dengan ibu jariku, mencoba merasakan teksturnya. "Kau sangat sempurna, sayang dan semakin sempurna karena kau mengandung anakku. Anak kita."

"Kau akan berubah pikiran setelah anak ini lahir?"

"Apa maksudmu?" Tanyaku menghentikan usapanku darinya dan menatapnya heran.

"Aku sudah mengalaminya."

Apa?

"Apa yang kau rasakan saat ini hanya karena kau merasa bertanggung jawab atasnya. Anak ini."

"Apa yang kau bicarakan?"

"Dan aku tidak ingin kau merasa seperti itu."

"Alana! Hentikan. Kau tidak tahu apa yang kau katakan." Amarahku kembali menggelegak. Dari semua yang kutunjukkan padanya. Dia menganggap bahwa semua itu hanya karena tanggung jawab? Demi Tuhan! Bisakah aku membelah otak wanita yang kucintai ini dan mencari tahu apa yang ada didalamnya.

"Dia bersikap kejam padaku." Aku terdiam. Apa yang ingin dia katakan?. "Dulu dan sekarang."

"Sayang?" Panggilku lembut seraya menengadahkan wajahku agar melihatku. Tapi meskipun matanya melihatku tapi tatapan itu kosong.

"Dulu," sahutnya pelan. "Dulu sekali aku ditinggalkan karena mereka berdua menganggapku sebagai tanggung jawab. Tanggung jawab karena aku mulai muncul kehadirannya di dunia ini. Tanggung jawab untuk sebuah nama belakang. Tanggung jawab karena..."

"Shh," aku sudah tahu ceritanya. Jimmy sudah menceritakan semuanya ketika aku berada di Jepang.

"Mereka meninggalkanku." Lanjut Alana, sama sekali tidak mendengarkan apa yang tadi kukatakan. Seakan dia berbicara dengan dirinya sendiri. "Mereka meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun kearahku, seakan aku hanya bagian dari perabot rumah. Lalu salah satu dari mereka meninggalkanku lagi untuk kedua kalinya. Tidak ingin melihatku, bahkan jika itu untuk yang terakhir kalinya." Air mata Alana mulai mengenang. "Tidak seorangpun yang mencintaiku. Bahkan ibu kandungku pun, orang yang melahirkanku ke dunia ini sama sekali tidak menaruh perhatian padaku, dia tidak mencintaiku dan terus menyakitiku dengan sikapnya."

"Shhh, sayang."

"Tinggalkan aku." Kedua mata itu menatapku dengan penuh makna. "Lepaskan aku sebelum aku semakin mencintaimu."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS