FATED TO LOVE YOU - DUA LIMA
Alana PoV.
Aku tidak ingat apa yang kukatakan pada Aaron waktu itu. Ketika sadar, tahu- tahu aku sudah berada diatas tempat tidur dengan dirinya yang memelukku dari belakang. Setahuku aku tidak pernah memberinya akses untuk menyentuhku setelah di Jepang dulu.
Tunggu, apakah aku sudah melakukan sesuatu yang tidak- tidak? Tapi mana mungkin. Aaron tidak mungkin mengambil kesempatan dalam setiap momen, iya kan? Bahkan sekalipun aku memang menginginkannya tapi aku pasti tahu apa yang sudah terjadi.
Lepaskan aku sebelum aku semakin mencintaimu.
Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Apa aku baru saja menyatakan perasaanku padanya? Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Pasti ada yang salah dengan otakku kala itu.
Apa Aaron menganggap itu sebagai sebuah pernyataan cinta?
Semoga tidak. Karena aku tidak mengatakan padanya kalau aku mencintainya kan? Setidaknya secara tidak langsung.
Dan ngomong- ngomong, kapan dan bagaimana aku bisa berada di rumah ini? Rumahnya memang indah dengan pekarangan yang luas. Sangat cocok jika nanti anak kami bermain disini.
Anak kami?
Sebenarnya ada apa denganku?
Aku pasti sudah gila karena mulai mendekati hari persalinan. Kata dokter dalam minggu ini. Kuharap tidak terlalu menyakitkan tapi kata orang akan terasa sakit ketika pertama kali. Apakah harus begitu?
Dad muncul beberapa hari yang lalu dan memberiku surat yang ternyata sejak dulu ingin diberikan padaku. Surat itu adalah surat terakhir yang dikirimkan mom sebelum kecelakaan naas itu. Didalam suratnya, mom mengatakan kalau dia tidak pernah menyesal dengan kehadiranku di dunia ini dan menurutnya aku adalah bintang kehidupannya. Diam- diam mom dan dad juga berkonspirasi dalam menjagaku. Selama aku menjadi model, tidak terhitung berapa banyak kontrak yang kubatalkan karena merasa tidak menyukainya. Ada banyak alasan. Entah karena bosnya yang sangat gatal hingga ingin kugaruk menggunakan linggis atau dengan perasaan hatiku yang kadang kala naik turun dan semakin mengerikan ketika siklus bulananku datang. Tapi diatas itu semua, yang memberikan ganti rugi karena seringnya aku membatalkan kontrak adalah mom.
Aku menangis, tentu saja karena ternyata selama ini mereka masih peduli padaku meskipun aku juga kesal karena tidak sedikitpun mereka membiarkan aku untuk mengetahuinya tapi setidaknya aku tahu kalau aku bukanlah anak yang tidak diharapkan karena bahkan ibuku ternyata menyayangiku.
Selang beberapa hari aku melahirkan. Sebenarnya lebih cepat dari waktu yang diperkirakan tapi selama anakku baik- baik saja dan tidak kekurangan apapun. Tidak masalah denganku. Aaron memberinya nama Xander Jackson Bass. Untuk nama belakangnya itu masih bisa diperdebatkan. Aku masih belum terikat pernikahan dengan Aaron. Rasanya tidak adil jika dia memberikan nama belakangnya sekalipun Xander juga anaknya.
Xander mirip dengan Aaron, warna mata dan rambutnya. Menjengkelkan memang karena itu membuat perasaanku menjadi limbung karena setiap kali melihat Xander, aku juga mulai membayangkan Aaron.
Tidak ada seorangpun yang mendukung ketika kukatakan kalau aku ingin hidup berdua dengan Xander di rumah yang diwariskan mom padaku, tapi sebenarnya itu hanya alasan saja. Hidup dengan Aaron, tinggal berdua, sekarang menjadi tiga dengan kehadiran Xander membuat perasaanku semakin tidak menentu. Aku mencintai Aaron tapi apakah Aaron juga mencintaiku? Aku tidak mau jika Aaron mencintaiku karena dia adalah ayah dari Xander.
"Sekarang kau bisa berhenti."
Hah?
Kutolehkan kepalaku kearah Jessi dan Jane. Mereka berdua akhirnya kembali padaku atau aku yang kembali padanya. Awalnya tidak mudah membujuk mereka karena aku yang mendadak pergi tapi untunglah mereka sahabat yang setia dan baik hati, meskipun sekarang aku tidak tahu lagi. Mereka lebih mirip sahabat Aaron ketimbang sahabatku karena seringnya mereka membela Aaron dalam berbagai kesempatan.
"Tidak bisakah kau melihat kalau Xander lebih menyukai daddynya dibandingkan kau sebagai mommynya." Jane memberiku tatapan tajam.
"Xander masih bayi. Dia tidak tahu apa yang disukainya."
"Kau ini buta atau apa? Lihat saja jika dia bertemu Aaron. Xander lebih ingin berada dalam pelukan Aaron dibandingkan dalam pelukanmu."
Aku meringgis. Jane benar. Kadang aku heran, apa yang diberikan oleh Aaron hingga anak yang selama ini tumbuh dalam diriku selama sembilan bulan lebih menyukai Aaron dibandingkan aku yang sebagai ibunya.
"Jane benar. " Jessi ikut menimpali. "Anakmu itu menginginkan keluarga yang utuh."
"Kami utuh." Sergahku tidak setuju. "Aku selalu membawa Xander bertemu ayahnya. Kami berbagi pengasuhan."
Jane dan Jessi sama- sama mendengus. "Kau tahu bukan itu maksudku." Kata Jessi. "Memang ada apa dengan Aaron. Menurutku dia pria yang sempurna dan penuh tanggung jawab. Kenapa kau sering menghindarinya?"
"Aku tidak menghindarinya."
"Kalau begitu kenapa kau selalu menolak lamarannya?" Sahut Jane.
"Kami bisa merawat Xander berdua."
"Tidak jika kalian tidak tinggal bersama. Xander bukan bola yang bisa dilempar kesana kemari oleh salah satu orang tua yang masih dengan keras kepala menahan egonya."
"Aku bukannya keras kepala."
"Ya. Kau sangat keras kepala karena tidak mau mengakui perasaanmu yang sebenarnya pada Aaron. Jangan pikir kami tidak mengetahuinya. Kau selalu gugup jika tidak sengaja berhadapan dengan Aaron."
"Aku tidak gugup."
Jane tersenyum. Bukan senyum tulus melainkan senyum yang seakan berniat mencacah kehidupanku.
"Ya. Setidaknya ketika kita melihat Aaron makan siang dengan seorang wanita, kau tidak lantas menusukkan garpumu ke mata wanita itu. Si pemilik restoran juga tidak perlu melihat aksi berdarah di tempat miliknya."
Kukertakkan gigiku. Jujur, ketika melihat Aaron bersama dengan seorang wanita. Rasanya aku ingin menancapkan garpuku kuat- kuat ke payudara besar milik si wanita. Jadi Jane salah kalau aku ingin menancapkan garpuku di mata wanita itu karena posisi tujuanku yang sebenarnya lebih spesifik.
Jane dan Jessi mengantarku tepat di depan rumah Aaron. Seperti biasa, hari ini adalah jadwal Aaron bertemu dengan Xander. Xander semakin montok di usianya yang menginjak enam bulan dan tentunya semakin lengket dengan Aaron. Kuhembuskan napasku panjang. Xander nyaris tidak mengubris kehadiranku jika ada Aaron didekatnya dan hanya membutuhkanku jika dia ingin meminta susu.
Rumah itu terlihat sepi. Agak aneh sebenarnya karena Aaron mengatakan kalau dia berada di rumah. Aku baru saja meletakkan tas berisi perlengkapan Xander di lantai ketika mendengar suara tawa. Suara tawa perempuan.
Xander tidak mengeliat dan ikut diam seakan menungguku menangkap basah si pendatang yang tak diketahui dan tertegun ketika melihat posisi wanita itu dan Aaron yang berada di dapur.
Aku mengerjap. Tidak percaya dan tahu- tahu rasanya aku ingin membakar seluruh ruangan lengkap dengan penghuninya sekaligus. Terutama pria itu.
Rasanya aku ingin mengibirinya.
***
Comments
Post a Comment