FATED TO LOVE YOU - DUA PULUH
Aaron PoV.
Dua minggu.
Dua minggu dan ini semakin membuatku tidak habis pikir dengan cara pikir Alana. Apa yang dipikirkannya dan apa yang ditunjukkan melalui sikapnya sangat jauh berbeda. Bagaimana perasaannya padaku? Apa dia menyukaiku? Atau ia hanya menganggap kalau sikapku selama ini hanya sekedar gurauan padanya.
Demi Tuhan! Apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan Alana selain kecantikan dan keseksian yang dimilliki- bahkan dengan hamil pun dia masih terlihat seksi meskipun dia memperlihatkan raut wajah seakan aku berniat memindahkan Mars ke Bumi. Intinya adalah bersama dengannya selalu dibarengi penolakan yang setiap saat memiliki jawaban di bibirnya.
"Kapan kau akan pergi, Aaron?"
Dan saat ini dia sedang memberiku tatapan tajamnya di tengah ruangan yang menghubungkan ruangan ini dengan dapur.
Tempat tinggalnya memang tidak seluas apartemen yang biasa kuberikan pada setiap teman kencanku, tapi apartemen ini seakan menegaskan kalau semua sudutnya di tata oleh wanita itu. Tidak banyak barang yang berada di sekitar hanya sofa berukuran sedang yang kupakai untuk tidur (Aku tidak ingin memaksakan kehendakku lagi padanya setelah malam itu. Sekalipun aku memang ingin).
Tempat tidur Alana juga hanya berupa sebuah single bed yang walaupun begitu aku tidak masalah jika harus berdesakan dengan dirinya diatasnya. Selama dirinya berada disana, nyaman dan hangat. Aku tidak akan mengeluhkan apapun.
Aku tidak berniat kalah dalam pertempuran yang sudah jelas akan kumenangkan. Dia milikku dan nilai tambahnya adalah dia sedang mengandung anakku. Itu adalah suatu berkat dan nikmat tersendiri karena dengan begitu, aku memiliki jauh lebih besar kesempatan yang pria lain tidak miliki.
Kembali lagi ke malam aku melamarnya. Sampai sekarang Alana tidak mengizinkan aku untuk mengungkitnya. Dia terlihat gelisah jika aku menanyakan alasannya dan itu membuatku bertanya- tanya. Apakah menikah denganku merupakan sebuah neraka yang kutawarkan untuknya.
Arghhh. Sialan?!
Harusnya aku tidak lantas membopongnya kembali ke apartemen biasa ini. Harusnya aku membawanya kembali ke hotel dan tinggal disana selama yang dia inginkan atau mungkin aku bisa menyewa sebuah apartemen yang jauh lebih nyaman daripada tempat ini dan tentu dengan lift yang tidak biasa macet sewaktu- waktu.
"Aaron?!"
Aku terpaksa mendongak dari layar televisi di depanku, berusaha memperlihatkan wajah malas- lucu sekali melihat keadaanku selama bersama dengannya. Aku Aaron Bass bermalas- malasan di depan sebuah televisi. Charlie pasti akan langsung mati karena syok jika melihatku seperti ini.
"Hm?"
"Kapan kau akan pergi?"
Kuusahan wajahku terlihat sedatar yang biasanya- meskipun ekspresi wajah Alana seakan ingin sekali mencekikku. Hanya bersisa beberapa minggu lagi hingga dia melahirkan tapi dia semakin terlihat lucu, nyaris seperti anak singa. Menggemaskan sekaligus mematikan.
Berapa lama kira- kira waktu yang dibutuhkan hingga aku bisa membuatnya hamil lagi setelah kelahirannya yang ini- mengingat dia tipe wanita yang sangat amat subur. Coba saja pikir, aku baru sekali tidur dengannya dan benihku langsung berkembang biak didalam tubuhnya. Menakjubkan!
Kuhela napasku, melihatnya dengan pandangan malas dan tidak peduli sebelum kembali memalingkan wajahku ke televisi miliknya.
"Kau sudah tahu jawabannya, sayang." Kataku pelan. "Keputusanku masih tetap sama kecuali kau setuju dengan syarat yang kuberikan."
"Tidak akan."
Kupalingkan kembali wajahku dan mengernyit ketika melihat sikapnya yang kembali menantang. Kedua lengan disilangkan di bagian dada dengan pandangan mata yang tajam.
Oh. Anak singaku yang cantik.
Kutahan diriku sekuat tenaga untuk tidak tertawa melihat ekspresi wajah yang ditunjukkannya. Selamatkan aku dari mencium makhluk menggemaskan ciptaanmu ini ya Tuhan.
Dulu sebelum aku menemukannya, aku selalu berpikir betapa menyenangkannya jika hidup bersama Alana. Alana wanita yang sangat panas dengan emosi yang sering kali meledak- ledak. Hidupku tidak akan pernah bosan jika bersama dengannya apalagi jika emosi yang meledak- ledak bisa kami lampiaskan diatas tempat tidur dengan aku yang berada diatasnya atau dia yang berada diatasku. Sepertinya posisi apapun yang kami lakukan tidak akan membosankan selama dia berada didalamnya- aku yang berada didalamnya.
"Kalau begitu aku juga tidak akan." Balasku asal- asalan,
"Jangan harap!" Kali ini keningku saling bertaut mendengar tutur katanya lagi lalu menghembuskan napas pelan. "Kau memintaku menikah dan tinggal denganmu. Itu tidak mungkin terjadi. Maksudku, yang benar saja."
Apa masalahnya?
"Baiklah. "Aku ikut mendesah dan dia memberiku senyum penuh kemenangan. Oh sayang. Terlalu mudah buatku untuk menyerah begitu saja. "Aku akan ubah urutannya,"kedua matanya menyipit dan aku tersenyum. "Kita tinggal bersama dan menikah denganku."
"Kau tahu jawabanku, Aaron!" Desisnya marah.
Kuhela napasku, menampilkan efek dramatis. "Sayang sekali. Karena kau juga tahu jawabanku, sayang."
Beri aku satu alasan kenapa kau tidak ingin menikah denganku.
"Kenapa kau harus membuatnya sulit, Aaron." Aku mengermyit. Apa yang dikatakannya? "Kenapa aku?" Apa itu tidak cukup jelas? "Kau tampan dan juga kaya, kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada diriku. Dan aku..."
Oh cukup. Kurasa aku sudah tahu jawabannya. Dia ingin memanipulasiku lagi.
Jadi sebelum dia mengatakan lebih banyak kata- kata tidak masuk akal lainnya, aku bangkit dari sofa yang kududuki dan menghampirinya. Dia tidak menghindar atau menampik ketika kusentuh dan itu membuatku bersyukur. Aku merindukan sentuhannya di kulitku atau mencium aroma tubuhnya. Kadang kala aku harus berpura- pura menyenggolnya agar bisa menyentuh tubuhnya itu tapi tidak juga terlalu keras. Dia hamil dan aku takut jika menyenggolnya terlalu keras dia akan kehilangan keseimbangan dan itu akan membawa dampak buat anak kami. Alana hanya membalasku dengan memberiku pandangan tajam dan marah yang justru semakin membuatku gemas, ingin mengigit pipinya yang montok.
Dulu diawal aku tinggal bersamanya di apartemen kecilnya ini, aku sering kali mendengarnya mengerang jengkel karena branya yang tidak mampu lagi menahan payudaranya yang entah mengapa terlihat semakin besar dalam jarak pandanganku (aku tidak mungkin mengatakan itu dihadapannya) tapi jelas setiap kali aku mendengarnya mengerang seperti itu, tubuhku juga akan langsung merespon terutama yang dibagian bawah. Benda yang membuat Alana menjadi seperti sekarang ini. Jika ditilik dari situasinya, dia juga tidak salah, sudah lama sejak terakhir kali dia menganggur lagi jadi dengan kesabaran bak dewa terlebih lagi aku disini adalah masternya maka tidak ada pilihan lain selain menenangkannya sebelum Alana menyadari apa yang kuperbuat.
Kupegang kedua tangannya erat. Berusaha menfokuskan diriku pada matanya yang cantik itu. "Alana?"
Dia terkesiap tapi tidak melepaskan diri. Bagus.
"Tidakkah kau mengerti?" Tidak ada jawaban jadi aku melanjutkan. "Aku tidak membutuhkan siapapun atau wanita manapun lagi. Yang kuinginkan hanya dirimu, sayang. Hanya dirimu Alana Stephany Sparks dan kau berhak akan itu."
Hening selama beberapa saat dan ini semakin memberiku pencerahan. Apakah pada akhirnya dia mulai mengerti?
"Kurasa aku ingin Takoyaki. Apa sebaiknya kita keluar?"
Aku mendesah melihat wajahnya yang seketika menjadi riang setelah keheningan panjang tadi.
Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Sangat panjang.
***
Comments
Post a Comment