FATED TO LOVE YOU - DUA SATU

Setidaknya Alana melahap semua makanan yang ada di depannya. Tadinya kupikir dia akan mual saking banyaknya berbagai macam jajanan yang dilahapnya tapi sepertinya itu tidak menjadi masalah baginya.

Kami- maksudku Alana, beranggapan akan lebih baik jika dia berjalan kaki saja. Dia mengatakan hal itu baik jika ia melahirkan nanti. Dan meskipun aku tidak setuju karena aku tidak mau kalau dia terlalu lelah tapi sulit rasanya jika harus berdebat dengannya. Alana sangat keras kepala jika menyangkut keinginannya.

Entah berapa porsi takoyaki yang sudah dia habiskan tapi apapun itu, bersamanya selalu membuatku mendapatkan pengalaman tertentu darinya. Alana tidak pernah malu menunjukkan apapun yang dia inginkan dan tentu saja diselingi tingkah konyolnya yang kadang membuatku meringgis. Contohnya seperti sekarang, setiap kali dia takoyaki-nya habis, maka dia tidak akan sungkan- sungkan mengambil porsi yang lainnya sekalipun lidahnya terbakar karena panasnya takoyaki yang diambilnya.

"Pelan- pelan, sayang." Jika wanita lain akan tersipu malu setiap kali aku menunjukkan perhatianku, maka lain halnya dengan Alana. Alana hanya melihatku sekilas lalu kembali melahap makanannya. Bagaimana bisa aku mencintai wanita cantik ini tapi juga sangat keras kepala?

Setelah nyaris menghabisi sebagian besar takoyaki di pinggir jalan. Alana beralih menuju kafe yang menawarkan paket lengkap steak sapi dengan bahan berkualitas tingginya, membuatku tidak habis pikir bagaimana dirinya dan anakku yang berada didalam perutnya bisa menerima semua makanan yang masuk.

"Aku kelaparan, Aaron." Aku mendengar Alana mendesah seraya memandangiku dengan tatapannya yang jenaka, membuatku seketika tersenyum.

"Aku menyukai wanita yang banyak makan." Balasku. Alana mengangkat kedua alisnya, tersenyum simpul hingga aku bisa melihat semburat pink di kedua wajahnya dan menunduk menekuri steaknya lagi. "Aku pasti terlihat mengerikan dengan tubuhku yang sebesar ini."

Aku mengernyit. Apa maksudnya?

"Tapi lucunya aku juga tidak masalah dengan itu." Dia melanjutkan.

Aku tidak mengerti apa yang baru saja dia katakan tapi melihat raut wajahnya seketika membuatku seperti merasa ada lampu yang dinyalakan diatas kepalaku. Kuangkat pantatku dari kursi yang aku duduki dan menghampirinya.

"Kau pikir aku tidak menyukai tubuhmu yang sekarang?" Tanyaku nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Kuraih tangannya dan mengenggamnya disana. Kedua mata Alana menatapku dan seperti sihir. Dia menyihirku. "Aku bahkan tidak pernah berpikir kau akan terlihat mengerikan, sayang." Alisnya terangkat. "Karena faktanya kau luar biasa cantik dan juga seksi dengan tubuhmu saat ini."

"Aaron?"

"Dan aku masih tetap mencintaimu."

"Bahkan dengan tubuhku yang terlihat paus ini?"

Aku ingin tertawa tapi menahannya. Kapan dia akan menyadari kalau aku tidak sekedar hanya melihat tubuhnya? Oh, dulu memang dia memeliki tubuh yang sangat bagus dan seksi dengan berbagai macam pemotretan sehingga mendukung agar tubuhnya bisa terekspos dengan jelas tapi tubuhnya yang sekarang bahkan jauh lebih seksi apalagi aku tahu kalau didalam tubuhnya itu ada kehidupan lain yang ikut tumbuh bersamanya. Anakku- anak kami.

"Aku mencintaimu, Alana." Kataku tanpa melepaskan pandanganku darinya. "Bahkan jika kau terlihat seperti paus sekalipun,"matanya langsung memicing. "Aku akan tetap mencintaimu." Aku tersenyum melihat rona itu kembali di pipinya. "Dan aku tidak akan pernah bosan untuk membuatmu seperti paus lagi nanti."

Alana membelalak. "Kau...!" Kukecup dia sebelum lidahnya yang tajam merusak momen ini. "Aku juga mencintaimu, sayang." Sahutku terkekeh melihat matanya yang membesar karena aksiku barusan. "Aku ingin ke toilet. Bisakah kau tidak melakukan apapun yang tidak membahayakan dirimu selama aku tidak ada?" Dia mendengus sebagai balasan, membuatku gemas lalu kembali mengecup bibirnya lalu puncak kepalanya.

Rasanya baru beberapa menit aku berada di toilet ketika pandanganku langsung tertuju ke meja yang tadi kutempati bersama Alana.

Alana memang masih berada disana. Duduk dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya tapi senyum itu tidak ditujukan padaku melainkan pada dua orang pria oriental dengan pakaian khas anak muda.

Lalu aku mendengar Alana tertawa. Tawa ramah yang tidak dibuat- buat dan hal itu membuatku mendidih. Apa yang dilakukan pria- pria itu padanya? Apa mereka tidak lihat perut Alana yang membuncit? Jelas sekali itu bukan bagian dari busung lapar.

Kulangkahkan kakiku menuju kearah mereka dan langsung merengkuh pundak Alana dan mencium puncak kepalanya lagi. Tubuh Alana membeku beberapa detik. Sial! Tapi kembali santai ketika menengadah dan melihatku.

Kedua pria itu melihatku dengan tatapan terbelalak dan buru- buru menyingkir sebelum aku bersuara.

"Well, kau menakuti mereka." Ujar Alana. Matanya mengikuti arah dua pria tadi. "Padahal dia hanya ingin berkenalan denganku."

"Kalau begitu aku datang tepat waktu." Balasku. Melepaskan tanganku dari pundaknya lalu kembali duduk berhadapan dengannya.

Sejenak Alana menatapku lalu kemudian mendesah. "Kuharap ini bukan sekedar hormon yang kau miliki." Ucapnya pelan.

Aku tidak ingin berkomentar. Tidak ketika aku masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alana tadi.

Kuteguk americano-ku dengan pelan, tanpa sama sekali memandang Alana ketika aku mendengarnya berdehem dan menyadari kalau dia menyodorkan potongan dagingnya kearahku.

"Apa?" Tanyaku dengan wajah bingung.

"Aku tidak pernah melihatmu makan dan hanya minum kopi."

"Tidak apa." Kukendikkan bahuku hendak menolaknya tapi Alana semakin menyorongkan garpunya kearah mulutku, membuatku terpaksa menerimanya.

"Kau bisa sakit jika hanya itu yang kau komsumsi." Katanya kembali menyodorkan potongan dagingnya kearahku setelah mengambilnya dari piring didepannya.

Apa dia mengkhawatirkanku?

Kuterima potongan dagingnya lagi, mengunyahnya dan memperhatikan Alana memotong- motong daging steaknya menjadi beberapa bagian dan menyuapiku lagi.

"Yang kau lakukan hanya minum kopi seakan kopi adalah makanan pokok manusia." Aku hanya bisa diam mendengar ocehannya sementara dia tanpa henti menyodorkan dagingnya padaku. "Itulah sebabnya aku tidak ingin kau tinggal di apartemenku." Dia menengadah dan menatap mataku. "Kau terlihat sangat lelah dan tidak nyaman berada di sofa. Pergilah, Aaron. Jangan keras kepala lagi."

Kau tidak mengerti, sayang. Aku akan pergi jika kau ikut bersamaku.

"Aku bisa mengatasinya." Kulihat dia mendesah kembali menyodorkan dagingnya yang langsung kuterima.

"Aku tidak bisa mengerti apa yang kau inginkan."

Tanpa sadar aku tersenyum. Senyum yang menandakan kalau aku telah berhasil mendapatkan perhatiannya. Dia bahkan tidak sadar kalau makanan di piringnya sudah hampir habis tapi dia tetap menyuapiku. Hal yang sangat jarang terjadi.

"Oh. Kau mengerti, sayang. Aku akan pergi jika kau ikut denganku. Menikah-" entah kenapa aku melihatnya bergidik ketika aku mengucapkan kata pernikahan padanya. "-denganku." Lanjutku marah. "Jadi berhentilah memintaku atau menyuruhku melakukan sesuatu yang bahkan sudah menjadi keputusanku."

Tidak ada balasan. Kami hanya saling diam sementara tangannya tanpa henti menyodorkan daging steaknya padaku.

Lalu aku kembali tersenyum. "Aku tahu kau mengkhawatirkanku, sayang." Kataku lagi dan dahinya berkerut keheranan. "Tapi aku masih waras dengan tidak menjadikan garpu sebagai makanan penutupku."

Lama dia terdiam kemudian berseru ketika memperhatikan kalau makanannya sudah habis sepenuhnya. Tak bersisa.

Dia tergagap. Bolak- balik memandangku kemudian ke piringnya,

Menggemaskan.

"Kau begitu perhatian hingga tidak sadar kalau sejak tadi kau menyuapiku. Itulah sebabnya kenapa aku begitu yakin ingin menikahimu. Kita berdua cocok satu sama lain."

Dan Alana benar- benar terlihat salah tingkah meskipun dia berusaha menutupinya tapi dengan wajah yang merona seperti itu. Dia semakin...Astaga. Kenapa dia bisa terlihat sangat cantik hanya karena gugup?

Aku pasti tidak akan pernah bosan jika hidup dengannya. Alana memiliki begitu banyak ekspresi mencengangkan yang selalu membuatku semakin ingin mengenalnya.

Tatapanku yang senang memperhatikan Alana terpaksa haru berhenti ketika ponselku berdering menampilkan nama di layar.

"Bass."

"..."

"Baiklah. Kami akan kesana." Klik.

Kupandangi Alana selama beberapa detik dan dia juga balas memandangku tapi bedanya dia memandangku dengan wajah heran.

"Apa ada masalah?"

Kurengkuh kedua tangannya dan mengecupnya disana. "Jimmy mengundang kita ke rumahnya." Ucapku dan kedua mata Alana semakin mengernyit. Curiga.

.
.

Mataku terus memperhatikan sosok Alana yang bermain dengan Akane dan juga Mayu.

Aku tidak menyangka jika ada alasan dibalik kenapa Alana tidak ingin menerima lamaranku. Tadinya kupikir karena dia tidak mencintaiku, tapi pikiran itu juga sedikit buyar jika melihat Alana yang langsung gusar atau gugup jika aku berada di dekatnya.

Tapi trauma?

Jelas trauma tidak pernah masuk dalam daftar yang pernah kucurigai.

Aku bahkan tidak ingin mencari tahu alasan dibalik perceraian Jimmy Sparks dan Rianna.

Tapi aku dan Alana?

Jelas itu adalah sesuatu yang berbeda. Aku tidak mungkin akan meninggalkan Alana setelah nanti dia melahirkan. Aku bahkan berpikir untuk memperbanyak anak dengan Alana yang menjadi ibu dari anak- anakku.

"Aaron."

Kembali kupalingkan wajahku dari wajah Alana ke wajah Jimmy. Bahkan entah bagaimana, pria itu bahkan jauh terlihat lebih tua dibandingkan beberapa menit yang lalu- sebelum dia menceritakan tentang pengalaman Alana dulu.

"Aku mengerti, Jimmy." Kuanggukkan kepalaku kearahnya. "Tapi aku tidak pernah berpikir akan meninggalkan Alana kelak."

Memikirkan Alana kecil harus menghadapi pergolakan batin ketika masih berada di usia dini sekaligus harus mengurus segala sesuatunya seorang diri sementara kedua orang tuanya sering bertengkar dan pada akhirnya memutuskan untuk berpisah, membuatku merasa marah.

"Aku bisa mengerti hubungan kalian. Dia hamil dan itu bukanlah sesuatu yang kalian rencanakan."

Sialan! Dia sama sekali tidak mengerti.

"Alana mungkin terlihat tangguh dan keras kepala," itu sudah sangat jelas. "Tapi dia juga sangat sensitif. Dia masih merasa jika ini semua karena kesalahannya. Karena dia yang muncul diantara aku dan Rianna membuatnya semakin merasa bersalah. Aku bahkan berani bersumpah bahwa dalam benaknya terlintas sesuatu seperti 'andaikata aku tidak lahir ke dunia ini'-" oh Tuhan. "- tapi itulah Alana. Dia menyalahkan dirinya untuk sesuatu yang bahkan dia tidak perbuat."

Aku tidak tahu harus berkomentar apa. Memikirkan Alana yang tidak ada di dunia ini membuatku merasa mati rasa.

"Jadi Aaron, sebelum aku begitu yakin denganmu- meskipun sejak awal aku sudah merasa yakin dia memilikimu- tapi sebagai ayah dari anak perempuan yang disayanginya. Aku hanya ingin bertanya padamu dan kuharap kau memikirkannya dengan bijak."

"Apa itu?" Tidak ada yang perlu kupikirkan jika itu menyangkut calon istriku.

"Kalau kau mendekati Alana hanya karena sebuah tanggung jawab atas apa yang telah terjadi diantara kalian. Maka kumohon lepaskan dia,"-apa? "-karena besar kemungkinan dia tidak akan sama lagi jika sekali lagi dia terluka."

Dia pasti bercanda!

Sebegitu burukkah aku di mata pria ini? Kalau begitu akan kutunjukkan seberapa buruk aku jika sudah menyangkut privasiku.

"Tidak akan."

"Apa?" Lucu sekali. Baru sedetik yang lalu dia menghinaku dan sekarang pura- pura tidak mengerti.

Kuhembuskan napasku kuat- kuat, menahan gejolak karena ucapan Jimmy. "Dengarkan aku, Jimmy. Aku menghormatimu. Sungguh. Sejak dulu selalu begitu. Kau pria yang berdedikasi dan aku senang kita pernah bekerja sama. Dan mengenai Alana," Kutarik napasku lagi dan menghembuskannya. "Bahkan jika dia tidak hamil sekalipun dan aku masih melihatnya tanpa ada pria disisinya- bahkan aku juga tidak yakin jika ingin melihat pria lain selain aku disisinya-" kedua mata Jimmy membelalak dan aku tidak peduli. "Aku akan tetap menikahinya. Akan kukejar dia hingga kemanapun, kalau perlu menyeretnya agar bisa menikah denganku- maaf atas kalimatku yang tidak sopan- " Jimmy nyengir tanpa kuduga. "Intinya adalah aku memang mencintai anak perempuanmu yang keras kepala itu tapi juga keras kepala. Jadi, apa kau keberatan jika tidak lagi mengungkit hal ini diantara kita? Karena bahkan jika kau menganggapku sebagai pria yang berantakan di masa dulunya. Tapi kuyakinkan padamu, Mr. Sparks. Aku serius ingin menikah dengan anakmu tanpa ada perasaan tanggung jawab didalamnya dan nilai bonusnya, cucumu lebih cepat hadir ke dunia ini tanpa menunggu beberapa bulan lagi."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS