FATED TO LOVE YOU - DUA TIGA

Hidup tidak mungkin lebih indah dibandingkan hari ini. Dimana serial Sailormoon sengaja kuputar ulang entah untuk ke sekian kalinya. Aku bahkan yakin tidak akan pernah bosan melihat para wanita dengan pakaian pelaut itu beraksi, berapapun usia yang kumiliki. Dan yang menambah keindahan itu sendiri adalah dengan banyaknya stroberi yang selalu tersedia di dalam kulkas.

Aku masih ingat betapa sedihnya aku beberapa hari yang lalu ketika buah berwarna merah, yang sama sekali tidak ada hubungan kekeluargaan dengan buah berri itu habis di supermarket yang biasa ku kunjungi. Menurut orang yang bekerja disana, persedian mereka sudah habis dan butuh beberapa hari untuk mensuplai ulang.

Aku hampir menangis- atau mungkin sudah menangis jika bukan Aaron yang langsung memikirkan hal itu. Aku bahkan tidak percaya dengan diriku yang sesenggukan di dadanya hanya karena kehabisan buah itu dan ngidam, aku juga heran kenapa aku bisa merasakannya mengingat usia kandunganku sudah sangat tua tapi itulah yang terjadi. Aku cengeng. Bahkan mungkin sangat cengeng hingga tidak sadar kalau aku sudah berada di pangkuannya dengan dia yang mengelus punggungku. Hingga kemudian aku melihatnya memence sebuah nomor dari ponselnya dan tada...! Setengah jam kemudian buah itu muncul dihadapanku dengan diantar oleh orang suruhannya. Hebat sekali!

Memikirkan kejadian itu pun masih membutuhkan usaha yang sangat keras untuk tidak terpengaruh akan daya tarik tubuhnya juga aromanya. Dia membuatku gila hingga rasanya aku ingin menghancurkan pakaian yang melekat di tubuhnya dan mungkin... Hentikan Alana! Sisi lain yang menentang untuk tidak mengikuti gairahku membentak. Ya. Sebenarnya apa yang kupikirkan jelas Aaron sama sekali tidak akan...

Aaron baru saja sampai dari luar. Aku tidak ingin menanyakan kemana dan apa yang diperbuatnya. Hubungan kami tidak seintim itu hingga aku harus mengetahu apa yang sedang, akan dia lakukan meskipun dia sama sekali selalu memberitahuku kemana dia pergi.

Tapi kali ini, dia memberiku tatapan lama, seakan dengan begitu dia akan tahu apa yang sedang kupikirkan.

"Ada apa?" Aku mengernyit semakin merasa tidak nyaman dengan pandangannya.

Aku merasa pandangan yang ditujukan padaku mengandung arti. Seperti ada sesuatu yang telah terjadi.

Apa pada akhirnya dia bangkrut? Aku bertanya dalam hati. Bukan tanpa alasan aku mengatakannya. Hanya saja sudah lama sekali dia tidak pergi bekerja- atau itulah yang aku lihat karena seringnya dia menghabiskan waktu denganku atau mungkin dad. Seperti kataku tadi, aku juga tidak memiliki hubungan seintim itu dengannya hingga harus menanyakan tentang hidupnya, iya kan?

Aaron sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang kulontarkan padanya. Alih- alih menjawabku, yang ada dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel dari sana. Mengucapkan sepatah dua patah kata seperti siapkan semuanya dan aku kesana. Setelah itu memutuskan sambungan dan beranjak pergi menuju kamarku. Aneh.

Kuindahkan sikapnya yang aneh itu, melanjutkan serial kesukaanku ketika mendengar suara pintu yang dibuka beserta suara benda yang diseret juga mantel yang kuyakini tanpa sama sekali keraguan sebagai milikku.

Apa yang ingin dilakukannya dengan barang milikku? Dan tunggu bukankah itu koper itu juga milikku?

"Kita pulang."

Kuteguk ludahku nyaris tidak percaya apa yang baru saja kudengar, menatapnya lebih seksama kali ini. "Maaf?"

"Kita akan pulang sekarang, Alana." Kali ini nadanya seperti tidak ingin mendengar bantahan apapun dan apa aku terlihat peduli? Jelas tidak.

"Dengar," sahutku lambat. "Kurasa ada yang salah disini. Sepertinya aku tidak ingat kalau sudah menyetujui apapun yang kau katakan." Kusilangkan kedua lenganku di dada, menantang. Yang benar saja setelah sekian lama kami tidak berdebat. Dia akan memulainya hari ini? Sekarang? Dengan aku yang sedang menikmati sailormoon dan semangkuk penuh strawberry?

"Kau tidak punya pilihan. Suka atau tidak suka," dia menekankan kalimat akhir. "Dan aku tidak menerima bantahan."

Kuhentakkan kedua kakiku saking marahnya karena tiba- tiba saja dia menarikku untuk pergi setelah memakaikan mantel ke tubuhku. Dia bahkan tidak mengubris ketika aku membentaknya dan semakin mengetatkan cengkraman tangannya di tanganku.

Kami sama- sama tidak berbicara selama penerbangan dan memang itulah yang kubutuhkan. Aku masih marah karena dia sudah seenaknya memaksaku melakukan yang tidak kuinginkan. Aku bahkan sanggup menjejalkan cincin yang pernah disematkan di jariku ke hidungnya, biar dia tahu bagaimana rasanya dipaksa.

Tidak butuh waktu yang lama hingga kami menginjak tanah. Dan meskipun aku sangat marah pada Aaron tapi disisi lain aku juga merindukan negara ini. Tempat yang dulu menjadi tempat tinggalku selama ini sebelum pergi ke Jepang. Menyamarkan diri.

Charles- asisten Aaron sudah menunggu di pintu kedatangan dan tanpa mengatakan apa- apa, dia membawa kami menuju mobil yang sudah disiapkan sementara dirinya mengambil mobil lain.

Bahkan semuanya sudah disiapkan. Aku mengerang dalam hati.

Aaron masih tidak mengucapkan sepatah kata pun selama dia mengendarai Range Rover yang tadi disiapkan Charles. Aku memang masih marah padanya tapi sulit rasanya mempertahankan hal itu jika dia berada sangat dekat denganku dan kadang mengelus buku- buku jariku dengan lembut.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau memaksaku untuk ikut denganmu." Kataku membuka pembicaraan. "Aku tetap dengan keputusan yang tidak akan menikah denganmu Aaron." Aku melanjutkan menolak melihat tangannya yang mendadak terkepal dan tubuhnya yang kaku.

"Kau masih belum tahu apa yang sedang kau bicarakan sayang." Suaranya terdengar sangat tenang, berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkannya.

Aku baru akan membalas ketika mataku menangkap dimana saat ini kami berada dan beralih menatap Aaron bingung. Apa yang ingin dia lakukan di rumah sakit? Apa dia sakit tapi sepanjang kami bersama, dia sehat- sehat saja. Jadwal pemeriksaanku juga baru kulakukan kemarin, jadi tidak mungkin dia ingin aku melakukannya lagi, iya kan?

Aaron langsung meraih pinggangku dan berjalan beriringan melewati koridor- koridor rumah sakit. Beberapa perawat yang lewat seketika berhenti hanya untuk memperhatikan pria disampingku lebih jelas. Hingga aku merasakan genggaman di pinggangku semakin ketat, membuatku terpaksa mendongak ketika melihat bibir Aaron yang memberenggut tidak suka.

Lho, apa salahku? Aku tentu sudah berderma dengan membuat para perawat itu cuci matang.

Aku terkekeh, membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para perawat itu jika tahu Aaron sudah melamarku? Yang berarti hal itu menyatakan kalau Aaron adalah milikku. Tunggu! Kenapa aku malah berpikir sesuatu yang tidak- tidak? Astaga... Pasti ini akibat aku baru saja turun dari pesawat dan mengalami jetlag.

Aaron terus membawaku ke lantai atas tanpa sama sekali melepaskan rangkulannya di pinggangku hingga aku merasakan tubuhnya semakin tegang ketika membawaku ke ruangan yang berada di ujung.

Kedua matanya melihatku, meneliti dan berusaha membaca ekspresiku lalu membuka pintu secara perlahan.

Hal pertama yang aku lihat adalah ruangan yang serba putih. Dan yang membuatku mengernyit adalah karena hampir semuanya adalah orang yang kukenal. Entah kenapa aku merasa jantungku mendadak bertalu- talu seiring langkahku yang semakin mendekat. Hingga akhirnya aku sadar.

Aku mengerjap, menganggap kalau ini adalah lelucon yang dialamatkan kepadaku tapi alih- alih tertawa karena ketidakprofesionalnya si pembuat lelucon. Aku.... Aku seperti mendengar suara aneh. Suara yang aku yakini berasal dari tenggorokanku sendiri.

Aku merasa udara disekelilingku menghilang. Sesak dan menyakitiku.

Tapi satu hal yang aku yakini secara pasti.

Sekali lagi, aku dikhianati...

Olehnya. Lagi.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS