FATED TO LOVE YOU - DUA
"Dasar sialan! Jalang brengsek!"
Aku sengaja menyesap Frapuccinnoku pelan- pelan membiarkan Jane mengeluarkan amarahnya hingga beberapa orang terpaksa menolehkan kepalanya kearah kami.
Dan aku tidak peduli!
Bukan bermaksud tidak tahu diri atau sombong tapi bukan pilihan yang bijaksana jika harus menghentikan amukan Jane saat ini. Jane bisa dikatakan jauh lebih buas daripada singa yang sedang kelaparan jika marah.
"Ayo keluar!"
Kukendikkan bahuku sembari mengikuti langkahnya menuju pintu keluar dan memberi sebuah senyum penuh keprihatinan pada pelayan wanita yang saat ini memperlihatkan wajah pucat.
"Katakan Alana!" Mendadak Jane menghadang langkahku dan memberiku tatapan tajam. "Katakan siapa yang salah dalam hal ini!"
"Well," aku sengaja menghela napasku dalam- dalam. Aku bukan orang yang mudah mengatakan kejujuran tapi bukan berarti aku juga bisa mengatakan kebohongan. "Bagaimana menurutmu? Dan seharusnya kau tidak langsung memarahi pelayan tadi. Dia menjadi pucat karena mendengar amukanmu tadi."
"Are you kidding me? Kau ini sinting atau apa?" Hardiknya langsung, membuatku terpaksa harus mundur beberapa langkah sebelum ditemukan mati dalam keadaan jantung yang tidak lagi berdetak tapi seperti yang kubilang tadi, Jane tidak akan memperdulikannya. "Aku yang pertama melihatnya! Aku yang pertama menyentuhnya! Dan pelayan sialan itu justru malah memberikannya pada wanita sialan itu! Apa kau tahu betapa susahnya mendapatkan tas Angel keluaran Chanel itu? Dan hanya tiga yang di produksi di seluruh dunia! Tidak dapat dipercaya bahwa kau lebih memilih memperhatikan raut wajah pelayan itu dibandingkan tas itu."
Kukatup kedua bibirku rapat- rapat. Jane akan semakin mengamuk jika aku mengutarakan pemikiranku dan jalan terbaiknya adalah dengan mencoba meredakan dirinya sedikit.
"Aku akan membawakanmu Gucci yang kau inginkan kemarin pada pemotretanku minggu ini." Kataku seraya menepuk punggungnya pelan dan menyesali apa yang baru saja sudah kukatakan.
Jane memberiku pandangan berbinar- binar layaknya Doraemon dan hal selanjutnya yang terjadi adalah dia mulai berteriak dan memelukku, mengindahkan tatapan orang- orang di sekitar pertokoan.
Ini memalukan!
"Hentikan, Jane. Kau membuat kita menjadi bahan tatapan orang- orang." Tegurku seraya hendak melepaskan pelukannya dariku tapi semakin aku ingin melepaskan diri, Jane semakin membelitku layaknya Anaconda.
"Jane, Guccimu tidak akan sukses mendarat ke tanganmu jika kau membunuhku disini."
Dan hal itu sukses membuatnya melepaskan pelukannya.
Syukurlah!
Jane tertawa, melepaskan pelukannya dan aku megap- megap mencari udara.
"Kau yang terbaik."
Kuputar kedua bola mataku, "aku tahu." Dan kami berdua sama- sama menertawakan satu sama lain ketika satu menit kemudian wajahnya kembali berubah seperti semula.
"Tapi aku masih tidak rela dikalahkan begitu saja. Aku tidak akan tinggal diam jika melihatnya lagi."
"Mungkin kita bisa menyalurkannya dengan berlatih yoga."
"Yoga?" Ekpresi wajahnya menunjukkan rasa jijik yang luar biasa. "Oh, aku lebih baik bunuh diri daripada harus melakukan itu."
Aku tertawa. Semenjak mengetahui kalau guru yoga yang ditaksirnya adalah gay, dia langsung menjadi anti yoga dan tidak pernah lagi ke gym bersamaku.
"Kau terlalu melebih- lebihkan. Pedro baik- baik saja kok."
"Oh jelas saja dia baik- baik saja. Ugh, kita tidak usah membahas ini lagi. Sial!"
Keningku lantas mengernyit dengan umpatannya yang tiba- tiba. "Ada apa?"
"Kebelet pipis." Dan dia langsung berlari meninggalkanku yang masih melonggo melihat kepergiannya.
Kurogoh ponsel dari dalam tas kecil yang kubawa dan langsung mengetikkan pesan pada Jane yang mengatakan kalau aku menunggunya di kafe pasta di sudut jalan. Aku baru saja menaruh kembali ponselku ketika mendadak sebuah tangan meraih lenganku dan menarikku hingga punggungku menabrak sebuah tembok. Aku baru saja akan membentak pendatang baru yang telah berani menyentuhku ketika sebuah benda basah dan kenyal mendarat dengan sukses di bibirku.
"Aku merindukanmu, sayang." Desahnya di sela ia melumat bibirku.
"Jared?" Aku terperanggah, tidak menyangka akan melihatnya disini.
"Ya sayang. Ini aku. Kau tiba- tiba menghilang semalam, membuatku khawatir."
Kedua matanya menatap mataku yang menyiratkan kalau dia begitu bergairah hari ini. Sialan! Sebelah tangannya mulai menyelusup masuk kedalam pakaian yang kugunakan membuatku terpaksa harus meronta agar bisa melepaskan diri tapi Jared begitu bernafsu. Apa yang harus kulakukan?
"Ini ruang publik, Jared." Kataku mencoba membuatnya sadar dengan dimana posisi kami saat ini.
"Aku tidak peduli." Balasnya seraya mulai menciumi sekitar leherku.
Sial. Tentu saja kau tidak peduli. Kau hanya peduli bagaimana menyetubuhiku secepatnya! Aku mengeram jengkel padanya.
Aku harus segera mencari pertolongan jadi sementara ia menciumi sepanjang leherku, aku juga mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru tempat. Beberapa orang yang kebetulan lewat hanya memberi tatapan mencibir dan berguman tentang betapa tidak tahu malunya kami.
Hey! Ini bukan salahku sepenuhnya!
Ingin rasanya aku meneriakkan kalimat itu pada mereka tapi si dickhead- Jared ini lebih membuatku merasa kesal.
Sial, aku harus mencari cara.
Kupaksa otakku untuk berpikir hingga aku melihat seorang pria, wajahnya tidak penting. Yang kuinginkan adalah agar aku bisa terlepas dari Jared secepat yang aku bisa. Dia sedang duduk diatas kursi yang memang disediakan dan sedang memandangku. Oh, lebih tepatnya memandang kami. Ekpresinya menunjukkan rasa geli yang nyata dan tiba- tiba sebuah pemikiran konyol tapi berguna melintas dalam otakku.
"Jared... Jared... hentikan. Pacarku melihat kita." Ucapku berusaha melepaskan diri.
"Aku pacarmu." Balasnya tanpa berniat melepaskan diri dan semakin mengerayangi leherku.
Sial! Apa leherku sangat menarik hingga dia berlama- lama disana?
"Jared, maaf tapi aku berbohong. Aku sudah punya pacar."
Berhasil.
Aku berteriak kegirangan dalam hati karena berhasil mengambil perhatiannya. Saat ini dia sedang menatapku. Kulepaskan diriku dari tubuh Jared dan melangkah- sebenarnya aku setengah berlari kearah pria yang kulihat tadi- yang sekarang sedang berpura- pura melihat ponselnya.
Dasar tidak berguna!
"Maaf sayang." Aku tersenyum menyapa pria tadi. "Apa aku terlambat?"
Ya tuhan!
Aku bisa merasakan kalau seketika bibirku terbuka lebar dan mataku mengerjap ketika pria itu justru mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya kearahku.
Dia berdiri dari kursi yang didudukinya, membuatku bisa lebih jelas melihat wajah adonisnya. Keinginan untuk melarikan jari- jariku ke tulang pipinya seketika menggelitik telapak tanganku.
"Maaf?" Dia bertanya menampilkan wajah bingung miliknya dan hal itu kembali membuatku teringat tentang tujuanku kemari.
"Jadi kau benar- benar pacarnya?" Ucapan Jared yang sakit hati dibelakangku kembali memberiku angin segar dan berbalik ketika mendapati Jared sedang menatap pria asing ini dengan tajam. "Berapa lama?"
Kutunjukkan wajah jengahku atas pertanyaannya. Memang apa urusannya dia dengan kehidupan pribadiku? Kami bahkan baru bertemu seminggu.
"Bukan urusanmu, Jared." Jawabku mulai tidak tahan atas sikapnya.
"Oh jelas ini menjadi urusanku. Kau mengatakan padaku kalau kau sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun."
"Itu karena kami sedang bertengkar dan kau tahukan, kalau pasangan bertengkar salah satu pihak bisa mengatakan hal sebaliknya."
"Aku tidak percaya."
"Aku tidak minta kau percaya. Aku hanya mengatakan kalau aku sudah menjalin hubungan dan kemungkinan sebentar lagi kami akan menikah."
Setelah ini aku harus meminta maaf pada pria disampingku ini. Aku tersenyum kecut merasakan perasaan tidak enak dengan pria asing yang masih berdiri diam disampingku saat ini.
"Aku bisa membuktikan kalau kami memang sedang menjalani hubungan."
Aku menoleh hanya untuk memastikan pendengaranku ketika melihatnya sedikit menundukkan wajahnya. Tadinya kupikir dia memintaku untuk mencium pipinya tapi dia lantas meraih daguku dan mencium bibirku.
Ciumannya terasa lembut dan juga manis di bibirku ketika aku menyadari kalau dia hanya ingin membantuku menyingkirkan Jared.
Dia yang pertama melepaskan ciumannya dan menyentuh bibirku dengan ibu jarinya- masih dengan menatapku. Aku memperhatikan kalau dia memiliki warna mata abu- abu yang seakan menghipnotis tapi juga penuh kekuasaan. Aku mendengus ketika melihat bibirnya yang memperlihatkan senyum kecil seakan tahu kalau aku hampir terjatuh dalam pesonanya.
Tidak heran kalau dia sangat pandai mencium. Pasti sudah banyak wanita yang telah mendapatkan kemewahan seperti ini.
Setelah melihat pergi sambil mengatakan sesuatu seperti sumpah serapah. Kuputuskan untuk ikut pergi tapi melalui rute yang lain. Aku tidak mau bertemu pria itu lagi ketika mendengar suara maskulin dari tempatku barusan.
"Hey," aku berbalik dan mendapati pria asing yang tadi menciumku malah melihatku dengan geli. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Entah darimana aku mengetahuinya tapi pria asing itu seakan hanya ingin menggodaku.
"Maaf?" Aku mencoba bersikap sopan padanya.
"Terima kasih, mungkin? Kau juga bisa memberiku imbalan lain. Aku menerima semuanya." Katanya
Kuputar mataku. "Bukan bermaksud tidak sopan, sir tapi kurasa kau sudah mendapatkan imbalanmu tadi."
Dia terlihat pura- pura berpikir, yang menurutku sangat seksi. Sialan Alana! Apa yang sedang kau pikirkan?!
"Maksudmu ciuman tadi? Aku hanya berusaha membantumu."
"Aku tidak pernah tahu kalau membantu orang harus melibatkan ciuman."
Dia menggigit bibir bawahnya yang kuasumsikan kalau dia berusaha untuk tidak tertawa. "Dia perlu bukti dan aku hanya menunjukkan buktinya saja."
"Dari yang aku dengar tadi, kaulah yang mengatakan itu tadi."
Dia tertawa. "Aku setuju tapi sulit rasanya menahan diri jika berdekatan denganmu. Aku juga tidak tahu apa alasannya."
"Oh. Senang akhirnya mengetahui kau memiliki motif."
"Motif?"
"Kutebak kau sering mempermainkan hati wanita."
"Aku tidak tahu apa defenisimu tentang mempermainkan hati wanita, tapi kurasa definisi kita berbeda. " lalu dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Mereka memberikan apa yang mereka miliki dan aku memenuhi apa yang menjadi keinginan atau sifat alami mereka."
Aku terperangah.
Ini konyol. Pembicaraan ini konyol dan dari semua kekonyolan ini kenapa aku bisa terlibat didalamnya?
***
Comments
Post a Comment