FATED TO LOVE YOU - EMPAT BELAS
Alana PoV.
Aku merasa tidak tahan melihat pria yang sedang memandangku seakan aku ini adalah orang yang paling lemah yang pernah dilihatnya. Bahkan jika aku lemah sekalipun, toh aku lebih memilih untuk tidak menunjukkan pada siapapun termasuk dari pria yang telah membawaku ke dunia ini.
"Alana..."
"Dad!" Sungguh. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ada saat dimana aku tidak menyukai perhatian ayahku saat ini sekaligus merasa lelah. "Kita sudah membicarakan hal ini, okey?"
Lama ayahku, James Sparks melihat kearahku dan aku menolak untuk mengalah. Selama ini aku baik- baik saja.
"Alana,"
"Dad, please. Aku serius ketika mengatakan tidak ingin membicarakan ini."
"Percayalah Alana sayang. Kau tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan daddy melihatmu harus tinggal di tempat itu. Tinggallah bersama kami."
Untuk kesekian kalinya dalam jangka waktu tiga puluh menit. Tidak pernah sekalipun aku menghela napas panjang. "Tempat yang daddy khawatirkan baik- baik saja."
"Tapi..."
"Lagipula aku sudah tinggal disana lebih dari empat bulan dan aku masih dalam kondisi yang sehat walafiat. Tidak ada luka bahkan kesakitan sedikitpun."
"Dad tahu kau baik- baik saja. Hebatnya kau telah memperlihatkan itu dengan sukses padaku tapi kau harus melihat kondisimu yang sekarang dan jika.."
"Dad!" Aku tidak tahan lagi. "Aku baik- baik saja, okey?" Kataku nyaris histeris. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan terima kasih karena telah mengkhawatirkannya."
Lama kami berdua terdiam dan keheningan yang terjalin diantara kami semakin membuatku merasa tidak nyaman.
"Apa dad memanggilku hanya untuk membicarakan ini?"
"Ini tidak hanya seperti yang kau katakan, sayang. Dad merindukan anak perempuan daddy..."
"Dad, jangan!"
"Sayang,"
Aku tidak mau mendengarnya.
"Jangan pura- pura peduli padaku."
"Daddy tidak pernah pura- pura peduli padamu. Daddy memang peduli padamu."
Sialan! Aku tidak mau mengeluarkan hal sialan yang bernama air mata sekarang.
Kugigit bibir bawahku kuat- kuat. Aku tidak mau. Aku tidak akan menangis. Sudah cukup yang kulalui bertahun- tahun yang lalu.
"Alana sayang." Kupalingkan wajahku. Tidak mau melihat wajah pria paruh baya dihadapanku saat ini dan mendengar suaranya yang lirih. "Maafkan kami." Oh jangan!
"Seriously dad!" Aku memotongnya cepat. Aku tidak suka berada dalam situasi ini. Aku tidak mau. "Apa maksud dad menyuruhku kemari? Yang sebenarnya."
Kami berdua kembali saling menatap. Lama dan memuakkan. Bahkan jika aku menyayanginya bukan berarti aku tidak melupakan kehidupan yang dulu kualami.
James menarik napas panjang dan menghembuskannya, tampak sangat lelah dan tua.
"Ibumu menghubungiku." Katanya
"Mengejutkan sekali." Ujarku datar.
"Dia menanyakan keberadaanmu." Katanya lagi, tidak mengubris komentarku barusan. "Sepertinya Rianna menduga kau bersamaku."
"Ralat dad,"balasku. "Aku tidak bersama dad. Aku memiliki kehidupan sendiri, ingat?"
James mengangguk. "Tapi bukan berarti kita tidak berada di negara yang sama."
"Aku memilih Jepang karena aku pernah berada lama disini dan bukan karena dad juga berada disini."
"Daddy mengerti."
Tidak. Dia tidak mengerti.
"Bagaimana keadaanmu?"
Kukernyitkan dahiku, heran dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba- tiba ini tapi apa gunanya. Setidaknya perubahan pembicaraan ini tidak lantas membuatku ingin kabur secepat mungkin.
"Aku baik."
"Dan bagaimana dengan bayimu?"
Bisa kurasakan kernyitan di dahiku semakin dalam ketika mendengar pertanyaan barusan.
"Kurasa dia juga baik." Balasku sedikit ragu.
"Kau rasa? Apa kau sudah mengetahu jenis kelaminnya?"
"Aku belum ingin tahu."
"Hm,"
"Dad?"
James memberiku senyuman yang dulu sangat kusukai. "Tidak ada maksud apa- apa, Alana. Hanya ingin menanyakan keadaannya. Apa kau rajin memeriksakan kandunganmu?"
"Dad?"
"Kuharap kehamilanmu tidak terlalu merepotkan. Dulu di masa Rianna mengandung dirimu, dia selalu merasa tidak nyaman."
Flashback.
"Alana?"
"Mom?" Sungguh. Tidak pernah terpikir dalam benakku kalau aku akan setegang ini menghadapi ibuku sendiri. Setelah apa yang kemungkinan besar didengarnya. Oh! Semoga dia tidak mendengarnya.
"Kau hamil?"
Oh tidak!
Saat ini kami telah berada di ruang tamu dengan Aaron yang duduk disampingku sementara ibuku secara bergantian memandangi kami berdua.
"Jika anda tidak keberatan, kami akan menikah dalam waktu dekat ini." Rasanya hidupku kembali seperti yang dulu pernah kualami. Kutatap Aaron lekat- lekat. Dia pasti tidak akan... Tapi tatapan mata itu seakan menunjukkan... Apa itu? Kepastian? Tanggung jawab?
Aku benci harus memikirkan apa yang selanjutnya yang terjadi tapi yang pasti itu membuatku merasa seakan otakku baru saja di gerus dari porosnya. Kosong dan... Entahlah.
Menikah?
Aku bahkan tidak pernah berpikir kearah sana.
Pernikahan tidak masuk dalam daftar yang kuinginkan. Tidak pernah.
"Aku tidak menyangka kalau hubungan kalian akan seperti itu." Ujar ibuku tepat setelah aku berhasil mengusir Aaron dengan alasan lelah. Aku memang lelah. Tidak secara fisik tapi tetap saja aku lelah.
"Apa maksud mom 'hubungan seperti itu'? Tanyaku merasa mual.
"Aku mengenalnya Alana."
Kuangkat sebelah alisku, menyindir. "Oh ya?"
"Dia Aaron Bass."
"Dan?"
"Dan dia bujangan yang paling diincar di negara ini."
Tanpa sadar aku tertawa. Tawa sinis yang pernah kukeluarkan. "Wah. Mom memang mengetahui segala hal."
"Tidak semua hal, Alana." Balasnya muram. "Aku bahkan tidak tahu kalau kau sedang hamil."
Aku terdiam.
"Aku tidak ingin menikah." Kataku setelah menghembuskan napas.
"Alana!"
"Aku tidak ingin dia merasakan hal yang sama sepertiku, Mom!" Ujarku tak tahan.
"Apa maksudmu 'tidak ingin dia merasakan hal yang sama denganmu'? Memang apa yang kau rasakan?"
"Marah? Sakit hati? Kecewa? Aku tidak tahu."
"Kenapa kau bersikap seperti ini?"
"Aku tidak akan menyusahkan mom lagi."
"Apa yang kau bicarakan? Kau tidak pernah menyusahkanku."
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, mom."
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan."
Aku menggeleng. "Aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi."
"Alana!"
"Jangan 'Alana' aku, mom." Tanpa sadar aku membentak. "Aku lelah. Sungguh. Kumohon lakukan hal yang seperti yang biasa kau lakukan padaku." Kataku hendak beranjak menuju kamar ketika sebuah tangan menahanku.
"Apa maksudmu? Apa yang biasa kulakukan padamu?"
Oh ayolah! Aku sungguh membenci situasi saat ini.
"Jangan menghiraukanku, mom." Sentakku melepaskan diri.
"Demi Tuhan, Alana! Apa yang terjadi denganmu?!" Ujarnya histeris. "Bagaimana mungkin aku tidak menghiraukan putri semata wayangku. Hanya kau..."
"Mom," potongku. "Aku tahu apa yang mom rasakan. Aku bisa mengerti itu." Ujarku benar- benar lelah. Bagaimana mungkin hanya berbicara membuatku selelah ini.
"Kau tidak mengerti apa- apa."
Kutarik napasku dengan lambat dan menghembuskannya sepelan mungkin. Luka itu kembali mengagah.
"Aku tahu mom tidak mengharapkan kehadiranku ke dunia ini." Kataku pelan.
"Apa?" Jelas terlihat kalau ibuku syok pada apa yang baru saja kukatakan tapi bukan itu intinya.
"Mom membenci dad atas apa yang dilakukannya pada mom." Lanjutku. Tidak memperdulikan ekspresi di wajahnya. "Mom menikah karena sudah ada aku didalam diri mom waktu itu."
"Oh Tuhan! Itukah yang kau pikirkan." Rianna menjerit tidak percaya.
"Kenyataan memang selalu menyakitkan jika diketahui." Kataku sepelan mungkin. "Aku adalah anak yang tak diinginkan kehadirannya. Maaf karena tidak menyadari hal itu."
"Astaga Alana."
Sebisa mungkin kutahan air mataku yang menjerit ingin keluar.
"Aku lelah."
"Kita belum selesai."
"Ya. Kita sudah selesai." Kataku mulai gusar. Aku tidak ingin menangis.
Selama beberapa saat kami berdua terdiam. Memikirkan apa yang ada dalam pikiran kami.
"Jadi," katanya dengan sangat lambat dan lirih. "Kau tidak ingin menikah?"
"Ya."
"Dan apa yang akan kau lakukan dengan anakmu?"
"Aku berniat menggugurkannya secepat mungkin." Seiring kalimatku, mendadak sebuah tangan menampar sebelah pipiku dan sekali lagi aku melihat kemurkaan yang terpampang jelas di wajah ibuku.
"Apa kau sudah gila?!"
"Aku tidak menginginkannya, mom!" Teriakku. "Bayi ini adalah aib untukku!"
Plak. Sekali lagi di tempat yang sama.
"Tidak pernah sekalipun aku mengajarkan padamu cara tidak bertanggung jawab seperti yang barusan kau katakan, Alana Sparks!"
Aku tahu mom dan aku menyesal. Tapi apa yang harus kulakukan? Batinku diam- diam menjerit.
Dengan paksa kusunggingkan senyumku. "Ya. Kau sudah mengajarkan sebuah tanggung jawab, tepat di usiaku yang menginjak dua tahun, mom." Kataku menahan getir yang menyesak. "Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri di usia itu dan melihat kalian bertengkar dan akhirnya memutuskan berpisah beberapa jam setelahnya memberiku pelajaran agar mengambil tanggung jawabku sendiri. Hebat kan?"
"Alana..."
"Aku... Aku... Aku...bertanggung jawab."
Flashback ends.
"Alana?"
Aku tersentak dan menyadari masih berada dihadapan ayahku dengan aku yang menjadi objek pengamatannya.
"Alana?" Sekali lagi suara James yang memanggilku.
"Aku baik- baik saja, dad." Kataku mengambil minumanku dan meneguknya.
"Apa kau tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan?" Tanyanya dengan pandangan menyelidik.
"Mengenai apa?" Balasku mencoba terlihat biasa- biasa saja.
"Siapa ayah dari anakmu itu?"
Mendadak aku berhenti dari mengusap perutku yang semakin membesar dan menyadari arah tatapan ayahku.
"Aku tidak ingin membicarakannya." Aku menjawab hendak mengalunkan kembali syal di leherku. "Kurasa pembicaraan ini sudah selesai."
"Alana..."
"Aku tidak ingin membicarakannya." Kataku dan tanpa kuduga James meraih sebelah tanganku yang bebas dan memegangnya dengan erat.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, sayang." Katanya pelan dan ada sarat kesedihan yang terdengar didalamnya. "Hubungan kami memang tidak bisa diselamatkan waktu itu."
Kuhembuskan napasku, dengan pelan melepaskan rengkuhan tangan ayahku dari tanganku. "Aku tahu."
"Yang harus kau ketahui adalah kami sangat senang dengan kehadiranmu diantara kami."
Aku meragukannya.
"Kau pun harus tahu kalau kami menyayangimu." Lanjutnya. "Dulu dan sekarang."
Aku tidak tahu harus menjawab apa dan memutuskan diam adalah cara satu- satunya.
"Kau bukan bagian dari kesalahan yang dulu kami lakukan. Hanya saja," jeda sesaat dan melihat James menghela napas. "Dua orang dalam pemikiran yang berbeda tidak selalu bisa bersama."
"Aku mengerti, dad." Kataku tersenyum.
"Kau adalah hadiah terbaik yang pernah hadir diantara kami dan kami bersyukur karena itu."
Aku tidak mau mendengar lagi.
"Maafkan aku dan Rianna."
Aku benci ini.
"Kalian tidak salah apapun. Itu juga tidak akan mengubah apapun." Kataku.
"Lupakan kejadian dulu dan belajarlah untuk masa depanmu."
"Aku sudah belajar." Balasku lagi.
"Coba bukalah hatimu. Kau tidak harus bertanggung jawab atas apa yang dulu kami berdua lakukan. Jalani hidupmu."
"Cukup dad!"
"Alana,"
"Aku sungguh tidak ingin membicarakan ini."
Sekali lagi kulihat James menghembuskan napas tapi kali ini lebih panjang. "Baiklah." Ujarnya menyerah. "Tapi setidaknya beri tahu siapa pria itu."
Aaron.
Tapi tentu saja aku tidak akan mengatakannya. Aku tidak mau dan tidak akan.
***
Comments
Post a Comment