FATED TO LOVE YOU - EMPAT
Rasanya nyaris seabad ketika mendengar Jane menggerutu dan aku juga tidak bisa menyalahkan alasan dibalik sikap menyebalkannya itu. Untunglah pagi tadi dia memutuskan untuk pergi ke Budapest melakukan pekerjaannya disana tapi bukan berarti kehidupanku juga seaman seperti ketika teroris berhasil ditangkap karena faktanya...
"Ayolah Alana, Aku tidak mungkin ke club itu sendirian."
Untuk kesekian kali sejak sepuluh menit yang lalu, Jessi berusaha untuk mendesakku agar pergi bersamanya ke club malam ini dan dia adalah wanita gigih yang pernah kutemui yang tidak mengenal kata menyerah.
"Baik," balasku setelah menghembuskan napas yang terdengar cukup keras. "Tapi aku tidak ingin mabuk. Kau tahu kan kalau besok pagi aku harus berangkat ke Italy untuk pemotretan." Kataku mengingatkannya.
"Deal. 15 menit lagi aku tiba."
Wait? What? Tapi sebelum aku bisa mengucapkannya, gadis itu sudah menutup telponnya. Shit!
Tepat 15 menit seperti waktu yang dikatakannya, dia sudah menggedor- gedor pintu rumahku sebelum ibuku datang dan memarahiku karena telah membuat kekacauan menjelang tengah malam.
"Dammit Jess! Apa kau berniat memberiku masalah dengan membangunkan semua orang?" Aku menatapnya jengkel yang dibalas dengan nyengiran darinya.
Sedetik kemudian bibirnya merekah hingga tampak mengerikan. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Dress berwarna merah dengan potongan dada yang rendah dan mungkin sangat menggoda yang sedang kukenakan tentunya membuat senyumnya yang menjengkelkan itu tambah merekah.
"Wow, kupikir kau tidak berniat pergi."
Kuputar mataku, berusaha tampak tidak peduli. "aku tidak mungkin menggenakan hotpants dan kaos kesana."
"Kalau begitu ayo kita pergi." Ujarnya seraya menyunggingkan senyumnya lebih lebar.
Tidak biasanya Jessi bersikap seakan dunia akan kiamat besok. Jessi segera mengambil segelas alkohol dan meneguknya hingga tandas dan berkeliling untuk berdansa sembari tangannya ikut menyeretku agar ikut bersamanya.
Sikapnya yang aneh mengundang para pria mendatangi kami dan ikut meliukkan badan bersama dengan kami ketika mendadak aku merasakan bibir seseorang di bibirku.
"Hm sayang."
"Jared." Aku tertawa, tidak peduli dengan sikap menyebalkan pria itu kemarin dan semakin memperdalam ciuman kami.
"Kau mau minum?"
Kuanggukkan kepalaku, masih terhipnotis akan euphoria yang disebarkan oleh Jessi. Wanita itu selalu benar jika ingin mengajakku bersenang- senang. Aku memang membutuhkan malam ini.
Jared pergi lebih dulu untuk mengambilkanku minuman sementara aku menunggu di sofa memperhatikan ke bawah- ke lantai dansa dan memperhatikan Jessi tertawa riang dalam bisikan seorang pria. Aku bukannya tidak peduli dengan Jessi tapi kurasa sebaiknya dia meluapkan semua yang dirasakannya malam ini sebelum dia meledak dan mulai bercerita.
"Apa yang kau perhatikan, sayang?"
Aku mendongak dan melihat Jared sedang melihatku. Kusunggingkan senyumku- menerima minuman yang disodorkannya.
"Jessi." Jawabku meneguk minumanku.
Jared ikut melihat apa yang kulihat dan menggelengkan kepalanya.
"Dia sudah dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri."
Kuteguk sekali lagi minumanku. Aku tidak ingin bertengkar dengan siapapun hari ini.
"Kau sangat cantik, Alana. Apa kau tahu itu?"
Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Tidak keberatan ketika Jared kembalo merapatkan ke dekatku dan mulai menciumku lagi.
"Aku sudah lama menginginkan ini."
Lagi- lagi aku tertawa. Rasanya tubuhku mendadak panas dan dingin dalam satu waktu.
"Apa sebaiknya kita pergi dari sini?"
"Aku tidak tahu apa itu ide yang bagus tapi aku bersama Jessi."
"Lupakan soal Jessi. Dia bisa menjaga dirinya."
Aku semakin tertawa ketika bibirnya sudah berada di leherku. "Baiklah. Tapi aku perlu ke kamar mandi dulu."
Kuayunkan kakiku dan melangkah dengan terhuyung- huyung menuju toilet di lantai bawah. Entah minuman apa yang diberikan oleh Jared tapi kupikir, efek yang ditimbulkan sangat dahsyat. Aku baru minum beberapa teguk dan aku nyaris sempoyongan karena mabuk. Tidak biasanya aku mabuk semudah ini apalagi jika hanya satu gelas.
"Hei, kau tidak apa- apa?" Tanya seseorang yang berhasil menangkapku sebelum wajahku sukses mendarat di depan toilet.
Hmm aroma rempah- rempah dan kopi? Seems yummy.
Kudonggakkan kepalaku dan langsung bertatapan dengan mata abu- abunya yang entah mengapa mengirimkan perasaan- perasaan aneh di sekujur tubuhku.
"Kau mabuk."
Aku terkekeh. "Tidak yang biasanya." Kataku. Efek dari matanya seakan memberiku perasaan magis dan mengirimkan sesuatu keinginan untuk menciumnya.
"Dengan siapa kau kesini?" Suaranya sarat akan makna hingga aku bisa mendengar sengatan kejengkelan darinya.
Aku tidak ingin mendengar suaranya lagi. Yang kuinginkan adalah mengecap bibir yang tampak menggoda itu dan pikiran logis mengalahkan akal sehat. Sedetik kemudian aku mendaratkan bibirku ke bibirnya. Aku bisa merasakan keterkejutan di tubuh dan bibirnya hingga aku hampir saja melepas pagutanku ketika tangannya menarikku agar semakin mendekat ke tubuhnya dan menciumku dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kurasakan.
"Kau membuatku terkejut dengan kehadiranmu disini, sayangku?" Dia mengelus wajahku dengan sangat lembut hingga rasanya aku ingin merasakannya lagi.
"Bawa aku." Kataku.
"Kau yakin?"
Aku tertawa. Kembali membawa bibirku ke bibirnya. "Tidak pernah merasa yakin sebelumnya." Bisikku di bibirnya.
Kami terus berciuman. Aku bahkan tidak memikirkan kemana dia akan membawaku. Selama itu bersamanya, entah kenapa aku merasa nyaman. Dan cara dia menciumku benar- benar membuatku kecanduan. Dia menciumku seakan ingin mengecapku dengan cara yang feminin dan juga liar. Ada sesuatu yang membuatku merasa enggan untuk melepaskan momen ini.
"Kau sudah membuatku gila sejak pertemuan pertama kita." Dia mengucapkannya dengan pelan sementara matanya tidak pernah berpaling dari wajahku. Diatasku."Caramu menatap dan bagaimana bibirmu membuka satu sama lain ketika berbicara membuatku sangat menginginkanmu."
"Benarkah?" Kutatap dia. Sebelah tangannya mengelus bibirku, mengamatinya sementara tangan yang lain menahan tubuhnya agar tidak terlalu menindihku.
"Kau harus percaya, sayang. Aku tidak pernah memperhatikan seseorang sedetail ini. Hanya dirimu."
Aku tidak mungkin mengatakan kalau ketertarikanku sudah mulai muncul ketika melihatnya tempo hari. Lagipula aku bukan orang seperti itu. Tertarik pada pandangan pertama bukanlah diriku. Aku hanya orang yang melakukan atas dasar kesenangan belaka. Tidak ada cerita selanjutnya.
"Aroma tubuhmu," dia menyurukkan kepalanya di leherku dan mengendusnya. "Harus kuakui aku menyukainya."
"Apa kau ini semacam anjing penjaga yang senang mengendus orang?" Tanyaku disela tawa.
Dia ikut tertawa. "Tidak. Tapi aroma tubuhmu sering menggodaku."
"Baiklah Mr. Pengendus, mari kita lihat sampai sejauh mana kau menyukai aromaku."
Kubuka kemeja yang dipakainya hingga kancingnya terlepas dan menikmati pemandangan di perutnya yang kuyakini sebagai hasil latihan yang rutin.
Aku bersiul, "kau memiliki tubuh yang sangat..."
"Bergairah."
Aku tertawa. "Menggoda tapi yah, kau juga menggairahkan."
Dia nyengir. "Kalau begitu biarkan aku melihat apa yang ada dibalik kain ini." Dia menyentakku agar bisa menempelkan tubuhnya. "Hm..." desahnya ketika hidungnya menempel di pundakku yang separuh telanjang.
"Kau menyukainya?" Tanyaku menggoda sementara membantu tangannya melepaskan pakaianku seluruhnya.
"Sangat." Katanya setelah tubuhku terekspos seluruhnya. "Dan kau sempurna."
Matanya seperti dipenuhi bara api ketika kami berada diatas ranjang yang berukuran besar dan berjengit kecil ketika dia memasukkan sesuatu ke tubuhku. Aku tahu apa yang dipikirkannya ketika dia berhenti tapi sudah kepalang basah. Aku tidak mungkin menghentikan kegiatan kami dan mulai berdiskusi tentang diriku.
Aku tidak sedang ingin berdiskusi. Aku hanya ingin dia menyelesaikan apa yang sudah dan sementara dia lakukan.
"Alana?"
"Cium aku, Aaron." Kataku seraya tanganku mendekap wajahnya agar bisa menatapku.
Dia mengerang tapi kemudian menciumku hingga membuatku ikut mengerang. Hentakannya semakin cepat tapi aku menyukainya. Aku semakin bisa mengimbanginya hingga kami sama- sama saling menyebutkan nama dan jatuh tertidur karena apa yang telah kami berdua lakukan.
.
.
"Ugh!"
Ada saat dimana aku membenci efek dari alkohol yang kuminum. Efek yang ditimbulkan membuatku sakit kepala dan karena aku sadar aku memiliki penerbangan pagi ini, pasti membuat penampilan semakin berantakan.
Masih memejamkan mata, kuraba- raba meja di sampingku untuk meraih ponsel yang selalu kuletakkan diatas meja dan mengernyit bingung ketika secara bersamaan telingaku menangkap suara napas yang sangat halus disisi sebelah kiriku dan membuka mata.
Awalnya yang kulihat adalah langit- langit kamar yang tampak berbeda dari kamarku dan berpaling hingga nyaris saja berteriak ketika melihat sosok lain yang sedang tertidur nyenyak.
Sialan! Apa yang sudah kulakukan?!
Cepat- cepat aku beranjak dari ranjang besar itu dan merasa kebas diantara kedua pahaku.
Sial... sial...
Tidak henti- hentinya aku merutuk diri sendiri. Seks dengan orang asing- yang bahkan sama sekali tidak kukenal.
Hentikan Alana! Sisi lain dari diriku membentak. Kau sudah melakukannya dan orang asing berarti adalah orang yang kau kenal. Ini hanya one night stand. Tidak akan berdampak apa- apa.
Kuanggukkan kepalaku. Mencari keteguhan dari apa yang kulakukan.
Lagipula ada hal lain yang perlu kupikirkan saat ini selain pria telanjang yang sedang terlelap diatas ranjang dan itu berhubungan dengan karirku di masa mendatang.
Segera kukumpulkan pakaianku dan mengendap- endap keluar dari kamar ketika nyaris saja mataku terbelalak.
Aku pasti melewatkan banyak hal ketika tiba disini. Sekeliling ruangan dipenuhi dengan ornamen khas pria lajang pada umumnya. Tidak ada sama sekali yang mencolok di setiap sudut, seakan siempunya menyuruh arsiteknya mengerjakan sedetail mungkin apa yang diinginkan oleh si pemilik tempat ini.
Di sisi lain. Sisi yang menjorok terlihat pemandangan jalanan dibawahnya dan matahari yang mulai bersinar melewati dinding- dinding kaca. Harus kuakui aku terpukau dengan tempat ini.
Kuraih ponsel dan heelsku yang tergeletak, tampak sangat menyedihkan plus keadaanku yang tampak kacau lalu membereskan lipatan bajuku untuk terakhir kalinya dan menyisir rambutku dengan tangan seadanya dan keluar menuju kehidupan nyata yang sebenarnya.
Melupakan apa yang telah terjadi.
***
Comments
Post a Comment