FATED TO LOVE YOU - ENAM BELAS
Aaron?
Apa yang dia laku-
"Mr. Bass," Ray berseru. Wajahnya berseri- seri dan aku berani bersumpah kalau diam- diam dia memberiku senyum seakan mengolokku. Sentuhan tangan Aaron di pinggangku semakin erat, membuatku merasa merinding sekaligus bergairah. Sialan! Ada apa denganku?. "Mr. Bass, apa kabar?" Ray mengulurkan sebelah tangannya hendak berjabat tangan yang hanya dibalas oleh Aaron dengan tatapan mata.
Ini tidak boleh dibiarkan. Pikirku dalam hati, jadi sebelum terjadi sesuatu seperti yang melibatkan keperkasaan lelaki. Aku berpaling kearah pria disampingku dan menyadari bahwa dia memperlihatkan wajah tegang sekaligus marah.
Kenapa dia?
"Mr. Bass,"
Aaron memberiku tatapan dinginnya, yang seketika membuatku mengernyit. "Sudah puas bersembunyi, sayang?" Suaranya terdengar dalam dan dingin.
Aku mengindahkan pertanyaannya dan lebih memilih untuk fokus pada apa yang dilakukannya di sini. Di Jepang. Dan kenapa dia tampak jauh lebih tua dari yang pernah kulihat? Meskipun yah, efek yang dihadirkannya masih tetap sama terhadap tubuhku... Atau bahkan lebih kuat dari yang pernah kurasakan.
Tunggu. Ada apa denganku? Berhentilah, Alana!
"Mr. Bass-"
"Jika kau tetap memanggilku dengan sebutan itu, maka jangan salahkan aku jika menidurimu disini." Potongnya.
Aku terperanggah. Tidak... Tidak... Lebih tepatnya aku melonggo hingga bisa menyakini rahangku serasa jatuh ke tanah.
"Aaron." Sahutku kesal. Pria aneh itu menyunggingkan senyum tipis. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Tidakkah kau tahu?"
Sungguh mengherankan aku masih memiliki sisa emosi setelah apa yang beberapa hari ini kulalui dan kehadiran Aaron semakin membuatku merasa di ujung tanduk.
"Tidak. Aku tidak tidak tahu." Jawabku. "Jadi apa kau mau berbaik hati memberitahukan padaku?"
Tidak ada jawaban darinya. Bahkan pria itu hanya memandangiku seakan aku adalah makhluk tak kasat mata yang hanya numpang lewat.
"Ehem... Ehem..." Oh Ray! Aku melupakannya. Kupalingkan wajahku dan melihat Ray justru menyunggingkan senyumnya padaku dan (mungkin) Aaron secara bergantian. "Kutebak kau sudah berhasil menemukannya, Mr. Bass." Katanya mengarahkan pandangannya kepada Aaron.
"Memang." Aaron membalas. Semakin mendekatkan tubuhku di tubuhnya dan oh! Aku... Aku.. Apa ini gairah? Karena aku seperti menginginkannya. Hormon kehamilan yang luar biasa! "Dan biar kutebak, sepertinya aku pernah menanyakan tentang keberadaan Alana pada semua orang dan mendapatkan jawaban bahwa tidak seorangpun yang tahu dimana wanitaku berada."
Ray tetap menyunggingkan senyumnya yang membuatku tidak habis pikir. Ray memang gay dan Aaron memiliki sesuatu yang kemungkinan besar disukai oleh pria seperti Ray, tapi aku ragu kalau Aaron akan menyetujui jika harus berhubungan dengan Ray juga.
Pemanfaatan tubuh yang sia- sia.
"Maaf?"
Aku menoleh. Menyadari aku baru saja menyuarakan pemikiranku. Aaron menatapku seakan aku baru menabrak tiang listrik sementara Ray terkekeh.
Ray kembali berdehem, berusaha menyembunyikan suara tawanya. "Anda benar, Mr. Bass." Katanya. "Aku juga tidak tahu kalau akan bertemu wanita-mu disini," Ray mengedipkan sebelah matanya padaku. "Ini kali pertama sejak dia menghilang beberapa bulan yang lalu." Lanjutnya. "Kuharap kau bisa menjelaskan pada pria-mu kalau hubungan kita tidak se-romantis itu, sayang meskipun kau memiliki tubuh yang luar biasa seksi."
"Aku tidak mengerti." Ujar Aaron heran seraya memandangku dan Aaron bergantian.
"Aku gay. Jika anda ingin tahu."
Aaron melihatku, keningnya semakin berkerut seakan menyerap sebuah informasi yang benar- benar rahasia.
"Yep. Ray gay." Sahutku setelah menghembuskan napas panjang. "Sekarang. Apa kau bisa tidak menahan tubuhku seakan aku akan langsung berlari sedetik setelah kau melepaskan tanganmu?"
Ray terkekeh. Tapi alih- alih Aaron melepaskan genggamannya, pria itu semakin mendekapku. Membuatku sekali lagi menghela napas. Percuma saja.
"Baiklah." Ray kembali berujar. "Sepertinya kalian membutuhkan privasi untuk saling berbicara." Dia tersenyum. "Hubungi aku kalau kau punya waktu. Aku berada disini sampai lusa."
Kuanggukkan kepalaku membalas ucapannya.
Beberapa menit setelah Ray meninggalkan aku dan Aaron. Tidak seorangpun diantara kami yang berniat untuk memulai dan aku masih tidak mengerti apa yang membuat Aaron mencariku. Dia tidak mungkin mencariku untuk bertanggung jawab atas anak ini, kan? Dia tidak perlu melakukannya.
"Dimana kau tinggal?"
"Apa?"
"Kalau begitu kita ke tempatku."
A-apa? "Tunggu. Aku tidak-"
Terlambat untuk menolak. Aaron sama sekali tidak berniat untuk menghentikan apa yang baru saja diputuskannya dan justru membawaku masuk ke mobil yang didalamnya sudah menunggu sopir.
Lagi- lagi tidak ada yang bersuara diantara kami. Aaron hanya terus menggengam tanganku hingga kami sampai di tempat tujuan.
Aaron tinggal di sebuah hotel dan menilik bagaimana apartemennya dulu, tidak heran dia berada di kamar paling mewah hotel ini.
Aaron membawaku agar duduk di sofa depan televisi dan menekan sebuah nomor.
"Kau lapar?" Tanyanya.
Aku menggeleng. "Sudah makan." Jawabku.
Dia mengangguk tapi tidak melakukan apa- apa.
Tidak pernah terpikir dalam hidupku akan merasa secanggung ini bertemu dengannya. Maksudku otakku juga memikirkan hal lain yang entahlah, mungkin spesifik mengenai apapun yang berhubungan dengan makanan. Maksudku bukan makanan yang sebenarnya. Aku membayangkan dirinya sebagai... Tunggu. Ada apa denganku? Harusnya aku tidak berpikir tentang itu. Astaga... Dia mengacaukan otakku!
"Kau tidak apa- apa?"
Tidak heran dia memandangiku seperti itu. Aku pasti memperlihatkan raut wajah yang aneh di depannya. Tidak heran dia akan menganggapku aneh. Tunggu, apa peduliku jika dia menganggapku aneh. Toh aku tidak memperkosanya... Sekalipun aku memang ingin mencicipinya.
Tuhan! Lindungi aku dari hormon kehamilan ini.
"Apa kau kesakitan?"
"Eh apa?"
"Yah, kau tampak..." Dia mengernyit seraya sebelah tangannya menyentuh tengkuknya. "Sudahlah lupakan saja."
"Sebenarnya kenapa kau membawaku kemari?" Sahutku cepat. Tidak ingin berpikir yang macam- macam lagi tentang dirinya dan well, bibirnya itu.
Aaron terdiam. Matanya menatapku lama dan aku tidak nyaman ditatap seperti itu olehnya. Jadi alih- alih aku duduk manis, yang mana aku sama sekali tidak manis, kuputuskan untuk bangkit dari tempatku duduk dan menjaga jarak sejauh mungkin darinya.
"Dengar Aaron. Aku tidak peduli kenapa kau membawaku kemari." Kataku mengusap kedua tanganku, mencari kehangatan disela pendingin ruangan yang menggigil ini. "Aku juga tidak peduli dengan apa yang kau lakukan disin." Kuhirup udara dengan cepat. "Tapi satu hal yang pasti, aku tidak mau kau bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan." Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya karena dia hanya terdiam memandangiku. "Kita berdua tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini tidak kita rencanakan dan apapun itu, aku tidak akan bisa... Maksudku, aku tidak bisa... Tidak bisa..."
"Oh persetan!" Dan sebelum aku bisa mengerti apa maksudnya, dia berjalan dan meraihku dan membawa bibirnya ke bibirku. Melumatnya tanpa ampun seakan melampiaskan seluruh amarahnya dalam ciuman yang diberikannya.
"A-Aaron." Aku menyahut disela aku yang menarik napas karena ciumannya. Aaron masih belum melepaskanku dan hanya menempatkan dahinya dan dahiku agar bersentuhan.
"Aku merindukanmu Alana." Ucapnya. "Sangat merindukanmu."
Deg.
Dan aku tidak tahu apa yang kulakukan selanjutnya, tapi satu hal yang pasti. Aku membawa bibirku kembali ke bibirnya dan menciumnya.
.
.
Aku kelelahan dan itu sudah jelas setelah apa yang kami lakukan semalaman tapi di satu sisi juga merasa puas sekaligus damai.
Tidak pernah terpikir dalam mimpiku sekalipun kalau aku akan mengalami hal ini lagi. Maksudku dulu kami melakukannya karena terpengaruh alkohol tapi sekarang. Semalam aku melakukannya dengan kesadaran penuh. Apa ini mulai membuatku seperti jalang?
Astaga... Memalukan sekali.
Aaron sepertinya sudah bangun dan itu bagus. Aku tidak yakin bisa melihatnya setelah apa yang terjadi diantara kami. Maksudku aku butuh waktu untuk menjadi lebih tenang dan tidak serta merta histeris karena menemukan pria tidur di ranjang yang sama denganku- sekalipun dia adalah ayah dari anakku kelak.
Aku menolak untuk melihat perubahan yang terjadi di wajahku. Aku seperti bersinar dan ada semburat- semburat pink yang seperti menyatakan ke penjuru ruangan. Aku sudah melakukan seks!
Setelah menggosok gigi- yang bisa kupastikan milik Aaron, membasuh wajah dengan air agar efek semalam tidak terlalu terlihat jelas. Aku kembali mengitari tempat tidur dan menyadari kalau pakaianku sama sekali tidak berada disana. Mungkin masih berada di sofa luar.
Tidak ada cara lain selain menggenakan pakaian miliknya. Membuatku semakin malu karena aroma tubuhnya seakan ikut membelitku seiring aku yang mengenakan pakaiannya. Bra dan celana dalamku sudah terkoyak dan nyaris tidak bisa dikenakan lagi. Sungguh menakjubkan bagaimana kedua benda itu begitu mudahnya hancur setelah Aaron menyentuhnya.
Sepuluh menit... Lima belas menit... Entah apa yang dilakukan Aaron di luar. Apa sekarang dia keluar? Apa dia pergi setelah apa yang terjadi? Tapi itu tidak mungkin. Barang- barangnya masih berada disini. Ponselnya bahkan masih berada diatas meja samping tempat tidur jadi kenapa dia tidak kembali?
Kriukkk...
"Wah, kau kelaparan, sayang?" Tanyaku sembari mengusap perutku dan tertawa ketika merasakan balasannya. "Baiklah. Ayo kita cari makan."
Baru beberapa langkah aku melangkah ketika mendengar suara- suara, salah satunya terdengar tidak asing di telingaku.
Aaron yang pertama menyadari kehadiranku dan berdiri dari tempatmya duduk. Sudah rapi dan beraroma enak.
"Hai sayang," dia mengecup keningku.
Aku tidak membalas. Lebih tepatnya aku tidak mempercayai apa yang baru saja kulihat. Dad dan Mayu sedang duduk diatas sofa, tempatku semalam. Mayu terlihat sangat syok sementara dad menyipitkan kedua matanya kearahku.
Dad yang pertama bangkit dari duduknya dan Aaron melihatku dengan pandangan bingung.
"Senang melihatmu sudah bangun, Alana." Ujarnya pelan dan sarat makna. "Tidak pernah terpikir dalam pikiranku kalau partner bisnis Mr. Nikishima dan partner bisnisku dulu adalah ayah dari calon cucuku."
Tidak ada yang bersuara bahkan aku pun tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
"Hai dad."
***
Comments
Post a Comment