FATED TO LOVE YOU - ENAM

Kuharap dia belum pergi.

Tanpa memperdulikan bunyi klakson yang membahana dibelakangku. Kulajukan mobilku dengan terburu- buru menuju Penthouse. Dia tidak boleh pergi sebelum aku menemuinya. Barang yang dicarinya masih ada padaku- tepatnya berada di tanganku. Dia tidak mungkin pergi secepat itukan, mengingat betapa gigihnya dia agar bisa berbicara denganku.

Fuck!

Harusnya rapat sialan itu tidak memakan waktu selama tadi tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan rapat sepenting itu.

Kuparkir mobilku tepat secara asal. Beruntung ada petugas yang melihat dan tanpa mengatakan apa- apa kulempar kunci kearahnya yang dengan sigap ditangkapnya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya tanpa perlu kukatakan meskipun dia mungkin heran dengan kelakuanku hari ini. Masa bodoh!

Segera kumasuki benda segiempat khusus dan menekan angka 69 yang akan membawaku ke penthouseku- mengharapkan dia masih berada disana.

Darimana dia? Mengapa butuh waktu selama itu mengambil barang miliknya dan mendatangiku?

Kurogoh sakuku dan mengeluarkan gelang berukiran indah dari sana- mengamati setiap detail yang ditunjukkan oleh benda itu. Hanya itulah benda yang tertinggal di tempat tidurku setelah kepergiannya yang kupikir hanya sebuah mimpi indah.

Bunyi lift yang menandakan aku telah sampai di lantai 69 berdentang dan terbuka secara bersamaan. Segera kutekan password tempatku tinggal dan seketika mengernyit mencari sosoknya tapi penthouseku terlihat sangat sepi- sama seperti yang tadi kutinggalkan.

Apa dia sudah menemukannya?

Tapi itu tidak mungkin.

"Alana?" Kupanggil namanya sesuai yang terukir dalam gelangnya tapi tidak ada sahutan dimana- mana.

Kuraih ponselku lalu mencari nomor Leela.

"Kirimkan nomor ponsel Miss. Sparks padaku sekarang." Perintahku tepat pada saat dia menjawab pada dering pertama dan langsung menutupnya.

Tidak lama kemudian ponselku berbunyi yang menandakan sebuah pesan masuk dan langsung membukanya ketika menemukan sebuah nomor yang tertera disana. Alana pasti sangat menginginkan gelangnya hingga berpikir untuk meninggalkan nomor telponnya, berharap aku akan menghubunginya agar bisa mengembalikan barangnya. Yang akan kulakukan tapi tidak untuk gelangnya.

Hanya terdengar nada sambung diseberang tapi tidak ada yang mengangkatnya. Kemana dia dan apa yang dilakukannya? Sialan! Kucoba sekali lagi tapi tetap tidak ada yang mengangkat. Brengsek! Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ini?

"Halo?" Suara lembut diseberang seketika membuat amarahku menggelegak.

"Dimana kau?" Bentakku marah.

"Maaf?"

"Bukankah kau ingin mencari barang yang ketinggalan di tempatku?"

"Mr. Bass?"

Tentu saja ini aku. Berapa banyak barang yang sudah ditinggalkan di tempat orang lain sampai harus terdengar sangat ragu ketika mengatakannya?

"Maafkan aku tapi aku belum mencari secara keseluruhan di tempat anda."

Sudah jelas itu yang terlihat.

"Jadi dimana kau?"

"Eh aku..." Aku berani bersumpah akan mencekik wanita ini jika bertemu dengannya. Kenapa dia harus terdengar ragu seperti itu? Apa dia bersama pria lain? Pria waktu itu? Sialan! "Apa itu Aaron?" Bisa kurasakan kedua alisku seketika saling bertaut. Aku mengenal suara bersahaja yang baru saja kudengar.

"Apa kau bersama ibuku?"

Kudengar helaan napasnya. "Ya."

Keningku semakin bertaut. "Apa yang kau lakukan dengannya?" Ada perasaan aneh ketika mendengar dia bersama dengan ibuku.

Lagi- lagi aku mendengar helaan napasnya kemudian suaranya mendadak menjadi semakin kecil seperti berbisik.

"Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang kulakukan disini tapi Grace memaksaku kemari dan aku tidak bisa menolaknya."

Aku tahu bagaimana gigihnya ibuku jika ingin seseorang menuruti keinginannya ketika kemudian pemahaman langsung melintas dalam benakku.

"Apa kau berada di rumahku?"

"Maksudmu rumah orang tuamu? Harus kukatakan ya. Maafkan aku, Mr. Bass."

Sialan! Harusnya aku tahu apa maksud ibuku. Dia pasti sudah salah paham.

"Aku akan kesana." Kututup telponku dan langsung mengambil kunci mobil yang lain.

Sialan! Sialan! Harusnya aku tahu. Pasti ibuku tadi datang ke penthouse dan melihat keberadaan Alana hingga salah paham. Tidak ada seorangpun selain aku yang pernah memasuki tempatku tinggal yang kuanggap sebagai privasi. Dan menemukan Alana disana sudah jelas memunculkan spekulasi yang tidak- tidak tentang apa yang terjadi antara aku dan wanita itu meskipun sebagian memang ada yang terjadi.

Rumah yang ditempati oleh kedua orang tuaku sangat nyaman dan indah. Dengan taman dan kolam yang sangat cantik dibagian belakang. Ibuku menolak untuk tinggal di sebuah apartemen mewah karena menurutnya rumah lebih terlihat nyaman dibandingkan sebuah bangunan yang juga dikelilingi bangunan lain. Ibuku sangat menyukai suasana kekeluargaan dan ayahku sepenuhnya mendukung keinginan ibuku. Tentu saja.

Sesampainya didalam rumah kedua orang tuaku. Hal pertama yang kudengar adalah suara gelak tawa yang berasal dari dapur. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi apapun itu, hal itu menunjukkan kalau mereka saling melempar candaan.

"Oh Aaron sudah datang!" Grace memekik dan langsung memberiku sebuah pelukan khas ibu.

"Apa kabar, mom?" Kubalas pelukan ibuku dan melihat Alana hanya melirikku sekilas sebelum melanjutkan apa yang sedang dilakukannya itu.

Apa dia baru saja tidak memperdulikanku?

"Apa kau tahu, Aaron. Alana sangat pandai memasak." Komentar ibuku, membuat Alana kembali berbalik dan tersenyum. Tunggu, dia tersenyum padaku atau ibuku?

"Hanya makanan yang sederhana, Grace." Timpal Alana tapi kutebak dia juga merasa malu. Pipinya terlihat bersemu ketika mengatakannya. Sangat cantik.

Ibuku melambaikan tangannya tanda tidak menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Alana. "Tidak semua gadis sepertimu senang berada di dapur, sayang  apalagi jika mengingat pekerjaanmu yang sebagai model. Bagaimana menurutmu, Aaron?"

Kugaruk tengkuknya, kaget dengan pertanyaan dadakan dari ibuku. "Well, kurasa ibu benar." Jawabku mencari cela aman saja.

"Tentu saja." Ibuku menekankan dengan tegas. "Oh kuharap ayahmu tidak lupa untuk pulang cepat hari ini. Apa sebaiknya aku menghubungi ayahmu lagi?"

Aku menganggukkan kepala. Tanpa persetujuanku pun pasti ibuku akan menghubungi ayahku. Ibuku sangat tidak mau ayahku melewatkan apapun apalagi ada Alana disini. Ibuku pasti ingin memperkenalkan Alana pada ayahku juga.

Sepeninggal ibuki, hanya aku dan Alana yang berada di dapur. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Aku tidak tahu bagaimana sifat Alana tapi yang kuingat dia cukup menggairahkan malam itu. Aku tidak bisa lupa bagaimana ekpresinya ketika aku berada diatasnya. Rasa bibirnya dan aroma tubuhnya yang sangat menggoda dan...sialan. Aku bisa merasakan tubuhku menginginkan dirinya lagi.

Kuhirup udara dalam- dalam, mencoba menghilangkan efek yang ditimbulkan karena dirinya dan berjalan meraih gelas dan mengisinya dengan air.

Dia masih tetap tidak memperhatikanku dan lebih memilih fokus pada apa yang sedang dibuatnya.

"Bagaimana kau bisa terjebak disini bersama ibuku?" Tanyaku membuka pembicaraan disela aku meneguk airku.

Aku perlu pengalih perhatian selain dari memandangi tubuhnya yang sangat menggoda itu. Alana memang tidak memakai pakaian yang seksi. Hanya kaos dengan lengan panjang dan shortpants yang memperlihatkan kaki jenjangnya tapi itu sudah cukup membuatku bergairah.

Alana sekilas tersenyum lalu mengerutkan hidungnya, tampak seakan memikirkan jawaban apa yang akan dikatakannya padaku.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan memberitahukan ibuku sekalipun kau menjelek- jelekkannya." Tambahku yang langsung membuatku terkesima ketika melihatnya justru tertawa.

"Kau konyol, Mr. Bass." Katanya disela tawanya. "Grace tidak sepenuhnya menjebakku disini. Dia mengundangku makan malam disini."

"Mengundangmu bukan berarti harus memintamu memasak juga kan?"

Matanya menyipit melihatku. "Tidak masalah. Aku menyukainya."

"Bagus. Aku juga menyukainya." Aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan dan menolak memberinya pernyataan lain meskipun dia melihatku dengan wajahnya yang cantik itu.

"Kau tahu, Mr. Bass..."

"Aaron." Aku benci jika dia memanggilku seperti itu.

"Maaf?"

"Jika kau bisa memanggil ibuku dengan namanya maka sebaiknya kau juga memanggilku dengan namaku dan namaku Aaron."

"Aku tahu." Ucapnya memutar mata. "Hanya saja..."

"Apa kau keberatan jika kupanggil dengan namamu, Alana?"

"Eh, kurasa tidak."

"Kalau begitu panggil aku dengan namaku, Alana."

Sejenak dia menatapku dan menghela napas. "Kau pasti sangat pandai memanipulasi orang"

Aku tersenyum mendengar pernyataannya. "Aku tidak mungkin memimpin sebuah perusahaan jika tidak pandai memanipulasi orang."

Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka sedikit hingga rasanya aku ingin merengkuh dan menciumnya saat ini juga, ketika kemudian aku melihatnya mendengus.

"Tentu saja." Dengusnya.

Aku tertawa. Wanita ini memiliki banyak ekspresi yang ditunjukkannya padaku. Hal yang sangat tidak biasa kudapatkan dari wanita manapun. Membuatku terkesima.

"Apa yang kau masak?" Tanyaku setelah beberapa saat.

"Ayam dengan saus blackpepper. Apa kau menyukai mashed potato? Aku juga membuatnya tadi."

"Jangan khawatir. Aku bukanlah tipe yang pemilih." Kataku.

Rasanya sangat aneh mendengar apa yang kusukai dan tidak kusukai tadi. Seakan dia ingin melibatkan aku didalamnya. Sialan, Aaron! Apa yang kau pikirkan? Tentu saja dia hanya menanyakan itu karena kaulah pemilik rumah ini.

"Ambilkan piring di sebelahmu." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari masakannya. Sebelah tangannya terulur kesamping- kearahku tapi ketika dia tidak menerima apa yang diinginkannya. Dia berpaling agar bisa melihatku. Keningnya terangkat lalu kemudian aku bisa melihat tatapannya berubah geli.

"Oh baiklah Mr. Bossy. Aku minta maaf. Apa kau bisa mengambilkanku piring di sampingmu," dia masih memperlihatkan tatapan gelinya. "please?" Dia menambahkan kata terakhir dengan senyum di wajahnya.

"Look who's talking." Aku membalasnya tapi tetap mengulurkan piring yang dimintanya kearahnya.

Aku mendengar suara tawa samar yang berasal dari bibirnya dan menahan diri untuk tidak mendorongnya ke depan kulkas dan mencium bibir manisnya itu.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS