FATED TO LOVE YOU - EPILOG
Aku tidak pernah merasa malu seperti yang kurasakan kala itu meskipun kejadiannya sudah lama berlalu tapi rasanya sulit dilupakan jika orang- orang disekelilingmu selalu mencoba mengingatkan hal itu. Lagi dan lagi.
Kejadiannya seperti ini.
Tidak pernah terlintas dalam benakku kalau semua orang berkonspirasi agar aku menunjukkan apa yang selama ini kurasakan. Maksudku, siapa yang menyangka kalau Aaron akan memasang kamera tersembunyi disetiap jalan yang akan kulalui dan menghubungkannya ke ipadnya. Dari Ipadnya itulah hingga dia bisa mengetahui apakah aku sudah berada di rumahnya atau tidak.
Flashback.
Aku tidak pernah merasa semarah ini dalam hidupku. Ini seperti darah naik ke ubun- ubunku dan tidak turun- turun lagi. Aku marah sekali terutama pada Aaron. Aaron selalu mengucapkan kata cinta yang bahkan bisa membuat es di kutub utara menjadi meleleh seketika dan aku sudah bertekad jika pulang nanti, aku akan mengucapkan kata yang sama umtuknya. Tapi apa yang kutemukan sekarang? Aaron merangkul wanita itu, oh wanita itu merangkul Aaron. Terserahlah siapa yang merangkul siapa, yang jelas apapun posisi mereka salah dimataku.
Mengacuhkannharga diri dan juga rasa malu ditambah perasaan tidak suka yang menggunung. Kulangkahkan kakiku menuju dua orang itu yang entah bagaimana sama sekali belum menyadari datangnya sebuah bencana. Xander juga tidak bergerak atau melakukan gerakan lain dan hanya memberiku tatapannya, seakan ikut memngomporiku agar segera menyelamatkan ayahnya dari belitan ular siluman segera.
Kutarik lengan Aaron dan kudekap dengan kedua tanganku. Aaron tampak terkejut ketika melihatku tapi tidak mengatakan apa- apa. Sementara aku sudah siap menghancurkan apapun saat ini.?
"Apa yang kau lakukan?" Pekik si wanita kaget.
Apa yang kau lakukan? Aku mencibir dalam hati. "Siapa kau?"
"Maaf. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Siapa kau?"
"Aku tinggal disini."
Wanita itu diam. Sementara matanya menatapku lalu ke Aaron. Aku tidak tahu bagaimana raut wajah Aaron karena aku sama sekali menolak mengalihkan tatapanku dari wajah wanita itu.
Sekilas aku melihat wanita itu menganggukkan kepalanya lalu kembali melihatku. "Jadi kau pengurus rumah disini?"
Maaf? Apa katanya? Pengurus rumah ini? Apa aku memiliki penampilan seperti pengurus rumah?
Kupandangi diriku. Dress putih selutut, meskipun ada Xander yang kudekap erat di depan tubuhku tapi jelas sekali aku tidak memiliki penampilan seperti pengurus rumah tangga. Dan wajahku. Aku yakin wajahku sama sekali tidak semengenaskan itu meskipun ada Xander yang harus kuasuh. Aku baru memiliki satu anak dan bukannya sepuluh dengan anak yang berbaris seperti kereta api.
Apa aku sudah tidak cantik lagi? Kupandangi Xander dengan sedih dan seperti mengetahui apa yang kurasakan Xander tersenyum dan menyentuh wajahku dengan tangannya yang kecil, membuatku kembali berenergi.
"Kau ini tuli atau apa? " Aku menatap si wanita dengan sinis. "Aku tinggal disini berarti aku pemilik rumah ini."
"Seingatku Aaron lah pemilik tempat ini."
"Memang. Kami timggal bersama."
Wanita itu tertawa. "Jangan bohong. Setahuku, Aaron sama sekali tidak memiliki teman kencan atau... Istri."
Kupalingkan wajahku, memberi Aaron tatapan yang ingin mengulitinya tapi juga mengatakan 'dimana kau menemukan wanita sinting ini?' Yang dibalas Aaron dengan kekehan panjang lalu menarikku hingga aku berada di depannya sementara sebelah tangannya ditaruh di atas perutku dan tangan yang satunya sedang memegang tangan Xander dan memain- mainkannya. Hembusan napas Aaron bahkan bisa kurasakan di leherku.
"Jadi ada di posisi mana dirimu? Teman kencan atau istrinya?" Si wanita kembali bertanya. Membuatku kembali merasa jengkel.
"Bukan keduanya." Jawabku.
"Jadi?"
Apa dia ingin mengujiku? "Apa hubungannya denganmu?"
"Oh jelas ada. Karena jika aku tahu kalau Aaron masih sendiri aku akan..."
Wanita ini memang sinting.
"Kami akan menikah." Sahutku langsung dan aku merasa tubuh Aaron tidak bergerak. Dia bahkan menghentikan aktivitas bermainnya dengan Xander.
"Oh ya? Kapan?"
Apa yang wanita ini inginkan?
"Secepatnya."
"Secepatnya kapan? Bulan depan? Atau bagaimana kalau aku menantangmu besok."
"Kau pikir aku takut? Baiklah. Aku dan Aaron akan menikah. Pastikan saja kau datang besok." Balasku tanpa pikir panjang.
"Selamat."
Hah?
Saat itulah aku melihat Charlie. Sosok yang tidak kusadari kehadirannya dan tiba- tiba keluar dari sudut tersembunyi disamping kulkas diikuti Jane dan Jessi serta dad dan Mayu di taman yang hanya dibatasi dengan kaca dapur, masing- masing memegang sebuah balon dan tulisan 'marry me'.
Flashback end.
Tak terasa pernikahanku dengan Aaron sudah menginjak bulan ketiga dan meskipun begitu, sikap Aaron sama sekali tidak berubah melainkan semakin intens dalam memperlakukanku. Bukan berarti aku tidak menyukainya, tapi rasanya sulit berpikir jernih jika dia berada didekatku. Ketika dia menyentuhku, maka aku akan meleleh seperti es krim.
Aku baru saja menempatkan Xander di boks tempat tidurnya ketika melihat Aaron yang sedang bersandar di sisi pintu.
"Hai sayang." Katanya dengan senyum di wajahnya. "Dia baru tidur?" Tanyanya sembari melangkahkan kakinya kearahku.
"Ya." Anggukku. "Sudah berapa lama kau berdiri disana?"
"Hm, cukup lama hingga rasanya aku sudah merindukanmu." Katanya sembari menciumi sepanjang leherku.
"Apa kau tidak lelah? Sudah makan?"
"Satu- satunya yang ingin kumakan adalah dirimu karena dirimu tidak pernah habis jika kumakan."
Aku tertawa. "Aku setuju." Lalu kubawa bibirku untuk bertemu dengan bibirnya. Sama- sama merasakan gairah yang berkobar diantara kami.
Jane dan Jessi benar. Aku tidak akan pernah tahu jika tidak pernah berani melangkah.
How can i be so fool in love?
We're meant each other. He loves me. I love him.
He fated to love me and I fated to love you, Mr. Bass.
END.
Comments
Post a Comment