FATED TO LOVE YOU - LIMA BELAS
Dunia memang sempit.
Entah bagaimana harus kukatakan. Apa kau masih ingat dengan Kyoko? Yep. Wanita paruh baya yang pernah kebingungan di sebuah pusat pertokoan beberapa bulan yang lalu. Wanita Jepang, istri dari rekan kerja...
"Alana!" Kadang kala ada saat dimana aku ingin tertawa ketika Kyoko menyebut namaku. Meskipun aku tidak memiliki huruf R pada namaku kecuali nama belakang- Sparks- tapi Kyoko seperti sangat kesulitan ketika melafalkannya, seakan dia berusaha untuk mem-brithis-kan namaku. "Aku tidak menyangka akan melihatmu berada di Jepang? Apa yang kau lakukan disini? Dan sudah berapa lama? Oh aku mau kau menceritakan semuanya padaku dan oh!" Aku tersenyum simpul ketika pada akhirnya ia melihat kearah sampingku dan mendapati aku tidak sendirian disini.
"Kyoko kenalkan, ini Mayu-" aku memperkenalkan Mayu pada Kyoko yang disambut dengan senyum penuh persahabatan. "-Mayu adalah ibuku. Tepatnya ibu tiriku."
"Ohayo." Timpal Mayu senang. "Senang bertemu dengan anda. Aku Mayu."
"Aku Kyoko. Oh. Cantik sekali."
Itu benar. Mayu memang cantik. Dan dengan pembawaannya yang ceria semakin membuat ibu tiriku itu semakin bersinar.
Aku tahu dari cara Kyoko yang melirikku diam- diam. Dia ingin menanyakan perihal kehamilanku tapi lebih sering mengurungkannya. Lagipula siapa yang menyangka kalau baik Mayu maupun Kyoko akan langsung bisa akrab, mengingat baru beberapa jam mereka berkenalan tapi seakan mereka sudah saling mengenal bertahun- tahun yang lalu.
Mayu wanita baik. Aku tahu itu. Setidaknya dia muncul ketika dad mengalami masa keterpurukan akibat perceraian kala itu dengan mom. Sejujurnya kami semua merasa terpuruk tapi memang tidak ada yang bisa kulakukan kala itu. Aku masih kecil. Baru saja akan menginjak usia tiga tahun dan melihat perceraian kedua orang tua di depan matamu sendiri bukanlah pengalaman menyenangkan bagi anak seusiaku dulu.
Aku berharap tidak ada yang terjadi diantara mereka di kemudian hari. Maksudku, aku tidak mau jika ada korban lagi akibat perceraian kedua orang tua kan?
Mayu dengan paksa (tapi asumsiku mengatakan kalau dad lah yang meminta Mayu agar menemaniku. Aku masih tidak mengatakan kepadanya siapa ayah dari bayiku yang kemungkinan besar dia menyuruh Mayu agar mencari tahu)- menyeretku agar keluar dari tempat yang kutinggali selama ini, membawaku ke pusat perbelanjaan termegah di Jepang agar mendapatkan berbagai macam keperluan bayiku kelak.
"Ini berlebihan." Aku mengerang lebih karena melihat banyaknya barang yang berada di trolley. Bagaimana aku membawanyi nanti?
"Tidak ada yang berlebihan untuk seorang malaikat yang akan datang ke bumi ini, sayang." Komentar Mayu dengan senyumnya yang menawan.
Mayu menolak disebut sebagai nenek di usianya yang baru akan menginjak usia 40 tahun dan memiliki anak berusia 6 tahun. Akane- adik tiriku. Jadi alih- alih menganggapku sebagai anaknya, Mayu lebih cenderung menganggapku sebagai teman, sahabat atau apapun istilahnya. Yang jelas dia tidak ingin aku terlalu terbebani dengan sebutan mom.
Mayu memutuskan untuk menikahi dad lama setelah dad bercerai. Meskipun keakraban mereka sudah terjalin ketika mereka masih berada dalam perusahaan yang sama tapi itu tidak membuat Mayu langsung menerima pinangan dad. Akane lahir dua tahun setelah pernikahan mereka dan bahagia karena memiliki putri lainnya yang sempurna. Tidak seperti aku yang merupakan barang pecah belah.
"Mayu benar." Kyoko menimpali. "Malaikat seharusnya disambut dengan sesuatu yang cantik dan mewah."
"Aku tidak butuh barang yang mewah..."
"Tapi cantik sudah jelas sangat kau butuhkan, sayang." Mayu memotong. "Jangan khawatir, aku yang akan membayar semua ini."
"Aku tidak-" kuhela napasku panjang. Percuma saja mengatakan hal itu padanya. Baik Mayu maupun Kyoko sama- sama berinisiatif untuk tidak mengubrisku, bahkan setelah aku mengerang karena tidak tahan dengan tingkah laku mereka.
"Harus dengam apa aku membawa barang- barang ini?" Ujarku lemah ketika Mayu sudah berhasil membayar semua barang- barang yang melebihi satu trolley ini dengan kartunya dan menoleh kearahku. Kuangkat kedua alisku ketika pandangannya justru bolak- balik melihatku dan barang bawaan didepannya.
Nah.
Dia pasti sedang memikirkan apa yang saat ini kupikirkan.
Aku tidak lagi tinggal di tempat yang dulu diberikannya padaku. Aku sudah pindah ke tempat yang jauh lebih kecil- yang kadang liftnya mati atau tidak berfungsi sama sekali dan berada di lantai 9. Tapi selama tempatnya murah dan sesuai dengan uang hasil pemotretanku dulu, yang saat ini hanya tersisa beberapa lembar. Aku bisa bertahan. Aku harus bertahan.
Toh, jika aku kekurangan uang. Mungkin aku bisa menjual barang- baranhpg yang saat ini berada dihadapanku. Yah, walaupun dengan harga yang sangat miring.
Bayiku pertama, yang lain belakangan. Itulah prinsipku sejak aku memutuskan mempertahankan bayi ini.
Lucu sekali, kenapa aku tidak sanggup melenyapkannya bahkan setelah apa yang sudah kualami? Tapi begitulah aku. Mungkin bayi ini juga membutuhkanku. Aku tidak tahu.
"Kita akan mencari cara." Ujarnya kemudian.
Oh bagus sekali! Lakukan saja. Aku sudah terlalu lelah saat ini. Toh, baik dad maupun Mayu selalu datang ke tempatku hanya untuk mengecek jadi biarkan saja.
"Aku berharap kalian datang ke rumahku suatu hari nanti." Sahut Kyoko yang berbicara pada Mayu. "Aku akan membicarakan pertemuan kita dengan Kazuo, suamiku sepulangnya dia dari pertemuan bisnis di luar negeri. Hari ini dia akan kembali jadi akan kuhubungi kalian jika waktunya tepat."
Mayu tersenyum. "Tentu Kyoko. Aku juga akan membawa James, suamiku dan ayah Alana."
"Menyenangkan sekali. Tentu saja. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kalian lagi." Katanya senang dan berlalu meninggalkan kami berdua menuju mobil pribadinya.
"Dia sangat baik." Mayu berkomentar setelah kami berdua melambaikan tangan kearah Kyoko yang mulai menjauh.
"Aku senang kau menikmatinya." Balasku ketika berbalik dan menyadari kalau Mayu sedang memperhatikanku. "Kau tampak pucat. Apa kau baik- baik saja?"
Aku mengangguk. "Ya. Mungkin aku hanya perlu beristirahat."
"Kalau begitu, ayo."
"Mayu," kutahan tangannya sebelum dia menyeretku. "Aku ingin istirahat di tempatku."
"Tapi..."
"Aku baik- baik saja. Tapi sebelum itu, bisakah kau membawa barang- barang ini?" Tanyaku sembari menunjuk barang- barang yang sudah dibeli oleh Mayu tadi. "Aku tidak yakin bisa membawanya secara sekaligus kali ini."
Mayu bolak- balik melihatku dan barang kemudian tersenyum. "Tentu. Aku akan mengantarmu." Tepat setelah ia mengucapkan kalimatnya, mendadak ponselnya berdering. Dia mengangkatnya dan semakin lama wajahnya semakin tertekuk ke belakang.
"Ada masalah?" Tanyaku setelah ia menutup telponnya.
Sejenak Mayu diam seakan mencari kosa kata yang bagus ketika kemudian dia menghembuskan napas. "Seharusnya barang yang kami pesan sudah tiba tapi ada masalah dengan pengirimannya jadi aku diminta untuk segera mengecek ulang. Oh Alana. Aku minta maaf."
"Tidak apa- apa." Kataku menenangkan dirinya. "Aku akan pulang naik bis."
"Naik taksi. Bis tidak cocok untuk kau yang sedang hamil besar seperti ini."
Ingin kukatakan kalau pernyataannya barusan adalah omong kosong. Selain karena naik bis jauh lebih murah, bis juga memiliki tempat untuk ibu yang sedang hamil, jadj semuanya baik- baik saja.
"Alana?"
"Aku akan naik taksi. Tapi sebaiknya kau bawa barang- barang ini ikut bersamamu." Tunjukku pada perlengkapan bayi dihadapanku dan mendadak merasa ngeri. "Aku tidak yakin bisa membawanya sampai di tempat tinggalku."
Aku tahu Mayu kembali ingin berdebat tapi sepertinya dia sedang diburu waktu. "Aku akan menyuruh kurir agar mengirimkan barang- barang ini ke tempatmu."
"Tentu," jawabku lebih kearah lega.
Keesokan harinya. Justru semakin membuatku merasa luar biasa kelelahan. Dad memang tidak menanyakan tentang identitas pria itu lagi setelah aku menolak memberitahukannya beberapa hari yang lalu. Dad masih berusaha mencari tahu dan sekarang itu melalui Akane.
Dad tahu betapa aku menyayangi Akane dan dia dengan teganya memanfaatkan kelemahanku itu.
Kulirik jam di tanganku yang telah menunjukkan pukul sembilan malam. Bis yang akan membawaku menuju distrik tempatku tinggal akan tiba beberapa menit lagi. Aku bekerja di sebuah toko buku kecil dengan penghasilan yang juga kecil- memang tidak seperti penghasilanku yang dulu kumiliki ketika aku masih melakukan pemotretan- tapi itu jelas cukup. Apalagi sekarang Matsumoto- san mulai memintaku untuk cuti sementara untuk mempersiapkan kehamilan yang sejujurnya masih ada sebulan lebih.
Bis yang akan kutumpangi sudah hampir terlihat dan beberapa menit lagi akan berhenti tepat dihadapanku, tapi alih- alih aku beranjak dari tempatku duduk, aku justru mendapatkan tubrukan di sekujur tubuhku tapi untungnya tidak lantas membuatku jatuh tersungkur ke tanah.
"Astaga! Ini benar- benar dirimu." Tangan yang menahanku mencengkramku semakin kuat, membuatku terpaksa mendongak dan serta merta membuat kedua mataku berbinar.
"Ray! Oh astaga!"
"Ya. Bagaimana keadaanmu? Oh kau memang hamil. Lihat! Perutmu maju ke depan. Sulit dipercaya." Komentarnya yang seketika membuatku harus memutar dua buah bola mata padanya.
"Aku hamil. Tentu saja perutku akan maju ke depan dan bukannya ke belakang." Hardikku panas. "Ternyata menjadi pria gay tidak lantas membuatmu menjadi pintar rupanya."
Ray terkekeh mendengar sindiranku. "Oh. Aku merindukan dirimu, gadis binal." Katanya memelukku tapi tidak erat dan terhenti ketika kami berdua justru terhalang dengan perutku yang membuncit dan tertawa beberapa detik kemudian. "Sudah lama sekali tidak mendengar suara tawamu. Kau memang selalu mudah diajak tertawa."
Aku mendengus. "Itu karena kau selalu saja mengucapkan kalimat yang konyol. Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat. Aku baik. Bagaimana denganmu?"
Aku tersenyum. "Selain tubuhku yang mendadak terlihat seperti paus. Aku merasa baik- baik saja."
Ray kembali tertawa. "Tapi entah kenapa hamil membuatmu semakin cantik. Aku serius." Tambahnya ketika aku memperlihatkan wajah ingin muntah padanya. "Kau cocok menjadi wanita hamil."
Lagi- lagi aku tertawa. "Katakan itu sebulan lagi. Kau tahu, aku bahkan kesulitan membaringkan tubuhku saat ini dan harus disanggah dengan beberapa bantal di belakangku."
Tanpa kuduga, Ray tidak memberikan komentarnya dan justru malah memberiku kernyitan di dahinya.
"Apa kau tidak tahu?" Tanyanya.
"Bahwa kau sudah menikah dengan teman gay-mu itu? Tidak. Aku belum tahu."
Ray mengibaskan sebelah tangannya, tidak mengubris. "Pria yang ikut berpartispasi dalam pembuatan anakmu itu marah besar ketika mencarimu."
"Mr. Bass?"
Ray terkekeh. "Kau masih memanggilnya dengan formal seperti itu?" Dia tertawa. "Kau memang tidak tertolong lagi."
"Itu kan namanya." Balasku mencibir. "Jadi apa yang terjadi?" Aku penasaran juga.
Ray mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Aku tidak berada di tempat kejadian. Aku menjalani sesi di luar kota tapi yang kudengar dia berbicara dengan Jane dan Jessi. Oh bahkan kedua wanita itu juga ikut mengamuk ketika tahu kau menghilang dari peredaran."
Tentu saja. Mungkin mereka berdua akan mengergajiku jika nantinya menemukanku.
"Oh sudahlah. Lupakan saja. Aku ingin tahu bagaimana rasanya."
Seketika aku mengernyit. "Rasanya apa? Hamil? Kau tidak bisa melakukannya. Kau kan laki- la..."
"Tentu saja aku tidak bisa!" Hardiknya membuatku serta merta terkikik. "Aku ingin merasakan pergerakannya. Apa dia sudah bisa merasakan kehadiran orang lain?"
"Jika yang kau maksud, apakah dia sudah bisa menendang, maka jawabannya ya dan aku terkejut perutku tidak lantas langsung terbelah karena tendangannya."
Ray tertawa. "Kau memang konyol." Katanya. "Jadi apa aku bisa menyentuhnya? Apa dia sudah tidur?"
Aku ikut tertawa. "Sebentar. Akan kubangunkan dulu." Kataku seraya menyentuh perutku dengan tanganku. "Dia sudah bangun." Aku memberitahunya dan konyol sekali ketika melihat Ray yang berbinar- binar. "Tempatkan tanganmu disini." Aku meraih tangannya dan menyuruhnya agar menyentuh daerah yang tadi kusentuh dengan tanganku dan melihatnya tersentak tiga detik kemudian.
"Oh astaga! Ini luar biasa."
"Aku tahu." Balasku nyengir.
"Aku ingin menyentuhnya lagi."
"Silahkan saja."
Ray bahkan belum menyentuhku ketika mendadak tubuhku tertarik ke belakang hingga membentur sesuatu yang kokoh dan terkesiap menyadari aroma maskulin ini.
"Kuperingatkan kau untuk tidak menempatkan tanganmu lagi di tubuh wanitaku."
***
Comments
Post a Comment