FATED TO LOVE YOU - LIMA

Aaron Pov...

"Bisakah kau tinggal lebih lama?"

Kupalingkan wajahku sejenak dan melihat Annie sedang memperhatikanku. Wajahnya begitu dekat hingga aku bisa mendengar desah napasnya akibat seks yang baru saja kulakukan dengannya dan meskipun terkadang dia terkesan agak manja tapi harus kuakui dia adalah partner seks yang luar biasa- setidaknya tidak setelah kejadian malam itu. Aku bahkan sulit membedakannya lagi.

Alana.

Hanya satu wanita yang benar- benar sangat menggangu pikiranku beberapa hari ini. Dia pergi bahkan tanpa mengucapkan kata maupun pesan apapun dan itu dilakukannya secara diam- diam. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita satu itu.

Dan jujur, egoku seperti dipertaruhkan disini. Apa yang dia pikirkan? Apa dia menyesal? Kuharap tidak karena jika hal itu terjadi maka aku tidak akan memaafkannya. Aku Aaron Bass dan tidak seorang wanita pun pernah merasa kecewa dengan apa yang sudah kulakukan padanya.

"Sayang?"

Kembali aku berpaling untuk menatap Annie dan tubuh telanjangnya yang luar biasa menggoda itu tapi memikirkan Alana saat ini justru membuatku kehilangan minat lagi pada wanita disampingku ini. Ada apa denganku? Sialan!

Kulepaskan tangan Annie dari tubuhku dan beranjak keluar dari selimut, mengambil handuk yang berada diatas kursi dan memakainya.

"Tidak. Kau tahu kan aku tidak akan tinggal." Ucapku padanya.

"Oh," wajahnya menunduk seperti menyembunyikan kekecewaan tapi aku tidak peduli. Dia tahu konsekuensi dari hubungan yang kami berdua lakukan. Tidak ada komitmen dan hanya melakukan atas dasar suka sama suka. Tidak lebih.

Setelah membersihkan tubuhku didalam kamar mandi, aku segera meraih kemeja baru didalam lemari. Annie selalu menyiapkan kemeja baru setiap kali aku datang menemuinya. Hal yang kusukai darinya selain pelayanannya yang memuaskan tapi terkadang dia bisa sangat menjengkelkan jika sedang memiliki keinginan dan tidak terlaksana atau dia berada di tengah- tengah melakukan hal- hal yang disukainya yaitu belanja.

"Kau sangat tampan." Desahnya di punggungku. Aku bahkan bisa merasakan payudaranya yang menempel. "Aku bisa melayanimu tiga kali dari yang tadi kita lakukan."

Aku mengernyit. Meskipun dia memiliki tubuh yang menggoda dan liar tapi aku juga tidak menyukai jika harus merasakan keringat dari wanita lain. Setidaknya tidak ketika aku sudah membersihkan diriku.

Kuhentikan jari- jarinya yang mulai menelusuri tubuhku dan berbalik untuk melihatnya. Membuatnya seketika mundur hingga beberapa langkah.

Setidaknya dia sudah sadar dengan apa yang dilakukannya.

"Maafkan aku, Aaron. Aku tidak..." Wajahnya menyiratkan perasaan bersalah yang sangat mendalam.

"Aku harus pergi. Ada pertemuan pagi ini dan aku harus tiba disana sebelum jam delapan." Ujarku meraih kemejaku dan memakainya.

"Apa kau..."

"Tidak. Kurasa ini hubungan terlama yang pernah kujalani dengan seseorang. Aku sudah mengurus semuanya. Tempat ini menjadi milikmu."

Sejenak dia menatap seluruh ruangan dan kemudian mendesah pelan. "Apa kau sudah bosan denganku?"

Kukernyitkan alisku. "Tidak."

"Apa kau sudah menemukan orang lain?"

Aku terdiam dan semakin mengernyit.

"Maafkan aku," ujarnya cepat. "Hanya saja aku tidak pernah berpikir hubungan kita akan berakhir secepat ini maksudku..."

"Dua bulan." Potongku menyelanya.

"Ah ya, dua bulan." Dia mengangguk.

"Dan itu adalah waktu terlama jika aku menjalin hubungan. Dengar Annie, " kudekati dia dan dekap wajahnya hingga menghadapku. "Tidak ada yang salah denganmu. Kau sempurna dan menggairahkan."

"Tapi kau tidak bergairah jika bersamaku. Tidak sejak beberapa hari belakangan ini. Apa kau sudah menemukan orang lain yang lebih daripada aku?"

Aku benci mendengar seseorang apalagi wanita yang sedang mendikteku. Kulepaskan tanganku dari wajahnya dan berjalan agar bisa meraih ponselku diatas meja.

Kubuka pintu kamar lalu kembali melihatnya. "Jika kau penasaran maka jawabannya tidak ada. Aku belum menemukan penggantimu jadi nikmati fasilitas yang sudah kutulis atas namamu. Selamat malam Annie."

.
.

Aku terbangun dari atas ranjang california kingku dengan perasaan yang sulit kujelaskan.

Ingatan tentang tubuh wanita itu dan sedang telanjang diatas ranjangku benar- benar mengganggu pikiranku. Hari ini sudah genap lima minggu sejak kejadian malam itu. Malam luar biasa yang pernah kulalui. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku membawanya ke tempatku. Sesuatu yang sangat sakral yang kutekankan dalam diriku jika menyangkut wanita.

Aku tidak pernah membawa wanita di tempatku tinggal karena itu berarti aku melibatkan orang lain dalam privasi yang selama ini kulakukan tapi dengan dia... Aku tidak tahu apa yang terjadi.

Dia terlihat sangat berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui. Setidaknya temannya memiliki ekspresi yang biasa kudapatkan dari para wanita tapi dengan dirinya. Dia bahkan hanya sekali melirikku dan setelah itu asyik bercengkrama dengan Kyoko dan Mr. Nikishima. Tentu saja dengan menggunakan bahasa jepang.

Satu hal yang bisa kutangkap darinya adalah dia sangat berbakat. Cara bicara dan tawanya benar- benar seakan ikut menghipnotisku kala itu.

Dan malam itu. Malam yang sampai sekarang sangat mengangguku.

Saat itu aku Charles- asisten sekaligus temanku mengajakku untuk ke pub bersamanya. Dan kami sama- sama menghabiskan dua gelas martini ketika mataku menangkap sosok berpakaian warna merah dan sangat seksi ketika aku melihat wajahnya.

Dia tertawa dalam pelukan seorang pria yang kuingat adalah pria yang sama, yang marah padaku karena aku mencium wanitanya tepat dihadapannya tapi kupikir bukankah wanita itu sendiri sudah menyatakan kalau dia adalah pacarku- meskipun hanya sekedar pura- pura tapi tetap saja wanita itu mengatakannya. Apa mereka kembali berbaikan?

Mereka tertawa dan berdansa seperti hanya mereka yang berada di tempat ini dan hell! Apa- apaan itu? Kenapa mereka harus berciuman di tempat ini dan kenapa pria itu tidak bisa menghentikan tangannya? Brengsek!

Kemudian aku melijhatnya lagi. Dia terhuyung- huyung keluar dari toilet wanita. Hingga refleks aku menahannya sebelum ia menyentuh lantai dan menyadari kalau dia mabuk.

Mengetahui pria itu membuatnya mabuk, memberiku perasaan marah. Aku sama sekali tidak suka jika dia mabuk lalu mendadak ia menciumku.

Bibirnya terasa manis dan demi Tuhan! Aku menyukainya hingga aku semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan tidak ada yang lebih kuinginkan selain merasakan bibir itu lebih lagi.

Kulirik jam di meja nakas, menunjukkan pukul dua siang. Beruntung Mr. Nikishima masih ingin melanjutkan proyek kerjamasama kami dan berniat mengadakan pertemuan lagi pukul 3, mengingat Annie hampir saja menghancurkannya dengan menghilangkan Kyoko.

Setelah bersiap- siap, kubawa mobilku menuju kantor dan menyuruh Leela, sekretarisku untuk menyiapkan berkas yang dibutuhkan rapat kali ini.

"Mr. Bass, Miss. Sparks sudah berkali- kali meminta berbicara dengan anda. Dia bahkan meninggalkan nomor telponnya untuk anda hubungi." Ujar Leela disela aku yang hampir membuka pintu ruang kerjaku.

Aku mengernyit. "Siapa?"

"Miss Sparks, sir."

"Apa kau tidak mengatakan padanya kalau aku sedang sibuk?" Aku mulai mengeluarkan suara jengkel karena ketidakbecusannya kali ini.

"Maaf Mr. Bass saya sudah mengatakan padanya tapi Miss Sparks memaksa untuk bicara dengan anda." Suaranya mulai terdengar takut sekaligus khawatir. Bukan salahku jika aku dengan mudahnya memecat seseorang jika kuanggap itu sudah tidak berguna lagi.

"Apa dia salah satu klien kita?" Tanyaku lagi.

"Bukan Mr. Bass."

"Kalau begitu dia mantan teman kencan?"

"Eh saya tidak merasa kalau dia salah satu teman anda, Mr. Bass." Dia menjawab agak ragu.

Aku juga merasakan hal yang sama. Biasanya teman kencanku tidak akan menghubungi atau mendatangiku hingga ke kantor jadi siapa dia dengan gigih memaksa Leela agar bisa berbicara denganku?

"Mr. Bass?"

"Baiklah Leela. Sambungkan aku ke orang ini. dan apakah kau sudah menyiapkan segala hal untuk rapat sore ini?"

"Ya Mr. Bass. Tinggal menunggu kedatangan anda."

"Baiklah. Sambungkan aku dengan orang itu."

Aku sengaja menekan tombol speaker di telpon mejaku dan beranjak untuk keluar dari ruangan. Kalau dia berniat untuk menggodaku, dia harus menunggu setelah aku rapat dan biarkan dia berbicara seorang diri di dalam ruangan ini.

"Selamat siang, Mr. Bass. Maaf jika aku menggangu pekerjaan anda tapi ada yang ingin..."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS