FATED TO LOVE YOU - PROLOG

"Hemmmmm..."

"Pelan- pelan sayang." Ucap pria itu seraya menghentikan kedua tangan wanita yang hendak membuka kancing kemejanya.

"Tapi aku ingin segera bercinta denganmu." Rintih wanita itu lagi sambil menciumi leher pria tadi.

Pria itu tertawa geli, membiarkan wanita itu melakukan apa pun pada tubuhnya. Sebenarnya dia juga ingin melakukannya tapi sebentar lagi ia akan mengadakan rapat dan ia tidak mau disaat ia sedang memenuhi kebutuhannya, mendadak orang lain muncul dan menganggu kesenangannya yang sesaat.

"Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau hari ini aku ada rapat dengan para klien?"

"Mereka bisa menunggu."

Pria itu menatap wanita tadi. Ya, dia adalah wanita yang baru saja dia kencani selama dua minggu. Meskipun wanita itu hebat dan agresif di atas ranjang tapi faktanya ia maniak seks tapi bukan berarti ia tidak menyukainya. Itu lebih baik dibandingkan dengan wanita yang hanya diam. Hanya saja terkadang wanita ini terlalu mengambil alih kehidupannya dan ada kalanya ia mulai merasa bosan dengan aktivitas mereka yang menurutnya terlalu mudah. Ia butuh sesuatu yang menantang seperti halnya ketika ia akan memenangkan sebuah proyek.

"Kurasa sebentar lagi mereka datang." Ujar pria itu seraya bangkit dari duduknya dan mau tak mau membuat wanita tadi bangkit dari pangkuan pria itu.

Perasaan ditolak segera menyusup dalam hati wanita itu tapi dia tidak boleh gegabah. Biar bagaimanapun pria di hadapannya adalah makhluk yang paling diincar oleh kaum hawa di negara ini. Kaya dan luar biasa tampan membuatnya sangat dikagumi. Dia juga tidak segan- segan mengeluarkan uangnya untuk para wanita yang dikencaninya. Ya. Mereka hanya sekedar teman kencan karena faktanya pria ini tidak pernah bertahan pada satu wanita dalam jangka waktu lebih dari dua bulan dan dia sudah bertekad untuk mengalahkan rekor itu.

"Baiklah. Apa kau mau aku menunggu di penthousemu?" Tanya wanita itu yang langsung membuat sebelah kening pria tadi terangkat. "Oh maaf, aku hanya ingin membuatkanmu makan malam. A- aku akan menunggu di apartemen kalau begitu."

"Tidak usah. Kita akan makan malam di luar."

"Benarkah?" Seru wanita itu riang seraya melayangkan ciuman ke bibir pria itu. "Baiklah. Aku akan bersiap malam ini."

Tepat ketika ia mengantar wanita tadi keluar dari ruangannya, para klien yang berjumlah dua orang beserta asistennya datang. Ketiga pasang mata memandangnya silih berganti dengan wanita yang baru saja diantarnya dengan pandangan yang tak bisa di lukiskan kecuali untuk asistennya itu, dia sudah terbiasa melihat wanita yang keluar- masuk dari ruangan itu dan berbeda setiap bulan atau dua bulannya.

"Mr. Nikishima dan Mr. White, bagaimana perjalanan anda?" Tanya pria itu seraya menjabat mereka masing- masing.

"Baik, Mr. Bass." Jawab Mr. White. Meskipun pria yang bernama Mr. White itu nyaris berusia 60 tahun tapi tidak ada tanda- tanda kalau dia berusia seperti itu bahkan beliau terlihat lebih matang, Seakan pengalaman telah membekas dalam hidupnya.

"Dan Mr. Nikishima?"

"Good."

Pria itu tersenyum. Ini pertama kalinya ia akan membuat ekspansi ke negara jepang dan menurut Charles, asistennya dan Mr. White. Mr. Nikishima adalah orang yang tepat meskipun dia agak sulit untuk diajak kerjasama.

"Ayo. Kita bisa membicarakan tentang rencana kita di dalam." Katanya seraya mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk kedalam ruangannya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS