FATED TO LOVE YOU - SATU

Alana PoV...

(Got my mind on your body and your body on my mind.Got a taste for the cherry, I just need to take a bite)

"Hmm..." Ucàpku malas setelah berhasil meraih ponselku yang sejak tadi mendendangkan dengan nyaring Cool for summer milik Demi Lovato.

"Alana!!!"

"Berisik. Ada apa sih?" Kuusap kedua mataku menggunakan punggung tangan, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang kembali menyerangku.

"Dimana kau?"

"Kamar."

"Kamar siapa?"

"Memang kau pikir aku di kamar siapa?"

"Jadi kau berada di rumahmu?"

"Seingatku sih begitu." Balasku seraya melirik jam diatas meja dan membelalak ketika melihat waktu yang menunjukkan pukul 10 pagi.

Apa- apaan ini?

"Apa yang kau lakukan?"

"Bisakah kau langsung mengatakan apa saja yang ingin kau katakan?" Gertakku. Dia seenaknya menganggu waktu tidurku yang sangat sulit kudapatkan dan kenapa dia juga harus berteriak- teriak seakan aku ini nenek berusia lanjut yang sama sekali tidak mendengar? Brengsek!

"Duh, induk beruang sudah mulai marah." Godanya yang membuatku harus memutar mata. "Aku pikir kau bersama Jared."

"Dan kenapa aku harus bersamanya?" Kuambil lagi selimut untuk menutupi tubuhku. Pasti dia akan menanyakan hal tidak penting seperti yang biasa dia utarakan setiap kali dia mendapatiku berdekatan atau mungkin berciuman dengan seorang pria di sudut ruangan.

Hey, apa salahnya dengan ciuman? Semua orang melakukannya.

"Karena aku melihat kalian berciuman." Sudah kuduga itu yang akan dibahasnya. "Dan ku pikir kau tertarik dengannya." Lanjutnya.

Kuhela napasku, merasa lelah dengan semua ucapannya yang selalu ia lontarkan setiap kali aku bersama pria. "Dia memang tampan tapi kau harus lihat bagaimana cara kerja tangannya."

Jessi- sahabatku diseberang hanya tertawa membuatku kembali harus memutar mata. Aku membencinya dan menyayanginya pada waktu yang bersamaan. Kenapa aku harus merasakan perasaan seperti ini padanya. "Biar kutebak, dia berusaha membuka bajumu saat itu juga."

Aku mengangguk. "Hm. Kau bisa mengatakan kalau dia memiliki angka 8 setengah untuk cara dia memainkan lidahnya tapi angka tiga untuk tangannya. Dia terlalu terburu- buru, aku bertaruh jika dia seekor laba- laba maka dalam waktu satu detik, aku sudah tidak memakai apa- apa." Jessi diseberang semakin tertawa mendengarkan ocehanku..

"Kurasa semua pria yang melihatmu ingin segera masuk dan melihat sisi lain dari celana dalammu."

"Aku tahu betapa menantangnya sisi lain dari celana dalamku tapi bisakah tidak hanya berakhir dengan seks?"

"Jangan konyol sweetheart. Semua orang butuh seks. Hanya kau satu- satunya tidak menganggap seks adalah sesuatu yang penting. Kau harus melakukannya kapan- kapan dan kau akan tahu sehebat apa seks itu. Oh, dan jangan terlalu pemilih, okey?"

"Aku tidak pemilih."

"Hmm aku meragukannya... Hah... Hah.. Hah.."

Aku terdiam. Menelaah apa yang sedang terjadi ketika mendadak pemikiran tentang apa yang sedang dan saat ini Jessi lakukan menyeruak masuk kedalam otakku melalui indra pendengaranku.

"Damn it Jessi!" Aku mengutuknya tanpa ampun. "Kau menghubungiku sementara kau sedang melakukan apa yang baru saja kau katakan? Dasar kau brengsek! Barbar!" Dan tanpa menunggu lagi ku matikan ponselku tepat ketika aku mendengar suara tawanya.

Kupejamkan mataku, mencoba untuk mengembalikan perasaan mengantuk yamg tadi kurasakan tapi nihil. Jessi dan kegiatan tidak tahu dirinya itu telah mengacaukan seluruh syaraf di otakku hingga menjadi kepingan- kepingan kecil.

Dasar brengsek!

Jessi atau Jessica Bones adalah sahabatku di dunia modelling. Kami berdua bertemu di Bali ketika sama- sama melakukan pemotretan tiga tahun yang lalu. Jessi adalah wanita berambut blonde, yang sangat gila seks yang pernah kutemui- karena dia pulalah aku harus menghadapi masalah setiap kali teman kencan atau one night standnya datang dan menemuiku. Beberapa diantaranya bahkan terang- terangan memintaku untuk menggantikan peran Jessi. Sialan!

Tapi seiringnya waktu, kebiasaan Jessi yang sering bergonta- ganti pasangan seketika berubah ketika ia bertemu dengan Nikolai, pria Rusia yang ditemuinya ketika tanpa sengaja ia menumpahkan kopi ke kemeja pria Rusia itu. Dari situ lah awal pertemuan, perkenalan yang kemudian berlanjut pada malam panas mereka. Jessi mengatakan kalau Nikolai adalah her right guy yang jujur kadang membuatku harus berusaha menahan diri untuk tidak memutar mata tapi setelah 6 bulan masa perkenalan mereka. Aku mulai percaya kalau Jessi benar- benar serius. Siapa yang menyangka kalau nona petualang akhirnya melabuhkan kapalnya pada seorang fotografer bernama Nikolai Beli--beli apalah namanya itu.

Kuputuskan untuk beranjak dari California queenku menuju kamar mandi. Mungkin dengan berendam didalam bathtub bisa membantuku melupakan pikiran- pikiran yang sengaja Jessi susupkan padaku.

Dia harus membayar apa yang sudah diperbuatnya hari ini! Aku mengeram dalam hati, mengumpulkan tekad agar bisa membalasnya.

Setelah menghabiskan waktu berendam yang entah berapa lama. Aku bahkan yakin jika aku tidak segera keluar maka kulitku akan menjadi keriput karenanya ketika kembali mendengar suara Demi Lovato yang nyaring.

"Ya. Jane?"

Jane adalah sahabatku yang lain. Dia wanita berambut ungu- aku tidak tahu apa warna asli rambutnya. Dia selalu mengubahnya mengikuti suasana hati layaknya bunglon. Sama seperti Nikolai, Jane juga seorang fotografer di agensi tempat aku bekerja sementara Nikolai adalah fotografer pemandangan dan tempat- tempat indah.

Aku pernah melihat hasil pemotretannya dan hasilnya sungguh luar biasa. Aku juga pernah melihat Jessi di potret tanpa ada benang sehelai di tubuhnya dan hasilnya jauh dari kata luar biasa. Sangat indah!

Berbeda dengan aku maupun Jessi. Jane jauh lebih tua daripada kami- terpaut tiga tahun tapi meskipun begitu dia sangat ramah dan juga mudah diajak bertukar pikiran. Dia tidak pernah memaksakan pose apa yang dikehendakinya tapi lebih mempercayakan pada kami- modelnya agar terlihat lebih alami.

Tapi dibandingkan diantara kami bertiga, Jane lah yang lebih sering belanja atau dalam arti yang lain, dia seorang shopaholic. Dia akan rela memburu barang- barang hingga ke negara manapun agar bisa mendapatkan barang yang diinginkannya.

Terakhir kali dia mengajakku dan juga Jessi adalah dua bulan yang lalu. Dia berkeinginan untuk mendapatkan tas dengan kulit Marsupilami hanya karena dia melihat sebuah toko yang menjual barang itu dengan edisi terbatas. Hanya ada tiga di dunia dan tanpa ragu, dia menyeretku dan Jessi untuk segera terbang ke Madagaskar- karena di tempat itulah barangnya pertama kali di produksi.

Madagaskar. Kenapa tidak sekalian membawaku ke Amazon? Mungkin disana ada yang memproduksi kulit Boa atau Piranha!

"Dimana kau?"

Grr. Ada apa dengan para wanita ini? Kenapa setiap kali menghubungiku yang pertama mereka tanyakan adalah keberadaanku? Arghhh.

"Rumah."

"Bagus. Tunggu aku disana. Jangan kemana- mana." Dan klik. Dia menutupnya. Nice woman! Perfect!

Kuputuskan untuk memakai kemej putih yang dipadu padankan dengan hotpants juga tidak lupa boots di atas mata kaki. Mendengar dari caranya bicara yang terburu- buru sudah pasti dia ingin membawaku ke suatu tempat. Kemarin aku melihat ada barang branded lain yang akan di jual hari ini. Sudah pasti kami akan kesana.

Merasa sangat puas dengan penampilanku di depan cermin, akhirnya aku keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

"Pagi Marie," aku langsung menyapa wanita paruh baya yang sejak dulu menjadi asisten rumah tangga di rumah ini. Dia adalah wanita lembut dengan senyum ramah yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

"Sekarang sudah siang, nona." Marie memberiku senyum geli ketika aku langsung mengambil sebutir anggur dari tempat didekatnya dan memasukkannya ke mulut.

"Ya. Itu yang kumaksud."

Dia tertawa. "Nona mau keluar?"

Aku mengangguk. "Ya. Apa kau membutuhkan sesuatu? Kau bisa menitipkannya padaku."

Marie menggeleng. "Tidak ada, nona. Semuanya sudah saya beli kemarin."

Aku mengangguk, mengerti.

"Nyonya mengatakan kalau dia tidak akan makan malam di rumah dan akan pulang larut malam."

Seketika aku berhenti dari mengunyah anggurku. Tiba- tiba merasa kenyang.

"Baiklah. Jane sudah tiba. Sampai nanti malam, Marie." Kataku setengah berlari setelah sebelumnya memberi kecupan di pipi Marie. Marie membalasku dengan memberiku senyuman penuh kehangatan dan melambaikan tangan ketika aku akan masuk ke dalam mobil Jane yang masih menyala.

"Hai Jane, jadi kemana tujuan kita hari ini?" Tanyaku penuh antusias yang dibalas oleh Jane dengan senyuman penuh kebahagian.

Oh! Aku tahu arti dari senyuman itu.

"Shopping and... hunt."

See?!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS