FATED TO LOVE YOU - SEBELAS

Aku tidak bisa menatap wajahnya setelah apa yang terjadi di pantai tadi. Entah sejak kapan aku menjadi malu seperti gadis yang tidak berpengalaman seperti ini.

Bagiku ciuman hanyalah sebuah reaksi kimia yang dihasilkan oleh tubuh dengan ion- ion sebagai dukungan.

Tapi bersama Aaron, entah kenapa aku menginginkannya. Lagi dan lagi.

Aaron bertekad untuk mengantarku kembali ke rumah meskipun aku juga sudah menolaknya tapi dia benar- benar keras kepala atau memang kepalanya yang sekeras batu?

Setibanya aku di rumah, cepat- cepat kulepas pakaian yang melekat di tubuh. Sambil menunggu air didalam bathtub penuh, kutatap wajahku di cermin. Memperhatikan keseluruhan. Mataku tampak aneh- maksudku aku tidak lantas berubah juling atau sebagainya tapi seperti ada cahaya dalam sinar mata itu dan pipiku meronah.

Pasti karena cuaca. Tekanku dalam hati. Tidak mungkin ini karena ciuman tadi.

Ciuman tadi...

Kutekan bibir bawahku kuat- kuat dan meringgis. Bahkan aku seperti masih bisa merasakan bibir itu yang menempel di bibirku.

Sialan! Ada apa denganku?

Kuhembuskan napasku hingga beberapa kali dan menoleh tepat disaat aku melihat bathtub sudah hampir terisi sepenuhnya.

Kutuangkan botol aroma mawar ke dalam bathtub berisi air dan merangkak masuk kedalamnya.

Segera saja aroma mawar memasuki indra penciumanku, membuatku merasa lebih santai hingga sebuah dering dari ponselku kembali harus membuatku merangkak keluar dan mengernyit ketika mendapati caller ID yang terlihat di layarnya.

James.

James tidak mengatakan apa- apa tentang kejadian di pantai tadi dan malah menyuruhku agar ke studio sekarang juga.

Aku baru saja hendak keluar dari rumah ketika Marie muncul dengan barang belanjaannya.

"Nona Alana?"

"Hai Marie." Sapaku.

"Saya pikir anda tidak di rumah. Anda ingin pergi lagi?"

Kuanggukkan kepalaku, tersenyum. "Ya."

"Apa anda akan makan malam di rumah?"

Sejenak aku berpikir lalu menggeleng. "Tidak. Aku sudah janji pada Jane dan Jessi."

Marie memberiku tatapan muram yang biasa dia lakukan tapi aku terlalu lelah jika harus menanggapinya.

"Sampai nanti, Marie." Kataku dan mencium keningnya. Mencoba mengindahkan perasaan bersalah yang mendadak muncul dalam diriku.

Marie adalah pengurus rumah tangga yang sangat baik sekaligus sangat sensitif. Dia yang merawatku sejak kecil, menyiapkan segala keperluanku bahkan sampai sekarang. Kadang aku berpikir, apa jadinya aku jika tidak ada dirinya?

Setibanya aku di studio, kulihat James sedang berbicara dengan Ray. Jane dan Jessi juga berada di studio. Bagus! Aku memang perlu bertemu dengan mereka.

Ray menyapaku tapi Jane dan Jessi tidak.

James menyuruhku dan Ray agar datang ke tempatnya.

Kami bertiga fokus pada foto yang tadi diambil oleh James dan aku hanya mengangguk sementara Ray memberikan ide- idenya pada pemotretan kami yang akan datang.

Setelah semua selesai, aku menunggu James mengatakan apapun tapi setelah beberapa menit dia sama sekali tidak membahas apapun itu selain tentang foto dan menginginkan aku agar lebih fokus pada pemetrotan selanjutnya, yang langsung kubalas dengan anggukan kepala.

"Amarahnya sudah lenyap."

Kutolehkan kepalaku dan menyadari kalau Ray dengan rahangnya yang berubah warna justru memberiku senyumannya.

"Harus kuakui pukulan yang diberikan pacarmu sangat kuat. Pantas saja kau hamil."

Kuputar kedua mataku. "Dia bukan pacarku."

"Oh masa tapi sepertinya aku melihatnya berbeda tadi."

"Dia hanya marah. Itu saja."

"Dan diakhiri dengan ciuman? Sangat romantis, sayangku."

Aku tersenyum tapi menolak untuk terprovokasi.

"Bagaimana bisa amarah James lenyap? Sejujurnya aku mengharapkan amukan darah vampirnya ketika aku mengacaukan pemotretan tadi."

Ray tertawa. "Oh. Mana mungkin dia marah. Kau memiliki kekasih paling tampan, kaya dan diincar oleh seluruh wanita di negara ini."

"Kau terlalu melebih- lebihkan."

"Oh sayang. Apa kau tidak menyadarinya?" Jelas aku menyadarinya tapi tidak mungkin aku mengakuinya disini. "Dan asisten Mr. Bass baru saja tiba dan mengatakan permintaan maafnya. Dia juga menawarkan ganti rugi atas kejadian itu."

Oh jelas! Pria sombong itu pasti akan menyuruh orang lain atas namanya agar tidak mendapatkan masalah.

"Katakan padaku kalau kau sudah bosan dengannya." Ray mengedipkan sebelah matanya yang langsung membuat tawaku muncul.

"Kau yakin?" Tanyaku sekedar menggodanya.

"Tidak ada yang bisa menolak pria setampan itu di muka bumi ini."

Lagi- lagi aku tertawa membayangkan Ray dan Aaron jika bersama.

"Aku juga akan ganti rugi." Kataku setelah berhasil meredakan tawaku.

"Jangan dipikirkan."

"Sungguh," aku tidak ingin dia menolakku. Ini sangat bertentangan dengan hati nuraniku. "Jika dia bisa melakukan ganti rugi maka selayaknya aku juga melakukan hal yang sama."

Ray memberiku tatapannya, mengernyit ketika dia justru menghela napasnya. "Pantas saja kalian bersama. Kalian berdua memiliki sifat yang sama."

Eh?

"Jadi kau mau?" Tanyaku. Tidak berniat mempertanyakan maksud kalimatnya tadi. Bisa saja dia asal bicara. Ray memang seperti itu.

"Tentu saja." Dia mengangguk dan aku berteriak penuh semangat. Lucu sekali harusnya Ray yang berteriak, bukannya aku tapi sungguh rasanya melegakan ketika perasaaan yang tidak enak sejak tadi menggerogotimu.

"Baiklah. Pastikan saja ponselmu selalu aktif. Aku akan menghubungimu."

"Kenapa tidak sekarang saja?"

"Oh aku mau saja. Sungguh tapi aku harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu."

"Apa itu berhubungan dengan kekasihmu itu?" Tanyanya menggoda.

"Dibilang dia bukan kekasihku."

"Tapi dia ayah dari anak-" kututup mulutnya dengan cepat, takut jika James atau siapaun mendengar apa yang dikatakan oleh Ray ketika mendengar Ray justru tertawa dan aku tidak tahan untuk tidak mendorongnya.

Aku lalu memalingkan wajahku mencari keberadaan Jane maupun Jessi tapi kedua orang itu sama sekali tidak terlihat di tempat terakhir aku melihatnya.

"Hei Ray, apa kau melihat Jessi atau Jane?"

Dia menggeleng. "Aku sejak tadi bersamamu jadi jawabannya tidak."

Aku mencebik yang ditujukan padanya. "Kalau begitu aku pergi dulu."

Aku begitu tergesa- gesa menuruni tangga studio di lantai 3 dan tidak menyadari kalau aku melewati dua anak tangga karena mendadak aku merasa ruangan itu berputar.

Sedetik kemudian, aku menyadari kalau aku tidak lantas menghantam lantai yang dingin melainkan tubuhku seperti tertahan.

"Kau tidak apa- apa?" Suara itu terdengar khawatir tapi aku juga meragukannya.

Pria yang menahanku lebih tepat dibilang manis ketimbang tampan. Dia mengenakan setelan lengkap yang sepertinya hasil buatan tangan. Tidak mungkin dibuat secara banyak, hanya beberapa seperti yang biasa dikenakan... Sialan! Apa yang kupikirkan?

"Kau terlihat tidak sehat." Ujar pria manis itu lagi.

Kugelengkan kepalaku dan mendengar suara tawanya.

"Aku Charles." Katanya sembari mengulurkan tangan hendak bersalaman. Awalnya aku memandangnya dengan curiga. Ada banyak psiko di luar sana yang pada awalnya hanya menawarkan perkenalan tapi pria bernama Charles ini sedikitpun tidak mendekati orang yang memiliki gangguan mental.

"Alana." Jawabku sembari membalas uluran tangannya.

"Aku tahu."

"Maaf?" Aku tidak sadar ketika mengatakannya dan lagi- lagi dia tertawa.

"Aku asisten Aaron."

- asisten Mr. Bass baru saja tiba dan mengatakan permintaan maafnya...

Segera saja kalimat Ray mendadak muncul dalam ingatanku dan tanpa sadar mendengus.

Charles terkekeh. "Sepertinya kau tidak suka."

"Memang." Aku langsung menjawab. "Jika dia memang menyesal. Harusnya dia yang datang dan bukannya menyuruh orang lain meminta maaf atas namanya."

Aku tahu itu terdengar tidak sopan tapi aku memang tidak peduli.

"Apa pendapatmu tentang Aaron?"

Pertanyaan dadakan yang dilontarkan oleh sang asisten sama sekali tidak pernah terlintas dalam benakku jadi jelas saja aku kaget.

"Apa kau bisa mengucapkan nama depannya sesantai itu?" Tanyaku dengan kening yang bertaut.

"Aku tidak mengalami pemotongan gaji jika melakukannya." Dia menjawab dengan nada acuh.

Aku mendengus tak percaya.

"Umur kami sama dan kami juga teman."

Aku terdiam. Tidak tahu harus membalas apa.

"Jadi apa jawabanmu?" Tanyanya lagi.

Aku menimbang apakah harus mengatakan yang sejujurnya atau hanya mengedit beberapa bagian. Tapi... Itu pasti terdengar hanya omong kosong.

"Jadi?"

Aku mengernyit. "Apa memberikan pertanyaan termasuk dalam pekerjaanmu juga?"

Charles tertawa. "Tidak kusangka kau akan sulit untuk dimintai jawaban."

"Dan kau juga begitu gigih mencari jawaban."

Tawa Charles semakin keras mendengar balasanku.

"Selain sifat yang suka memaksakan kehendaknya, tukang perintah sekaligus sombong. Kurasa hanya itu yang bisa kukatakan."

Entah dibagian mananya dari pertanyaanku yang menurutnya lucu tapi Charles sepertinya bertekad untuk tertawa sepanjang hari.

Tidak ingin terjangkit dengan kewarasannya, kuputuskan untuk pergi hingga kembali mendengar suaranya.

"Usahakan untuk tidak terjatuh lagi, Alana." Ucapnya membuatku memutar mata dan berbalik agar bisa melihatnya.

"Terima kasih." Balasku.

"Dan?"

Bagaimana dia bisa bersikap sama persis dengan bosnya?

"Akan kuusahakan untuk tidak menabrak apapun." Kataku sinis.

"Bagus." Dia membalas tapi dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Akan menjadi masalah jika Aaron tahu kau dan calon anaknya terluka."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS