FATED TO LOVE YOU - SEMBILAN BELAS
- please, Marry me.
Tunggu. Apa katanya?
Mendadak aku merasa otakku tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.
Menikah?
Tidak mungkin.
Mana mungkin ini terjadi. Ini mustahil. Pasti ada yang salah dengan telingaku saat ini.
Menikah?
Sekali lagi kualihkan pandanganku. Aaron masih tetap pada posisinya, seakan tubuhnya dipahat lalu aku melihatnya- cincin yang dipegangnya seakan hidupnya terletak pada cincinya.
-please, Marry me.
Seperti jam, dentangannya seakan terus berbunyi di telingaku. Meneriakkan kata menikahlah denganku... Menikahlah denganku... Dan Alana. Aku tak tahu.
Bencana!
Ya. Ini bencana.
Sisi lain dari dalam diriku meneriakkan kalimat selanjutnya.
Kuhirup udara dalam- dalam. Aku pasti bisa melaluinya... Hanya saja tidak mudah. Itu sudah pasti dan Aaron...astaga! Aaron tidak mungkin menyetujuinya dengan mudah.
Sekali lagi, kuhirup udara, menghembuskannya dengan pelan tapi entah mengapa itu malah membuatku seperti kehabisan napas. Aku merasa tercekik.
Kupandangi cincin yang berada dihadapanku dengan seksama dan harus kuakui benda itu sangat cantik dan berkilau. Aku menyukainya tapi itu berarti kalau aku harus...tiba- tiba rasanya seluruh bulu kudukku berdiri mengingat arti dibalik pemberian cincin itu.
"Er..." Aku berdehem. Rasanya suaraku terdengar aneh. Ayolah Alana! Kau bisa melakukannya. "Hm, terima kasih atas tumpangannya." Ya. Aku pasti. Aku harus pergi secepatnya atau aku akan... Apa yang akan kulakukan?
Aku tidak memperdulikan Aaron. Pria itu bisa mengurusi dirinya sendiri. Aku perlu pergi. Menjauh darinya dan setelah itu sakit kepala ini akan berhenti.
Aku menunggu hingga pintu lift terbuka dan menyadari kalau lift yang akan membawaku ke lantai atas, tempat dimana selama ini aku tinggal rusak. Perfect!
Bagaimana mungkin ini terjadi? Tanpa sadar aku merutuk pak tua, pemilik apartemen tua ini yang terlalu pelit mengeluarkan uangnya ketika sebuah tangan menahan lenganku.
"Apa yang kau lakukan?" Suaranya sarat akan kemarahan yang setiap saat akan meledak.
"Apa yang kulakukan?" Aku menanyai balik dirinya dan berdoa agar sentuhannya tidak membuatku merasa terdorong untuk melemparkan diri lagi padanya.
"Apa kau tidak mendengar apa yang barusan kukatakan?"
Aku mendengarmu. Tentu saja. Aku kan belum tuli.
"Dan kenapa kau langsung pergi begitu saja?"
Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu kenapa kau kemari?
"Alana?"
Jangan panggil namaku!
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
Tidak. Kumohon pergilah.
"Alana?"
"Pergilah, Aaron."
Seketika wajahnya kembali mengeras. "Kenapa kau pergi begitu saja setelah apa yang barusan kukatakan?"
"Aku tidak pergi begitu saja." Kataku membalasnya. "Aku sudah sampai di tempat tinggalku." Aku tidak ingin berduaan denganmu. Tidak bisakah kau meninggalkanku?
"Kalau begitu kenapa kau tidak membalas ucapanku tadi?"
Oh demi Tuhan!
"Apa, Alana?" Tiba- tiba suaranya menjadi lembut dan dia mulai menyentuh sebelah wajahku dengan tangannya. "Apa yang kau rasakan?"
Persetan dengan semuanya. Aku membutuhkannya dan ini semua karena aku yang sedang hamil.
"Lelah." Jawabku tanpa pikir panjang ketika kembali melihat sudut- sudut bibirnya terangkat. Apa ada yang lucu?
"Ya. Aku juga, sayang." Aaron mengatakannya dengan kelembutan yang seakan ingin membuatku melontarkan diri di tubuhnya. Ketika sedetik kemudian tubuhku seakan seperti baru saja tersengat listrik.
"Apa yang kau lakukan?" Mendadak aku histeris ketika cincin yang tadi ditunjukkannya sudah bertengger di jari manisku. Kapan... Sejak kapan dia?
"Jangan melepasnya, sayang." Katanya menahan sebelah tanganku untuk tidak menarik paksa cincin itu dari sela jariku. "Karena aku tidak akan memaafkanmu jika kau melepasnya."
Berani sekali dia!
Dan terlebih lagi, apa aku terlihat peduli?
"Aku serius, Alana." Tekannya yang seketika membuatku berhenti memandangi cincin terkutuk tapi juga sangat cantik itu.
Kupalingkan wajahku dari cincin di tanganku ke wajah Aaron. Aaron sepertinya tidak keberatan jika harus menempelkan cincin itu di tanganku agar tetap menempel di sana, bahkan sekalipun aku memotong jariku. Kemungkinan pria itu akan mencari cara untuk menempelkan benda itu lagi disana. Apapun caranya. Bagaimanapun caranya.
Kuatur napasku, menghembuskannya seakan dengan begitu cincin itu akan seketika menjadi lenyap dan hidupku akan kembali seperti sedia kala. Tapi baik cincin itu maupun Aaron, sama- sama tidak ada yang lenyap.
Ini nyata!
Kuangkat tanganku dan memperlihatkan jariku yang sudah tersemat cincin itu di depan wajahnya. Tiba- tiba mendengus. "Puas?!" Tanyaku lebih pada caraku yang msmperlihatkan wajah jengkelku daripada kesenangan semata. Toh, tidak selamanya cincin ini akan berada disana.
Alih- alih Aaron membalasku dengan amarahnya juga, pria itu malah tersenyum dan sial. Dia benar- benar menyukainya. "Sangat." Lalu dia mencium cincin itu lalu keningku, hidungku dan terakhir bibirku. Untuk bibirku, dia hanya menempelkannya disana tapi itu sudah cukup membuatku merasa pusing.
"Kalau begitu, pulanglah." Kataku tidak ingin dia memperhatikan ekspresiku lebih lanjut.
Aku punya misi. Dan misiku adalah melepaskan benda ini. Secepatnya.
"Baiklah. Istirahatlah, sayang."
Aku mengangguk pelan. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena mendadak ia membungkukkan tubuhnya didepanku ketika sedetik kemudian aku terkesiap. "Dirimu juga, malaikat kecilku. Istirahatlah." Katanya setelah ia selesai menciumi bagian perutku yang nyaris lebih besar daripada balon.
Perasaan apa ini?
"Eh, hm, istirahatlah iuga, Aaron." Rasanya sulit berpikir jernih ketika aku merasa seperti baru saja dihantam oleh sesuatu. Jantungku bahkan masih berdetak kencang saat ini.
Kubalikkan tubuhku. Jika masih disini bersama dengannya, bisa- bisa aku berubah pikiran jadi sebelum itu terjadi. Sebaiknya aku pergi. Baru lima langkah rasanya aku berjalan dan baru saja akan menaiki undakan tangga ketika kembali lenganku di tahan.
"Apa yang kau lakukan?"
Hah?
Aku bingung mendapati kembali wajah Aaron mengeras seperti batu. Apa lagi masalahnya?
"Mau kemana kau? Kenapa kau tidak menggunakan lift?"
Jika ada hal yang paling membuatku bingung sekaligus kelelahan. Itu semua karena pria ini. Aaron Bass, pria lajang terkaya sekaligus sangat tampan ini.
Kutarik napasku, dua kali lebih lelah dibandingkan jika berhadapan dengan dad. "Jangan mulai lagi, Aaron. " sebelah alisnya terangkat dan itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya. Kuhirup kembali udara. Kali ini jauh lebih keras daripada yang kumaksudkan. "Perjalananku masih panjang dan lift. Lift itu rusak."
"Rusak?" Nada suaranya terkesan sarat amarah.
"Ya. Rusak."
Hening beberapa detik.
"Dimana letak apartemenmu?" Tanyanya setelah beberapa saat.
Seketika kedua mataku menyipit, berusaha mencerna maksud dari pertanyaannya lalu mendengus. "Dengar, "kataku dengan kesabaran tingkat dewa. "Malam ini aku sungguh sangat lelah. Yang kuinginkan hanya mandi dan berbaring. Aku janji akan mengundangmu melihat- lihat isi apartemenku, okey?"
"Apa kau pikir aku bertanya karena ingin melihat apartemenmu?" Sergahnya. "Lantai berapa kau tinggal?"
"Apa pedulimu?" Aku ikut tersulut juga.
"Lantai berapa, Alana?"
Pria ini senang memerintah. Batinku menantang,
"Lantai sembilan dan aku..."
Tepat disaat aku belum menyelesaikan ucapanku, mataku menangkap ekspresi yang jauh lebih tajam, membuatku terpaksa mengatup bibirku kuat- kuat.
"Kau berniat menaiki setiap tangga hingga lantai lantai sembilan?" Dia mendesis. "Kita kembali ke hotel." Lanjutnya meraih tanganku.
"Hotel?" Kusentakkan tangannya hingga terlepas dari tanganku. "Kau gila ya? Aku tidak mau kesana."
"Kenapa?"
Kenapa? Dia gila atau apa? Kenapa aku harus mempunyai alasan?
"Sekedar mengingatkan Mr. Bass, aku punya tempat tinggal sendiri."
"Ya. Dan kau lebih memilih mati di tempat tinggalmu, begitu?" Bentaknya.
Kami berdua sama- sama saling melotot- atau mungkin aku yang melotot- "Dengar Aaron." Aku mencoba mengatakannya dengan suara yang paling lembut yang pernah kukeluarkan. "Kita bisa membicarakan hal ini lain waktu. Aku tahu dan sangat sadar kalau tempat tinggalku ini sangat jauh tempat tinggalmu."
"Aku tidak..."
"Tapi, Saat ini, yang kuinginkan adalah beristirahat di tempat ternyamanku dan aku sangat sangat lelah kali ini."
Lama dia menatapku hingga kupikir pada akhirnya dia mengerti ketika kurasakan kakiku tidak lagi menginjak lantai dan terkesiap kaget karenanya.
"A-apa yang kau lakukan?" Gagapku. Aaron mengangkatku dengan mudah seperti bulu padahal aku terlihat seperti gajah.
"Kaitkan lenganmu di leherku Alana," suaranya pelan juga lembut. "Karena kalau tidak. Kita bertiga akan jatuh.
"Bertiga?"
Dia melirikku sekilas terlihat jengkel. "Tentu saja aku, kau dan anak kita."
***
Comments
Post a Comment