FATED TO LOVE YOU - SEMBILAN
Aaron PoV.
Jika dia hamil.
Jika Alana benar- benar hamil anakku.
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang sebaiknya kulakukan?
Harus kuakui, itu adalah kali pertama aku tidak menggunakan pengaman jika ingin berhubungan seks dengan seorang wanita. Harusnya aku menyesalinya tapi...
Aku sama sekali tidak menyesal.
Melainkan...
Harus bagaimana ini kukatakan. Senang? Gembira? Tidak. Ini lebih dari itu.
Ada sesuatu dalam diri Alana yang menarikku agar memilikinya dan...
"Kau memintaku menyelidiki kemana wanita itu pergi." Ujar Charles ketika aku mengangkat panggilan telponnya. "Dia sedang bersenang- senang dengan temannya."
"Dimana?"
Alana bisa saja menghindariku tapi seharusnya dia tahu kalau aku tidak akan membiarkannya.
Tidak setelah malam itu.
Tidak setelah apa yang diberitahukan padaku siang tadi meskipun secara tersirat.
Dan tidak ketika aku menyakini kalau itu benar.
Alana hamil dan bayi itu milikku.
"Well, kau tidak akan menyukainya." Charles terdengar tidak senang sekaligus ragu ketika mengucapkannya.
"Katakan saja dimana tempatnya, okey?"
Akhirnya aku tidak tahan untuk tidak jengkel. Memang separah apa keberadaan Alana sekarang. Seorang wanita yang sedang hamil. Tidak mungkin dia akan membahayakan dirinya sendiri, bukan?
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku tahu dimana alamat yang tadi diberitahukan oleh Charles dan sialan! Harusnya aku menyadarinya.
Tidak ada yang namanya privasi disini. Semua orang bercumbu tanpa rasa malu.
Yang wanita menggenakan bikini yang sangat menggoda dan pria hanya bertelanjang dada.
Ini pesta.
Pesta bikini yang dulu dikatakan Annie padaku.
Semua orang bebas melakukan apapun disini dan ada banyak model dan kalangan bangsawan kaya disini.
"Aaron?"
Aku berhenti memasuki bagian dalam rumah dan mendapati Annie dengan balutan bikini warna merah mudanya, tampak sangat seksi dan menggoda. Matanya berbinar karena senang dan langsung memelukku.
"Kau datang?"
"Annie." Kulepaskan pelukannya dengan lembut dan melihat wajahnya.
"Aku merindukanmu." Dia berkata sementara bibirnya mulai berada di bibirku. Mencumbuhnya disana.
Tapi, aku sama sekali tidak merasakan apa- apa. Rasa bibirnya berbeda dengannya.
Kulepaskan dia. "Senang bertemu denganmu lagi, Annie."
"Aaron?"
"Tapi aku kemari bukan untuk bertemu denganmu."
Kulihat matanya membelalak tapi dengan cepat diubahnya. "Kalau begitu untuk apa kau kemari? Apa mencari wanita lain untuk menggantikan diriku?" Sahutnya ketus.
Kedua keningku seketika saling bertaut. Baru kali ini- sepanjang kebersamaanku dengan wanita didepanku- tidak sekalipun Annie bersikap ketus atau menunjukkan hal- hal yang buruk padaku.
Jadi dia ingin memprovokasiku?
Baiklah.
"Aku mencari Alana Sparks. Apa kau melihatnya?"
Serta merta matanya mendadak menyipit tidak suka. Wah. Sepertinya aku mencium bau persaingan disini. Hati kecilku tergelak memikirkannya.
"Kenapa kau mencarinya?" Ketusnya.
"Kurasa itu bukan urusanmu."
"Dasar wanita jalang, dia..."
Kurenggut bibirnya cepat dengan sebelah tanganku, menghentikan bicaranya. Sambil tersenyum, kuusap bibir bawahnya dengan lembut dengan ibu jariku sementara wajahku sengaja kucondongkan ke dekat telinganya dan berbisik. "Dengar sayang," kutahan tubuhnya dengan tangan lain agar dia tidak bergerak. "Aku tidak suka mendengar kau menyebutnya sebagai wanita jalang. Oh, aku juga tidak suka melihat dirimu yang bersikap seperti pasangan yang posesif karena faktanya hubungan kita tidak lebih dari sekedar... Seks."
"Kau...?" Matanya membelalak seiring aku yang melepaskan dirinya.
"Nikmati waktumu, sayang." Lantas aku berlalu, masuk lebih jauh kedalam rumah.
"Dimana dia?" Kuusap rambutku mulai merasa frustrasi sekaligus sangat marah.
Seluruh sudut rumah beraroma seks dan berbau alkohol serta rokok. Jika dia melakukan hal yang macam- macam maka aku tidak akan segan untuk menyeretnya dari sini segera.
"Ayo lompat, Alana." Teriak sebuah suara menyerukan sebuah panggilan bernada penuh kegembiraan dan menatap lebih jauh pada sekumpulan orang yang berada tidak jauh dariku.
Tertegun.
Pakaian macam apa, oh salah. Itu bukan pakaian. Hanya secarik kain tipis yang menutupi bikini yang dikenakannya.
Sialan! Harusnya aku tahu.
Kulangkahkan kakiku semakin mendekatinya. Wanita itu bahkan dengan santainya tertawa tanpa sama sekali menyadari bahwa dia telah membangunkan seekor singa. Dia tertawa mendengar lelucon yang dibisikkan pria itu di telinganya sementara tangan pria itu berada di pinggangnya.
Selangkah lagi. Dan aku akan merenggut dirinya dari sisi pria tidak tahu adat itu.
Wanita yang duduk dihadapannya- yang kalau tidak salah ingat bernama Jane memberiku tatapan membelalak dan seorang lagi- aku tidak tahu dan tidak peduli ketika justru sebaliknya memberiku tatapan yang selalu kudapatkan dari para wanita. Kekaguman.
"Jika kau berniat membalas dendam padaku, maka kau berhasil sayangku."
Alana berbalik segesit rusa, yang harus kuakui sangat anggun hingga kemudian aku meringgis. Bagian depan bra yang dikenakannya bahkan jauh lebih provokatif daripada yang terlihat dari belakang.
Dan sejak kapan dadanya mulai terlihat berbeda dari yang terakhir kulihat?
"Apa yang kau lakukan disini?"
Dia masih marah. Dalam hati aku tertawa melihat ekspresi yang ditampakkan. Dia wanita pertama yang tidak sungkan- sungkan memperlihatkan raut wajah yang sebenarnya padaku.
Kutarik tubuhnya, ingin merasakan suhu tubuhnya yang ternyata memancarkan kehangatan. Oh! Tentu saja. Dia sendiri sudah terlihat panas dalam balutan bikininya. Tidak perlu penegasan lain.
"Apa yang kau lakukan?"
"Memang apa yang kau pikirkan?" Balasku gemas. "Tentu saja ingin menjemputmu."
"Apa?"
"Aku merindukanmu." Kucium sudut bibirnya yang terbuka. Kaget, membuatku semakin menyunggingkan senyumku. "Bagaimana keadaan anak kita?" Kataku sedikit lebih keras daripada yang kumaksudkan.
***
Comments
Post a Comment