FATED TO LOVE YOU - SEPULUH

Alana PoV.

Jika ada orang yang paling brengsek yang pernah hidup di muka bumi ini, maka Aaron Bass lah orangnya. Pria itu memang Bass- tard (brengsek) sejati.

Harusnya dia tidak perlu bersikap seperti itu kan? Maksudku, baiklah. Aku memang hamil dari benihnya dan belum memutuskan apa yang harus kulakukan nantinya tapi dia juga tidak perlu sampai mengejarku ke pantai tempat aku melakukan pemotretan untuk majalah musim panas mendatang.

Arghhh sialan!

Bahkan orang- orang yang mengikuti pemotretan ini juga terlihat bisik- bisik yang bahkan ikan paus pun bisa mendengarnya. Aaron dengan segala aura maskulin yang dikeluarkannya tentu saja bisa menarik semua perhatian bahkan dengan kehadirannya disini semakin membuat bisik- bisik itu semakin kentara.

Jessi dan Jane- kedua sahabatku yang baik hati itu lebih memilih melakukan ritual demo dengan tidak mengajakku berbicara. Demi Tuhan! Sekalian saja lempar mobil ke wajahku (aku mengharapkan Audi merah yang selama ini kuimpikan)- tapi jelas itu tidak mungkin.

Aku tahu mereka marah. Aku pun juga begitu tapi harusnya mereka juga mengerti. Aku marah, aku syok bahkan masih kaget dengan apa yang kualami saat ini. Otakku masih sulit mencerna bahkan memahami segalanya. Pertama kali melakukannya dan tiba- tiba aku dinyatakan hamil. Belum lagi aku setengah sadar alias dalam keadaan mabuk parah ketika itu terjadi. Apakah itu adil?

Aaron Bass.

Kenapa harus pria itu?

Dan kenapa dia tidak menolaknya saja seperti kebanyakan pria yang biasa kudengar?

"Apa benar kau hamil?"

Keningku serta merta mengernyit bingung mendapati Ray mengatakan hal itu di sela James, sang fotografer memberikan instruksi agar terlihat bagus di kameranya.

Tema kali ini adalah lust and wild jadi kami diharuskan untuk bersikap sangat seksi di tengah deburan ombak yang menerpa tubuh kami. Pakaianku bahkan sudah basah dari tadi, dengan kaos yang memperlihatkan sebelah pundakku yang telanjang dan hanya mengenakan bikini di dalamnya sementara Ray hanya mengenakan celana pendek sementara tangannya melingkari pinggangku.

"Kurasa berita menyebar dengan cepat." Aku menjawab disela teriakan James yang menyurih kami berpose seperti yang dia inginkan.

Ray tertawa tanpa suara sebelum menjawabku, yang membuatku memutar mata.

"Oh kau tidak tahu sayang. dan ayah bayimu ternyata si tampan yang digilai hampir seluruh wanita negara ini dan saat ini sedang menatap kita oh salah, menatapku dengan tatapan membunuh."

"Bagaimana kau tahu? Kau kan tidak melihatnya?"

Ray terkekeh. "Oh sayang. Aku memang gay tapi aku bisa merasakan kalau seseorang sedang berusaha memutilasiku."

Ya. Dia benar. Ray memang seorang gay. Tidak banyak yang mengetahui hal ini, aku pun tidak akan tahu kalau saja aku tidak mendapati dia sedang berciuman dengan seorang pria di lift hotel ketika aku berada di Itali. Itulah juga sebabnya aku membiarkan dia menempel erat pada tubuhku dan sesekali mencium pundakku karena aku tahu kalau dia hanya sekedar bersikap profesional.

"Tapi aku heran, kalau kau memang hamil anaknya, kenapa dia tidak melarangmu bekerja?"

Dia sudah melakukannya semalam.

"Itu karena kandunganku belum besar. Lihat saja, perutku bahkan belum mengalami perubahan."

Hal berikutnya adalah Ray langsung memegang perutku yang masih rata, membuatku terkesiap.

"Kurasa kau salah. Aku sedikit merasakan tonjolan di sekitar sini." Ucapnya seraya menyentuh perutku lagi. "Tapi tenang saja. Aku akan menutupinya jadi foto kita akan terlihat sempurna seperti kau tidak hamil."

Aku tertawa. "Kau memang bajingan gay brengsek, Ray." Balasku.

"Kau tidak tahu dan kurasa apa yang dikatakan orang- orang mengenai wanita hamil itu benar."

Aku tidak bisa tidak tersenyum. "Jadi apa yang dikatakan mereka?" Godaku seraya semakin mendekatkan diriku padanya.

"Oh sekarang kau berniat untuk tidak membuatku pulang dengan selamat rupanya."

"Kurasa itu layak di coba. Jadi apa yang dikatakan orang- orang tentang wanita hamil?" Tanyaku sengaja mengeluarkan suara menggoda.

Oh! Aku menyukai ini. Seakan sensasinya benar- benar ikut menghanyutkanku. Aku seperti bergairah.

"Hmm biar ku pikir. Kurasa kau semakin tampak menggoda. Ini pemotretan ketiga kita tapi aku merasa hari ini kau tampak menggairahkan dibandingkan yang ..."

Sebelum Ray menyelesaikan ucapannya, mendadak saja tubuhku tertarik hingga terlepas dari tubuh Ray. Dan hal selanjutnya yang kudengar adalah suara pukulan dan suara terkesiap. Aku bahkan langsung terperangah ketika mendapati Ray sudah tersungkur jatuh ke dalam air.

Apa yang...

Sebelum pukulan kedua mendarat di wajah Ray. Dengan sigap aku menahan kepalan tangan Aaron, menghentikan dirinya memperlihatkan aksi heroiknya dan mendapati Ray justru melihatku dengan senyum penuh kemenangan yang aku tidak tahu maksudnya.

Apa dia gegar otak?

Kuhentakkan tangan Aaron, hendak mendekati Ray dan memeriksa apakah ada kerusakan- Kami model dan seluruh tubuh termasuk wajah adalah aset kami yang berharga- ketika secara bersamaan suara Aaron yang dingin menghentikan langkahku.

"Jangan coba- coba Alana!"

Aku berbalik, mataku berhadapan dengan matanya.

Sorot matanya jauh terlihat lebih dingin dan tajam- yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Rahangnya kaku dan kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya, seakan mencoba untuk tidak meledak.

Dari sudut mataku, kulihat orang- orang berdatangan dan membantu Ray berdiri. Semua orang undur diri hingga menyisakan hanya aku dan Aaron berdua.

Kuhembuskan napasku, mendengus ketika bahkan tidak ada suara darinya dan berniat akan pergi ketika sekali lagi suaranya yang dingin menahanku.

"Sudah kubilang jangan coba- coba," dia menahan tanganku secepat aku ingin bergerak pergi. "Jangan kesana."

"Kau sudah gila ya? Lepaskan!"

"Kau mau menemui pria itu kan?"

"Tentu saja." Jawabku. "Kau memukulnya, ingat?"

Apa sih masalahnya?

Dia tidak menjawab tapi justru menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

"Jangan mendatanginya, Alana." Katanya lagi. "Please?"

Tanpa sadar aku mengerjap. Apa ada yang salah hari ini? Aaron Bass memohon? Kiamat pasti dimajukan.

"Kau sakit ya?" Tanyaku disela kekagetanku atas sikapnya.

"Tidak." Jawabku tapi ada kernyitan didahinya.

"Kalau begitu kau gila."

Tidak ada jawaban, hingga rasanya aku jengah ketika dia justru melihatku dengan matanya yang seakan menghipnotisku.

"Alana."

"Dengarkan aku Mr, Bass tapi aku..."

"Akan kutunjukkan apa yang dinamakan gila."

Eh?

Tidak sempat untuk mengelak. Secara mendadak Aaron menarik tanganku hingga membentur tubuhnya. Tubuhnya bahkan terasa sangat panas ketika bersentuhan dengan tubuhku. Membuatku merasa panas dingin dan jauh lebih ketika aku bersentuhan dengan Ray tadi.

Aaron mengangkat daguku dan tanpa ragu langsung mengarahkan bibirnya ke bibirku setelah sebelumnya menaruh telapak tangannya di tengkukku, membuatku kesulitan untuk menggerakkan kepala.

"Apa kau tidak capek menghindariku seperti itu," bisiknya tanpa sama sekali melepaskan bibirnya dari bibirku. "Buka mulutmu, sayang." Katanya bernada memerintah.

Kugelengkan kepalaku.

"Kau mengatakan aku gila, jadi biar kutunjukkan apa arti gila yang sesungguhnya. Buka mulutmu, Alana sayang."

"Tidak." Aku menggeleng lebih keras tapi Aaron sudah memanfaatkan balasanku tadi dan menyusupkan lidahnya ke dalam mulutnya.

Dan sensasinya. Sensasinya seakan lebih membakarku hingga tanpa sadar aku membalas ciumannya.

Entah berapa lama kami berciuman. Lidah Aaron menari bersama lidahku dan entah kenapa rasanya aku tidak ingin berhenti.

Aku mengerang, melarikan jari- jariku di sekeliling rambutnya yang halus dan berhenti.

Aku megap- megap kehabisan napas begitupun dengan Aaron tapi dahinya tetap menempel di dahiku.

"Apa yang kau rasakan?" Tanyanya kemudian.

"Entahlah." Aku menggeleng. Merasa kakiku menjadi lemah dan terpaksa harus mengalungkan kedua lenganku di bahunya sementara tangannya berada di pinggangku. "Rasanya sebentar lagi aku akan berubah menjadi ubur- ubur."

"Ubur- ubur?" Tapi aku sempat mendengar tawa kecil yang lolos dari bibirnya. Sedetik kemudian kakiku tidak lagi menginjak tanah melainkan tubuhku seakan melayang.

"Aaron!" Pekikku nyaris tertahan atas sikapnya yang mendadak mengangkatku hingga aku terpaksa harus semakin merapatkan tubuhku di dadanya yang terasa keras.

Dia kembali tertawa hingga aku bisa merasakan bibirnya lagi menyapu bibirku, membuatku terpejam karena keinginan merasakan lidah itu lagi. Hingga aku mendengar suaranya yang seakan penuh kemenangan.

"Senang akhirnya kau menyebut namaku."

Hah?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS