FATED TO LOVE YOU - TIGA BELAS
Author PoV
Kadang kala sikap kejam seseorang akan kembali jika tidak mendapatkan penjelasan.
____
"Alana?"
"M-mom?" Untuk kali pertama sepanjang pengamatan Aaron, Alana terlihat jauh lebih gugup dari yang pertama disadarinya.
Aaron tidak terlalu mengenal bagaimana kehidupan wanita itu sebelum bertemu dengannya tapi Aaron juga tidak bodoh untuk mengetahui kalau ada yang salah saat ini.
"Apa benar kau hamil?"
"Mom."
"Jawab aku, Alana."
Aaron memperhatikan kalau Alana cenderung menggigit bibir bagian bawahnya ketika sedang gugup dan dari pergerakan tangan yang diperlihatkan Alana, Aaron tahu kalau wanita itu mulai merasa tidak nyaman.
Ada apa sebenarnya?
Mengikuti nalurinya, Aaron mendadat mengulurkan sebelah tangannya dan mengenggam tangan Alana, membuat wanita itu seketika mendongak ketika kembali wanita itu bersuara dengan suaranya yang lelah.
"Terima kasih sudah mengantarku. Anda bisa pulang, Mr. Bass."
"Apa?" Sungguh. Tidak pernah terbersit dalam pikiran Aaron kalau dia akan diusir seperti ini oleh wanita yang sedang hamil anaknya, bahkan tanpa hamil pun, tidak sekalipun Aaron pernah diusir. Yang ada para wanita- wanita itu tidak mau berpisah dengannya.
Beberapa kali Aaron harus mengambil napas dan menghembuskannya, berusaha meredakan amarah yang mulai menggelegak dalam dirinya. Kenapa wanita ini sulit sekali dipahami? Ujar Aaron dalam hatinya.
"Kita akan menghadapinya bersama."
"Kau tidak perlu ikut campur dalam masalahku, Aaron."
Aaron? Mr. Bass? Kenapa dia begitu mudahnya berubah- ubah?
"Tidak. Kita akan menyelesaikan ini bersama."
"Ti-"
"Kau ibu dari anakku. Titik!"
Aaron tahu Alana ingin memberontak saat itu juga- merujuk dari cara Alana yang memandangnya tapi alih- alih berteriak. Alana justru menyentak genggaman tangannya lalu kembali ke sosok wanita yang memandang Aaron dan Alana secara bergantian.
"Jadi?" Tanya wanita yang Alana panggil dengan sebutan ibu itu. "Masuklah kalian berdua." Perintah ibu Alana dan masuk lebih dulu kedalam rumah.
Selama ini Aaron tidak pernah datang ke tempat tinggal wanita yang dikencaninya, terlebih lagi dimana ada orang tua si wanita. Aaron cenderung menyewa sebuah kamar di hotel atau apartemen, yang kemudian hari akan diberikan pada teman kencannya ketika dia sudah merasa sudah tidak ada lagi yang ingin dilakukannya bersama si wanita. Anggap saja sebagai hadiah. Begitu pikiran Aaron kala itu.
Tapi sekarang. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa ketika menempatkan pantatnya diatas sofa kulit berwarna abu- abu sementara Alana ikut duduk disampingnya.
Aaron tidak pernah takut pada apapun. Tidak sedikitpun. Toh menurutnya dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Kehamilan Alana adalah sesuatu yang tak direncanakan sebelumnya, meskipun awalnya dia tidak cukup mempercayai kenyataan itu tapi ada saat dimana dia sering memimpikan bayi- bayi tak kasat mata ketika ia memejamkan mata dan tersenyum keesokan paginya.
"Jadi apa rencana kalian?" Tanya Rianna, ibu Alana kearah mereka berdua. (Aaron memperhatikan dari cara Rianna yang menatapnya seakan memberikan gambaran kalau dia tidak senang dengan kabar putrinya yang hamil)
"Tidak ada." Jawab Alana yang seketika membuat Aaron menoleh.
"Apa maksudmu 'tidak ada'?" Rianna mengucapkan kalimat yang mewakili hal yang sama dengan yang ingin Aaron tanyakan.
"Kami tidak berniat melakukan apa yang mom pikirkan."
Baik Rianna dan Aaron sama- sama menatap Alana. Alana masih menolak menatap mata Aaron.
"Kami akan menikah." Putus Aaron yang seketika membuat kedua mata Alana membelalak karena terkejut. Yeah! Sekarang kau melihatku.
"Kami tidak-"
"Jika anda tidak keberatan, kami akan menikah dalam waktu dekat ini." Sekali lagi Aaron berkata, mengindahkan tatapan tajam yang baru saja dilontarkan Alana padanya.
Jika mau jujur, Aaron juga terkejut dengan apa yang baru saja diucapkannya. Menikah berada dalam urutan kesekian dalam daftar melanjutkan hidupnya tapi sejak pertama kali melihat Alana. Seakan magnet statis yang ikut menariknya dan jika wanita itu berniat untuk melenyapkan calon anaknya maka, hanya satu yang bisa mengikat wanita itu dan salah satunya adalah pernikahan. Untuk mempertahankan keturunannya.
Jika lima bulan yang lalu Aaron tidak memikirkan dampak yang ditimbulkannya maka sudah pasti dia masih bisa melihat wanita itu.
Tapi sekarang. Entah dimana keberadaan Alana saat ini. Tidak ada yang tahu bahkan Rianna sendiri tidak tahu dimana keberadaan putrinya itu.
Aaron begitu geram hingga ingin menghancurkan apapun kala itu. Dua hari. Hanya dua hari setelah kejadian hari itu dan dia baru tahu kalau wanita itu sudah tidak berada di negara yang sama dengannya. Alana pergi bahkan setelah apa yang dikatakan oleh Aaron. Menikah.
"Charles, sekarang kau urus Rosa." Ucap Aaron dingin tanpa sama sekali menengadahkan wajahnya dan tetap membaca berkas di tangannya.
Charles mengangguk mengerti. Ya. Sekarang Aaron lebih sering melampiaskan rasa marahnya dengan berhubungan seks dengan para wanita yang baru sekali di temuinya dan setelah itu mencampakkan tanpa ampun. Tidak sedikit wanita yang merasa dikhianati dan marah bahkan yang lebih parah sampai datang ke kantornya tapi seperti sebelumnya, Aaron semakin menunjukkan wajah tanpa ekpresinya.
Sama halnya ketika ia berhadapan dengan klien. Sifat alami tidak menerima ketidaksempurnaan miliknya semakin menjadi- jadi membuat Charles harus sering meminta maaf dengan para klien karena Aaron sama sekali tidak segan- segan membatalkan kerjasama jutaan dollar hanya karena kata tidak suka.
"Mr. Bass, Mr. Nikishima dan Mr. White datang untuk menemui anda." Ucap Leela melalui sambungan telpon di mejanya.
"Persilahkan mereka masuk."
Mr. Nikishima dan Mr. White masuk ke ruangan Aaron tepat ketika Aaron baru beranjak dari duduknya.
"Mr. Nikishima dan Mr. White, sungguh suatu kehormatan. Bagaimana kabar anda?" Tanya Aaron seraya mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di atas sofa yang telah di siapkan kemudian diikuti oleh Aaron juga Charles.
"Baik. Bagaimana dengan anda, Mr. Bass?" Tanya Mr. White juga.
"Seperti yang anda lihat, saya baik- baik saja." Jawab Aaron. "Dan apa yang membuat Mr. Nikishima jauh- jauh datang dari Jepang ke negara ini lebih cepat dari waktu yang ditentukan?"
Mr. Nikishima tertawa. "Anda masih saja seperti biasa, Mr. Bass. Seharusnya kita sudah mulai akrab sejak kita saling menanda tangani proyek di Jepang. Panggil saja Kazuo, Mr. Bass."
Aaron membalasnya dengan senyum simpul yang sangat jarang ia perlihatkan. "Kalau begitu, anda juga seharusnya memanggil nama depan saya."
"Hahah baiklah. Aaron."
"Jadi apa yang membuat anda datang ke sini, Kazuo? Saya harap ini bukan sekedar ingin memanggil nama depan saja bukan?"
Romam yakni Mr. White yang menanggapi seraya melirik Kazuo di sampingnya. "Bukankah sudah kukatakan Kazuo? Anak muda ini terlalu lama menghabiskan waktunya di ruangan ini." Ujar Roman.
"Ya. Kau benar Roman." Balas Kazuo nyengir lalu kembali melihat Aaron. "Kau masih muda, Aaron. Kenapa tidak kau nikmati saja milikmu?"
"Saya sudah menikmati apa pun yang menjadi milik saya."
"Sepertinya itu kurang." Lama Kazuo dan Aaron saling menatap. Dalam benak Kazuo, Kazuo dapat melihat bahwa Aaron adalah versinya ketika muda dulu. Yang lebih senang berjibaku dengan segala hal yang menyangkut perluasan wilayah tapi sejujurnya itu membuatnya malah menjadi sepi.
"Sepertinya anda sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum anda melangkahkan kaki ke dalam ruangan ini." Ucap Aaron seperti bisa membaca apa yang baru saja terlintas dalam pikiran dua pria paruh baya dihadapannya ini.
"Seperti biasa, sangat cermat, Aaron." Roman tertawa pelan.
"Biar kutebak, apa Charles ikut masuk dalam rencana ini?" Aaron diam- diam melirik sang asisten yang balas menyunggingkan cengirannya.
Baik Roman maupun Kazuo kembali tertawa.
"Jadi berapa persen kemungkinan aku akan ikut?"
"100 persen jika anda tidak memiliki jadwal lain dan sejujurnya memang tidak ada. Charles sudah mengatakan semuanya." Kazuo menjawab yang sekali lagi membuat Aaron melirik Charles.
"Baiklah. Jadi apa rencananya?" Ya. Tidak ada salahnya mengikuti keinginan mereka bertiga.
"Jepang." Roman menjawab.
Seketika alis Aaron terangkat. "Jepang?"
Kazuo menyunggingkan senyum simpul. "Sekarang giliran anda yang datang ke negara tempatku tinggal, Mr. Bass."
***
Comments
Post a Comment