FATED TO LOVE YOU - TIGA

Aku menghentak kakiku kesal dan langsung beradu pandang dengan Jane yang sedang memberiku tatapan bingung.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya. "Kenapa kau terlihat marah? Dan darimana kau? Bukankah kau bilang kalau kau menungguku di kafe?" Lanjutnya beruntun, membuatku semakin kesal dan memutuskan untuk meneguk habis minuman di depannya.

"Jared."

Hanya satu kata tapi memiliki efek yang luar biasa dalam menimbulkan kembali amarah yang tadinya telah surut. Jane tampak bingung kemudian kembali berganti menjadi senyum yang dikulum.

"Aku tidak tahu bagaimana cara kerja otak pria itu tapi asal kau tahu saja, dia bahkan tanpa rasa malu ingin menyetubuhiku di dinding depan toko sepatu."

"Wow!"

"What?" Aku mendelik tajam padanya.

"Maksudku, aku ikut sedih. Sungguh." Katanya, "tapi kau tidak bisa begitu saja menampik keinginan pria jika berhadapan denganmu."

Seketika kupicingkan kedua mataku kearahnya dan berkata. "Jadi apa aku baru saja mendengar kalimat pujian darimu? Bitch atau mungkin slut?" Tanyaku tanpa menyembunyikan nada tersinggung dalam suaraku.

Jane tertawa. "Jangan marah seperti itu. Kau memiliki well, tubuh yang seakan menarik setiap pria. Seks dan sebagainya yang kau miliki seakan menggoda kejantanan mereka untuk mencicipinya."

Sialan Jane dan pikiran kotornya!

Tidak tanggung- tanggung aku langsung meraih tempat tisu dan melemparnya dihadapan Jane yang menangkapnya dengan kedua tangannya sambil tertawa terbahak- bahak.

Aku membenci setiap orang yang mengatakan kalau aku memiliki tubuh yang well- seperti yang tadi Jane katakan, seksi (meskipun itu benar. Itulah sebabnya aku menjadi model) tapi yang paling aku benci adalah kalau baik Jane maupun Jessi mulai mengatakan tentang seks dan sebagainya.

Aku memang ingin merasakannya- maksudku aku kan tidak akan selamanya menjadi perawan tapi terlebih dahulu aku ingin merasakan perasaan yang menggebu- gebu yang sebelumnya tidak pernah kurasakan sebelum aku melepaskannya dan itu sama sekali tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Pembicaraan kami kemudian beralih pada Jane yang mulai bercerita kalau dia akan berangkat ke Maladewa untuk memotret. Aku mau saja ikut dengannya, mungkin kami bisa sekalian liburan dan menikmati waktu bersantai tapi aku harus ke Milan untuk melakukan pemotretan disana minggu ini sekaligus mendapatkan Gucci untuk Miss Shopaholic.

Aku sedang menikmati Macaroonsku sambil menimpali ucapan Jane tentang kepergiannya nanti ketika mataku tertumbuk pada seorang wanita dengan mata sipit, kuperkirakan usianya mungkin sekitar 40 tahun. Wanita itu tampak kelelahan dan juga bingung yang tergurat jelas di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.

"Sepertinya dia tersesat. Sejak tadi aku melihatnya mondar- mandir di sekitar sini." Timpal Jane setelah menyadari arah pandanganku.

"Tunggu disini."

Kuputuskan untuk beranjak dari tempatku duduk dan berjalan keluar dari kafe tempat kami duduk. Jane menatapku seakan aku baru saja menampakkan ekor di sekitar pantatku dan berteriak hendak menghalangi.

Aku hanya tersenyum membalasnya seraya memberinya kode kalau aku hanya akan sebentar dan menyuruhnya menungguku di tempat kami tadi duduk.

"Halo."

Wanita itu berbalik dan aku langsung memberinya senyum ramah.

"Oh, astaga akhirnya ada juga yang bisa bahasa jepang disini." Ada rona kelegaan dan kebahagian yang tersirat di wajahnya.

Aku tersenyum. Tidak ada yang tahu kalau aku pernah tinggal di Jepang selama beberapa bulan sebelum akhirnya memutuskan pindah ke negara ini.

"Aku Alana." Kuperkenalkan diriku dalam bahasa Jepang. "Aku daritadi memperhatikan wajah bingung anda. Apa anda tersesat?"

Dia mengangguk. "Aku Kyoko. Ya. Aku tidak tahu aku berada dimana. Ponselku tertinggal di saku suamiku dan tidak bisa menghubungi siapa- siapa disini." Jelasnya.

Kembali aku mengangguk. "Apa anda ingin ikut bersamaku? Aku tadinya berada disana bersama temanku- "kutunjuk Jane yang sedang melambai kearahku. "- ketika melihat anda. Kafe itu berada di tengah shopping mall ini. Ada banyak orang yang setiap saat melewati tempat ini jadi kemungkinan besar suami anda akan lewat sini."

"Benarkah?"

Aku mengangguk. "Jadi apa suami anda sendiri?"

"Oh tidak," Kyoko menggeleng. "Aku dan suamiku kemari dalam rangka bisnis. Dia dan teman bisnisnya itu sedang mendiskusikan project mereka yang akan datang, membuatku merasa bosan."

"Pria dan bisnis memang satu paket, iyakan Kyoko?"

Kyoko tertawa. "Kau anak muda yang menyenangkan. Baiklah. Kita bisa menunggunya di tempat yang tadi kau katakan. Kau yakin mereka akan lewat sini?"

Aku mengangguk, menyakinkan. "Tentu saja. Aku bisa mempertaruhkan seluruh macaroons yang ku miliki padamu." Jawabku bercanda.

Untung saja tempat duduk yang tadi dipilih Jane sebelum ini berada di dekat jendela. Hal itu memungkinkan agar kami bisa lebih leluasa untuk melihat orang- orang yang lalu lalang.

Kyoko kutempatkan di tempatku tadi duduk yakni di samping jendela sementara aku berada di sampingnya. Selama kami menunggu, Kyoko bercerita tentang alasan kenapa dia bisa tersesat. Awalnya Kyoko dan wanita yang bersama dengan pria rekan kerja suaminya bersama. Mereka berbelanja bersama tapi kemudian Kyoko mulai merasa bosan dan hal ini dikarenakan karena wanita itu lebih sering memperhatikan barang- barang yang dijual di toko setiap kali mereka lewat dan tidak memperhatikan kalau saat itu Kyoko sudah merasa lelah.

Marah karena tidak dipedulikan, akhirnya Kyoko memutuskan untuk pergi meninggalkan wanita itu tanpa memperhatikan resiko kalau dia sama sekali tidak mengenal situasinya.

"Dasar wanita terkutuk!" Jane mengutuk marah wanita tanpa nama itu setelah aku menerjemahkan apa yang dikatakan Kyoko padanya. "Dia pasti tidak pernah diajarkan untuk berbuat baik pada orang tua."

Tugasku disini hanya sebagai penerjemah diantara Jane dan Kyoko, kadang kala aku menimpali tapi Jane yang lebih sering menyuarakan pendapatnya. Aku kurang lebih harus mengubah sedikit ungkapan yang dilontarkan Jane agar terdengar lebih sopan pada Kyoko dan dalam hati bersyukur Jessi tidak berada disini. Bisa kubayangkan kalau Jessi bisa sangat lebih buruk dalam memperlihatkan ekspresinya dibandingkan Jane saat ini.

Semua kami lakukan dengan diselingi oleh suara tawa dan canda di masing- masing pihak. Meskipun Jane terkendala masalah bahasa dan membutuhkan bantuanku tapi itu tidak membuat atmosfer menyenangkan diantara kami menjadi surut bahkan lebih meriah daripada yang tadi.

Aku baru saja meneguk minumanku ketika mendadak Kyoko berseru sementara telapak tangannya melambai penuh semangat pada pria bermata sipit lainnya yang menatap Kyoko dengan pandangan lega yang terlihat jelas di wajahnya dan saat itulah aku tahu kalau pria itulah yang menjadi suami Kyoko.

Aku dan Jane sama- sama saling melempar senyum, menyiratkan kalau betapa Kyoko sangat mencintai suaminya itu. Di usianya yang semakin senja itu, tampak jelas kalau ekspresi cinta yang terpancar dari diri Kyoko tidak pernah padam dan mau tidak mau membuatku iri.

Kupalingkan sedikit wajahku untuk melihat dengan siapa suami Kyoko berbicara ketika alisku langsung bertaut dan Jane yang mulai mengeram marah di depanku.

Ini tidak akan baik.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS