FATED TO LOVE YOU - TUJUH BELAS

Dad pergi beberapa menit kemudian. Meninggalkanku dengan Aaron di hotel.

Dad tidak mengatakan apa- apa dan aku masih belum tahu pembelaan apa yang harus kukatakan padanya. Aku tidak mungkin langsung mengatakan. 'Hai dad. Nah, karena dad selalu saja menanyakan siapa ayah dari bayiku. Maka perkenalkan. Dialah pria yang membuatku seperti ini. Yep. Aaron Bass adalah ayah bayiku. Selamat!'

Dad mungkin akan langsung terkena serangan jantung kalau aku mengatakan seperti itu. Selain karena aku yang kemungkinan terkena kejang- kejang. Jelas itu bukan sifatku mengingat betapa gigihnya aku menutup kebenaran ini darinya.

"Alana sayang. Tenanglah. Semuanya akan baik- baik saja."

Aku bahkan tidak sadar kalau sejak tadi aku hanya terdiam di tempatku. Kuambil segelas air yang disodorkan oleh Aaron kepadaku dan langsung menandaskannya.

Aaron sudah membawaku kembali ke kamar dan mendudukkanku di atas ranjang dengan dia yang bertumpu pada lututnya. Menatapku dari bawah.

"Tidak akan ada yang terjadi." Katanya lagi seraya mengusap kedua tanganku dengan tangannya. "Aku akan menjelaskan semuanya padanya."

Tidak. Dia tidak boleh menjelaskan apapun pada dad.

"Darimana dia tahu aku berada disini?" Akhirnya aku berhasil menyuarakan pemikiranku.

Aaron tersenyum. "Sepertinya dia tahu apa yang kau lakukan selama ini." Aku memandang Aaron dengan bingung, membuat pria itu menghela napas. "Jimmy mengetahui kalau kau berada di hotel ini dan terkejut ketika mendapatiku membuka pintu kamar hotel ini."

Aku menggeleng. Lebih karena aku tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkannya.

"Bagaimana kau bisa berkenalan dengan ayahku?"

"Kami dulu pernah bertemu beberapa kali dan membahas masalah bisnis." Hening sesaat dan aku merasa gerah dengan cara Aaron menatapku seakan kejadian semalam masih belum cukup dan memang belum cukup karena aku kembali menginginkannya. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau putri dari Jimmy Sparks?" Tanyanya seraya menempatkan sebelah tangannya di pipiku dan mengusapnya di sana.

"Aku- kau tidak pernah bertanya." Otakku terasa kacau balau karena sentuhannya. "Lagipula hubungan kita tidak sedekat itu hingga harus menceritakan tentang keluarga kita masing- masing." Tidak ada balasan darinya jadi aku melanjutkan. "Dengar, kita..."

"Kalau begitu mulai sekarang aku harus mulai melakukan pendekatan di keluargamu."

"Apa? Tidak!"

Aku tidak mengerti. Harusnya pria seperti dirinya bisa langsung memahami maksudku tapi dia... Dia...

"Aaron," aku mengeliat tidak nyaman dengan caranya yang menciumi leherku.

"Hm?"

"Apa yang... Apa yang kau lakukan?" Tubuhku mulai menggelenyar karena ciumannya.

"Menciummu."

"Tapi kenapa?" Kali ini aku merasa seperti mendengar suara yang bukan suaraku.

"Melihatmu menggunakan pakaianku seketika membuatku kembali bergairah. Kau tampak sangat seksi dengan pakaianku. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu."

"Aku tidak menemukan pakaianku jadi aku memakai milikmu."

"Aku tidak keberatan." Ciumannya semakin dalam, membuatku terpaksa harus mencengkram bahunya seiring dia yang terus menggodaku. "Aku tidak akan pernah bosan jika itu berhubungan denganmu." Bisiknya di telingaku.

Aku ingin membalas ucapannya tapi sebelum itu terjadi, tubuhku rasanya tersentak dan langsung mendorong Aaron. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruhnya ke dalam toilet.

"Alana?" Suara Aaron sangat dekat dan penuh kekhawatiran.

"Tidak apa- apa." Kukibaskan sebelah tanganku, tanpa memandang. "Pergilah. Aku baik- baik saja."

Aku berjengit ketika merasakan tangannya di tengkukku dan memijitnya dengan lembut disana. Sekali lagi aku memuntahkan sesuatu dan merasa sangat lemah setelahnya.

Aaron tidak mengatakan apa- apa. Termasuk setelah menyodorkan handuk dingin untuk membasuh wajahku yang berkeringat.

"Sungguh. Ini tidak apa- apa." Kataku lagi memaksakan diri untuk tersenyum yang kupikir gagal. Aku terlalu lemah dan hanya tidur yang kubutuhkan untuk memulihkan tenagaku lagi.

"Berapa lama?"

Aku mengernyit. Tidak mengerti dengan arah pembicaraannya yang tiba- tiba. "Berapa lama apa?"

Dia terdiam tapi kerutan di keningnya semakin dalam ketika melihatku. Entah bagaimana aku merasa dia sedang menahan rasa amarah.

"Aaron?"

"Baiklah akan kuubah pertanyaanku. Apa kau sering mengalami ini?"

Aku tidak mengerti. "Ya." Jawabku

Dia mengerang. "Sejak awal?"

Aku mengangguk. "Apa kau tidak pernah membaca kalau kehamilan biasanya selalu membawa dampak seperti ini?" Aku tidak mengerti. Ada apa dengannya.

Kembali aku melihatnya mengerang tapi kali ini dia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Aku tidak hamil jadi aku tidak tahu."

Astaga! Ada apa dengannya?

Kuhirup udara dalam- dalam menahan gejolak baru yang kurasakan. Aku tidak mau bertengkar dengannya hari ini.

"Aaron," kusentuh wajahnya dengan tanganku dan menyadari betapa lemahnya aku kali ini. Rasanya kehamilanku semakin hari semakin sulit untuk kujalani. Tubuhku mudah lelah dan juga mengantuk yang kualami semakin sering menghinggapi. "Hal ini wajar." Aku mengusap pipinya dengan pelan. Merasakan tekstur tulang pipinya sekaligus bulu- bulu kasar pada janggutnya. Sangat tampan. "Aku selalu memeriksakan kandunganku ke dokter dan dokter mengatakan kalau yang kurasakan ini adalah situasi yang wajar. Aku mungkin lebih sering kelaparan dan kadang sangat lelah hingga biasanya jatuh tertidur tapi selebihnya itu aku baik- baik saja. Setelah anak ini lahir, aku tidak akan mengalaminya lagi."

Dia terdiam. Aku berdoa Aaron tidak memutuskan untuk melakukan sesuatu yang aneh lagi.

"Ini sudah lebih baik dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Di bulan pertama dan kedua aku bahkan kesulitan untuk menggerakkan tubuhku dan berharap toilet memiliki bantal tapi..."

Oh! Oh! Sepertinya aku semakin memperburuk suasana. Wajah Aaron terlihat semakin tegang dan kedua bibirnya semakin terlihat tipis.

"Yah, kutebak kau tidak menyangka kalau hidupku akan kesulitan dulu." Aku mencoba mengucapkannya setenang mungkin dan tersenyum. "Aku baik- baik saja. Jangan khawatirkan aku."

Tanpa kuduga Aaron mengangkatku, membuatku terpekik kaget karena sikapnya yang tiba.

"Aku tidak akan memalingkan pandanganku darimu lagi." Ucapnya disela dia yang membawaku ke tempat tidur. "Tidak akan pernah."

"Aaron?"

"Apa kau lelah?" Tanyanya sembari menyingkirkan helaian- helaian rambutku dari wajah.

Aku mengangguk. "Ya. Kurasa aku menghabiskan semua energiku di toilet tadi. Aku butuh tidur sejenak."

Aaron mengangguk. "Kalau begitu aku akan bersamamu." Katanya seraya membuka kemejanya dan ikut menempatkan tubuhnya disampingku setelah terlebih dahulu menarik selimut untuk menutupi kami berdua.

"Kau tidak perlu melakukannya." Bisikku pelan tapi juga merasa nyaman ketika dia memelukku dari belakang, dengan tangannya menyentuh perutku. "Kau sepertinya berada disini karena urusan bisnis."

"Aku akan menyuruh Charles mengurusnya selama aku mengurusmu."

Aku mendesah pelan. "Kau tidak perlu melakukannya."

"Aku perlu melakukannya." Dia menyahut keras kepala dan aku menguap. "Aku benci jika kau harus mengalaminya lagi sementara aku tidak tahu."

"Tidak apa- apa." Sahutku pelan, merasakan kalau kedua mataku mulai terasa berat.

"Tidurlah cintaku." Aku merasakan dia mencium rambut belakangku. "Aku akan tetap berada disini sekalipun kau tidak menginginkannya."

"Dasar keras kepala."

Aku mendengarnya terkekeh pelan dan hal itu terdengar seperti lonceng yang membawaku ke alam mimpi dengan tubuhnya yang memelukku. Tenang dan damai. Itulah yang kurasakan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS