FATED TO LOVE YOU - TUJUH

Alana PoV.

Hari- hariku rasanya bergerak sangat lambat. Aku kelelahan dan kelaparan pada saat yang bersamaan jadi disinilah aku, menikmati sarapan yang luar biasa bersama Jessi- di kafe dekat dari apartemennya.

"Apa yang ingin kau lakukan malam ini?" Tanyanya disela aku menyuap waffleku dan mengunyahnya.

"Entahlah. Belum memutuskan." Aku menjawab. "Apa yang kau rekomendasikan?"

Seketika Jessi menyunggingkan senyumnya yang membuatku harus memutar mata.

Pesta dan bersenang- senang adalah paket dalam kehidupan Jessi.

"Ada diskotik baru dengan DJ yang luar biasa tidak jauh dari sini. Kita bisa kesana malam ini dan berpesta semalaman."

Aku tertawa. Sudah kuduga dia akan mengatakan hal itu.

"Cool. Apa Jane sudah kembali dari Thailand?"

"Sepertinya begitu, bagaimana kalau kuhubungi saja dia dan menanyakannya?"

Kuangkat bahuku. Sementara Jessi berbicara dengan Jane melalui ponselnya, kuangkat sebelah tanganku dan memesan tambahan pancake beserta waffle untuk diriku sendiri.

Entah apa yang Jessi dan Jane bicarakan, yang jelas aku sudah menghabiskan dua buah pancakeku dan baru saja akan menyentuh waffle ketika kemudian Jessi muncul dan memberiku pandangan aneh.

"Apa?"

Sama halnya dengan diriku, Jessi juga melihatku bingung.

"Apa kau baik- baik saja?" Tanyanya.

"Apa aku terlihat tidak baik- baik saja?" Aku balas menanyainya. "Ada apa dengan ekspresimu itu?" Aku tertawa ketika mengatakannya sembari tanganku meraih strawberry milkshake didepanku.

"Kau seperti wanita yang sedang... Oh lupakan. Kau baik- baik saja? Yakin?"

Aku mengernyit. "Ya. Kau ini kenapa sih?"

"Apa saat ini kau diam- diam berkencan?"

Aku tersedak. "Apa?"

Jessi menatapku.

"Tentu saja tidak!" Aku membantah. "Aku tidak sedang mengencani siapapun saat ini." Lanjutku karena melihat ketidakpercayaan di matanya. "Sungguh." Aku menambahkan seraya menyakinkannya.

"Oh kuharap itu benar." Katanya. "Karena aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak memberitahuku siapa pria beruntung itu." Jessi memberiku senyuman penuh nada menggoda dan aku membalasnya dengan dengusan dari hidungku.

"Dan ngomong- ngomong tentang pria beruntung-" senyum Jessi semakin mengembang hingga memperlihatkan barisan giginya yang sangat rapi. "Aku mendengar cerita Jane." Ucapnya. "Dan Jane menyebut namamu."

Oh tentu saja! Jane yang selalu melebih- lebihkan.

"Jane salah sangka." Kataku

"Aku tidak mendengar kalau Jane salah sangka. Jadi siapa dia?"

Kuhela napasku. "Namanya Aaron. Aaron Bass." Kedua mata Jessi melotot dan aku berusaha memusatkan perhatianku pada apa yang ingin kukatakan daripada memikirkan ciuman yang kami lakukan di dapur milik Grace tempo hari.

Dia sangat... Kissable.

"Wow!" Kudengar Jessi berguman. "Katakan kalau dia pria yang selalu muncul di majalah forbes dan sebagainya. Astaga Alana! Kau sangat beruntung. Dia pria yang... Wow. Bahkan wow tidak cukup untuk menggambarkan dirinya."

Aku ternganga di tempatku. Inikah Jessi sahabatku? Ada apa dengannya?

"Dia tidak se-" kuangkat jari telunjuk dan jari tengahku ke udara membuat tanda kutip diatas- "wow seperti yang tadi kau katakan." Kataku.

Jessi membelalak. "Apa kau buta atau bagaimana? Dia sangat tampan dan juga kaya. Dia adalah..."

Aku tidak ingin mendengar penjelasan Jessi. Bagiku Aaron Bass itu Bass-tard (brengsek). Dia memaksakan bibirnya agar menyentuh bibirku dan pria kurang ajar mana yang memaksakan keinginannya pada seorang wanita terlebih lagi di tempat yang orang tuanya bisa masuki secara leluasa. Meskipun harus kuakui dia sangat tampan dan menggairahkan dalam...

Astaga! Apa yang baru saja kupikirkan?

Hentikan Alana!

.
.

Tubuhku mendadak panas dingin keesokan harinya dan untuk kesekian kalinya aku harus pulang balik menuju kamar mandi.

Ada apa denganku?

Apa ini yang dinamakan demam perut?

"Kita harus ke rumah sakit, Alana." Jessi memberiku tatapan sarat akan kekhawatiran di wajahnya. Entah apa yang membuatnya sekhawatir itu.

"Aku baik- baik saja."

"Kita tidak akan tahu jika tidak memeriksanya." Balasnya. "Kumohon Alana. Kau kelihatan sangat pucat pagi ini."

Kuhembuskan napasku. Mungkin Jessi benar. Bisa saja demam perut ini lebih parah dari yang kuperkirakan.

Jadi dua jam kemudian, aku dan Jessi menunggu hasilnya di ruang tunggu.

Jessi bahkan jauh terlihat lebih gugup daripada yang pernah kulihat. Ada apa dengannya? Aneh.

""Ini berlebihan," sahutku ketika Jessi cepat- cepat berdiri ketika mendengar namaku yang sudah dipanggil. Jessi hanya membalas dengan memutar mata tapi juga semakin gugup.

"Astaga Jessi! Aku baik- baik saja okey." Akhirnya aku tidak tahan. "Bisakah kau menghentikan kegugupanmu saat ini, kau juga membuatku gugup."

"Maafkan aku."

Kugelengkan kepalaku lalu menghela napas. "Baiklah. Mari kita lihat hasilnya agar bisa menghentikan sikap anehmu sekarang."

Jessi nyengir.

"Halo Alana," seorang dokter berwajah ramah seketika menyunggingkan senyumnya padaku. "Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya ketika aku dan Jessi sudah mengambil tempat duduk dihadapannya.

"Baik- baik saja." Jawabku.

"Apa kau masih merasa mual?"

Aku menggeleng. "Tidak lagi, tapi ya. Hanya sedikit jika bisa kukatakan."

Dokter itu tersenyum. "Bisa dipahami." Katanya. "Begini, jika mualnya kembali datang. Kusarankan agar kau bisa mengambil makanan asin. Itu bisa meredakan mualnya."

Aku mengangguk meskipun agak bingung.

"Jadi yang bisa kuresepkan adalah hanya beberapa vitamin untuk tubuhmu." Aku kembali mengangguk sementara dokter wanita itu menuliskan sesuatu di clipboardnya. "Menurut riwayatmu, kau sering bepergian."

"Aku model." Kataku dan dia menengadah.

"Oh." Kembali dia tersenyum. "Kalau bisa kusarankan, sebaiknya kau menguranginya. Apa ayahnya tahu?"

Aku terdiam. Ayahnya?

"Ayahnya?"

Aku menoleh agar bisa menatap Jessi ketika mendapati Jessi juga melihatku dengan matanya yang membelalak.

"Kehamilanmu mungkin baru menginjak empat minggu tapi bukan berarti jika itu tidak rentan apalagi mengingat aktivitasmu yang sebagai model. Kuharap setelah ini kau akan lebih sering memeriksakan kandunganmu di OBGYN." Lanjut dokter itu.

Lidahku kelu.

Tidak mungkin.

Kukerjapkan kedua mataku hingga beberapa kali ketika melihat dokter didepanku.

"Aku... Hamil?"

Bagaimana mungkin? Satu- satunya pria yang pernah berhubungan seks denganku hanya....

"Ya. Kau hamil Alana dan selamat."

Dasar brengsek! Akan kubunuh dia!

Bisa- bisanya dia melakukan ini padaku!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS