FIGHT - DELAPAN BELAS
"Kau bisa dikeluarkan dari arena jika perasaan hatimu masih seperti ini. Sebenarnya ada apa denganmu?" Chad bertanya jengkel karena sudah berapa malam ini Ana seperti ingin membabat habis lawannya dan kali ini gadis itu hampir saja mematahkan seluruh tulang rusuk Kron, lawannya malam ini.
Ana memandangi Chad sejenak kemudian menghela napas seraya menerawang. "Hei Chad, apa menyukai seseorang selalu sesakit ini?" Tanyanya lesu.
"Kalian bertengkar?"
Ana hendak ingin menganggukkan kepalanya ketika mendadak dia beralih menjadi menggeleng.
"Aku tidak tahu, Chad."
Kening Chad seketika berkerut tidak mengerti. "Aku tidak mengerti. Maksudmu kau tidak tahu kalau kau bertengkar dengannya atau bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Tiba- tiba saja dia bersikap dingin padaku lalu kemudian ada gosip yang mengatakan kalau kami sudah putus."
Selama beberapa menit Chad terdiam. Dia terus memandangi Ana yang tampak jauh lebih parah daripada Kron padahal bukan dia yang kena pukul kemudian mendesah.
"Dengar sayang, aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua tapi kalau kau memang benar- benar menyukainya. Kau harus mempertahankan dia." Ucap Chad seraya memegang pundak Ana dengan kedua tangannya. "Oh Ann, aku tidak pernah melihatmu seperti ini bahkan ketika kau menangkap basah Jack berada diatas para pelacur itu sekalipun. Dengarkan apa kata hatimu, sayang. Biasanya itu berhasil." Tambahnya tapi Ana masih tetap diam.
"Bisakah kau meninggalkan kami berdua?" Tiba- tiba saja Tom muncul diantara mereka. Untuk sesaat Chad terdiam, memberi jeda untuk dirinya dan Ana ketika Ana mengangguk menyetujui.
"Jangan terlalu keras menasehatinya, okey?" Bisik Chad di telinga Tom yang dibalas anggukan pelan oleh pria itu.
"Pastikan Undefeated sudah merasa baikan ketika pertarungan selanjutnya." Ana sudah memberitahunya tentang Tom yang telah mengetahui identitas sebenarnya pada Chad sehingga tidak merasa curiga ketika dilihatnya Tom, pria yang sering Chad lihat bersama Nick.
"Hei, apa kabar?" Tanya Tom basa- basi setelah Ana mempersilahkannya duduk disampingnya, di ruang belakang D' Roses.
"Tidak baik. Mana Viona?"
"Masih di kafe. hm, apa kau baik- baik saja? Ray memberitahuku kalau kau bertengkar dengan Nick tadi."
Ana terdiam.
"Kenapa tidak kau ceritakan saja yang sebenarnya pada Nick? Mungkin dia akan mengerti."
Ana mendesah. "Tinggal beberapa pertarungan lagi, Tom setelah itu aku tidak akan berada disini lagi."
Tom mendesah tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua sahabatnya yang terlihat saling menawarkan bongkahan es. Sangat dingin.
"Eh, ngomong- ngomong Ray memberitahuku kalau kau berpelukan dengan seorang laki- laki tadi." Ucap Tom membuat Ana menengadahkan kepalanya menatap Tom.
"Eh?"
"Ray dan Nick melihatmu dengan seorang laki- laki di kampus tadi." Ulang Tom.
"Eh maksudmu Nick melihatku bersama Jack?"
"Jack? Jack di kampus? Apa yang dilakukannya di sana?" Tom tahu bagaimana rekam jejak Jack yang selalu dikelilingi oleh para wanita- wanita cantik tapi apa hubungannya dengan Ana.
"Dia menjemputku." Jawab Ana datar.
"Menjemputmu?"
"Kami dulu pacaran."
Kali ini Tom tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Wow kupikir kau hanya gadis biasa tapi ternyata kau lebih dari pada itu."
"Maaf karena membuat apa yang kau pikirkan tentangku salah." Balas Ana tersinggung.
Tom terkekeh mendengar nada suara Ana kemudian kembali bersikap serius. "Dengar Ana, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi apa yang dikatakan Chad benar. Kalian hanya salah paham dan sepertinya ini giliranmu untuk mendekati Nick."
Ana menghela napas berat, "terima kasih, Tom." Dia sudah memikirkan tentang masalah ini, jauh sebelum Tom mengatakannya tapi sepertinya memang tidak ada pilihan lain untuknya.
***
Nick seperti merasa sedang bermimpi. Ana yang dulu dikenalnya seperti bukan Ana yang sekarang. Dia seperti jiwa Claire masuk kedalam tubuh Ana sementara jiwa Ana entah menghilang kemana dan ini sudah lebih dari tiga hari berlalu.
Ana selalu berusaha menempel padanya dan bercerita tentang berbagai hal juga Ana tidak henti- hentinya menyunggingkan senyum. Nick bisa saja menolak semua yang dilakukan Ana padanya tapi ketika ia mendengar dari Ray kalau beberapa pria dari jurusan lain berusaha mendekati Ana, membuatnya marah dan tidak rela jika Ana menjadi milik orang lain.
"Nick, aku sudah mau pulang. Antar aku ya." Rengek Ana seraya tersenyum.
"Bukannya kau biasa pulang sendiri?" Tanya Nick dingin tanpa melepaskan pandangannya dari catatann didepannya, dia juga bisa melihat kalau Ray dan Tom berusaha untuk tidak memperhatikan sisi Ana yang lain- yang sejujurnya tampak menggemaskan di matanya.
"Tidak. Aku ingin pulang denganmu." Ana menjawab dengan keras kepala sehingga terpaksa Nick mendongakkan kepalanya ketika kembali Ana menyunggingkan senyumnya. "Please? Aku biasanya pulang bersama Viona tapi hari ini Viona sibuk." Jelasnya ketika mendadak dia melihat mendongakkan kepalanya untuk mengintip catatan yang sejak tadi dilihat oleh Nick. Apa yang kau lakukan?" Cepat- cepat Nick menutupnya agar Ana tidak melihat.
"Hari ini aku sudah janji dengan Claire akan pulang dengannya."
Ana terdiam memandangi Nick ketika beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah Claire beserta antek- anteknya. Semua mata tertuju pada Ana. Mereka masih belum lupa bagaimana Ana menendang Claire hingga harus dirawat di rumah sakit dan bagaimana hubungan yang dijalani Ana- Nick sekarang. Semua orang yang berada di ruangan perkuliahan itu seperti menunggu apa yang akan dilakukan Ana. Beberapa, khususnya para pria malah berharap kalau Ana putus saja dengan Nick.
Sementara Nick terus saja memperhatikan Ana, penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. Apa dia akan memukul Claire lagi? Kalau itu sampai terjadi maka dia harus bersikap tegas pada Ana.
"Aku akan pulang dengan pacarku hari ini. Kau bisa pulang sendiri."
Dan tanpa menunggu jawaban dari Claire, Ana kembali ke tempatnya dan menatap Nick yang masih terperanggah, tidak percaya.
"Dia mengatakan dia bisa pulang sendiri. Jadi apa sekarang kau bisa mengantarku?"
"Apa kau sudah gila?" Tanya Nick setelah pulih dari kekagetannya.
"Tidak. Bukannya kau pernah mengatakan kalau aku adalah milikmu? Hal yang sama juga berlaku untukmu. Kau milikku, Nick dan selamanya akan begitu. Oh iya, aku juga tidak suka berbagi. Jadi apa kita bisa pergi?" Tanya Ana lagi. Nick hanya bisa melonggo tidak percaya sementara itu Ray dan Tom tidak tahan untuk tidak tertawa terbahak- bahak.
Nick memandangi Ana yang tertidur pulas di kursi samping mobilnya. Dia masih tidak mengerti dengan sikap gadis itu akhir- akhir ini. Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, dia masih belum bisa melupakan gadis disampingnya ini dan karena Ana selalu merenggek ditemani makan, Nick baru tahu kalau makanan kesukaan Ana adalah steak dengan banyaknya lada hitam diatasnya dengan panas yang sedang.
Nick juga baru menyadari kalau selama ini, mereka tidak pernah berkencan. Selalu saja ada teman- teman diantara mereka. Hal yang paling membuatnya kaget dari semuanya adalah ketika kedua mata Ana terlihat berkaca- kaca akibat luka robek di sisi bibirnya akibat bertarung dan berpikir apa itu sebabnya sehingga Ana menolak untuk melihatnya bertarung?
Nick langsung kembali mengarahkan pandangannya kearah jalan ketika melihat gadis disampingnya sudah mulai bergerak.
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Ana di sela kuapnya.
"Ya." Jawab Nick pendek.
"Maaf Nick, aku ketiduran pasti kau merasa bosan."
" tidak juga dan kita baru sampai." Jawabnya berbohong. Sudah lebih dari setengah jam ketika mereka tiba di depan pintu flat tempat tinggal Ana.
Ana tersenyum. "Sampai besok kalau begitu. Aku akan menunggu sampai kau menjemputku." Ucapnya seraya mencium pipi Nick kemudian ke bibirnya.
Nick terdiam tidak membalas dan melihat dari kaca spionnya kalau Ana masih melambaikan kedua tangannya dengan penuh antusias kearahnya.
"Apa yang terjadi padanya?" Gumam Nick bingung tapi juga merasa lucu dan gemas melihat kelakuan gadis itu.
***
Comments
Post a Comment