FIGHT - DELAPAN
"Lock... on" Ana baru saja akan melayangkan pukulan terakhirnya hingga mampu merontokkan gigi Peter ketika mendadak tangannya di pegang oleh seseorang.
"Hentikan" ujar suara Nick pelan.
"Lepaskan" balas gadis itu dingin tanpa sama sekali memalingkan wajahnya.
Sesaat Nick terdiam- masih dengan tangan yang menahan pergelangan tangan itu. Dia tidak mengerti darimana kekuatan Ana tadi berasal. Setahunya gadis itu sangat lembut dan menghindari kekerasan tapi apa yang dilihatnya barusan, sungguh nyaris membuatnya kehabisan kata- kata meskipun ada sedikit perasaan kagum didalamnya.
Tadinya dia, Ray dan Tom sedang berjalan menuju lapangan sambil berbicara ketika mendadak Ray terkesiap kemudian disusul oleh tendangan yang dilayangkan oleh Ana pada Claire yang langsung terlempar, disaat yang bersamaan pula Ana sudah melayangkan pukulan ke wajah Peter, pria yang Nick ketahui sebagai pembuat onar hingga darah mulai keluar dari hidung dan mulutnya. Belum puas melihat Peter yang sudah terkulai lemah di tanah, Ana kembali ingin melayangkan pukulan ke wajah itu lagi ketika untuk pertama kalinya dia melihat sorot mata yang dipancarkan dari kedua mata. Nick tahu, itu adalah sorot mata tanpa pengampunan dan jika tidak ada yang menghentikan maka bukan tidak mungkin kalau sebentar lagi Peter akan mengalami kecacatan yang permanen.
"Lepaskan." Kembali telinganya menangkap suara dingin milik Ana dan mendapati kalau Ana sedang menatapnya. "Lepaskan." Ulangnya.
"Tidak akan." Balas Nick tegas.
Nick tahu kalau selama beberapa hari ini Ana sedang uring- uringan mengenai keberadaan sahabatnya, Viona yang entah kenapa tiba- tiba menghilang tanpa jejak tapi Ana tidak pernah memperlihatkan emosi sedingin es seperti Sekarang ini.
"Tidak akan sebelum kau melepaskan Peter dari entah apa yang akan kau lakukan." Lanjut Nick. Dia tidak tahu apa yang membuatnya mengatakan hal itu tapi entah kenapa dia yakin jika dia melepaskan tangan Ana maka bukan tidak mungkin Ana melepaskan tinjunya pada pria yang saat ini berada dibawah Ana.
Baik Ana maupun Nick sama- sama saling menatap ketika akhirnya kedua mata Ana terpejam selama beberapa saat lalu menoleh untuk melihat Peter.
"Baiklah." Ujar Ana lelah.
Meskipun masih agak ragu tapi Nick memutuskan untuk mempercayai gadis itu dan melepaskan genggamannya ketika memicing karena disaat itu pula Ana menunduk dan berbisik tapi masih bisa terdengar di telinganya.
"Dengar Pete, sekali lagi kau mengatakan hal konyol itu tentang Viona, bahkan kalau Nick atau siapapun datang untuk menyelamatkanmu, itu tidak akan berhasil." Bisiknya penuh penekanan yang seketika kembali membangkitkan wajah penuh kengerian di wajah Peter ketika Ana berdiri dari tubuh Peter dan melangkah kearah Claire yang ketakutan.
Ray dan Tom duduk mengapit Claire yang tampak kesakitan dan memberi Nick pandangan penuh arti yang dibalas pria itu dengan gelengan pelan, yang menyiratkan kalau dia akan mengambil alih jika Ana kembali bersikap brutal seperti tadi.
Dengan sengaja Ana duduk diantara kedua lututnya agar bisa sejajar ketika kemudian dia memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Claire.
"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan padaku selama ini."
"A- apa... Apa maksudmu?" Cicit Claire ketakutan.
Menarik kembali wajahnya, Ana menatap kedua mata Claire seraya tersenyum. "Lain kali kalau kau mengirim preman- preman itu lagi, bukan hanya mereka yang kuhancurkan tapi akan kupastikan kau dan seluruh tubuhmu mendapatkannya, bahkan akan kupastikan tidak hanya satu atau dua operasi yang akan kau lakukan tapi lebih dari lima."
Wajah syok Claire terlihat jelas. "K- kau ... Kau mengancamku?"
Lagi- lagi Ana tersenyum. "Tidak. Keputusan Ada di tanganmu. Pastikan kau memilih dengan bijak."
Dan tanpa menunggu respon dari Claire, Ana berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah ia berjalan ketika kembali pergelangan tangannya di tahan, membuatnya menghela napas.
"Kau mau kemana? Akan kuantar."
"Maaf Nick, bisakah kau meninggalkanku sendiri?"
"Jangan gila Anastasia."
"Aku baik- baik saja. Aku akan menghubungimu nanti. Aku janji dan oh, apakah aku bisa meminta sesuatu darimu?."
****
Ana berkeliling semalaman menggunakan mobil yang tadi dipinjamnya dari Nick. Malam ini Ana bertekad untuk menemukan Viona bagaimanapun caranya. Tadi dia sempat menanyakan keberadaan Leon ditempat biasa pria itu berada dan tidak seorangpun yang juga mengetahui keberadaannya.
Sudah lewat jam 3 malam dan ponselnya selalu berdering tanpa henti yang berasal dari Nick yang menanyakan keadaan dan keberadaannya saat ini. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk mematikan ponselnya supaya lebih fokus mencari Viona di club- club malam.
Ana tidak terlalu berharap menemukan Viona di malam pertama pencarian ketika matanya kemudian menangkap sosok seorang wanita yang berpakaian sangat minim keluar dari club itu. Dengan asal, Ana memarkir mobilnya dan berjalan untuk sekedar memastikan ketika dia yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Viona?"
Wanita itu berpaling dan tampak syok. Ana bahkan tidak menunjukkan ekpresi apapun tapi justru malah membuat bulu kuduk Viona merinding.
"Ana, apa... Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku yang harusnya menanyakan itu. Apa yang kau lakukan disini dengan pakaian itu dan..."
Viona bisa melihat kalau pandangan Ana sedang tertuju ke om- om di sampingnya.
"Maaf om, dia temanku." Kata Viona pada orang disampingnya. "Bisakah aku berbicara dengannya sebentar?"
"Tidak sayang. Kenapa kau tidak membawanya ikut bersama kita? Itu akan menjadi malam yang menyenangkan buat kita bertiga." Jawab pria yang dari penglihatan Ana sudah seharusnya istirahat di rumah bersama istri dan anak- anaknya dan bukannya bersama dengan gadis muda yang mungkin saja seumur dengan anaknya.
"Tidak. Aku tidak tertarik." Tolak Ana langsung. "Bisakah aku membawa temanku pulang?" Tanyanya lagi sekedar sopan santun.
Pria itu tersenyum seraya berjalan mendekati Ana dan langsung menyentuh pantatnya. Seketika kedua mata Ana melotot, dikepalkannya tangannya guna menahan diri.
"Singkirkan tanganmu dari pantatku sekarang juga sebelum aku mematahkan tanganmu."
"Haha ayolah sayang, jangan malu- malu seperti itu. Aku tahu, apa yang diinginkan gadis muda seperti kalian."
"Begitukah?" Dan tiba- tiba Ana menarik tangan pria itu dan memelintirnya kebelakang tubuh pria itu, membuatnya mengerang kesakitan. "Bukankah tadi sudah kuperingatkan sebelumnya?" Tanya Ana penuh penekanan.
"Dasar gadis gila! Lepaskan!"
"Bagaimana kalau aku katakan kau tidak boleh lagi terlihat bersama temanku?"
"Dasar gila! Aku sudah membayar temanmu dengan mahal."
"Benarkah? Kalau begitu akan kubayar dua kali lipat tapi setelah aku melepaskan tanganmu dari tempatnya. Apa kau setuju?"
"Lepaskan gadis gila!"
"Bagaimana?"
"Baiklah. Aku tidak akan terlihat bersamanya lagi. Kau boleh membawanya."
Ana tersenyum seraya melepaskan tangan pria itu.
"Dasar gila!" Geram pria itu lalu pergi meninggalkan Ana dan Viona.
"Apa yang sudah kau lakukan? Apa kau sadar, kau sudah mengusir mata pencarianku." Sergah Viona marah.
Ana mengernyit. "Kenapa dia menjadi mata pencarianmu? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan dua minggu belakangan ini?"
Seperti baru disambar petir, Viona tersadar kalau dia sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Sudahlah. Kembalilah Ana. Ini bukan tempat yang cocok untukmu." Katanya seraya hendak beranjak ketika Ana langsung menahan lengannya.
"Apa kau pikir aku datang mencarimu dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk menerima kegagalan?"
"Ayolah Ann, tidak Ada yang bisa kau lakukan."
"Oh kita lihat saja. Apa yang kau inginkan?" Tantangnya.
Sejenak Viona menarik Napas panjang dan menghembuskannya.
"Aku membutuhkan uang sebanyak 10000 dollar"
***
Comments
Post a Comment