FIGHT - DUA BELAS
"Dari mana saja kau?" Entah darimana Viona muncul, tahu- tahu dia sudah berada disisi Ana dan langsung menyeret tubuh gadis itu hingga membentur dinding koridor ruang kelasnya, mengindahkan tatapan heran orang- orang yang kebetulan ingin memasuki ruang perkuliahan.
"Ada apa?" Ana bertanya bingung, kembali berbalik dan melangkahkan kakinya memasuki ruang perkuliahannya. Dibelakangnya Viona mengikuti sambil memberengut kesal karena merasa tidak ditanggapi, membuat Ana tertawa.
"Jangan tertawa!" Hardik Viona kesal dan Ana harus pura- pura terbatuk untuk menyamarkan tawanya, yang justru mendapatkan tatapan tajam dari Viona.
"Okey. Aku tidak tertawa."
"Tapi kau menahannya."
"Kau memintaku untuk tidak tertawa, bukannya menahanku untuk tidak tertawa." Elak Ana membela diri, membuat kedua mata Viona seketika berputar.
"Baiklah. Terserah" ucap Viona mulai tampak marah.
Untuk sesaat kedua kening Ana saling bertaut. Dia tidak menyangka akan melihat wajah Viona yang seserius ini.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya kemudian.
"Kau"
"Eh, aku?" Ana menunjuk dirinya sendiri, bingung. "Kenapa dengan aku?"
"Aku nyaris tidak pernah melihatmu selama beberapa hari ini dan kau juga tidak bersama Nick." Jawab Viona mendelikkan matanya kearah Ana.
"Jadi kau merindukanku heh?" Ana menampilkan deretan giginya, menggoda.
"Jangan bercanda! Nick selalu menghubungiku menanyakan keberadaanmu dan aku harus berbohong karenamu."
"Oh, I knew it. Thanks my girl."
"You knew it? Thanks?" Viona nyaris melotot sambil mengatakannya. Diam- diam Ana merasa takjub dengan ekspresi wajah yang saat ini ditunjukkan Viona padanya. Mata yang lebar disertai dengan bibir yang membentuk huruf O sempurna sangat terlihat lucu, seperti ikan mas koki. "Dengan segala kesulitan yang kualami, kau mengatakan terima kasih? Apa artinya itu?!"
"Ya sudah, aku minta maaf deh." Ujar Ana mengalah. Mendengarkan amukan Viona sama halnya sedang mengorbankan diri dalam lautan ranjau. Kalau tidak hati- hati booom bisa terkena ledakan.
Diam- diam Ana tersenyum ketika pada akhirnya Viona menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan.
"Tapi kemana saja kau? Dan apa yang kau lakukan?" Tanyanya dan Ana sengaja mengulur waktu dengan mengeluarkan diktatnya dari dalam tas kemudian menaruhnya diatas meja.
"Hm, hanya mengerjakan ini dan itu." Ana berusaha tampak sesantai mungkin ketika mengatakannya. Dia terlalu mahir dalam berbohong. Itulah sebabnya dia lebih mengfokuskan dirinya pada diktat- diktatnya, setidaknya Viona tidak harus menatap kedalam matanya.
Sesaat Viona memicingkan matanya, curiga. "Kau... Kau tidak sedang mengantikanku bekerja di tempat itukan?"
Ana tahu tempat apa yang dimaksud oleh Viona barusan dan kali ini gantian dia yang melotot mendengar tuduhan yang baru saja diarahkan padanya.
"Wah, haruskah aku mengatakan kalau aku tersanjung mendengar ucapanmu barusan? Aku bahkan tidak yakin apakah saat ini aku terharu atau merasa... tersinggung." Cecarnya sinis.
"Kalau begitu katakan padaku. Kemana saja kau? Apa yang kau lakukan? Kau mengatakan kalau kau bersedia membayar utang- utang itu jika aku berhenti dari pekerjaan itu tapi aku sama sekali tidak tahu darimana kau bisa mendapatkannya."
Ana terdiam lalu menatap kedua mata Viona, lekat. "Seberapa besar kau mempercayaiku?"
"Aku sangat mempercayaimu lebih dari hidupku."
Ana tersenyum. "Kalau begitu tidak usah kau pikirkan."
"Hah?"
"Aku akan menepati janjiku, Viona sayang."
"Tapi...?"
"Tidak ada tapi- tapi. Professor Steve sudah datang. Saatnya menjadi mahasiswi yang baik." Ujar Ana dan Viona tidak punya pilihan lain selain menghentikan pembicaraan. Setidaknya untuk saat ini.
.
.
.
Setelah Viona keluar dari tempat itu, ia akhirnya dipekerjakan oleh Tom di kafe miliknya. Tidak ada yang menyangka kalau diam- diam Tom mengelolah sebuah kafe yang tidak bisa dibilang kecil karena kenyataannya kafe itu luar biasa besar dan luas, belum lagi taman- taman kecil yang sengaja dibuat, membawa pelanggannya seperti memasuki taman hijau di negeri lain.
Ana tahu meskipun Viona tidak pernah mengatakannya tapi diam- diam dia sering mendapati kalau Viona sering mencuri pandang kearah Tom dan sepertinya Tom juga merasakan hal yang sama, karena setiap kali Viona bergerak maka secara otomatis pula pandangan Tom mengikuti arah Viona.
Ana sudah pernah mengatakan pendapatnya pada Viona tapi Viona langsung menampiknya dan mengatakan kalau Tom terlalu baik untuk dirinya yang tidak berharga. Sesuatu yang langsung dibalas Ana dengan sikap sinis ditambahi dengan bumbu super pedas yang mengatakan jadi Leon adalah pria yang cocok untuknya karena pria itu brengsek dan kemudian langsung disesalinya karena sedetik kemudian Viona tampak ingin menangis.
Mereka baru saja membuka pintu kafe milik Tom ketika disaat yang bersamaan mereka juga mendengar suara yang memanggilnya dan tersenyum seraya melangkah kearah tiga orang pria yang telah menunggunya.
"Hai."
"Hai sayang." Seperti biasa Nick akan langsung mengecup bibir Ana, membuat kedua pipi Ana seketika merona. "Kau lama."
"Maaf. Ada tugas yang perlu dikumpulkan." Balas Ana malu ketika sebelah tangan Nick mengelus pipinya.
"Tidak apa- apa. Aku rela menunggumu selama yang kau mau."
"Guys, apa kalian tidak melihat keberadaan kami disini? Kami bukan makhluk transparan loh." Sahut Ray yang merasa risih dengan adegan yang selalu saja ditampilkan oleh dua insan yang sedang kasmaran didepannya.
"Aku merindukanmu." Ujar Nick tanpa memperdulikan ucapan Ray barusan. Dia tidak tahu kemana Ana selama dua minggu penuh ini. Dia sulit mendapati gadis itu dan setiap kali dia menanyakan hal itu pada Viona, Viona akan segera mengatakan kalau Ana bersamanya atau sedang mengerjakan tugas kuliah tapi sejujurnya Nick tahu kalau sebenarnya Viona berbohong dan dia tidak mengerti kenapa Viona maupun Ana harus membohonginya. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh gadisnya?
Nick kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda setelah melihat gadisnya berjalan kearah dapur bersama Viona untuk mencari cemilan agar bisa di bawa ke meja mereka.
"Aku masih penasaran dengan wajahnya," timpal Ray. Mereka bertiga masih terkagum- kagum dengan pertarungan yang terjadi semalam dimana setelah sekian lama sosok yang tak pernah bertarung kembali muncul, tidak hanya itu aksi yang ditunjukkannya pun tidak kalah memukai semenjak terakhir mereka melihatnya terutama untuk Nick dan Tom. "Kata orang- orang dia sangat cantik." Tambahnya membayangkan wajah cantik si petarung.
"Kalau dia sangat cantik, kenapa dia menyembunyikan wajahnya?" Tom masih kebingungan dengan cara Undefeat bertarung.
"Mungkin itu salah satu ciri khasnya." Jawab Nick.
"Dia punya tubuh dan wajah yang bisa dijadikan ciri khas. Kenapa harus menyembunyikan itu?"
"Lain kali kalau kau melihatnya sehabis pertarungan pastikan saja kau menanyakan hal itu padanya." Usul Tom pada Ray.
"Pasti" jawab Ray mantap.
"Kenapa kau penasaran dengannya?"
Nick tahu tipe seperti apa yang disukai oleh sahabatnya satu itu. Wajah cantik selalu menjadi perhatian nomor satu untuknya tapi seorang petarung cewek di arena bukanlah tipe yang disukai temannya satu itu. Alasannya sangat klise, Ray takut jika dia mulai merasa bosan, dia tidak ingin mendapatkan kerusakan permanen terutama di daerah vitalnya.
"Well, jarang- jarang menemukan cewek cantik yang mau bertarung." Jawab Ray membuat Nick dan Tom hanya bisa menggeleng heran.
Ray yang pertama kali memberitahukan info dan merasa terpukau dengan sentuhan yang diperlihatkan oleh petarung itu meskipun lama tidak bertarung lagi dan gerakan apapun yang dilakukan oleh petarung itu selalu diikuti oleh desah frustrasi dari para kaum adam dan Nick bisa mengerti mengapa bisa begitu. Tubuh mulus yang memperlihatkan perut yang ramping belum lagi kaki yang jenjang hingga mungkin akan terlihat menantang jika dililitkan disekeliling pinggang salah seorang dari mereka, tentu saja akan membuat frustrasi. Belum lagi dia hanya mengenakan celana super pendek yang hanya menutupi pantat berisi itu. Hanya jaket yang memiliki tudunglah yang melindungi wajah Undefeat dari pandangan orang- orang dan semakn diperkuat dengan rambut yang sengaja diurai. Untuk sesaat Nick membayangkan kalau petarung itu adalah Ana tapi langsung ditampik olehnya. Gadisnya tidak tampak seperti orang yang menyukai kekerasan kecuali jika dihitung kejadian tempo hari.
"Jadi apa kau ingin melanjutkan keinginanmu?" Tanya Tom mengalihkan pandangannya dari Ray yang terlihat tergila- gila dengan Undefeat kearah Nick.
"Ya. Pastikan kau mendapatkannya." Jawabnya.
"Baiklah. Eh, ngomong- ngomong apa kau sudah bicara dengan Ana?"
"Belum. Apa menurutmu aku harus menanyakan itu padanya?"
"Sepertinya begitu."
"Apa menurutmu Ana punya pacar selain Nick?" Ray menyuarakan pikirannya yang langsung disambut pukulan sendok di kepala dari Tom.
" Ana bukanlah tipe gadis seperti itu. Kau lihat sendiri bagaimana pendiamnya Ana sebelum bertemu denganmu." Bela Tom.
"Tapi tidak ada yang tahu bagaimana dia dulunya. Kau sudah lihat sendiri bagaimana seksinya Ana ketika..."
Pletakkk. Kembali kepalanya di jitak dari belakang dan menampilkan Viona dengan wajah garangnya.
"Sebaiknya kepalamu ikut dibedah. Kenapa membicarakan pacar sahabatmu seperti itu?" Ujarnya yang membuat baik Nick maupun Tom terkekeh melihat Ray yang meringgis kesakitan, mengusap puncak kepalanya.
Viona dan Ana mengambil tempat duduk diantara Nick dan Tom ketika Ana berbicara.idak baik membicarakan pacar sahabatmu seperti itu."
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Ana yang tampak tidak peduli dengan pembicaraan ketiga pria itu barusan.
"Hanya membicarakan tentang pertarungan semalam dan malam ini. "Jawab Nick seraya menggenggam sebelah tangan Ana, "Apa kau mau ikut?"
"Boleh. Malam ini siapa?"
"Scorpion melawan Undefeated."
"eh?" Tepat pada saat itu ponsel Ana berbunyi menandakan pesan yang masuk.
From: C
Date : 05 May 2015
Scorpion, 8 pm @ d' Roses.
"Undefeated? Sepertinya aku pernah mendengar tentangnya." Suara Viona menyadarkan Ana yang tadi terdiam, kaget.
"Tentu saja. Dia satu- satunya wanita yang sulit dikalahkan" jawab Ray.
"Wanita? Tapi apa boleh? Maksudku, bukannya Scorpion itu pria ya? Apa tidak masalah melawan wanita?"
Tom dan Ray terkekeh. "Kau harus melihat caranya bertarung dan mengerti." Jawab Tom disela tawanya.
"Tapi bukannya dia sudah pensiun?"
"Dia sudah kembali dan kudengar bayarannya tiga kali lipat dari yang biasanya."
"Wow."
"Ana?" Nick mendadak membuyarkan lamunan Ana.
"Eh iya?"
"Ada apa?"
"Oh tidak apa- apa. Apa tadi?"
"Apa kau mau ke d' Roses malam ini?"
"Hm kurasa aku tidak bisa ikut. Maap."
"Kenapa?"
"Eh itu... i..ibuku memintaku menghubunginya. Ya. Dia memintaku menghubunginya."
Aku perlu membicarakan hal ini pada Chad. Batin Ana tanpa memperhatikan kalau tidak hanya Tom yang memandang curiga padanya tapi juga Nick disampingnya.
***
Comments
Post a Comment