FIGHT - DUA PULUH
"Lepaskan sandera." Perintah Nick seketika.
"Jadi apa kau akan langsung ke bandara hari ini?" Tanya Willy, teman satu timnya.
"Ya. Besok ulang tahun Anak sahabatku." Jawab Nick seraya menyerahkan senjata miliknya pada bawahannya yang lain.
Setahun setelah Nick menyelesaikan kuliahnya, tiba- tiba saja seseorang yang tak dikenalnya merekrutnya menjadi anggota FBI saat itu juga. Ternyata pemimpin dari organisasi ini selalu memperhatikan tiap kali Nick bertarung dan ketika merasa sudah saatnya mereka menampakkan diri, saat itu pula mereka langsung menawarkan Nick sebagai salah satu dari organisasi mereka.
"Aku menduga itu hanya kedok yang kubuat. Kalau tidak, tidak mungkin kau mengambil penerbangan awal padahal aku tahu ulang tahun anak temanmu baru akan berlangsung dua hari kemudian." Ucapnya membuat Nick seketika tertawa. Willy selalu mengetahui maksud terselubung yang dilakukannya. "Sampaikan salamku pada istrimu dan juga jagoan kecilku."
Nick mengangguk. "Akan kusampaikan. Aku pergi dulu."
"Baiklah. Biar aku yang menulis laporannya."
"Terima kasih. Aku mengandalkanmu "
Nick melangkah masuk kedalam mobil polisi yang akan mengantarnya menuju tempat ia bisa mengambil taksi menuju bandara menjauhi tempat persembunyian teroris yang selama beberapa bulan ini diintainya ketika ia mendengar suara ponselnya berdering.
Dengan cepat Nick memberi kode pada polisi disampingnya agar tidak mengeluarkan suara apapun ketika secara bersamaan ia juga menekan tombol menerima.
"Hai sayang," sapa Nick tanpa sadar tersenyum.
"Hai," terdengar suara lelah wanita diseberang.
"Apa semuanya beres?"
"Ya. Tidak ada masalah disini. Bagaimana denganmu?"
"Aku? Aku baik- baik saja. Ada apa, sayang? Ceritakan." Pinta Nick lembut seraya memberikan kode sekali lagi pada polisi disampingnya agar menurunkannya dipinggir jalan dan segera memberhentikan taksi yang kebetulan sedang lewat. Dari sudut matanya, polisi dan sopir taksi itu membantu menurunkan tas dengan barang bawaan yang tidak seberapa dan memindahkannya kedalam taksi yang akan ditumpanginya.
Untuk sesaat wanita diseberang menghembuskan napas panjang dan Nick hampir saja tertawa karena menyadari satu- satunya yang bisa membuat Ana terdengar seperti sedang mengangkat sebuah beban yang berat adalah karena anak mereka.
Flashback 8 tahun yang lalu...
"Kau... Undefeated." Nick tidak pernah menduga kalau gadis yang tampak biasa- biasa saja dan kelihatan sangat lemah itu adalah seorang petarung sama seperti dirinya.
"Nick?" Ana terlihat sangat terkejut sekaligus gugup menyadari kalau Nick mengetahui jati dirinya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku."
"Itu..."
"Kau membohongiku, Anastasia."
"Aku tidak bermaksud."
Sekali lagi Nick memperhatikan penampilan Ana dari atas ke bawah kemudian tatapannya beralih pada Tom dan Chad yang memberinya tatapan meminta maaf.
"Apa hubunganmu dengan Chad?"
"Eh apa?"
"Apa kalian berpacaran?"
"Tentu saja tidak!" Seru Ana kaget.
"Dan Jack?"
"Apa?"
"Berhenti membalas pertanyaan dengan pertanyaan, Anastasia."
"Kalau begitu berhentilah menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal padaku, Nick." Ana mulai tersulut. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan siapapun kecuali denganmu, Nicholas Carter."
"Kalau begitu kenapa dia menciummu?"
Ana mengerang frustrasi kemudian tanpa diduga Nick, Ana mendekatkan bibirnya ke bibir Nick dan menciumnya tanpa ampun lalu melepasnya. Nick bisa melihat kalau wajah Ana tampak jauh lebih merah dari yang biasanya.
"Nah, sekarang aku menciummu. Apa kau juga akan keberatan dengan itu?" Tanyanya marah. "Dan satu lagi yang perlu kutekankan, Nick. Dialah yang menciumku lebih dulu dan itu bukan dibibir tapi mendekati bibir dan aku juga tidak membalas ciumannya jadi kenapa itu malah membuatmu marah?"
Nick terperanggah. Ini kali pertama ia melihat Ana mengeluarkan emosinya padanya. "Itu lebih dari satu."
Kedua mata Ana berputar, semakin jengkel. "Baiklah lebih dari satu jadi masih ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
Nick mengangguk. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menyembunyikan dirimu selama ini? Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau Undefeated? Dan dari semua itu kenapa mendadak kau kembali bertarung?"
Ana menghela napasnya panjang, kelihatan berusaha mengeluarkan rasa frustrasinya ketika menyuruh Nick untuk mengikutinya.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Nick merasa heran karena Ana justru naik keatas mobilnya.
"Ke rumahmu."
Nick baru saja ingin bertanya kembali ketika Ana langsung memotongnya.
"Kau menginginkan penjelasan. Akan kujelaskan ketika kita sampai di rumahmu."
Tidak ada cara lain selain mengikuti Ana. Empat puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Nick. Ana yang merasa sedikit lelah dengan segala kegiatannya seharian ini langsung mengambil tempat duduk di sofa milik Nick.
"Mau minum?" Tawar Nick.
"Ya. Tolong." Angguk Ana pelan.
Nick berjalan memasuki dapurnya dan keluar dengan membawa segelas air putih.
"Minumlah."
"Terima kasih." Ana menerimanya dan langsung meneguknya hingga tandas dan menyadari kalau sejak tadi Nick memperhatikannya.
"Kau tidak mau duduk?" Tanya Ana seraya menepuk disampingnya.
Sejenak Ana memegang kedua tangan Nick seraya tidak memutuskan kontak mata dari pria didepannya.
"Aku minta maaf." Ucapnya menyesal.
"Permintaan maaf diterima," balas Nick. "Kau berutang penjelasan padaku."
Kemudian meluncurlah cerita awal mula dia masuk ke dunia gelap hingga pernah berpacaran dengan Jack lalu putus dan memutuskan untuk berhenti ketika ayahnya meninggal dimana dia tidak sempat melihatnya untuk terakhir kalinya dikarenakan Jack memaksanya untuk bertarung. Ana lalu melanjutkan dengan Viona ditipu oleh Leon yang mengakibatkan Viona harus membayar sejumlah uang yang sangat besar untuk menutupi utang yang disebabkan oleh Leon. Siapa yang menyangka kalau semua itu adalah akal- akalan Jack agar bisa menarik kembali dirinya ke arena dan dirinya baru saja mengetahuinya ketika ia melihat Leon hendak kabur dan segera mencegatnya.
"Jadi kau benar- benar Undefeated?"
Ana menggeleng. "Tidak. Aku hanya Ana. Undefeated sudah pensiun beberapa menit yang lalu."
"Jadi kau tidak ingin bertarung lagi?"
"Sebenarnya Nick," dihelanya napasnya. "Sudah lama aku memutuskan untuk berhenti dan selamanya akan begitu jika saja Viona tidak ditipu oleh si keparat itu."
Tidak ada yang bersuara.
"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Ana kemudian.
Nick menggeleng.
"Kalau begitu aku yang akan bertanya padamu."
Kedua kening Nick bertaut. "Apa?"
"Apa kau ingin menikah denganku?"
Flashback ends.
Meskipun Ana yang lebih dulu mengatakannya tapi Nick lah yang melamar gadis itu enam bulan sebelum mereka lulus dan tidak ada yang lebih membahagiakan selain mereka saling mengikat janji untuk saling melindungi.
"Oh, Charlie ingin bicara denganmu." Dan tanpa jeda suara berganti dengan suara sapaan dari seberang.
"Hai dad." Charlie adalah putra pertamanya yang telah menginjak usia enam tahun dan baru memasuki sekolah.
"Hai buddy, bagaimana kabarmu?"
"Baik dad. Apa Dad hari ini pulang ke rumah?"
"Tentu saja. Apa kau menjaga mommy dengan baik?"
"Ya. tapi mommy selalu ingin melakukannya sendiri."
Nick tertawa, sangat mengenal istrinya itu yang selalu ingin melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. "Oh, seharusnya mommy tidak melakukan itu, iyakan?" Nick bisa menduga kalau Ana mendengarnya pasti ia akan memutar kedua bola matanya ketika didengarnya suara tawa Charlie. Anaknya yang satu itu sangat mirip Ana jika tertawa. "Daddy akan memberitahu mommy untuk tidak menolak bantuan yang diberikan padanya nanti jadi bisakah kau memberikan telponnya lagi pada mommy?"
Sekali lagi Nick mendengar suara tawa Charlie kemudian disusul teriakan dari anak itu. "Mommy, daddy ingin bicara."
"Hai Nick, apa yang kalian bicarakan? Charlie kelihatan senang."
"Hanya beberapa hal." Nick menjawab kalem.
"Hm, aku jadi curiga. Jadi jam berapa kau tiba di sini?"
Nick terkekeh. Dia bisa membayangkan wajah Ana yang menggemaskan dalam pikirannya.
"Mungkin sekitar jam 10 malam." Jawabnya kemudian.
"Oh iya Nick, apa kau sudah membelikan hadiah untuk ulang tahun anak Tom dan Viona?"
"Ya. Bagaimana denganmu? Apa kau menginginkan sesuatu?" Nick merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada sopir taksi dan melangkahkan kakinya menuju pintu keberangkatan sambil menenteng tas dan mainan untuk anak Viona dan Tom.
"Kau."
"Apa?" Nick tidak terlalu jelas mendengarnya karena sedang melakukan pemeriksaan di bandara.
"Aku hanya ingin kau, Nick. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga, sayang." Kekehnya semakin merasa gemas dengan kelakuan Ana akhir- akhir ini.
"Oh iya Nick, apa pesawatmu masih lama akan berangkat?"
Sesaat Nick melihat ke jam tangannya. "Sepertinya begitu. Ada apa?"
"Bisakah kau bicara dengan Chloe? Nasehati dia, okey?"
"Memang apa yang sudah dia lakukan?" Nick bertanya bingung.
"Dia memukul temannya. Lagi."
Nick mengatup bibirnya kuat- kuat, berusaha untuk tidak tertawa. Chloe adalah anak perempuan mereka dan juga saudara kembar Charlie. Di bandingkan dengan Charlie, dia memiliki sifat gampang marah seperti dirinya dan semangat bertarung Ana. Charlie lebih mengarah ke sifat tidak suka menonjolkan diri seperti Ana tapi dia luar biasa cekatan dan pantang menyerah.
"Tentu." Putusnya seraya bertanya- tanya dalam hatinya apa yang seharusnya dia lakukan sebagai seorang ayah.
" Chloe, daddy ingin berbicara denganmu."
Tidak lama kemudian terdengar suara lembut anak perempuan di telinga Nick dan tersenyum. Siapa yang menyangka pemilik suara lembut ini memiliki semangat bertarung yang menggebu- gebu.
"Hai princess."
"Hai daddy."
"Apa yang kau lakukan, Princess?"
"Hanya bermain dengan Teddy. Apa daddy hari ini jadi pulang?"
"Ya. Dan daddy sudah membawakanmu beruang putih yang lucu."
"Asyik!" Seru Chloe senang.
"Daddy dengar dari mommy kalau kau memukul temanmu?"
"Ya." Chloe terdengar acuh ketika menjawabnya.
"Oh sayang. Itu perbuatan yang buruk. Lain kali jangan mengulanginya lagi. Okey?" Nick berusaha menasehati dengan lembut.
"Okey daddy," balas Chloe diseberang hingga nyaris saja Nick tertawa. Ternyata sangat mudah. Pikirnya. "Asal dia tidak berada diatas Charlie saja."
Nick melonggo dan sekuat tenaga untuk tidak tertawa mendengar cerita Chloe Meskipun Charlie lebih tua 4 menit dari Chloe tapi Chloelah yang selalu bertugas melindungi Charlie. Charlie sama sekali tidak tertarik memanjangkan persoalan, itulah sebabnya dia gampang ditindas dan Chloe sama sekali tidak terima jika saudara kembarnya diperlakukan seperti itu.
Nick pura- pura berdehem, menyamarkan tawanya lalu berkata. "Kalau begitu pastikan jangan terlalu membuatnya terluka, okey?" Pesan Nick.
"Okey Daddy."
"Baiklah. Bisa kau kembalikan telponnya ke mommy, princess?"
"Kau sama sekali tidak membantu, iyakan?" Terdengar suara tanya Ana tidak lama kemudian.
"Aku sudah berusaha, sayang. Sungguh tapi aku sama sekali tidak menyangka Chloe akan menjawabnya dengan jawaban pintar seperti itu."
Ana mendengus. "Ya. Dia juga mengatakan itu tadi padaku."
"Mereka masih anak- anak, Ann. Suatu hari nanti Chloe akan mengerti pentingnya tanggung jawab."
"Aku juga berharap seperti itu."
Nick hanya bisa tersenyum menimpali.
"Maaf sayang, kita akan mendiskusikan ini setibaku di rumah, okey? Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Nick."
***
Setibanya Nick dirumah. Rumahnya terlihat sepi dengan hanya sedikit penerangan. Untung saja dia selalu membawa kunci rumah untuk dirinya sendiri agar tidak terlalu merepotkan Ana jika pulang larut malam.
"Ana?" Panggil Nick ketika ia telah sampai dikamar tidur mereka.
"Aku di kamar mandi, Nick." Sahutnya dari dalam.
"Aku akan ke kamar anak- anak dulu."
"Okey."
Nick berjalan menuju kamar paling ujung milik Chloe dan membuka pintu kamar. Gadis kecil itu sudah tidur sambil memeluk boneka teddy bearnya. Nick memutuskan untuk menaruh hadiahnya di atas kursi dan jika Chloe terbangun, dia akan langsung melihatnya lalu ia mencium kening anaknyaitu sebelum kembali menutup pintu kamarnya.
Nick lalu beranjak ke kamar Charlie yang berdekatan dengan kamar Chloe ketika keningnya seketila berkerut mendapati Charlie yang masih terbangun dan langsung menyunggingkan senyumnya ketika melihat kehadiran Nick.
"Hai buddy."
"Hai dad."
"Daddy pikir kamu sudah tidur."
"Charlie menunggu daddy pulang dulu."
Nick tersenyum. "Okey. Daddy sudah pulang. Tidurlah."
Nick menemani Charlie hingga anak itu terlelap. Dia baru saja selesai menyelimuti Charlie ketika berbalik dan menemukan Ana tersenyum padanya. Ana memakai kemeja yang pernah dipakainya waktu dia terluka dulu dan rambutnya di gelung keatas, menambah keseksiannya. Nick tidak pernah berhenti mengagumi wanitanya meskipun Ana telah melahirkan dua jagoan kecil untuknya, Nick merasa masih belum puas.
"Hai. Maaf tadi aku mandi." Ucap Ana setelah Nick menutup pintu kamar Charlie.
"Tidak apa- apa." Balas Nick seraya meraih Ana dan menciumnya.
Ana terkekeh. "Bagaimana perjalananmu?" Tanyanya.
"Buruk. Aku rasa karena aku merindukanmu."
"Aku juga."
Nick tersenyum bahagia kemudian menunduk untuk mencium perut Ana yang semakin besar.
"Dan bagaimana kabar malaikat kecilku yang satu ini?" Tanyanya mengecup kembali perut itu.
Lagi- lagi Ana tertawa. "Dia tumbuh dengan sangat baik."
"Benarkah?" Sebelah tangan Nick mulai menyentuh daerah sensitif Ana, membuatnya mengelinjang atas sentuhan yang diberikan oleh Nick di tubuhnya. "Kalau begitu kurasa dia tidak akan keberatan jika ibunya kupinjam selama beberapa jam, iyakan?" Godanya sambil mencium sekitar pundak Ana.
"Hm,kurasa dia akan merasa senang karena daddynya tidak lupa mengunjunginya." Balasnya mengikik dan kemudian mereka tertawa bahagia karena saling memiliki dan lengkap.
T A M A T
July, 17 2015 (feb)
Comments
Post a Comment