FIGHT - DUA

Ana baru saja membuka pintu flat tempatnya tinggal ketika ia merasa ada yang ganjil dan benar saja seketika itu juga beberapa orang mengepungnya di dalam flatnya sendiri.

Ana yang belum siap mendapatkan serangan mendadak terlempar dan mengenai meja yang kacanya langsung pecah. Tanpa memperdulikan rasa sakit di sekitar lengannya, dia bangkit dan langsung menendang perut si penyerangnya membuat penyerangnya mundur mendadak.

"Apa yang kalian lakukan disini?" Desis Ana dingin.

Tanpa jawaban dua orang yang lainnya kembali menyerangnya. Ana tidak bisa melihat penyerangnya dikarenakan gelapnya malam. Meskipun sudah lama tidak berkelahi tapi tubuh Ana masih tetap lincah seperti setahun yang lalu. Tak seorangpun penyerangnya yang bisa menyentuh bahkan sehelai dari rambutnya. Ana yang tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya malah semakin geram dan meluncurkan tendangan dan pukulan yang telak yang membuat para penyerangnya lebih ngos-ngosan daripada dirinya.

"Siapa kalian?" Tanya Ana lagi. Kali ini mengeluarkan aura seram ke udara dan tentu saja lawannya bodoh jika berani mengindahkan aura yang mendadak tercipta di udara.

"Jack ingin bertemu dengan Undefeat." Jawab salah seorang yang tadi dipukul Ana tepat di dadanya.

Ana mengernyitkan dahinya dan suaranya semakin dingin. "Katakan padanya. Aku tidak tertarik dengan apa yang ditawarkan."

Lelaki itu sepertinya sudah tahu jawaban yang akan dilontarkan Ana karena setelah itu dia berkata. "Jack akan menghubungimu."

Dan sebelum Ana membalas, dia mendengar suara dering handphone bergema dari dalam tasnya. Tanpa melepaskan pandangan dari 5 orang laki- laki yang menyerangnya tadi, dia berjalan dan merogoh ke dalam tasnya.

"Well... well... Undefeat. Kulihat kau masih belum kehilangan sentuhanmu." Seru suara dari seberang. Ana melihat kalau para penyerangnya tadi sudah mundur dan pergi menjauh dari tempat tinggalnya.

"Jack." Balas Ana dingin. "Apa yang kau inginkan?" Lanjutnya.

"Langsung seperti biasanya, huh?"

"Kau tidak mungkin mengirim para petarung amatiran seperti tadi jika tidak menginginkan sesuatu dariku."

"oh benarkah? Bukan seperti itu sweetheart. Aku hanya khawatir dengan apa yang kau lakukan selama satu setengah tahun ini."

"Aku rasa hubungan kita tidak berada pada situasi dimana bisa saling mengkhawatirkan satu sama lain dan kita sudah berakhir... jauh sebelum ini"

"Oh sweetheart, kaulah yang memutuskan untuk mundur dan akulah yang selalu ingin mempertahankanmu."

"Oh, jadi begitu caramu mempertahankanku? dengan mengirim orang- orang seperti tadi?"

"Jangan salahkan mereka, sweetheart. Mereka adalah petarung yang hebat dan sering menenangkan pertarungan di arena."

"Bagiku mereka hanya petarung jalanan amatiran yang hanya tahu menyerang. Mungkin itu sebabnya mereka ingin bekerja denganmu. Berapa banyak uang yang kau tawarkan kepada mereka? 1000? 2000 dollar?"

Jack tertawa. "Hm itulah kenapa aku menyukaimu, sweetheart. Kau selalu mengatakan sesuatu yang menghibur."

"Jadi apa alasanmu mengirim mereka?" Ana menolak untuk ikut terpedaya. Biar bagaimanapun Jack orang yang sangat licik yang pernah dikenalnya.

"Tidak ada. Hanya ingin memastikan kalau kau masih mampu bertarung dan sepertinya dugaanku benar. Bahkan aku rasa sentuhanmu semakin halus."

"Mungkin sentuhanku akan semakin memperhalus jika itu kulakukan denganmu."

"Haha tapi sayang sekali aku belum tertarik merasakan sentuhan itu. Bagaimana kalau kita melakukannya diatas ranjang? Mungkin kita bisa saling mengenal."

"Ya. Dan akan kupastikan kau puas dengan itu." Jelas Ana semakin dingin.

"Hahaha bagaimana kalau sebelum kita berdua diranjang, kita mengenal di arena dulu. Kau. Undefeat bertarung lagi untukku."

"Aku tidak ingin bertarung lagi Jack."

"Hm sayang sekali. Sungguh bakat sepertimu sangat disayangkan. Hanya karena sebuah janji konyol, kau melepaskan bakatmu."

"Itu bukan sebuah janji konyol dan lupakan tentang apa yang kita bicarakan. Aku tetap tidak akan melakukannya."

"Hm, tapi aku masih sering bermimpi kau bertarung untukku."

"Kalau begitu bangunlah. Sudah saatnya kau bangun dari mimpi panjangmu."

Lalu tanpa mendengar balasan selanjutnya, Ana memutuskan telponnya dan berjalan untuk menyalakan lampu flat dengan darah yang masih mengalir dari lengannya.

***

"Ini gila! Bagaimana kau bisa terluka di bibir?" Omel Viona seraya mengusap bibir Ana yang luka dengan kapas.

Dalam hati Ana bersyukur setidaknya Viona hanya mengetahui luka di bibirnya. Ana sudah mengobati lengannya dan memberikan perban disekelilingnya kemudian memakai kaos lengan panjangnya.

"Ouchh pelan- pelan Vi. Aku terjatuh okey dan aku tidak melihat ada meja di flatku karena gelap dan aku tersandung karena itu." Jelas Ana. Untungnya hanya mereka berdua yang berada di dalam ruang kelas sehingga dia membiarkan Viona mengeluarkan 'duri- durinya'.

"Kau seharusnya lebih berhati- hati. Itulah sebabnya aku memintamu untuk tinggal bersamaku."

"Dan mengusir Lena yang sudah 2 tahun bersamamu?"

"Kita bisa tidur bersama. Terakhir kali kita bersama ketika kita masih SMP sebelum aku pindah ke Eropa."

"Aku akan lebih berhati- hati. Tenanglah. Kau membuatku takut dengan amarahmu."

Viona baru saja akan membalas ketika terdengar suara pintu di buka, menampilkan sosok Tom, Ray dan juga Nick. Awalnya mereka bertiga tidak memperhatikan Ana dan Viona tapi ketika mereka akan melewati meja kedua gadis itu, langkah mereka terhenti, memperhatikan kapas dan salep di atas meja kemudian melihat sudut bibir Ana yang terluka.
Nick mengernyitkan dahinya memandang Ana. Ana yang merasa dipandang Nick langsung mengalihkan pandangannya, menyembunyikan lukanya.

"Wow nerd, habis berkelahi?" Seru Ray yang sudah terlanjur melihatnya.

"Jatuh." Cicit Ana pelan.

"Eh apa?" Ulang Ray tidak mendengar apa yang barusan dikatakan Ana.

"Sudahlah Ray. Biarkan Ana sendiri. Semoga cepat sembuh Ana." Kata Tom yang membuat Ana dan Viona melonggo.

Mereka berdua memang tahu kalau Tom adalah orang yang paling ramah pada orang lain tapi mereka tidak menyangka kalau Tom akan melakukan hal yang sama pada Ana.
Tidak lama kemudian masuklah orang- orang ke dalam ruang perkuliahan. Cepat- cepat Viona membereskan mejanya dan berjalan menuju kursi paling belakang. Ana tidak mau di tanya berbagai macam pertanyaan mengenai bibirnya.
Dari sudut matanya, ia melihat Nick yang masih memandangnya tapi ketika ia balas untuk melihat, dilihatnya Nick sedang membicarakan sesuatu dengan Tom.

"Kau terlalu jelas". Ujar Tom di sampingnya.

"Hah?" Tanya Nick heran.

"Kau melihat Ana seakan- akan dia akan menghilang sebentar lagi. Dia bilang dia jatuh"

"Ya. Aku juga sudah mendengarnya tadi."

"Dan kau percaya?"

"Itu tidak terlihat akibat jatuh."

"Lebih tepatnya itu terlihat seperti dia sudah dipukul."

"Begitukah?"

"Seperti ketika kau dipukul oleh petarung lain di arena. Aku mengetahuinya karena aku selalu bersamamu."

"Apa dia dipukul oleh ayahnya?"

"Atau pacarnya?" Imbuh Tom yang langsung membuat Nick berbalik kearahnya. "Selalu ada kemungkinan lain. Kita tidak tahu." Lanjut Tom yang tidak menyangka Nick akan bereaksi seperti itu.

"Apa yang akan kita lakukan?"

"Lebih tepatnya apa yang akan kau lakukan?" Ralat Tom yang membuat Nick terdiam. "Kau menyukainya." Itu bukanlah pertanyaan dan Nick tahu apa maksud Tom.

" akan kita cari tahu setelah ini." Balas Nick. Tom hanya mengangguk menimpali.

"Ahh sial, aku lupa bawa hape. Tom pinjam hape dong." Ucap Ray tanpa sama sekali menyadari pembicaraan yang sempat terjalin antara Tom dan Nick.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS