FIGHT - EMPAT BELAS
"Ya. Kami sudah mendapatkannya. Viona meninggalkannya di atas meja bar tadi." Jelas Tom pada orang diseberang.
"Siapa? Ray?"
"Ya" Tom menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Viona. "Mereka sedang menunggu kita."
Mereka baru saja tiba di parkiran ketika Viona melihat sosok Undefeated berada tidak jauh dari hadapannya.
"Ayo cepat!" Seru Viona bersemangat. "Sangat jarang kita bertemu Undefeated. Ray pasti akan cemburu kalau kita bisa mendapatkan tanda tangannya."
Tom hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Viona yang lebih antusias darinya.
Semenjak melihat pertarungan Undefeated pertama kali, Viona sudah mengagumi sosok tangguh yang berjenis kelamin yang sama dengannya. Dia baru saja melangkah ketika mendadak berhenti, kedua keningnya saling bertaut menandakan kebingungan saat melihat sosok yang tidak jauh darinya.
"Eh?"
"Ada apa?" Tom mengikuti arah pandangan Viona. Dia cukup mengenal Chad, pria yang bersama Undefeated. Dia juga tahu kalau selama ini Chad yang mengurus semua pertarungan yang dilakukan Undefeated selama ini dan saat itulah Ana mendongak dari topinya, memperlihatkan sebagian wajahnya tapi masih bisa dikenali.
"Ana?"
"Seharusnya aku sekalian merontokkan giginya."
"Sudahlah. Pertarungan yang bagus tadi. Apa kau lapar? Aku tahu kau lapar. Itulah sebabnya kau mudah marah."
"Kurasa itu salah satunya."
"Baiklah. Kali ini aku akan meneraktirmu, Undefeat."
Entah siapa yang lebih syok mendapati fakta baru ini dan dari ekspresi yang ditampilkan oleh Viona, jelas gadis itu merasa terluka karena Ana, sahabatnya sendiri telah menyembunyikan sesuatu darinya.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika Ana tiba di flatnya dan nyaris tidak menyadari dua orang yang terus saja memandanginya, bersandar pada tembok tidak jauh darinya.
Salah satu dari mereka memutuskan akan menyentuh pundak Ana ketika secara refleks pula Ana hampir saja menjatuhkannya ke tanah jika saja seseorang yang lain mendadak muncul, mencegah tubuh Viona membentur lantai yang keras.
"Astaga Viona! Hampir saja" pekik Ana terkejut setelah menyadari siapa yang hampir dicelakainya ketika tiba- tiba kedua alisnya saling bertaut, memperhatikan Viona dan Tom. "Apa yang kalian lakukan dini hari seperti ini di tempat ini?"cecarnya bingung.
"Kami sudah menghubungimu tapi sepertinya nomormu tidak aktif." Jawab Tom yang langsunv disadari oleh Ana. Dia lupa mengaktifkan kembali ponselnya setelah pertarungan.
"Masuklah." Ucap Ana mempersilahkan mereka masuk ke dalam flatnya yang kecil. "Kenapa kalian hanya berdua? Mana yang lainnya? Bukannya kalian bertemu hari ini?"
"Karena kami ingin memastikan sesuatu."
"Memastikan apa? Apa kalian mau minum?"
Ana lantas mengeluarkan dua buah kaleng soda dari dalam lemari esnya dan memberikan masing- masing pada dua orang yang sudah mengambil tempat duduk diatas sofanya yang terbilang kecil.
"Kau... Undefeated."
Ana tersedak minumannya sendiri mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Viona kemudian memalingkan wajahnya kearah Tom yang juga sedang menatapnya dengan intens. Sudah jelas dari tatapan mereka berdua kalau tidak ada jalan untuk mengelak.
"Jadi aku tertangkap ya" Ana terkekeh seraya menggaruk kepalanya tengkuknya, gugup. Dan baik Viona maupun Tom justru sama- sama saling melihat. "Apa?"
"Kami pikir kau akan mengelak." Ucap Tom berinisiatif menjawab.
"Tadinya aku ingin melakukannya tapi melihat wajah kalian, sepertinya kalian memiliki bukti untuk itu." Jawabnya berusaha bersikap senetral mungkin sementara batinnya merutuk, kenapa dia tidak melakukan apa yang baru saja dikatakan oleh Tom tadi. Dasar bodoh! "Mungkin kalian menyadari kemiripan dengan pakaian yang dikenakan oleh Undefeated malam ini denganku, mungkin?" Lanjutnya dan Viona dan Tom sama- sama memandangi jacket yang di pakai Ana dan baru menyadarinya.
"Kami melihatmu di pintu bagian belakang menuju parkiran tadi." Jawab Tom kembali melihat ke wajah Ana.
"Eh?"
"Kau dengan Chad berbicara." Lanjut Viona.
"Oh!" Sekali lagi ia menyadari kekeliruannya. Dasar Anastacia bodoh!. "Lain kali aku akan berhati- hati." Ungkapnya menyesal.
"Anastasia!" Bentak Viona tidak sabar. "Berhentilah bermain- main!"
"Okey... okey aku minta màaf. Kau mengagetkanku. Jadi apa yang lainnya juga sudah tahu?" Tanyanya seraya mengubah posisi duduknya.
"Tidak. Hanya kami" jawab Tom membuat Ana seketika menghembuskan napas lega.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Karena tidak memberitahu mereka."
"Tadinya aku ingin memberitahu Nick juga Ray."
"Jangan!"
"Eh, kenapa?" Tanya Viona bingung.
"Karena aku tidak ingin."
Tidak ada yang bicara ketika kembali Viona berujar.
"Kau gila! Kau Undefeated dan tidak seorangpun dari kami yang menyangka kalau selama ini Undefeated berada di sekitar kami dan wow, aku bahkan bersahabat dengannya." Ucap Viona sinis.
"Ayolah, aku kan tidak setenar itu."
Baik Tom maupun Viona sama- sama membelalakkan matanya hingga Ana takut kalau bola mata mereka bisa saja keluar dari rongganya.
"Ini gila. Aku tidak percaya ini." Viona memekik tertahan.
sejenak Ana tersenyum. "Pulanglah Viona." Katanya.
"Apa?"
"Kau lelah."
"Aku tidak lelah!"
Dihembuskannya napasnya pelan kemudian beralih pada Tom yang masih tetap melihatnya.
"Aku akan menjelaskan semuanya." Kata Ana melihat mereka berdua.
"Besok kalau begitu." ucap Tom membuka suara.
kembali Ana menghembuskan napas. "Baiklah besok."
"Baiklah. Ayo kita pulang."
"Eh, apa?" Viona terlihat terkejut melihat Tom disampingnya telah berdiri dari duduknya.
"Kita akan menanyainya besok."
"Tapi?"
Viona tampak tidak ingin beranjak dari duduknya ketika dua menit kemudian dia menghela napas, kalah.
"Baiklah. Aku akan berusaha bertahan malam ini." Ungkapnya lemah membuat Tom terkekeh seraya mengelus puncak kepala Viona lembut.
Tom dan Viona baru saja keluar melewati pintu Ana ketika mendadak Tom berbalik sambil merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
"Ini salep. Ini bisa meredakan perih di lenganmu. Aku melihat Scorpian menendang lenganmu tadi dengan kuat dan usahakan rendam kakimu dengan air hangat. Itu bisa membuatmu mengalami tidur nyenyak hingga besok pagi."
"Terima kasih, Tom." Ucap Ana seraya menerima salep yang disodorkan dari tangan Tom.
"Tidak masalah. Istirahatlah. Kau berutang penjelasan pada kami berdua."
Ana mengangguk.
"Astaga! Tegang sekali tadi." Ana menarik napas panjang sambil mengipas wajahnya setelah Viona dan Tom sudah tak terlihat lagi. "Bagaimana bisa aku seceroboh ini? Sial!" rutuknya.
***
Comments
Post a Comment