FIGHT - EMPAT
Seminggu berlalu sejak kejadian di kantin dulu tapi gosip yang beredar mengenai itu masih belum pudar bahkan semakin menjadi- jadi. Ana bahkan harus setiap saat menghindari Claire dan dua orang yang selalu mengikutinya, Susan dan Sandra untuk menghindarkan dirinya sendiri dari bisa yang tiap kali di desiskan Claire padanya.
Dan apapun yang dilakukan Nick sama sekali tidak membantu dalam situasi Ana bahkan semakin menambah kebencian Claire padanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tiba- tiba suara Nick mengagetkan dirinya yang memang sedang bersembunyi dari para pengagum Nick yang selalu siap menajamkan kukunya hanya untuknya.
Ana berbalik dan melotot kaget yang serta merta membuat baik Nick maupun Tom terkekeh melihat mata bulatnya yang semakin bulat akibat kacamata.
"Apa yang kau lakukan disini?" Ulang Nick lagi masih tetap tidak ingin melepaskan pandangannya dari gadis yang telah sah menjadi miliknya.
Untuk sesaat Ana mendelik kearah Nick, semakin membuat pria itu kebingungan ketika secara sengaja Ana mendorongnya agar bisa keluar dari rimbunan semak dan justru malah berbalik untuk menyapa Tom.
"Oh hai Tom". Sapa Ana ramah.
Sejenak wajah Nick mengkerut tidak suka ketika melihat gadisnya hanya menyapa Tom dan bukan dirinya sementara itu Tom hanya tersenyum melihat kedua pasangan yang menurutnya sangat tidak seimbang itu.
Tom tahu meskipun Ana bersikap tidak peduli pada Nick tapi diam- diam dia sering mendapati Ana yang sedang memperhatikan Nick dan pipinya selalu memerah setiap kali dia kedapatan melihat kearah Nick.
"Apa yang kau lakukan disini?" Nick sebenarnya tidak bermaksud untuk menanyakan pertanyaan itu secara kasar tapi mendengar Ana hanya menyebut nama sahabatnya, membuatnya merasa tidak suka.
Untuk sesaat Ana tergagap. Tidak tahu harus menjawab apa ketika mendengar suaranya sendiri dan langsung menyesalinya. "Aku sedang melihat batu." Nice answer Anastasia. Rutuk Ana menambahkan dalam hati.
"Batu?"
"Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan disini?" Ana mulai mengeluarkan sikap defensifnya jika mulai merasa malu.
"Aku melihatmu seperti orang bodoh sembunyi disini." Nick menjawab kesal masih terpengaruh melihat keakraban antara Ana dan Tom padahal seluruh penjuru kampus telah mengetahui kalau Ana adalah pacarnya. Dia memang sengaja mengucapkan kalimat di kantin tempo hari itu dengan suara keras karena dia tidak mau siapapun menyentuh gadisnya. Itu yang dia pikirkan.
"Bodoh?" Ana bisa merasakan kejengkelan yang sejak awal sudah ditanamkan dalam dirinya. "Kau baru saja menyebutku apa? Bodoh?" Hidungnya mulai kembang- kempis menahan emosi. Meskipun dia mulai menyadari perasaan aneh yang mulai dirasakannya pada Nick tapi tak urung juga dia merasa jengkel dengan hal itu. "Memang apa salahnya dengan aku yang melihat batu?"
"Jadi karena kamu melarikan diri dari Claire dan kelompoknya, kau memutuskan untuk bersembunyi di sini?" Ledek Nick padanya terang- terangan.
"Iy...eh apa? Tidak!"
Nick menyeringai tidak percaya. "Apa kau sedang menertawaiku Mr. Black?"
"Menurutmu Miss. William?"
"Ugh!" Ana memutuskan untuk langsung beranjak saja dari tempat itu, meninggalkan Nick yang memandang belakangnya tidak percaya.
"Kenapa dia selalu membuatku kesal?" Sungut Nick masih memandang belakang Ana yang semakin menjauh. Ini kali pertama dia ditinggalkan oleh seorang gadis dan gadis itu pergi sambil marah padanya.
"Kenapa kau selalu membuatnya kesal?" Tanya Tom membuat Nick langsung mengarahkan pandangannya kearahnya.
"Aku tidak selalu membuatnya kesal justru dia yang melakukan itu. Dia tidak seperti itu jika bersamamu atau orang lain tapi padaku? Dia selalu membuatku harus memuntahkan lahar"
Tom menatapnya beberapa lama. "Kau cemburu." Itu bukanlah pertanyaan jadi Nick tidak menjawab. "Dengar Nick, kau tahu Ana. Dia berbeda dengan cewek- cewek yang mengejarmu selama ini jadi cobalah mengerti dia."
Tom membiarkan Nick menyerap perkataannya ketika dilihatnya kepala pria itu mengangguk.
"Kurasa aku harus mengejarnya. Katakan pada Ray, aku akan telat."
Tom hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang baru pertama kali dia lihat.
****
"Sial...sial... kenapa tadi aku langsung marah padanya?" Oceh Ana selama perjalanannya menuju perpustakaan yang dirasanya cukup aman. Claire dan antek- anteknya paling anti menginjak lantai perpustakaan ketika tanpa diduga seseorang mencegah dan memegang pundaknya dan seketika itu juga Ana spontan membanting orang itu tanpa melihat siapa yang baru saja dibantingnya.
"Wow!" meskipun awalnya Nick kaget dengan serangan mendadak yang baru saja dilakukan Ana padanya tapi tak urung dia merasa tubuhnya seperti akan lepas apalagi bagian belakang, tempat dimana punggungnya menghantam tanah yang keras lebih dulu.
"Nick? Astaga maaf, Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ana seraya membantu Nick berdiri.
"Lain kali akan kuperingatkan diriku untuk tidak membuatmu marah."
Ana meringgis mendengarnya.
"Darimana kau belajar membanting seperti itu?" Tanya Nick kemudian.
"Eh apa?" Ana memaksakan otaknya agar segera berpikir. "Oh tidak. Itu hanya gerak refleks dan mungkin disaat yang bersamaan kau juga kehilangan keseimbangan." Celotehnya berusaha untuk bersikap santai dan tertawa meskipun sedikit terdengar ganjil.
Nick mengernyit. "Ya. Mungkin kau benar."
Ana hampir saja melonjak gembira ketika menyadari Nick masih memberinya tatapan penuh arti.
"Jadi kenapa kau mengejarku?" Dia berusaha untuk terdengar percaya diri meskipun sedikit tidak yakin kalau Nick mengejarnya. Siapa tahu saja Nick melihat koin yang jatuh ditanah dan hendak memungutnya ketika tanpa sengaja dia menyentuh pundaknya dan sedetik kemudian Ana mulai memukul kepalanya sendiri atas pemikiran konyolnya barusan.
"Aku ingin minta maaf." Ujar Nick tanpa memperdulikan sikap Ana tadi yang sekarang beralih ke melonggo mode on. Seorang Nick minta maaf padanya? Apa meteor baru saja menabrak bumi?
"Warna abu-abu matamu kelihatan lebih kentara jika begitu." Gurau Nick membuat Ana sadar dan mengerjapkan matanya.
"Aku tidak mengerti Nick. Kenapa kau minta maaf padaku?"
"Kau pergi dan meninggalkanku dengan wajah kesal dan... dan aku benci melihatmu yang meninggalkanku."
Ana bungkam seribu bahasa, tidak tahu harus mengatakan apa ketika mendadak Nick mengulurkan tangannya untuk mengenggam tangannya, membuat jantungnya semakin berdetak dengan kencang seiring dengan sentuhan Nick di jemarinya.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan Anastasia dan jujur saja itu membuatku frustrasi tapi aku selalu menyakinkan diriku kalau kau adalah milikku dan hanya milikku jadi apakah kita tidak usah bertengkar lagi?"
Otak Ana seakan berhenti bekerja dan yang bisa dia lakukan adalah hanya menganggukkan kepalanya. Sejujurnya Ana juga benci harus marah dan bersikap konyol dihadapan Nick. Biar bagaimanapun Nick sudah mengatakan dihadapan semua orang kalau dia pacarnya, sesuatu yang bahkan tak seorangpun berpikir kalau Nick akan memilihnya, seorang gadis aneh tapi dia akan mulai belajar untuk mempercayai laki- laki dihadapannya ini. Laki- laki yang sejak pertama kali dia lihat sudah mencuri perhatiannya dan kalau Nick mempermainkannya maka Ana akan memastikan kalau Nick akan menerima lebih dari sekedar bantingan di tanah.
"Bagus." Nick tersenyum lega. "Aku lapar. Aku belum makan dari tadi karena melihatmu bersembunyi seperti orang bodoh tadi dan semakin lapar karena bertengkar denganmu."
Kembali kejengkelan Ana timbul.
"Kau memanggilku bodoh lagi? Asal tahu saja tuan populer, aku tidak pernah bermaksud untuk bertengkar denganmu."
Nick terkekeh. "Jadi kau mengakui kalau aku populer huh?" Goda Nick membuat pipi Ana memerah. Nick segera mengulurkan sebelah tangannya untuk membelai pipi Ana semakin membuat Ana memerah. "Dan aku juga tidak pernah bermaksud untuk bertengkar denganmu." Desah Nick lembut.
"Nick...?"
"Ayo, hm... kurasa kita bisa mengatakan ini kencan pertama kita. Ayo!"
Disampingnya Ana hanya bisa tersenyum simpul ketika tangannya kembali digenggam oleh Nick, membuat Ana bisa merasakan kehangatan dari jari- jari Nick di jari- jarinya.
Tanpa mereka berdua sadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka termasuk Claire dan kelompoknya.
"Akan kubalas gadis sial itu nanti." Geram Claire seraya menghancurkan buku yang sedang dipegangnya, mengindahkan tatapan takut Susan dan Sandra.
***
Comments
Post a Comment