FIGHT - ENAM BELAS
Nick melihat bagaimana ekpresi yang ditampakkan Ana tadi ketika melihatnya bersama Claire. Seperti yang Nick duga, Viona pasti akan segera menemui Ana jika ia melihatnya bersama dengan Claire jadi ketika ia melihat gadis itu pergi dengan terburu- buru, ia juga ikut mengajak Claire pergi.
Dari sudut matanya, Nick melihat bagaimana datarnya ekpresi wajah Ana seakan- akan mereka sudah benar- benar putus. Sebenarnya Nick tidak bermaksud untuk memanfaatkan Claire dalam masalahnya dengan Ana tapi Ana cenderung seperti menghindarinya. Belum lagi ketika Nick selalu mendapati Ana dengan beberapa pria terutama pria yang dulu dilihatnya di D' Roses. Nick sudah berkali- kali mengajak Ana untuk keluar bersamanya tapi gadis itu selalu saja memiliki kesibukan tersendiri lalu tidak lama kemudian ia mendapati Ana a bersama pria lain tepat dimana dia telah mengajaknya.
Nick sebenarnya tidak tahan dengan keadaannya yang seperti ini. Biar bagaimanapun dia merindukan gadisnya. Tawanya, senyumnya dan rona merah di pipi setiap kali ia menggoda gadisnya, Nick merindukan itu semua.
Dan malam itu terjadi.
Malam dimana Nick melihat Ana yang tertawa pada seorang pria sementara sebelah tangan pria itu tanpa ragu menyampirkan beberapa anak rambut ke telinga Ana. Nick bisa merasakan darahnya mendidih. Satu- satunya yang ia pikirkan malam itu adalah mematahkan tangan yang telah menyentuh miliknya.
Dia sengaja melakukannya dengan Claire, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Ana jika ia melihat dirinya bersama gadis lain tapi tidak banyak yang bisa diharapkannya karena Ana bahkan sama sekali tidak beranjak dari tempatnya dan justru lebih memilih pergi bersama Viona.
"Nick? Hei Nick, apa kau mendengarku?" Teriak Claire ketika Nick sama sekali tidak menyentuh makanan di piringnya.
"Eh, maaf Claire. Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanyanya berpaling dari minuman di depannya.
"Aku bilang terima kasih Karena akhirnya kamu mau makan denganku."
"Oh, tidak masalah." Nick membalas dengan mengendikkan bahunya.
Sejenak Claire memperhatikan pria yang telah disukainya sejak lama sebelum akhirnya ia menyuarakan apa yang ada di pikirannya.
"Jadi kau benar- benar putus dengannya?" Tanya Claire ingin tahu.
"Putus?"
"Aku melihatmu melihat kearahnya tadi." Jawabnya. "Sedari awal kalian memang tidak cocok, aku tahu itu. Dia bukanlah gadis yang tepat untuk dirimu. Kenapa kau harus memaksakan dirimu untuk memacarinya?"
"Tidak tepat, huh?"
Claire mengangguk.
"Jadi menurutmu kau adalah gadis yang tepat untukku, begitu?"
Claire tersenyum. "Memang salah? Kau tahu kalau dari dulu aku sudah menyukaimu jadi kenapa kita tidak sekalian mencobanya?"
Mereka berdua saling menatap dalam diam hingga kemudian Nick mendesah.
"Carilah laki- laki yang menyukaimu dengan tulus Claire. Kau tahu kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu."
Claire kembali tersenyum. "Karena kau teman kakakku dan kita sudah saling mengenal dari kecil jadi kau tidak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku."
"Claire." Desah Nick putus asa.
"Tidak memaksa, Nick. Aku hanya ingin menyuarakan pikiranku. Itu saja kok."
"Tidak akan ada yang berubah, Claire dan aku tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya."
"Hm, meskipun si Nerd itu menghianatimu?"
Mata Nick terkejut. "Apa yang kau bicarakan?"
Kembali Claire tersenyum. "Aku selalu melihatnya di jemput pria lain begitupun dengan pria- pria lainnya."
Nick berusaha untuk tidak mengebrak meja tempat mereka duduk. Ditatapnya Claire tajam, untuk satu alasan Claire bisa dengan mudah memancing emosi orang lain. Itulah sebabnya dia tidak ingin punya hubungan apapun semenjak kakak Claire meninggal dalam sebuah kecelakaan setahun yang lalu.
"Jangan memprovokasiku Claire." Tegas Nick tajam.
Claire tertawa. " jangan seperti itu, Nick. Apa hebatnya si nerd itu sampai bisa membuatmu seperti ini?"
"Aku mungkin bisa mematahkan semua tulang preman yang pernah kau suruh untuk menghajar Ana waktu itu tapi bukan berarti aku akan memaafkan sikap kekanak- kanakan dari dirimu lagi."
"Maaf tentang itu. Aku sebenarnya hanya ingin mengancamnya. Aku tidak tahu kalau mereka akan memukulnya seperti itu."
"Kalau begitu berhentilah bersikap konyol. Aku sudah selesai. Kau bisa pulang sendirikan?"
Claire mengangguk pasrah seraya menatap kepergian Nick dengan mata nanar. Meskipun selama ini Nick tidak pernah mengusik apa yang dilakukannya tapi ini pertama kalinya dia mendengar suara tajam nan dingin dan untuk sesaat dia takut Nick akan memukulnya meskipun Claire tahu Nick tidak akan mau memukul seorang wanita kecuali dia bertarung.
.
.
.
Dua hari berlalu dan Ana sama sekali tidak pernah datang kepadanya. Kadang- kadang dia merasa kalau Ana sedang menatapnya tajam tapi ketika ia melihat kearahnya Ana terlihat tertawa dan tersenyum menimpali percakapannya yang terjalin antara dirinya dan Viona dan sama sekali tidak menghiraukannya.
"Ada apa denganmu dengan Ana?" Tanya Tom yang bingung dengan sikap keduanya. Tom memperhatikan Ana yang tampak asyik tertawa membicarakan sesuatu pada Viona tidak jauh dari tempatnya saat ini duduk.
"Tidak apa- apa" jawab Nick berusaha tampak tidak terganggu dengan pamandangan tidak jauh darinya.
"Kudengar kalian sudah putus" sahut Ray membuat Tom mendadak bertanya kaget.
"Putus? Siapa? Nick dan Ana? Kenapa?"
"Bisa kita membicarakan hal lain saja?" Nick malas membahas mengenai hubungannya. Dia butuh pengalihan lain dan hal itu dengan bertarung. "Apa kau sudah bisa mengatur pertarunganku dengan Undefeated?"
Tom mendadak diam ketika matanya menangkap pergerakan Ana.
"Eh itu kurasa masih belum bisa. Sepertinya akhir- akhir ini ia mengurangi jadwal bertarungnya."
"Menurut kabar yang kudengar, dia hanya sebulan bertarung setelah itu dia akan menghilang lagi." Sahut Ray yang seketika membuat Tom tersedak.
"Uhuk, d- darimana kau tahu informasi itu?" Tanya Tom pada Ray.
"Tidak sengaja kudengar dari orang- orang."
"Seharusnya itu bersifat rahasia." Gumam Tom tanpa sadar.
"Apanya yang rahasia?" Tiba- tiba Nick bertanya.
Tom tergagap menyadari kealpaannya. "Rahasia karena... karena tidak ada pengumuman tentang ini, iya kan hahaha."
Nick menatapnya bingung seraya melirik Ray yang memandangi Tom dengan prihatin.
"Kurasa Viona membawa dampak negatif padamu." Imbuh Nick.
"Ya. Kurasa kau benar." Ray menyetujui. "Tapi apa kalian lihat bagaimana pertarungan Undefeated kemarin? Apa gadis itu sedang mengalami datang Bulan?" Kembali wajah Ray menampilkan keseriusan.
Tom mengernyit bingung. Kemarin memang dia tidak sempat melihat pertarungan Ana karena banyaknya pelanggan yang datang dan itu membuatnya juga Viona beserta staf yang bekerja di kafenya kewalahan.
"Apa maksudmu?"
Ray tampak menimbang apa yang ingin dikatakannya. " hm, seperti biasa dia memang bertarung dengan sangat bagus tapi entah kenapa atmosfer di sekelilingnya lebih dingin dan aku sempat mendengar kalau setelah bertarung, dia hampir memukul orang yang hanya ingin menyentuh pundaknya." Jelas Ray panjang lebar.
Tom tertawa seraya diam- diam melirik Ana. Tidak ada yang berbeda dari penampilan Ana, dimana Ana masih tampak seperti gadis biasa yang terlihat polos tapi dibalik itu semua ada kekuatan tak kasat mata yang tak diketahui oleh orang banyak. Tom menggelengkan kepalanya heran. Apa sebenarnya yang terjadi antara dirinya dan Nick. Tom tahu, Ana tidak mungkin akan sebrutal seperti yang dikatakan Ray jika tidak ada sesuatu. Lagi- lagi Tom memperhatikan Ana, gadis itu tidak lagi mengurai rambutnya seperti yang biasa ia lakukan tapi mulai menguncirnya menjadi ekor kuda, memperlihatkan lehernya yang siapa yang menyangka tampak menggoda tapi bukan berarti ia ingin mencobanya. Ia terlalu sibuk dengan hubungannya bersama Viona hingga tidak berniat mengambil pacar dari sahabatnya- yang mana ia tidak begitu yakin apakah masih seperti itu.
"Jangan coba- coba, Thomas." Desisan Nick tertangkap di telinganya dan menoleh ketika Nick memberinya tatapan tajam. Tom baru saja akan menanyai apa maksud Nick ketika sebuah pemahaman terlintas dalam benaknya, membuatnya mundur secara reflek.
"Whoa, tidak seperti itu, Nick." Tom membela diri.
"Aku tidak melihatnya seperti itu." Balas Nick masih memberi Tom tatapan mematikan miliknya.
"Baiklah... baiklah. Aku minta maaf tapi Ana bukanlah tipe yang kusukai." Tom terpaksa harus mengatakan apa yang dirasakannya. Dia tidak ingin menjadi samsak untuk Nick hari ini dan bernapas lega ketika dilihatnya Nick mengendurkan tatapannya dan menghela napas.
"Kalau kau masih tetap memperdulikannya, kenapa tidak kau datangi dia?" Sahut Ray tidak mengerti. "Kurasa Ana akan mendengar semua penjelasanmu."
"Aku perlu waktu." Jawab Nick.
"Waktu seperti apa yang kau perlukan?" Tom tidak mengerti ada apa dengan sahabatnya satu ini. Dia begitu berani menghadapi semua petarung- petarung itu tapi kenapa dia tidak berani menghadapi Ana- yang well, seorang petarung juga. Tom menambahkan dalam hati tapi kan tidak ada yang tahu tentang jati diri Ana yang seperti itu. Lagi- lagi Tom berargumen dengan dirinya sendiri ketika menyadari tidak hanya Nick yang melihatnya tapi juga Ray dengan pandangan aneh.
"Kau baik- baik saja? Kau tampak jauh lebih bodoh seperti itu." Komentar Nick pedas. "Sudahlah ayo kita pergi. Aku bosan berada disini." Nick melangkah lebih dulu kemudian diiringi oleh Tom dan Ray disampingnya ketika mendadak Ana yang entah bagaimana berjalan sambil terus berbicara pada Viona didepannya dengan semangat tidak menyadari kalau ada Nick dibelakangnya hingga menubruknya.
"Oh maaf, aku..." kalimat Ana terhenti ketika menyadari siapa yang baru ditabraknya dan mendadak gugup. "Maaf." Ujar Ana sakit hati ketika Nick justru tidak melihatnya.
"Kau tidak apa- apa, Ann?"
Nick mengernyit mendapati Tom yang justru bersikap peduli pada Ana dan semakin tidak percaya ketika dilihatnya pria itu memegang kedua lengan Ana seakan Ana bisa saja terjatuh.
"Ya. Aku tidak apa- apa, Tom." Ujar Ana tersenyum seraya menjauhkan tangan Tom dari lengannya, pelan.
Nick terus memperhatikan tingkah gadis didepannya dan terkejut karena Tom justru terlihat lebih akrab dengan Ana. Gadis itu terus saja menyunggingkan senyum yang jarang diperlihatkannya dan tanpa sadar ia merasakan dadanya bergemuruh karena marah, apalagi kedua mata mereka saling menatap seperti mengatakan kalimat yang tak terucap.
"Aku pergi." Nick memutuskan untuk berpaling meninggalkan tempat itu ketika merasakan sebuah tangan menahan tangannya yang bebas dan berbalik ketika menyadari kalau itu adalah tangan milik Ana. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dingin tapi tidak melepaskan dirinya dari tangan Ana. Dia juga merindukan kehangatan dari si pemilik tangan itu tapi tak ingin mengakuinya.
Tidak ada yang bersuara. Ana juga bahkan tidak berniat untuk mengeluarkan suaranya dan justru semakin mengetatkan genggeman tangannya dari tangan besar itu. Dia merindukan prianya, suaranya, tawanya, aroma tubuhnya, sentuhannya. Dia merindukan semua yang ada dalam diri Nick.
Ana tidak mengerti kenapa mendadak Nick bersikap dingin padanya.
Ana tidak mengerti kenapa Nick justru mengatakan pada semua orang kalau mereka sudah putus.
Apa yang telah diperbuatnya hingga Nick mengatakan itu semua? Apa kesalahannya hingga membuat Nick bersikap dingin padanya?
"Apa yang kau lakukan?" Kembali suara dingin itu mencapai telinganya.
Untuk sesaat Ana memejamkan matanya, mencari kemantapan hati didalamnya ketika ia kembali membuka matanya dan menatap tepat kedalam mata Nick.
"Kita perlu bicara, Nick."
***
Comments
Post a Comment