FIGHT - ENAM

"Menurutku ada yang aneh dengan Ana." Celetuk Ray setelah Nick menceritakan tentang kejadian dimana Ana dihajar hingga nyaris babak belur oleh para preman- preman itu.

"Yeah, aku juga berpikiran hal yang sama dengan Ray tapi katamu orang- orang itu memukul Ana dengan telak. Apa kau yakin?" Kali ini Tom memberi Nick pandangan sekedar memastikan pendengarannya yang menurutnya masih sangat baik.

"Kau akan melihatnya sendiri jika dia bangun nanti. Aku rasanya ingin membunuh orang- orang itu ketika melihat mereka memukulnya seakan- akan Ana bukanlah perempuan." Nick tidak dapat menyembunyikan perasaan marahnya atas apa yang dilihatnya semalam dan tanpa sadar telah mengepalkan jari- jarinya seperti tidak sabar menghabisi mereka.

"Jadi kau apakan mereka?" Tanya Tom ingin tahu. Tentu saja dia tahu apa yang sudah dilakukan Nick pada mereka tapi ingin mendengarnya sendiri.

"Aku menghajar mereka tentu saja, tanpa ampun."

"Hm, bisa kubayangkan."

"Untung saja kau berada disana. Tidak bisa kubayangkan yang terjadi kalau kau tidak menemukannya."

Nick menghela napas, berusaha rileks. "Yeah."

"Kurasa seseorang menaruh dendam padanya." Timpal Ray kemudian.

"Aku juga berpikiran sama. Apa kau ingat luka di bibirnya waktu itu? Yang katanya dia jatuh. Aku rasa kejadiannya tidak seperti itu." Tom mulai mengeluarkan kecurigaannya.

"Apa dia meminjam uang dari rentenir dan kabur?" Ray menebak asal.

"Aku rasa Ana bukanlah orang yang seperti itu."

Ray baru saja akan membalas sanggahan Tom ketika Nick mengambil alih.

"Tidak penting apakah Ana meminjam dari rentenir atau tidak tapi yang dilakukan orang- orang itu tidak benar terutama mereka melakukannya terhadap seorang gadis yang lemah." Ucap Nick ketika dibalas dengan anggukan setuju Ray dan Tom.

Entah berapa lama mereka terdiam dengan masing- masing pikiran mereka ketika Ana keluar menuju ruang tengah- tempat mereka membicarakan masalah semalam menggunakan kemeja milik Nick yang hanya sebatas lututnya sementara rambutnya di gelung keatas.

Nick yang membelakangi Ana tidak menyadari kalau gadis itu telah bangun dan justru berada dibelakangnya sementara itu, Ray beserta Tom yang baru melihat Ana tanpa kacamata dan rambut yang diikat hanya bisa mematung.

"Ana?" Dengan susah payah Ray mengeluarkan suaranya. Dia seperti melihat penampakan dengan kehadiran Ana yang lain daripada yang biasanya. "Apa kau benar- benar Ana si culun itu?" Tanyanya memastikan tapi tidak urung membuat jakunnya naik- turun.

Nick yang heran mendengar nama Ana disebutkan segera berbalik dan menemukan Ana yang berdiri sambil menatapnya dengan kebingungan di wajahnya. Meskipun di bibirnya terdapat luka akibat kejadian semalam tapi melihat Ana yang menggunakan kemejanya ikut membuatnya terpana akan makhluk cantik nan seksi itu dihadapannya.

Nick sama sekali tidak mengharapkan pemandangan seperti ini ketika ia memberikan kepada asisten rumah tangganya yang seminggu sekali datang untuk membersihkan tempat tinggalnya dan semalam Nick terpaksa harus memanggil asisten rumah tangga itu dini hari tadi hanya untuk mengganti pakaian Ana yang kotor terkena tanah.

Nick terdiam dan menoleh setelah mendengar ucapan Tom yang meracau dan menyadari kalau Tom membicarakan tentang gadisnya ketika langsung menghardik keduanya.

"Hentikan tatapan kalian sebelum kulempar keluar dari rumahku." Hardik Nick langsung yang langsung membuat keduanya nyengir kuda. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya Nick setelah menghampiri gadisnya dan menghalangi pandangan kedua sahabatnya akan tubuh Ana yang terekspos.

"Aku baik- baik saja." Jawab Ana. "Kenapa aku bisa berada di sini? Dan ini rumah siapa?"

"Ini rumahku. Semalam aku membawamu ke sini. Kemarilah, kita akan merawat lukamu." Tanpa persetujuan dan memang dia tidak butuh persetujuan dari siapapun, Nick meraih tangan Ana dan mendudukkannya di sofa kemudian meraih kotak obat yang sudah disiapkannya dari tadi.

"Aku tidak mengerti Nick. Kenapa kau membawaku ke rumahmu?" Tanya Ana heran sementara memperhatikan Nick yang menaruh salep di jarinya.

"Apa kau mengharapkanku untuk membiarkanmu di jalan?"

"Eh bukan itu maksudku," Ana tergagap- tidak tahu harus menjawab apa. "Aku akan melakukannya sendiri." Tolak Ana ketika Nick hendak menyentuh sudut bibirnya.

"Jangan keras kepala Ana. Aku hanya akan mengoleskan salep ini padamu."

"Aku tidak keras kepala. Aku hanya mengatakan kalau aku bisa melakukannya." Ucap Ana tersinggung.

Nick menghela napas. Gadis dihadapannya ini kerap kali membuatnya terlihat sulit." Ijinkan aku yang melakukannya, please?" Pinta Nick lembut.

Keduanya saling menatap ketika Ana memutuskan kontak mata diantara mereka dan menghela napas.

"Baiklah."

"Jadi apa kau mengenal orang itu?" Nick ingin mengetahui siapa yang telah berani membuat babak belur gadisnya sekaligus mencari topik dari permasalahan yang tiba- tiba melandanya seiring ia yang menyentuh bibir penuh itu yang seakan menggodanya untuk merasakan rasanya.

"Tidak."

"Tidak?" Akhirnya Tom angkat suara membuat Ana seketika membelalakkan matanya, baru menyadari kalau di ruangan yang ditempatinya itu ada Ray dan Tom.

"Sejak kapan kalian berada di sana?"

"Sepertinya di matamu hanya ada Nick seorang. Kau bahkan tidak menyadari kehadiran kami. Kami sudah berada di sini sebelum kau datang." Jawab Ray membuat Ana tersipu menyadari ketololannya.

"Oh maaf." Ujar Ana malu.

"Tidak apa. Kami sudah biasa terbiasa." Goda Tom semakin membuat Ana merona.

"Bukan itu maksudku."

"Jangan pedulikan mereka sayang. Mereka cuma ingin menggodamu." Ujar Nick menengahi.

Ana hanya bisa tersenyum simpul kemudian dia ingat kalau ada yang ingin ditanyakannya pada Nick tadi.

"Hm Nick, sewaktu... sewaktu kau menemukanku. Apakah... apakah... apakah kau menemukan kantong belanjaanku?" Tanya Ana tergagap.

"Oh kantong belanjaan yang berisi tam..." Ana langsung membekap mulut Nick sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimatnya.

"Shhhh di mana kau menaruhnya?" Tanyanya lagi setelah ia melepaskan tangannya dari mulut Nick.

Sejenak Nick memperhatikan Ana dan terkekeh. "Aku menaruhnya di dalam laci di kamar. Akan kutunjukkan. Kemarilah." Jawab Nick seraya meraih tangan Ana.

"Kurasa sebaiknya kami pergi. Ana beristirahatlah."

Setelah mengucapkan itu Ray dan Tom pergi meninggalkan mereka berdua.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS