FIGHT - LIMA BELAS

"Jadi setelah paman meninggal, kau memutuskan untuk berhenti? Maksudku orang tuamu tahu apa yang kau lakukan?"

Ana mengangguk mengiyakan pertanyaan Viona barusan. Saat ini baik Ana maupun Tom dan Viona berkumpul di sebuah taman dekat kampusnya. Butuh waktu yang jauh lebih lama dari sekedar menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur karena Viona terus saja menyela kata per kata yang keluar dari bibir Ana dan Ana dengan kesabaran bak dewi menjelaskan setiap pertanyaan dari sahabat cerewetnya itu.

"Ya. Mereka tahu." Kedua mata Viona membelalak karena terkejut. "Dan ibuku mendukung apa yang sudah dan sedang kulakukan."

Ana tersenyum ketiga mendengar suara kagum Viona yang ditujukan pada dirinya.

"Tapi apa yang membuatmu kembali lagi setelah sekian lama? Kau mengatakan kalau kau sudah berjanji pada almarhum ayahmu untuk tidak bertarung lagi." Kali ini Tomlah yang angkat suara.

Sejenak Ana memandangi Viona yang balas memandanginya dengan kening yang saling bertaut ketika mendadak kedua matanya membelalak sempurna.

"Tidak mungkin." Gumam Viona tak percaya.

"Aku punya alasan Tom dan alasan itulah yang membuatku kembali."

Sejenak Tom berpaling menatap Viona disampingnya ketika menyadari kalau gadis itu mulai terisak membuat Ana gantian membelalak.

"Astaga Vi, ada apa?" Tanya Ana khawatir.

"Kau tidak mungkin melakukannya." Ucap Viona disela tangisnya.

"Hah?" Ana tercengang tidak mengerti begitupun yang terlihat di wajah Tom.

"Kau tidak mungkin melakukannya karena aku kan?" Tanyanya semakin terisak dan Ana tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya bisa mengelus punggung Viona dengan lembut seraya menenangkan.

"Sebenarnya ini karena kau." Sebenarnya Ana hanya bermaksud menggoda Viona agar gadis itu bisa berhenti menangis tapi ternyata dugaannya salah. Viona semakin terisak tak terkendali. "Maaf... maaf... aku tidak bermaksud. Lagipula Vi, ini adalah jalan tercepat untuk mengumpulkan uang selain yang pernah kau lakukan."

"Tapi..."

"Jangan khawatir. Lagipula selama ini aku baik- baik saja."

Viona memandangi Ana perasaan haru dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.

"Oh Ana, aku minta maaf."

"Kenapa kau harus minta maaf?" Tanyanya seraya balas memeluk tubuh Viona.

"Kau banyak melakukan apapun untukku sementara aku sama sekali tidak melakukan apapun untukku."

Ana tersenyum lembut. "Menjadi sahabatku yang cantik, kurasa sudah lebih dari cukup."

"Aku memang cantik." Balasanya disela isakannya kemudian tertawa. "Aku menyayangimu, Ann. Kau sahabat terbaikku."

"Aku tahu." Lalu keduanya terkekeh.

"Maaf menyela. Adakah salah satu dari kalian yang bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tom mulai merasakan perasaan jengkel didalam dirinya atas ketidaktahuan ini dan semakin jengkel setelah melihat Vionanya- ya, mulai sekarang dia akan mulai mengklaim sahabat Ana itu menjadi miliknya mengingat Viona sudah tidak memiliki hubungan dengan siapapun- menitikkan air mata. "Kenapa Viona meminta maaf? Dan kenapa ini semua terjadi karena dirinya?"

Untuk sesaat Viona dan Ana saling bertukar pandang ketika Viona melihat Ana yang memberinya senyum menenangkan. Ana ingin Viona yang menjelaskan pada Tom.

Kemudian meluncurlah cerita dari bibir Viona termasuk di malam ketika Ana mendapatinya sedang bersama dengan pria genit yang bersedia membayarnya mahal agar bisa menemaninya setiap malam. Viona berpikir kalau Tom berhak tahu yang sebenarnya mengingat dia memiliki perasaan khusus pada pria itu.

"Dasar brengsek! Jadi kalian sama sekali tidak punya petunjuk dimana si pecundang itu berada?" Tom bertanya geram setelah mendengar penuturan Viona. Ana hanya membalasnya dengan anggukan pelan di kepala.

"Berapa banyak?"

"10.000 dollar tapi aku sudah mengumpulkan lebih dari setengahnya selama dua minggu ini."

"Astaga! Sebanyak itu?" Viona tampak kaget mendengar banyaknya uang yang telah dikumpulkan Ana dari setiap pertarungan yang dilakukan olehnya. Dia masih tidak menyangka kalau gadis yang sering dipanggil sebagai gadis aneh dan terlihat sangat lembut itu adalah seorang petarung handal yang sering dibicarakan.

"Jadi rumor yang mengatakan kalau taruhanmu tiga kali lebih besar itu benar?" Sahut Tom yang juga tidak menyangka kalau gadis yang duduk didepannya ini sanggup mengumpulkan uang dalam waktu singkat.

Sesaat dia menelusuri wajah Ana diam- diam. Gadis itu sama sekali tidak tampak seperti penyuka olahraga atau pertunjukkan keras tapi apa yang dilihatnya kemarin benar- benar. Itu semua bukan bagian dari khalayannya ataupun mimpi.

"Ya. Aku yang meminta Chad untuk menaikkan harganya."

"Wow. Apa kau tahu apa yang akan dikatakan Nick jika tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Belum lagi Ray yang sepertinya sangat penasaran dengan wajah asli Undefeated." Ujar Tom disertai kekaguman di wajahnya.

Seketika Ana memperlihatkan wajah meringgis, tidak suka. "Hm aku sedikit keberatan jika kalian memberitahu orang lain." Viona dan Tom kompak saling memandang, "maksudku aku sama sekali tidak bermaksud memberitahu siapa- siapa. Setelah uang yang ku kumpulkan cukup, aku justru bermaksud berhenti dari ini semua."

"Tapi ini akan sulit. Bagaimana kalau Nick akhirnya sampai tahu? Belum lagi dia sangat ingin bertarung dengan Undefeated."

Ana meringgis lalu menggigit bibir bawahnya kuat- kuat ketika mendengar nada lemah dari Tom.

"Kurasa sekarang aku mengerti apa maksud Nick dulu." Sahut Tom setelah lama memperhatikan tingkah laku Ana.

"Hah?" Ana baru akan menanyakan maksud Tom barusan ketika mendadak Ray dan Nick muncul entah darimana.

"Hai," Nick bertanya seraya mengambil tempat disamping Ana, pura- pura tidak melihat wajah terperanjat di wajah gadisnya. "Apa yang kalian bicarakan?"

Entah bagaimana Nick merasa yakin kalau ada yang sedang disembunyikan oleh gadisnya karena mendadak ia merasakan Ana bergerak gelisah meskipun senyum masih tersungging di wajahnya. Tom dan Viona bahkan tidak melihat kearahnya dan justru asyik bertanya pada Ray, terutama Viona yang tampak lebih semangat.

Ketika mendadak Ana meringgis kesakitan saat Nick yang tanpa diketahuinya menyentuh lengannya yang memang belum sembuh sepenuhnya.

"Kau tidak apa- apa?" Nick tampak terkejut dengan peluh yang tiba- tiba keluar dari kening Ana.

"Eh tidak apa- apa. Aku rasa aku membutuhkan minum. Aku juga merasa lapar."

"Kalau begitu, ayo kita makan. Aku juga sudah lapar." Timpal Viona dan langsung membawa Ana pergi.

***

Delapan hari berlalu dengan singkat semenjak kejadian di taman tempo hari. Uang yang dikumpulkan Ana juga sebentar lagi akan cukup. Itulah sebabnya dia meminta Chad agar tidak mengiyakan semua tawaran yang diberikan padanya.

Kebersamaan dengan Nick juga nyaris tidak pernah terlihat lagi dan hal itu disebabkan dengan banyaknya waktu yang harus Ana lakukan di D' Roses disela kesibukan kuliah dan ujiannya beberapa hari belakangan ini serta harus selalu menolak ajakan dari Nick dengan berbagai alasan.

Ana baru saja keluar dari perpustakaan ketika mendadak Viona menabrak tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. Beruntung dia tidak sampai terjatuh tapi Ana heran, bukankah seharusnya sahabatnya itu berada di kafe? Ini bahkan bukan jam dimana kafe milik Tom itu tidak sibuk.

Sebenarnya tanpa diketahui oleh Viona, diam- diam dia bersama Chad sering mencari keberadaan Leon di berbagai tempat dan sering pulang larut malam agar bisa mencari keberadaan pria brengsek itu tapi seperti seakan diketahui, Leon seakan- akan seperti lenyap ditelan bumi. Tak seorangpun yang mengetahui keberadaannya.

"Apa... Apa...apa itu benar?"

Ana terkekeh melihat Viona yang megap- megap kehabisan napas melihatnya.

"Bernapaslah dulu Vi. Aku masih disini. Mau minum?" Tawar Ana menyodorkan sebotol air mineral miliknya kearah Viona yang langsung di teguk oleh Viona dengan tandas.minumnya yang baru saja dikeluarkan dari dalam tasnya.

"Kemana saja kau?!" Tanyanya membuat kedua kening aneh seketika mengernyit. "Aku nyaris tidak bisa berbicara denganmu selama berhari- hari." Katanya dengan tatapan penuh menyelidik.

"Bukankah kita sibuk dengan ujian baru- baru ini?" Kerutan di kening Ana semakin bertaut. Bukankah dia sering menyempatkan untuk menyapa Viona terlebih dahulu sebelum dia pergi bersama Chad? Kenapa sekarang Viona menanyakan hal itu padanya?

"Aku tahu kalau kita sibuk argh sudahlah, ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa itu benar?" Kali ini Viona melihat Ana dengan tatapan prihatin.

"Apanya?"

"Ayolah Ana. Semua orang sedang membicarakannya selama beberapa hari ini."

"Apa sih yang sedang kau bicarakan?"

Viona menatap Ana seakan mencari kebenaran dalam mata sahabatnya itu kemudian mendesah pelan.

"Kau sudah putus dengan Nick, iyakan?"

"Eh? Apa? Darimana kau mendengarnya? Tentu saja tidak."

Kali ini gantian Viona yang terlihat bingung.

"Eh? Apa kau yakin? Maksudku apa hubunganmu dengannya baik- baik saja?"

"Tentu saja kami baik- baik saja. Apa sih yang kau ...." belum sempat Ana melanjutkan kalimatnya ketika pandangannya tertumbuk pada sosok yang baru saja lewat tidak jauh darinya.

Kedua matanya mengerjap memperhatikan sepasang yang tampak mesra dihadapannya. Ana tampak menyakinkan dirinya kalau sosok itu bukanlah Claire dan... Nick, ketika kesadaran menghantamnya. Itu memang Nick tapi kenapa dia justru mengandeng mesra pinggang Claire?

Apa- apaan ini?!

Ana merasa otaknya mendadak membeku tapi ada rasa sakit yang teramat sakit di dalam dadanya bahkan lebih ketika ia bersama dengan Jack dulu.

"Ann, ayo kita pergi dari sini."

Ana tidak tahu lagi kemana Viona membawanya tapi sebelum ia kehilangan kendali seperti yang dulu dilakukannya, mungkin jalan terbaik yang bisa dilakukannya adalah menyingkir untuk sementara waktu sebelum memutuskan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS