FIGHT - LIMA

"Kau di luar? Apa yang kau lakukan diluar pada tengah malam seperti ini?"

"Aku lapar dan juga membutuhkan sesuatu yang mendesak." Ana terpaksa harus memiringkan kepalanya, menyanggah ponsel diantara telinga dan bahunya sementara kedua tangannya meraba mencari sesuatu didalam tas ketika kemudian tersenyum. Roti yang tadi siang dibelinya di kantin kampus dan belum sempat dimakannya. Roti itu agak sedikit berubah bentuk dari wujud aslinya karena tertindih barang-barang yang memang sudah ada didalam tasnya tapi setidaknya masih layak makan.

"Apa kau sudah tidak punya persediaan makanan di dalam flatmu?"

Ana mengernyit dan mendelik tidak suka ketika mendengar suara penuh kemarahan yang dilontarkan oleh Nick di ponselnya.

"Kenapa kau jadi marah? Aku kelaparan dan ya. Bahan makananku habis, aku lupa membeli persediaan karena kau terus- menerus membawaku makan di luar jadi kenapa sebagai hasilnya kau marah hanya karena aku keluar di jam segini?" Ucap Ana ikut meledak.

Diseberang Nick mengerang frustrasi. "Apa kau tidak tahu seberapa berbahayanya di luar pada malam hari?"

"Aku bisa menjaga diri, okey? Dan sepanjang yang aku ingat, aku baik- baik saja."

"Jadi sebelum bertemu denganku, kau selalu melakukan ini?"

"Astaga Nick!" Ana mengerang frustrasi. "Aku baik- baik saja. Tidak bisakah kau berhenti marah padaku?" Dan menghentikan semua kekhawatiranmu yang tidak masuk akal itu?

"Aku tidak marah padamu. Aku hanya kaget. Kupikir tadi kau sudah tidur dan hanya ingin mengecek."

Mau tidak mau Ana tersenyum mendengar penuturan Nick padanya. Ya, selama dua minggu sejak dia memutuskan untuk mencoba bersama Nick. Tidak sedikitpun mereka melewatkan pertengkaran yang kebanyakan di dominasi oleh kekhawatiran Nick yang menurut Ana berlebihan. Memang apa yang akan terjadi padanya? Di culik? Itu tidak mungkin mengingat Ana bukan berasal dari kalangan elit toh dia juga bisa...

Untuk sesaat Ana melirik jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan lewat dini hari ketika kembali tersenyum. "Apa itu artinya kau menang lagi malam ini?" Tanyanya menggoda. Dia tahu kalau malam ini Nick bertanding. Semenjak kejadian di kantin kampus dimana Ana menolak ajakan Nick untuk melihatnya bertanding, sejak itu pula Nick tidak pernah lagi mengungkitnya meskipun Ana tahu kalau Nick ingin sekali dia datang dan mendukungnya.

"Ya...oh, kau berusaha mengalihkan pikiranku lagi, iyakan?"

Ana terkekeh. "Tentu saja tidak." Tentu saja itu yang dilakukannya saat ini.

"Jangan coba- coba memperdayaiku kali ini Anastasia." Ancam Nick diseberang semakin membuat Ana terkekeh.

"Itu yang sering kulakukan."

Nick mendesah. "Hufff kurasa aku yang lebih menyukaimu dibandingkan kau yang menyukaiku."

"Dan aku merasa beruntung karena itu. Terima kasih karena lebih menyukaiku"

Nick terdiam. "Sejak kapan kau mulai sesombong ini huh?" Tanya Nick tapi Ana tahu kalau disebarang Nick tersenyum.

Semakin hari mereka bersama, Nick semakin tahu sifat- sifat Ana yang tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain seperti ketika Ana tertawa, ada dua lesung pipit yang sangat kecil di pipinya dan suara tawanya sering kali seperti melodi di telinga Nick tapi yang paling Nick sukai adalah memandang warna abu- abu matanya ketika Ana melepas kacamatanya dan menatap balik Nick. Seakan- akan mengatakan kalau Ana adalah miliknya. Dalam hati Nick bersyukur, dialah yang pertama melihatnya dan bukannya laki- laki lain. Nick tidak bisa membayangkan tawa dan tatapan Ana untuk laki- laki lain.

"Aku memiliki pria terpopuler di penjuru kampus. Mana mungkin aku tidak merasa sombong."

Dari sekian banyak kata- kata yang mereka keluarkan, ini pertama kalinya Ana mengatakan kalau Nick adalah miliknya.

"Wah Anastasia, kau benar- benar mahir menghilangkan amarah orang lain heh?"

Ana tertawa mendengar jawaban yang hiperbola dari pria diseberang dan apapun itu, setiap kali Nick mendengar suara tawa Ana seketika itu pula perasaan buruk dalam hatinya mendadak lenyap.

"Jadi apa yang kau beli sehingga kau lebih memilih keluar tengah malam seperti ini dan tidak memperhatikan keselamatanmu?" Tanya Nick kemudian.

"Hanya beberapa perlengkapan yang sangat amat mendesak."

"Hm, kau semakin membuatku penasaran."

"Oh bukan sesuatu yang penting. Di mana kau?"

"Aku masih di jalan?"

"Di jalan?"

"Oh tenanglah Anastasia, aku memakai earphone."

Nick tahu kalau Ana tidak setuju dengan kebiasaan dirinya yang selalu menerima telpon dalam keadaan menyetir mobil. Ketika itu terjadi Ana langsung memberinya tatapan tidak suka dan dengan keras kepala menolak untuk diantar kemanapun oleh Nick.

"Aku tidak mengatakan apa- apa." Elak Ana meskipun dalam hati merasa geli.

Nick terkekeh. "Hm, sayang, aku akan menghubungi lagi nanti."

"Okey."

Ana baru saja menutup telponnya ketika tiba- tiba saja beberapa pria berada didepannya, menahan dirinya untuk melangkah.

"Apa kau Ana Williams?" Salah seorang diantara mereka- dengan tubuh besar dan beberapa tato yang terlihat jelas dilengannya, menambah kesangarannya. Sejenak Ana mengalihkan pandangannya dan melihat ada lima orang pria dengan tubuh yang tiga kali lebih besar dari tubuhnya sedang memberinya tatapan intimidasi.

"Ya. Apa yang bisa..."

Bukkk.

Mendadak salah satu dari mereka langsung memukul perut Ana. Ana yang tidak siap dengan serangan mendadak seketika tersungkur ke tanah dan semakin merasa berkunang karena kram perut yang berusaha ditahannya daritadi.

"Sial! Apa yang kau lakukan?!" Geram Ana berlutut menahan sakitnya. Dia tidak peduli lagi dengan kacamatanya yang telah pecah karena diinjak salah seorang diantara mereka ketika rahangnya direngkuh dengan paksa hingga Ana harus menatap wajah pria yang Ana tebak sebagai ketua.

"Hm kau cantik tapi sayang sekali perintah hanya diberikan untuk memberimu pelajaran." Ucap pria itu yang diikuti suara tawa teman- temannya.

Ana memberikan tatapan penuh kebencian. "Aku sudah cukup mendapatkan banyak pelajaran beberapa tahun terakhir ini. Aku tidak membutuhkan pelajaran tambahan terutama dari kali... uhuk."

"Hahaha gadis kecil ini ternyata masih punya keberanian untuk membalas."

Sebelum pria itu menyadari, Ana langsung melayangkan tinjunya ke wajahnya dan menyeringai ketika mendapati wajah terkejut para penyerangnya. Detik selanjutnya Ana melompat melewati pundak penyerang yang tadi ditinjunya dan melayangkan tendangannya ke dua orang penyerang yang lainnya.

"Dasar gadis kurang ajar!" Geram penyerang yang lainnya dan langsung menendang Ana yang sempat kehilangan keseimbangan membuatnya kembali tersungkur. Dia bisa merasakan rasa asin dan karat disudut bibirnya ketika kedua lengannya dipegang di masing- masing sisi.

"Gadis ini." Pria yang tadi di tinju Ana menamparnya dengan keras. "Tidak kusangka aku akan menerima pukulan dari gadis sepertimu."

"Apa itu membuatmu terkejut?" Ana mencibir. "Kutebak orang yang menyuruhmu sama sekali tidak mengetahui kalau dia mengirim preman-preman tidak berguna seperti kalian."
Kelimanya saling menatap ketika kembali Ana menerima pukulan telak di perut. Matanya seakan bergolak menahan sakit yang semalaman ini dia rasakan.

"Kurasa itu bisa membuatmu belajar untuk tutup mulut." Ucapnya tanpa memperdulikan Ana yang sementara terbatuk- batuk, menahan perih.

"Jadi siapa yang menyuruh kalian?" Ana berusaha mencari celah untuk kembali menyerang penyerangnya. Tempat mereka sangat sepi dan tidak mungkin jika ada orang yang masih berlalu lalang di jam yang seperti ini.

Mereka berlima memberikan Ana senyum mengejek dan pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Ana. Ana bisa mencium bau menyebak dari mulut pria itu, membuatnya ingin muntah.

"Sayang sekali sayang, kami tidak dibayar untuk memberitahumu tapi sepertinya gadis itu sangat membencimu." Bisiknya.

Gadis?

"Dan sejujurnya aku merasa sayang jika harus memukulmu sayang. Jadi bagaimana kalau kau ikut bersama kami dan melewatkan malam ini bersama kami."

Ana tersenyum mengejek. "Sayang sekali sayang, karena aku sama sekali tidak tertarik menghabiskan malam atau bahkan semenit bersama kalian." Balas Ana mengikuti nada bicara pria tadi. "Dan gadis yang menyuruh kalian juga sama pengecutnya. Seharusnya dia memperkejakan orang yang kompeten dalam bidangnya dan bukannya menyuruh 5 orang pria tidak berguna hanya untuk menghajar seorang gadis."

Salah satu dari mereka seketika langsung menampar wajah Ana lagi dan meringgis ketika merasakan rasa asin itu lagi.

"Sepertinya tamparan tidak cukup untuk membuatmu diam. Sepertinya mulutmu perlu diberi lebih dari sedikit pelajaran."

Kemudian secara bergantian mereka memukul perut Ana dan menampar wajahnya. Dia sudah tidak tahu yang mana lebih sakit di tubuhnya dan bertekad jika ia tahu siapa yang menyuruh mereka, dia tidak akan melepaskannya.

"Brengsek! Apa yang kalian lakukan padanya."

Dalam waktu sepersekian detik, Ana merasa seperti mengenali suara itu tapi juga terasa jauh. Ketika ia merasakan kedua tangannya dilepas, membuatnya tersungkur ke aspal yang dingin.

Lima menit...

Sepuluh menit...

Ana tidak tahu berapa lama dia berada diatas aspal ketika tubuhnya mendadak dibalik oleh seseorang, membuatnya meringgis kesakitan.

"Anastasia. Hei sadarlah... sial!"

Dan detik itu pula kegelapan mengambil alih.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS