FIGHT - SATU

Ana baru saja menempatkan pantatnya diatas kursi ketika disaat yang bersamaan dia juga mendengar suara- suara keras mengenai dirinya.

"Lihat tuh si nerd dah datang. Heran deh kok bisa ya kita sekampus dengan dia bikin malu- maluin ruang kelas kita aja."

Ana memilih untuk tidak menghiraukan gadis manja nan sok cantik itu. Dia sudah biasa mendengar gadis itu membicarakan dan menertawakan dirinya bersama sekumpulan gadis- gadis lain dan lebih memilih untuk membuka tasnya, bermaksud untuk mengeluarkan buku catatannya ketika kembali dia mendengar suara didekatnya.

"Hei, pindah!" Perintah suara yang tidak asing di telinganya.

Ana terpaksa menengadahkan kepalanya dan mendapatkan gadis dengan tampilan layaknya orang- orang yang sedang mengadakan fashion show. Lipglos bertebaran dimana- mana.

"Kamu mau duduk di sini Claire?" Tanya Ana sopan pada gadis yang baru saja memerintahkannya untuk minggir.

"Tentu saja. Memang aku mau mengeluarkan suaraku hanya untuk berbicara denganmu?" Balas gadis itu.

Tanpa disuruh dua kali, Ana membereskan mejanya dan berjalan menuju kursi belakang. Baru ketika hendak ia melangkah secara tiba- tiba kakinya tersandung entah kaki siapa dan sialnya dia menabrak seseorang yang dikenal sebagai pria paling populer di kampusnya.

"Maaf" Ana membungkukkan badannya untuk meminta maaf dan terdiam seraya menggigit bibir bawahnya ketika menyadari kalau pria itu justu memberinya tatapan penuh amarah.

Dibelakangya, Ana bisa mendengar tawa Claire dan teman- temannya.

Tidak boleh, tidak boleh. Batin Ana menenangkan dirinya.

"Hati- hati Anastasia." Kata pria itu penuh penekanan tapi bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini melainkan fakta bahwa pria yang diketahui namanya sebagai Nick baru saja menyebutnya dengan nama panjangnya.

"Woi nerd, mau sampai kapan kau berdiri di situ?"

Ana tersadar dan melihat Ray yang melotot padanya. Cepat- cepat dia mengambil bukunya yang tadi terjatuh dan menjauh untuk mengambil tempat duduk paling belakang.

"Apa kau melihatnya?Si nerd bahkan tertegun melihat Nick." Terdengar kasak- kusuk di sekelilingnya.

"Wajar saja. Siapa sih yang bisa menolak pesona Nick? Dia cowok paling populer di kampus ini."

"Ya. Belum lagi dia juga petarung yang handal. Apa kau melihatnya ketika bertarung? Astaga, lawan- lawannya tidak ada apa-apanya jika dia yang berada diatas arena."

"Apa benar dia pacaran dengan Claire?"

"Entahlah tapi siapapun yang menjadi pacar Nick pasti sangat beruntung."

"Aku sangat berharap itu aku"

"Aku juga"

"Hai Nick". Sapa Claire genit ketika dia sudah berada di atas meja Nick.

"Claire." Balas Nick pendek.

"Apa malam ini kau bertanding lagi?"

"Tidak."

"kalau begitu, apa kau ingin makan malam denganku?"

"Maaf Claire. Aku harus ke tempat Ray dan Tom malam ini."

"Kalau begitu aku ikut ya?"

Nick mengernyitkan dahinya. "Apa kau yakin? Terakhir kali kau ke sana, kau bosan setengah mati."

"Eh itu..." Claire tergagap.

"Ada baiknya kalau kau tidak usah ikut, Claire. Sama sekali tidak ada yang menarik disana." Kata Ray menimpali.

"Ray betul Claire. Tidak ada yang menarik di sana. Hmm aku akan memberitahumu kalau Nick bertanding, bagaimana?" Usul Tom di sampingnya.

Sejenak Claire tampak terlihat berpikir. "Baiklah. Sampai jumpa, Nick." Putus Claire akhirnya dan berjalan meninggalkan tempat itu setelah mendaratkan ciumannya ke pipi Nick membuat Tom dan Ray terkekeh.

"Kau seharusnya tidak menjanjikan apa- apa padanya." Desah Nick pada Tom, tidak suka.

"Apa kau lebih memilih dia tetap berada disini? Duduk di atas mejamu?"

"Aku lebih memilih dia berhenti bersikap tidak masuk akal padaku."

Tom dan Ray tertawa.

"Menurutku dia cantik. Kenapa kau tidak pacaran saja dengannya?" Tanya Ray penuh selidik.

"Bukan tipeku." Jawab Nick singkat.

"Jadi apa tipemu yang seperti itu?" Ray mengarahkan pandangannya kearah Ana yang duduk sendirian di sudut, sedang membaca bukunya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Mereka sama- sama memperhatikan bagaimana Ana selalu menunduk dengan rambut hitamnya selalu menutupi sisi wajahnya.
Tanpa sadar Nick tersenyum.

"Oh tidak. Jangan sampai si nerd itu. Kau jangan menyukainya Nick. Apa yang akan dikatakan cewek- cewek cantik itu jika kalian pacaran?" Ujar Tom tidak percaya.

"Menurutku mungkin itu malah terlihat menarik." Balas Ray.

"Kita akan melihatnya." Lanjut Nick yang membuat Tom melonggo tidak percaya. Ray hanya terkekeh melihatnya.

.
.

2 bulan yang lalu...

"Mereka berdua ini. Katanya mereka sudah dekat tapi sampai sekarang bahkan batang hidung mereka pun tidak kelihatan." Geram Nick yang sedari tadi menunggu kedatangan Ray dan Tom.

"Ana akhirnya Leon memintaku untuk menjadi pacarnya!" Nick mendengar pekik kegirangan seorang cewek tidak jauh dari tempatnya.

"Wah benarkah? Jadi apa itu artinya kalian telah resmi pacaran?" Tanya cewek yang satunya. Nick tidak bisa melihat wajah cewek itu karena tertutupi rambut meskipun sesekali dia memperhatikan gadis itu sering memperbaiki letak kacamatanya.

"Tentu saja. Hari ini kita ke Kings yuk. Aku yang teraktir."

"Asyik." Sorak gadis itu.

Entah mengapa suara tawa gadis itu terdengar renyah di telinganya. Diam- diam kearah mereka, berusaha agar keduanya tidak menyadari kehadirannya. Dia masih belum puas mendengar suara itu lagi l dan jika beruntung dia mungkin bisa mendengar tawa gadis berambut panjang itu.

"Ann, apa kau tidak merasa gerah dengan rambut yang selalu digerai." Tanya temannya yang Nick ketahui bernama Viona. Gadis itu berperawakan mungil dan manis dengan rambut panjang pirang.

"Lebih nyaman seperti ini". Balas gadis itu pelan.

"Tahukah kau apa perkataan orang-orang tentangmu? Orang- orang memanggilmu dengan sebutan nerd karena penampilanmu ini."

"Biarkan saja mereka seperti itu."

"Kau tidak pernah berpenampilan seperti ini ketika kita SMP dulu."

"Hm mungkin aku cuma mau suasana baru."

"Suasana baru kau bilang? Ahh sudahlah. Aku punya karet di tasku. Ikat rambutmu paling tidak didepanku. Aku tidak mau melihatmu sebagai nerd di dekatku."

"Apa itu membuatmu menjadi risih Vin- vin?" Goda gadis itu.

"Anastasia! Aku sedang tidak ingin bercanda." Hardik Viona marah.

"Okey okey. Aku akan melakukan apapun seperti yang kau minta tuan putri. Dasar tukang paksa!" Gerutunya tapi tidak urung mengambil karet yang disodorkan kepadanya.

Nick terus saja memperhatikan gadis yang dipanggilnya Ana itu melepas kacamatanya lalu mengikatnya rambut hitamnya dengan asal- asalan menjadi ekor kuda sehingga yang tersisa hanya berupa anak rambut ketika tubuhnya seketika membeku
melihat pemandangan di depannya terlebih lagi ketika matahari sore menerpa kulit lehernya yang jenjang, membuat darahnya seketika berdesir.

"Sori Nick. Tadi mobil Ray mogok jadi terpaksa kami ke bengkel dulu. Eh apa yang kau lihat?" Tanya Tom dan langsung membuat Nick tersadar.

"Oh tidak ada apa- apa. Ayo." Jawabnya cepat- cepat seraya menarik kedua sahabatnya menjauhi tempat tadi.

Dia masih belum mau memberitahukan keberadaan gadis itu. Gadis yang secara mendadak membuat pikirannya menjadi campur aduk dan hampir saja kehilangan kendali dan sebagian dari dirinya juga tidak ingin membagi gadis itu dengan orang lain, tidak juga dengan kedua sahabatnya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS