FIGHT - SEBELAS

"Jadi karena temanmu, salah maksudku sahabatmu yang bernama Viona ini membutuhkan uang karena pacarnya yang brengsek itu meminjam uang pada lintah darat jadi kau memutuskan untuk ikut andil membayar utangnya? Begitu?" Tanya Chad pada Ana keesokan harinya.

"Yep. Kurang lebih seperti itu."

Chad memberi Ana tatapan tak percaya. "Apa kau tidak bisa membantunya dengan cara lain saja?"

"Menurutmu dimana aku bisa mendapatkan uang banyak dan cepat selain ini?" Sungut Ana seraya menyesap colanya.

"Tapi tetap saja, setahun yang lalu kau hampir saja membunuh petarung lain karena tidak bisa mengontrol emosimu karena kematian ayahmu. Apa kau yakin kau bisa melakukannya?"

Pikiran Ana menerawang ke kejadian dimana dia hampir membunuh petarung lain hanya karena Jack beserta orang- orang suruhannya menahan Ana untuk pergi melihat Eddie karena tepat pada saat itu taruhan dalam pertarungan yang dilakukannya itu sangat tinggi. Jack tidak ingin mengalami kerugian dan sebagai akibatnya Ana melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada petarung dan orang- orang suruhan Jack.

Dia memukul dan melawan semuanya petarung tanpa berpikir. Ana marah pada ayahnya, marah pada Jack, marah pada pertandingan yang saat itu dilakukannya dan marah pada dirinya sendiri.
Tentu saja pada waktu itu pertarungan berlangsung lebih seru dari biasanya. Jack menerima uang lebih banyak tapi Ana sama sekali tidak merasakan apa- apa. Seandainya pada waktu itu Chad tidak naik ke arena dan menghentikannya, Ana bisa saja berakhir di dalam penjara dengan tuduhan membunuh orang tapi hal itu tidak terjadi dan Ana hanya diharuskan membayar biaya rumah sakit.

"Ya. Aku bisa melakukannya eh bukan aku harus bisa melakukannya." Putus Ana mantap.

Chad sekali lagi menatap Ana seakan meminta kepastian ketika dia menghela napasnya.

"Baiklah. Tapi ingat, apapun yang terjadi jangan pernah melibatkan emosi atau perasaanmu, okey?"

Ana mengangguk.

"Well, kurasa kita perlu mendatangi Jack jika kita membutuhkan banyak uang dalam waktu singkat. Apa kau bisa?"

Sekali lagi Ana mengangguk.

"Apa teman- temanmu tahu kau siapa?"

Ana mengernyit dan menggelengkan kepalanya.

"Pacarmu itu?"

"Tidak Chad. Tidak ada seorangpun teman- teman kuliahku termasuk Viona dan Nick yang tahu."

"Oh pasti mereka akan sangat terkejut jika melihatmu berada di arena dan bertarung. Undefeated akan bertarung lagi. Bisa kau bayangkan bagaimana ramainya nanti itu?" Serunya membayangkan.

Kening Ana berkerut. "Kurasa aku tidak sepopuler itu, Chad. Okelah beberapa tahun yang lalu Undefeated memang popular tapi aku ragu orang- orang akan mengingatnya."

Mendadak Chad menyunggingkan senyumnya. "Oh sayang, kau akan terkejut mengetahui masih banyak petarung- petarung lain yang menunggu untuk melawanmu. Jadi apa kau sering berlatih?"

"Berlatih?"

"Kau tidak mungkin bilang kalau kau tidak pernah melatih gerakanmu setahun belakangan ini, kan? Kau bisa dengan mudah cedera."

"Oh aku kadang lari."

Kening James berkerut curiga. "Berapa kali dalam seminggu?" Tanyanya.

"Hm, dua kali dalam seminggu, kurasa. Bisa juga lebih kalau aku terlambat ke kampus."

James melotot. "Kau bercanda dua kali dalam seminggu dan kadang lebih jika apa tadi? Ke kampus? Jangan main- main Ann dan kau ingin bertarung secepatnya?"

"Oh ayolah Chad, tidak seburuk itu. Beberapa minggu yang lalu aku pernah berkelahi dengan preman dan beberapa suruhan Jack dan semuanya... ya, baik- baik saja."

James menarik napas kemudian menghembuskannya, lelah. "Baiklah. Kurasa itu bisa dihitung dan kenapa Jack menyuruh suruhannya mendatangimu?"

"Dia ingin aku kembali bekerja untuknya."

"Hm, tidak heran mengingat kau aset yang sangat menguntungkan baginya dan tadi kau bilang preman? Preman apa?"

"Oh hanya orang- orang yang salah paham."

"Salah paham?"

"Oh ayolah Chad. Bukan masalah besar jadi apa kau mau membantuku?"

"Menjadi manajermu lagi? Tentu saja aku mau. Aku akan menemui Jack dan mengatakan ini padanya. Biar bagaimanapun kita membutuhkan bantuan orang itu jika ingin cepat mendapat uang."

"Baiklah. Kuserahkan padamu."

"Tentu sayang. Aku juga penasaran bagaimana dirimu selama setahun belakangan ini."

Ana tersenyum menimpali. "Aku tidak akan mengecewakanmu."

"Itu jawaban yang ingin kudengar."

"Baiklah. Aku harus pergi."

"Menemui Nick?"

"Ya. Sampai nanti Chad dan hubungi aku nanti."

"Tentu."

Ana baru saja melangkahkan kakinya ketika Chad memanggilnya lagi.

"Apa yang akan kau lakukan jika lawanmu adalah Nick?" Tanyanya.

Ana langsung tersenyum. "Justru karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Jangan biarkan dia menjadi lawanku. Aku tidak yakin bisa melawannya jika itu adalah dia."

"Karena dia hebat?"

Ana mengangkat bahunya. "Ya. Tapi lebih dari itu karena dia adalah Nick."

"Tidak pernah kusangka akan melihatmu akhirnya jatuh cinta pada seseorang."

"Aku senang bertemu denganmu, Chad."

"Aku juga, sweetheart."

***

"Kemana saja kau?" Viona langsung mencecar Ana dengan pertanyaan mendadak setibanya dia di apartemen Viona.

"Apa Nick sudah datang?" Tanya Ana.

"Ya. 30 menit yang lalu. Dari mana saja kau? Aku menghubungi nomormu tapi justru tidak aktif."

"Maaf. Baterai ponselku habis."

Viona terdiam lalu sengaja memelankan suaranya. "Terus terang dari tadi Nick menanyakan keberadaanmu."

"Terima kasih, Vi." Ujar Ana seraya melangkahkan kakinya menuju ruang tengah apartemen Viona.

"Ana, kemana saja kau?" Tanya Ray membuat Tom dan Nick seketika mendongak dari tempatnya.

"Maaf. Aku Ada urusan mendadak. Eh, ada apa?" Ana bertanya bingung ketika merasakan mendadak suasananya menjadi mencekam.

"Ana, apa selama ini kau punya pacar selain Nick?" Kali ini Viona yang mengambil alih.

"Hah, apa? Tidak." Dia tidak mengerti darimana pemikiran Viona berasal ketika ia mendengar suara Nick.

"Apa kalian bisa meninggalkan kami berdua?" Pinta Nick yang langsung disetujui tanpa suara oleh ketiga orang itu.

"Ada apa?" Tanyanya bingung ketika hanya tinggal mereka berdua.

"Kemana kau?" Tanya Nick langsung.

"Menemui teman."

"Teman? Teman seperti apa?"

"Apa sih yang kau bicarakan, Nick?"

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentangku?"

"Hah? Apa yang kupikirkan tentangmu? Apa yang kau bicarakan?"

"Katakan kau mencintaiku."

"Apa?"

"Katakan kau mencintaiku. Selama ini aku tidak pernah mendengarmu mengatakan kalau kau mencintaiku."

"Ada apa denganmu? Kenapa tiba- tiba kau mengatakan hal ini?"

"Karena aku ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya."

Jeda sesaat. Dia bingung dengan sikap Nick hari ini. Apa ada yang terjadi? Dia tidak bisa bertarung lagi?. Batinnya terus menelaah keadaan.

"Aku mencintaimu." Ucap Ana langsung.

"A..apa?"

"Aku mencintaimu Nick." Ulangnya

"Apa... Apa kau serius?"

Ana mengerutkan keningnya semakin bingung.
"Tadi kau memintaku untuk mengatakan apa yang kurasakan dan yang kurasakan adalah aku mencintaimu. Aku tidak mungkin memutuskan untuk berpacaran denganmu jika aku tidak menyukaimu."

Nick terdiam, mencari kebohongan dalam diri gadis dihadapannya yang tak ditemukannya sama sekali ketika dia tersenyum dan tanpa pemberitahuan segera memeluk tubuh gadisnya dan mengecup puncak kepalanya, merasa sangat senang.

"Ngomong- ngomong kenapa kau tiba- tiba mengatakan hal itu?" Tanya Ana di sela- sela dia menerima pelukan Nick.

"Tidak Ada. Hanya ingin mendengar dari mulutmu saja."

"Dasar bodoh." Ucap Ana tapi justru semakin mempererat pelukannya ke tubuh Nick. "Aku mencintaimu, Nick."

"Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Anastasia."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS