FIGHT - SEMBILAN BELAS

Mengindahkan perasaan marah dan jijiknya, Nick terpaksa harus melakukannya.

Sampai sekarang dia masih tidak mengerti akan hubungan yang terjalin antara pria itu dan gadisnya tapi sepanjang yang dia lihat dulu dimana Jack tanpa sungkan menempelkan bibirnya pada bibir Ana membuatnya menyadari satu hal. Ana tidak mungkin tidak mengenal sosok pria yang saat ini sedang duduk diantara mereka.

Jack tampak sangat pongah menatap kearah Nick seakan- akan dia ingin menguji kesabaran pria itu. Dia tahu Nick masih menginginkan pertarungannya dengan Undefeated terjadi tapi itu tidak akan mungkin, Undefeated sudah menekankan padanya melalui Chad untuk tidak akan menerima tantangan dari Nick. Kadang terlintas dalam benaknya untuk mempertemukan mereka saja tepat di arena, itu mungkin akan membuat keuntungan yang diterimanya semakin berlimpah ganda.

"Maaf tapi seperti biasa, aku tidak bisa mempertemukannya denganmu." Ucap Jack tidak memperdulikan bayangan uang yang mengalir di depan matanya.

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan."

Kedua kening seketika saling bertaut. "Kalau begitu aku akan bicara dengannya."

Jack tertawa keras. "Dia tidak akan mau."

Kerutan di kening Nick semakin dalam. "Kau begitu yakin akan hal itu. Apa aku mengenalnya?"

"Nick." Seru Tom pelan.

Satu hal yang tidak dimengerti oleh Nick daritadi adalah sikap Tom yang sepertinya terlalu sering menahan dirinya untuk tidak mengungkit tentang Undefeated. Mungkin diawal dia masih mendukungnya tapi entah kenapa akhir- akhir ini Nick merasa kalau Tom lebih sering menghindar.

"Masih banyak petarung lain yang lebih menginginkan dirinya" lanjut Jack tanpa sama sekali terganggu dengan pembicaraan yang terjalin antara Tom dan Nick. "Sebaiknya kalian keluar."

Nick masih tidak ingin kalah. "Kau mungkin bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan jika kami bertarung. Apa kau tidak tergoda dengan itu?"

Jack menghela napasnya pendek. "Itulah yang kukatakan padanya tapi dengan keras kepala menolaknya."

"Kenapa dia menolaknya?"

"Itu karena dia..."

"Sudahlah Nick, ayo kita pergi. Tidak ada gunanya membujuknya lagi." Tom tampak sangat memaksa ingin keluar dari tempat Jack.

"Tapi aku akan membuat kalian bertarung." Janji Jack kemudian membuat Tom membelalak tidak percaya.

"Kau tidak bisa melakukannya" sergah Tom tidak sadar.

Jack kembali tertawa. "Bisnis tetap bisnis anak muda dan apa yang dikatakan oleh temanmu tadi cukup mempengaruhiku jadi ya, aku menyetujui kau bertarung dengannya."

Tom nyaris tidak dapat mengendalikan kemarahannya. Sudah jelas apa yang akan terjadi diatas arena jika Nick dan Ana dipertemukan.

Nick tersenyum penuh kemenangan dan baru akan beranjak bersama Ray dan Tom yang masih tidak percaya ketika mendengar suara marah diluar pintu.

"Buka pintunya sekarang juga."

"Maaf Undefeated tapi Jack sedang menerima tamu."

"Apa aku tampak peduli? Sekarang buka pintunya."

"Tapi..."

"Apa kau mau aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan di depan sana? Sekarang. Buka. Pintunya!"

Hening beberapa saat.

"Brengsek!"

Seketika pintu menjeblak terbuka menampilkan Ana dalam balutan jaket yang biasa dikenakan oleh Undefeated. Kedua matanya menyiratkan kemarahan yang sangat besar pada sosok Jack didepannya.

"Apa. Yang. Baru. Saja. Kau. Lakukan, Jack?"

Suara Ana tenang namun sangat berbahaya dan Jack tidak bodoh untuk tidak menyadari bahaya yang mengancamnya. Hal ini pernah terjadi dan itu ketika Ana menangkap basah dirinya sedang berada dibawah seorang wanita tanpa sehelai benang pun.

Nick menolehkan kepalanya setelah melihat Tom yang terkesiap melihat penampilan Ana dan Ray hanya menatapnya dengan bingung antara dirinya, Ana kemudian Jack.

"Apa yang kau bica..."

Brukkk.

Ana langsung menghantankam kepalan tangannya kearah Jack yang tampak tidak menduga pergerakan Ana yang cepat. Nick bahkan tidak sempat melihat Ana bergerak melewati meja ketika tiba- tiba Jack mundur dan menghantam dinding dibelakangnya.

"Aku sudah pernah memperingatkanmu sebelum ini, Jack," ujar Ana dalam suara dingin. "Jangan pernah menganggu hidupku lagi dan kau menggunakan orang lain untuk menarikku kembali? Do not play a game with me, Jackie."

"What are you talking about?"

"I am talking about how you lie to me. Aku sudah menghajar Leon dan tahukah kau apa yang dikatakannya?" Ana semakin menekankan cengkraman tangannya di leher Jack, membuat pria itu kesulitan bernapas. "Dia menyebut namamu. Dia mengatakan kalau kaulah yang merencanakan ini semua. Bukankah itu menunjukkan seberapa kuat darah aktor dalam dirimu, iya kan?"

"A-Ana.. " Jack berusaha melepaskan dirinya tapi semakin keras Jack meronta semakin kuat pula cengkraman di tangan gadis itu.

"Apa kau lupa? Tidak ada nama Ana di ruangan ini yang ada adalah Undefeated dan kau sudah salah mencari masalah denganku."

"Ann, aku bisa menjelaskan semuanya. "

"Hanya satu yang perlu kau jelaskan padaku. Apa utang Leon itu benar?"

"Tenanglah, Ann."

"Ya atau... tidak?"

"Tidak," Leon mengerang kesakitan. "Tidak. Itu hanya karanganku."

"Kau memang brengsek!" Bukkk dan sebelum Jack pulih dari rasa sakitnya kembali Ana menendang perutnya hingga dia tersungkur memuntahkan darah.

"Mulai sekarang jangan pernah menemui atau menghubungiku lagi jika kau masih sayang dengan tubuhmu. Jika kau melakukannya, akan kupastikan kau tidak bisa berada di atas pelacur-pelacur itu lagi."

Semuanya terperangah melihat kejadian di depannya. Mulut Ray terbuka lebar mengetahui identitas Undefeated yang sebenarnya. Nick berusaha mencocokkan figur Undefeated yang di ketahuinya dan yang berada tidak jauh dari hadapannya ketika tiba- tiba laki- laki yang pernah dilihatnya bersama Ana dulu terkejut ketika melihatnya.

"Oh tidak." Pekik Chad panik melihat keadaan disekelilingnya dan terperangah melihat Jack yang nyaris tidak mampu bergerak.

Ana berbalik dan saat itulah pandangan mereka bertemu.

"Kau... Undefeated."

Membuat kedua mata Ana sontak terbelalak karena terkejut.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS