FIGHT - SEMBILAN

Viona heran mendapati orang- orang melihatnya dan Ana dengan pandangan aneh keesokan harinya tapi Viona juga sedikit menangkap pandangan terkesima yang ditujukan terutama pada gadis yang berada disampingnya itu.

Viona sengaja menoleh dan sepanjang yang dia ketahui sendiri, tidak ada yang berubah dari penampilan Ana hari ini kecuali dia tidak menggunakan kacamatanya. Ana memberitahunya kalau kacamatanya pecah karena terjatuh. Ini kedua kalinya sepanjang yang dia ingat, sahabatnya itu tidak menggunakan kacamatanya dan sejujurnya Viona juga merasa senang. Entah sudah berapa kali Viona menyuarakan kalimatnya agar Ana tidak lagi menggunakan kacamata karena setahunya penglihatan Ana masih baik- baik saja tapi seperti biasa Ana memilih untuk tidak menghiraukannya.

"Apa kau sudah selesai memandangku?" Ana tersenyum memperlihatkan lesungnya ketika mendapati Viona yang sedang memandangnya lama.

"Kau tahu, aku heran denganmu. Kenapa dalam kurun satu bulan ini kacamatamu selalu pecah?"

"Ya kau tahulah bagaimana diriku. Aku kan orangnya sangat ceroboh." Jawabnya tersenyum.

Viona hanya bisa menggelengkan kepalanya. Di satu pihak dia tidak mengerti sikap sahabatnya itu dan sejak kapan seorang Anastasia bisa menjadi ceroboh. Setahu Viona, sahabatnya itu nyaris mendekati sempurna bak malaikat tapi ada suatu hari dimana Ana akan menunjukkan wajah iblisnya dan itu adalah ketika ia sangat marah dengan sesuatu. Wajahnya akan menampakkan wajah iblis non ekpresi seakan- akan Ana akan mencabut nyawa orang yang sudah membuatnya marah.

Viona masih ingat ketika melihat kemarahan pertama yang dikeluarkan oleh Ana. Saat itu mereka masih satu sekolah di Junior School sebelum Viona memutuskan pindah mengikuti orang tuanya. Saat itu salah satu teman sekolahnya, yang terkenal dengan rumor suka melecehkan perempuan dengan sengaja menyingkap rok Ana dan tanpa diduga Ana langsung menghajar cowok itu sampai hidungnya patah. Viona ingat bagaimana dinginnya wajah Ana ketika meninju wajah cowok itu dan sejak saat itu tidak ada seorangpun yang berani membuatnya marah tapi yang justru membuat bingung adalah semua lawan jenis justru malah berbalik menyukai Ana, hingga kemudian dia mulai dijuluki Beautiful devil oleh para kaum adam tersebut.

"Kita perlu bicara."

Tiba- tiba Nick muncul sambil memegang pergelangan tangan Ana. Wajahnya menyiratkan rasa ingin tahu yang sangat dalam. Sesaat Viona mengerutkan keningnya melihat Ray dan Tom. Wajah mereka saat ini menampilkan ekspresi tak terbaca.

"Eh? Ada apa?" Ana bertanya bingung dengan perubahan wajah Nick.

"Kemana kau kemarin?" Tanyanya.

Ana terdiam ketika ingat kalau dia lupa mengembalikan mobil Nick yang kemarin di pinjamnya.

"Oh màaf Nick. Aku lupa. Mobilmu." Ujar Ana seraya merogoh kedalam tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci. "Aku minta maaf tapi semalam waktunya tidak memungkinkan untuk mengembalikan mobilmu. Terima kasih. Ini kuncinya."

Selang beberapa menit, Nick terdiam, mengernyitkan dahinya. "Apa kau pikir aku kesini karena mobil?"

Ana mengangguk polos.

Memang dia melupakan hal lain lagi?. Batinnya bertanya

"Kau menghajar dan mengancam orang kemarin dan pergi seakan tidak terjadi apa- apa." Imbuh Ray menjelaskan karena tidak seorangpun yang berniat untuk bersuara.

"Oh!"

Ana baru ingat kalau dia berutang penjelasan pada Nick tentang itu. Dia juga bingung apa ini sebabnya Nick menatapnya dengan tatapan aneh seperti ini.

"Oh?" Jelas sekali Nick tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Seakan- akan insiden yang saat ini sedang diperbincangkan bukanlah masalah buatnya.

"Bukan itu maksudku." Elak Ana mencari celah untuk meloloskan diri tapi saat ini posisinya berada di tengah- tengah. "Mengenai kejadian kemarin aku benar- benar hilang akal. Aku terlalu marah ketika mendengar mereka bicara yang bukan- bukan tentang Viona. Maaf." Tidak ada jalan lain selain mengatakan hal yang sebenarnya.

"Memang ada kejadian apa kemarin?" Tanya Viona bingung.

Tidak perlu menunjuk siapa yang menjawab. Dengan cepat Ray menceritakan mengenai kejadian kemarin. Semakin menggebu- gebu Ray bercerita, semakin dalam kerutan di dahi Viona sementara itu Nick tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah Ana yang meringgis tiap kali Ray menggambarkan adegan pemukulannya.

"Tidak apa- apa. Kalau kau mengkhawatirkan Peter, dia tidak apa- apa." Ujar Nick menenangkan, mengira kalau Ana mengkhawatirkan pria yang kemarin di tinjunya meskipun dia tahu kalau kemungkinan besar Peter tidak akan pergi kuliah dalam jangka waktu yang lama, begitupun dengan Claire yang menurut kabar masih syok dengan kejadian kemarin apalagi Nick baru tahu kalau dialah orang yang menyuruh preman- preman itu untuk menghajar Ana.

Nick memang tidak pernah mau mencampuri urusan para gadis tapi dia tidak bisa tinggal diam ketika gadisnya malah disakiti apalagi Ana adalah orang yang di pilihnya.

"Kau menghajar Peter karena menghinaku?" Viona melihat Ana dengan tatapan tidak percaya.

"Aku minta maaf Vi, kemarin aku benar- benar marah jadi..."

Belum sempat Ana menyelesaikan kalimatnya, tiba- tiba tubuhnya direngkuh oleh sang sahabat, membuatnya hampir jatuh jika saja Nick tidak menahan tubuhnya.

"Mestinya kau ceritakan dari tadi. Pantas saja orang- orang selalu memandang kita berdua. Apa karena ini kacamatamu pecah?" Tanyanya penuh semangat dan ingin tahu, membuat Ana terpaksa menyunggingkan senyum paksa. Viona kadang bersikap melebih- lebihkan segala sesuatu.

"Ah sial padahal sudah sejak lama aku tidak melihatmu marah. Ingin rasanya aku melihat beautiful devil beraksi kembali." Kenang Viona dalam, membuat Ana seketika melonggo tak percaya.

"Beautiful devil?" Tom bertanya bingung.

Viona mengangguk semangat.
"Ya. Waktu kami berada di Junior School dulu, Ana pernah menghajar laki- laki yang berusaha mengintip celana dalamnya dan karena laki- laki itu tidak tahu bagaimana rupa Ana jika marah. Sejujurnya aku juga tidak tapi ketika itu terjadi, benar- benar mengerikan. Ana sama sekali tidak peduli dengan sekelilingya. Itulah sebabnya Ana dipanggil beautiful devil karena selain banyak laki- laki yang menyukainya, dia juga mengerikan ketika marah." Jelas Viona yang langsung mendapat pelototan dari Ana.

"Wow. Kurasa nama itu cocok buatmu Ann, mengingat bagaimana dinginnya wajahmu ketika berbicara dengan Claire." Ucap Tom yang membuat Ana merona.

"Tidak seperti itu." Elak Ana malu.

Dan hal itu membuat Nick gemas dan dia memutuskan untuk menarik tubuh Ana di dekat tubuhnya dan merengkuh pinggangnya dengan posesif.

"Kurasa aku tidak perlu terlalu khawatir jika nanti Ada orang yang menganggumu. Kau tinggal mematahkan hidung mereka saja." Ujar Nick.

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku..."Dia baru saja akan menjelaskan semuanya ketika matanya menangkap ekpresi geli di wajah teman- teman dan pacarnya. "Great! Sekarang kalian menggodaku?"

Nick terkekeh dan langsung melayangkan bibirnya di pipi Ana. Meskipun Ana sudah sering kali di cium di pipi tapi dampak yang ditimbulkan oleh Nick membuat pikiran di dalam otak Ana seketika buyar.

"Maaf sayang. Kau kelihatan begitu polos sampai kemarin sore. Tidak Ada yang menyangka kau akan berbuat seperti yang kemarin kau lakukan."

Ana hanya bisa tersenyum masam menanggapi ucapan Nick barusan.

Akhirnya sisa waktu mereka dihabiskan dengan menonton film dan makan, sesekali Viona menarik tangan Ana agar bisa memilih dan berbelanja segala keperluan cewek dan membuat ketiga pria itu menunggu. Ana sudah melarang Viona untuk tidak datang lagi ke tempat yang kemarin dan berjanji akan mendapatkan uang yang dibutuhkan Viona.

Hanya satu yang ada di pikiran Ana agar bisa mendapatkan uang secara cepat dan itu adalah dengan kembali.

"Ada apa? Apa Ada masalah?" Nick yang sejak tadi memperhatikan Ana yang kelihatan tidak fokus selama mereka berjalan- jalan akhirnya bertanya.

Ana terdiam. Memantapkan pada pilihan yang akan dipilihnya dan semakin merasa yakin kalau ini yang terbaik untuk membantu Viona.

"Kapan kau bertanding lagi?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS