FIGHT - SEPULUH
"Apa kau yakin sayang?"
Ini ketiga kalinya ibunya- Linda menanyakan hal yang sama padanya. Setelah berpikir selama dua hari akhirnya Ana memutuskan untuk menghubungi orang tua satu- satunya itu dan menceritakan keinginannya untuk bertarung lagi.
"Ya Ma." Jawab Ana mantap.
"Apa tidak Ada cara lain? Maksud mama, kau tidak perlu melanggar janji pada almarhum ayahmu."
"Mama tahu Viona, kan? Viona terlalu baik sampai- sampai dia rela menanggung utang cowok brengsek mantan Viona itu. Kalau nanti aku melihatnya, akan kupastikan dia tidak akan bisa selamat." Ceritanya sambil menahan kesal.
Linda mendesah diseberang. "Sepertinya kau sudah sepenuhnya yakin dengan keputusanmu, sayang. Pesan mama, hati- hati dan pastikan kau tidak ikut larut dalam pertandingan ini."
"Baik Ma, aku hanya membutuhkan waktu sebulan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dan setelah itu aku akan menjalani kehidupan seperti semula."
"Baiklah tapi ingat, hati- hati terutama pada Jack. Dia mungkin bersedia membantumu tapi bukan berarti dia juga tidak membutuhkan imbalan."
"Ya. Aku akan memastikan Jack tidak akan melanggar apa yang telah disepakati."
"Baiklah. Dan bagaimana kuliahmu?"
Untuk sejenak Ana tersenyum. Meskipun mereka tidak tinggal seatap, itu tidak berarti kalau komunikasi mereka juga berpisah. Semenjak kematian Eddy, ayah Ana lebih dari setahun yang lalu. Linda membuka usaha toko kue kecil- kecilan di sisi kota dan karena letak kampus Ana yang tergolong jauh, maka Ana memutuskan untuk menyewa sebuah flat kecil, tidak jauh dari kampusnya.
"Baik. Baru minggu kemarin aku ikut ujian semester." Jawab Ana memberitahu.
"Dan bagaimana dengan pacar yang kau ceritakan itu. Hmm kalau nda salah namanya Nick, bukan?" Linda mulai membombardirnya dengan pertanyaan- pertanyaan penasaran.
"Ya. Kami juga baik- baik saja."
"Apa dia tahu siapa dirimu?"
"Tidak Ma. Tidak ada seorangpun yang tahu tentang masa laluku lagipula aku ragu kalau sepopuler itu."
Linda terkekeh. "Seharusnya kau mendengar apa yang dikatakan almarhum ayahmu tentang dirimu dan banyaknya surat yang mampir ke rumah sepertinya sudah cukup menjelaskan semuanya. Meskipun Mama sudah tahu kau mewarisi sifat siapa."
Ana memutar matanya. "Entah mengapa setiap kali aku mendengar Mama memuji diri seperti ini malah membuatku merinding."
Linda kembali tertawa. "Kau perlu belajar untuk menerima pujian sayang. Mama penasaran seperti apa wajah pria yang telah memikat hatimu. Kau dulunya cenderung tidak memperhatikan para pria itu tapi satu hal yang bisa mama mengerti, kalian mempunyai kesukaan yang sama. Bertarung."
"Tidak seperti itu kok Ma." Elak Ana tapi langsung mengerjap, menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Linda ada benarnya. Apa memang seperti itu kalau aku menyukai Nick Karena kami sama?. Batin Ana menimpali.
Selang beberapa menit, Ana mendengar pintu flatnya di ketuk dari luar dan tersenyum.
"Baiklah Ma, aku rasa Nick sudah datang."
"Baiklah, sayang. Ingat pesan Mama. Hati- hati dan semoga berhasil. Kau akan bertemu dengan Chad?"
"Ya. Chadlah yang lebih tahu tentang situasi disana setelah sekian lama."
"Baiklah. Semoga berhasil."
"Terima kasih, Ma."
"Tentu sayang."
.
.
.
Baik Ana maupun Nick membutuhkan waktu lebih dari empat puluh lima menit untuk tiba di d' Roses. Tidak. Ini bukan karena letak flat Ana yang jauh ataupun mereka terjebak macet tapi lebih kepada Nick yang selalu menghambat pergerakan Ana. Pria itu selalu saja memiliki cara untuk menggoda wanitanya agar bisa melihat rona merah di kedua pipi Ana dan cara yang paling disukainya adalah dengan mencuri ciuman baik itu di pipi maupun di bibir merah muda milik Ana.
Ana yang belum terbiasa dengan sikap langsung Nick padanya hanya bisa mengerjapkan matanya dan memajukan bibirnya karena kesal setiap kali Nick melakukan itu tapi justru membuat Nick merasa gemas.
Tom dan Ray sudah menunggu mereka di sudut meja bar. Dari percakapan yang Ana curi dengar antara Nick, Ray dan Tom, dia mengetahui kalau yang akan bertarung malam ini adalah Scorpion dan Snake. Ana tidak terlalu memusingkan mengenai hal itu, dia memiliki tujuan tersendiri untuk datang ke tempat dimana dia pernah bertarung, toh dia juga pernah sekali bertarung melawan Snake dan menurutnya pendapatnya Snake termasuk gesit dan licin seperti namanya- ular.
Sepuluh belas menit waktu pertandingan telah berlangsung dan tidak ada tanda- tanda kalau salah satu diantara mereka akan kalah ketika kedua matanya menangkap sosok yang menjadi tujuan utamanya.
"Aku perlu ke toilet." Ana setengah berteriak di telinga Nick, berusaha mengalahkan teriakan orang- orang yang saling mendukung jagoannya yang sedang berusaha saling menjatuhkan diatas arena.
Nick mengangguk sekilas seraya melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Ana lalu kembali fokus pada pertarungan.
Ana menyelip diantara kerumunan tanpa memperdulikan Nick yang kemungkinan besar tidak akan melihatnya karena fokusnya pada pertarungan ketika ia berhasil menghampiri pria yang diketahuinya lebih tua enam tahun darinya.
"Chad." Ana menyapa pria yang dulu menjadi manajernya sebelum dia berhenti ketika tertawa ketika mata itu menatapnya dengan tatapan syok dan tidak percaya.
"Anastasia? Ini benar kau?" Chad tidak menyangka dengan penampilan Ana yang sekarang. Kacamata dan entahlah... Chad tidak ingin menjelaskannya. "Apa sekarang kau sedang di rekrut oleh FBI atau semacamnya? Kenapa penampilanmu sangat tidak bisa dikatakan... normal?"
Ana tertawa. "Ini penampilanku yang sehari- hari. Terima kasih atas pujiannya."
Jawaban Ana yang terus- terang membuat kedua mata Chad membelalak.
"Bagaimana kabarmu, C?" Ana mulai menyebut nama lama Chad.
"Oh, sweetheart. Aku baik. Tentu saja. Bagaimana denganmu? Aku kaget ketika melihat nomormu muncul di layar ponselku setelah lama kau memutuskan untuk berhenti." Ucap Chad setelah memberi Ana pelukan selamat datang.
"Aku baik. Maaf karena memintamu datang tiba- tiba seperti ini."
"Tidak apa- apa. Jadi Undefeated rindu arena?" Goda Chad yang membuat Ana nyengir malu.
"Tidak C. Aku hanya perlu uang."
"Berapa banyak? Aku akan memberikannya."
"10.000 dollar."
Kembali mata Chad membelalak. "Apa kau gila?" Untung saja sekeliling mereka ribut dengan teriakan jadi ditambah dengan teriakan Chad tidak akan berarti apa- apa. "Untuk apa uang sebanyak itu? Ingat Ann, tidak seorangpun yang kuketahui yang senang mengubur uang." Ana tertawa menimpali. "Kau tidak sedang merencanakan menikah atau mungkin kau hamil dan ingin menggugurkannya, kan? Aku melihat pria yang sejak tadi merangkulmu. Apa dia pacarmu?"
"Akan kuceritakan nanti. Apa besok kau ada waktu itu? Disini terlalu beresiko jika diketahui orang lain." Ana hanya tidak ingin Nick atau siapapun menaruh curiga padanya.
"Tentu saja. Dimana kita bertemu?"
"K's on burger and meals?"
Chad mengangguk menyetujui. "Ya. Setidaknya aku tahu kalau makanan favoritmu belum berubah."
Ana tersenyum dan hendak melangkah meninggalkan Chad ketika mendengar namanya kembali dipanggil.
"Aku seperti pernah melihat pria yang menjadi pacarmu itu."
Ana mengendikkan bahunya, tampak tidak peduli.
"Oh tentu saja kau pernah melihatnya, C. Dia Nick dan dia juga petarung disini." Jawabnya dan terkekeh ketika melihat wajah Chad yang melonggo melihatnya.
***
Comments
Post a Comment