FIGHT - TIGA BELAS

"Here we go.... akhirnya... Scorpion melawan.... Undefeated!!!".

Hiruk pikuk penonton mengikuti seiring suara Rio- si pembawa acara membahana ke seluruh tempat d' Roses. Masing- masing dari mereka saling meneriakkan nama- nama petarung yang dijagokan dan semakin terdengar jelas ketika Scorpion telah berjalan menuju arena tempatnya akan melawan Undefeat, petarung sekaligus sang idola yang telah lama hilang kemudian kembali lagi.

Ana membetulkan letak hoodie dan jaket yang dipakainya,dibantu oleh Chad sambil sesekali mendengarkan penuturan Chad tentang jumlah taruhan yang akan dimenangkannya.

"Semoga berhasil." Ucap Chad memberi semangat sebelum Ana melangkahkan kakinya menuju arena.

Chad dengan jelas mengatakan padanya posisi tempat dimana Nick dan kawan- kawannya yang lain berada. Ini memungkinkannya agar wajahnya tidak bisa terlihat satupun dari mereka dan hanya bisa dilihat oleh orang yang langsung bertarung dengannya, dengan kata lain. Orang itu harus yang menjadi lawannya. Ana semakin mengacak rambutnya dan menempatkan ke depan wajahnya dan tersenyum mendapati Scorpion yang menyeringai padanya.

Sesaat Ana memejamkan matanya agar tidak terlalu terbawa suasana dan memusatkan pikirannya pada lawannya dan bukan pada yang lain.

"Ingat, hanya diperbolehkan memukul, menendang dan menjatuhkan lawan. Tidak diperbolehkan memukul daerah seputar wajah, selangkangan dan daerah sensitif lainnya." Ujar Rio memperingatkan tentang aturan dalam pertarungan ini yang dibalas oleh Scorpion dan Ana dengan anggukan sekilas. mengatakan peraturannya.

Kalimat tadi sudah sering diucapkan oleh Rio tiap kali dia berada diatas arena. Memukul... menendang... dan menjatuhkan lawan lalu tidak boleh memukul wajah... daerah selangkangan atau daerah sensitif lainnya. Ana merasa dia mungkin bisa langsung lulus dalam ujian SMPTN jika pertanyaan itu ada yang muncul. "Hitungan akan dimulai ketika salah satu dari kalian ada yang jatuh dan jika pada hitungan kelima salah satu diantara kalian tidak Ada yang terbangun atau tidak bisa berdiri lagi, maka dia akan dinyatakan kalah. Mengerti?" Ana mengangguk disusul oleh Scorpion yang sama sekali tidak tertarik mendengarkan penjelasan dari Rio dan hanya terpaku pada sosok yang menjadi lawannya.

Rio mundur dari tempatnya dengan perlahan setelah meneriakkan kata MULAI kemudian disusul suara penuh intimidasi dari bibir Scorpion.

"Jadi kaulah yang orang- orang sering bicarakan." Ucap Scorpion sementara dirinya mencari cela untuk menjatuhkan Ana dalam sekali pukulan. "Kau memang cantik."

"Terima kasih."

"Tapi itu tidak akan membuatku merasa kasihan justru itu membuatku semakin ingin mengalahkanmu." Katanya seraya melayangkan pukulan yang dengan sigap ditangkis Ana.

"Apa kau selalu secerewet ini dengan lawan- lawanmu?" Tanya pura- pura mengernyit tapi pandangannya tetap mengawasi pergerakan Scorpion.

"Kenapa?"

"Tidak ada. Hanya merasa kasihan karena mereka harus mendengar ocehan tidak jelasmu seperti ibu- ibu arisan."

"Kurang ajar!" geram Scorpion tidak terima. "Aku tidak akan segan- segan menghancurkan wajah juga tubuh cantikmu itu hanya karena kau seorang wanita."

"Senang mengetahuinya." Ana menyunggingkan senyum penuh kemenangan karena tahu apa yang menjadi kelemahan lawannya saat ini.

Scorpion mungkin merasa dirinya tangguh mengingat tubuh Ana jauh lebih kecil darinya tapi Ana bisa melihat kalau antara kaki dan tangannya tidak koordinasi dengan baik. Ana berasumsi kalau Scorpion pernah mengalami cedera parah dan sepertinya lawannya ini masih dalam proses penyembuhan.

"Sudah sejak lama aku menunggu datangnya kesempatan ini." Ujar Scorpion masih melayangkan serangannya terhadap Ana.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Entah apa yang membuatmu sangat terkenal selama ini. Dari yang aku lihat, kau sama sekali hanya melakukan pertahanan tanpa sedikitpun menyerangku." Jawabnya. "Bisa kutebak itu karena sponsor yang kay miliki. Berapa bayaranmu per malam? Aku bisa mau saja membayar untuk malam ini."

"Seharusnya kau tidak mengatakan itu," Ana memperlihatkan wajah pura- pura prihatin. "Siapapun yang menantangku tentu saja tahu bagaimana bayaranku. Tiga kali lipat dari bayaranmu, bukan? Jadi kurasa kau tidak akan mampu membayarku bahkan untuk sedetik."

"Begitukah?"

Dan Ana melihat kesempatan itu datang.

Kedua kaki Scorpion mulai menunjukkan tanda- tanda kelelahan, Scorpion juga sering memperlihatkan wajah meringgis.

"Lock... on." Cetus Ana.

Detik itu pula, Ana mulai mengambil alih posisi bertahan menjadi menyerang. Scorpion yang tidak menduga, seketika membelalak. Pukulan dan tendangan secara bersamaan menyusul dan saat itulah Ana membanting tubuh Scorpion hingga terdengar bunyi gedebuk keras disepanjang arena.

Scorpion berusaha untuk melepaskan diri tapi langsung di kunci pergerakannya oleh Ana dan detik selanjutnya tampak menyerah.

Ana beranjak dari tempatnya setelah Rio mengumumkan hasilnya menuju ruang belakang ketika mendadak tubuhnya ditarik lalu didorong hingga belakangnya bersandar ke tembok.

"Seperti biasa sayang, kau selalu tampak memukau."

"Jack." Ujar Ana dengan suara bosan. "Lepaskan bibirmu dari leherku sekarang juga"

"Atau apa sayang? Apa kau akan membantingku seperti yang kau lakukan pada Scorpion? Pria yang malang."

"Seharusnya kau tidak mengatakan itu. Kau baru saja memberiku ide agar melakukannya."

"Jangan memprovokasiku Anastasia. Kita berdua tahu apa yang akan terjadi jika aku berhenti mencarikanmu lawan- lawan yang seimbang."

"Dan kita berdua juga tahu apa yang akan terjadi padamu kalau tiba- tiba aku berhenti. Kudengar selama dua minggu terakhir ini pemasukan yang kau terima lebih banyak dari yang biasanya."

Jack tersenyum tapi kemudian melepaskan tubuhnya dari tubuh Ana.

"Itulah mengapa kau di sebut Undefeated, Tak Terkalahkan karena selain mahir diatas arena, kau juga mahir dalam bertutur kata."

"Aku akan menganggapnya sebagai pujian. Jadi apa sekarang aku boleh pergi?"

Kali ini ia tertawa. "Tentu sayang."

Ana baru saja akan melangkahkan kakinya kembali ketika mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya.

"Kudengar kau sudah punya pacar"

Jantung Ana seketika berhenti berdetak. Situasi akan menjadi lebih sulit kalau Jack mengetahuinya.

"Bukan urusanmu, Jack." Balasnya dingin.

"Hahaha melihat ekspresimu saat ini, kutebak pacarmu itu tidak tahu siapa dirimu dan oh ya aku melihat Viona, pacar Leon berada disini. Kudengar kalian satu kampus dan juga akrab, apa dia alasan kenapa kau memutuskan untuk kembali bertarung?"

Kening Ana berubah menjadi mengernyit, curiga. "Dari mana kau tahu tentang Leon?"

"Haha tenanglah, sayang. Orang- orangku juga sedang mencarinya. Kami punya sedikit masalah kecil yang perlu diselesaikan."

"Kuperingatkan Jack jangan melibatkannya atau teman- temanku yang lain. Mereka tidak Ada hubungannya dengan ini semua."

"What a lovely friend you are. tapi sayang, kau tahu bagaimana cara kerjaku. Bisnis tetaplah bisnis dan jangan berpikir kalau kau bisa berhenti dari sini, aku mungkin tidak akan segan- segan melakukan sesuatu yang tidak akan kau sukai."

"Perjanjian kita hanya selama sebulan Jack."

"Kita bisa melakukan perpanjangan."

"Sayang sekali, aku sama sekali tidak berniat melakukan perpanjangan apapun denganmu."

Jack tersenyum sinis. "Masih ada waktu untuk memikirkannya lagi, sayang."

"Aku sama sekali tidak berniat memikirkannya." Tegas Ana tapi Jack hanya tersenyum menimpali dan pergi meninggalkan Ana.

Chad muncul satu menit kemudian lalu mengernyit heran memandangi arah belakang. Tempat Jack baru saja pergi.

"Apa Jack baru saja kesini?" Tanyanya.

"Ya." Jawab Ana seraya meraih topinya dan memakainya.

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Si brengsek itu sepertinya akan membuat hidupku susah." Ana mulai memberitahu pembicaraan mereka tadi sambil berjalan keluar melewati orang- orang di pintu belakang.

"Seharusnya aku sekalian merontokkan giginya."

Chad terkekeh. "Sudahlah. Pertarungan yang bagus tadi. Apa kau lapar? Aku tahu kau lapar. Itulah sebabnya kau mudah marah."

Ana tersenyum. "Kurasa itu salah satunya."

"Baiklah. Kali ini aku akan meneraktirmu, Undefeat." Ujar Chad seraya merangkul pundak Ana.

"Aku tidak akan segan- segan memesan semuanya." Balas Ana yang dibalas oleh kekehan pelan Chad.

Sementara itu tidak jauh dari tempat mereka, dua orang sedang memberi Ana tatapan tidak percaya sekaligus membelalak tak percaya.

"Ana? Undefeat?" Ujar salah satu dari mereka, syok.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS