FIGHT - TUJUH BELAS

"Maaf."

Ana terpaksa harus menyeret Nick agar menjauh dari pandangan orang- orang yang ingin tahu mengenai hubungannya dan mengerang jengkel karena sepertinya tidak mudah baginya untuk melakukannya. Nick seakan terus mendorongnya menjauh dan disinilah mereka, setelah Ana merasa telah mendaki gunung Everest, kelelahan karena terus saja menarik tangan Nick.

Tidak ada yang bersuara. Nick bahkan hanya mengangkat sebelah alisnya seakan tidak mendengarkan apa yang baru saja dikatakan olehnya.

"Hanya itu? Baiklah."

Ana terperanggah. Dia tidak pernah menyangka kalau Nick akan sekejam itu padanya dan apa katanya tadi? Hanya itu? Baiklah? Jawaban apa itu itu?!. Ana merasa ingin menghancurkan bibir indah itu dan menciumnya habis- habisan hingga Nick memohon agar berhenti. Sial! Apa yang baru saja dipikirkannya?.

Dipejamkannya kedua matanya, mencoba untuk konsentrasi pada apa yang akan dikatakannya dan bukan pada apa yang akan dilakukannya kemudian membuka matanya, bertatapan langsung dengan mata Nick.

"Kumohon, kumohon jelaskan padaku kenapa kau tiba- tiba berubah? Maksudku kau tidak pernah sedingin ini sebelumnya." Pinta Ana memohon.

"Kau..." Nick baru saja akan menjawab ketika mendengar ponsel Ana berdering. Sekilas Ana melihat caller ID si penelpon dan mematikannya.

Ana mendesah kemudian melanjutkan apa yang dipikirnya selama ini. "Apa kau berpacaran dengan Claire?" Tanyanya merasa sakit di bagian dadanya.

"Apa?" Jujur, Nick tidak mengira akan pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Ana. Dan pacaran dengan Claire? Omong kosong apa yang sedang di mainkan oleh Ana padanya?

"Mungkin aku sudah tidak berhak ikut campur dalam kehidupan pribadimu," ucap Ana lirih. "Tapi setidaknya katakan dulu kalau kau ingin putus dariku."

"Kau cemburu?"

Ana merasa pipinya mendadak panas sementara dalam hatinya mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh Nick.

"Atau kau marah karena tidak ada lagi orang yang mengejarmu seperti dulu." Lanjut Nick membuat kening Ana seketika berkerut, tidak mengerti.

"Apa?"

Nick menghela napasnya kemudian melanjutkan. "Dengar Ana, mungkin selama ini kau berpikir aku bodoh karena telah mengejarmu tapi tahukah kau, aku sama sekali tidak menolerir kebohongan."

"Apa yang kau bicarakan?" Ana terlihat semakin bingung.

"Apa hanya aku pacarmu?"

"Apa? Tentu saja."

"Jadi bisa kau katakan siapa pria- pria itu?"

"Pria- pria apa?"

Rasanya Nick ingin menghancurkan benda bersegi empat itu yang tengah berdering ketika Ana menyadarinya dan segera mematikannya.

"Pergilah. Sepertinya kau sibuk." Ujar Nick menyerah.

"Berhenti bersikap kekanak- kanakan Nick." Sergah Ana tidak terima. Pria apa yang Nick katakan. "Bisa kau jelaskan saja apa yang barusan kau bicarakan? Pria apa?"

Nick yang tadinya bertekad untuk tidak meributkan masalah ini seketika tersulut.

"Oh, jadi sekarang aku yang kekanak- kanakan ya?"

"Bukan itu maksudku?"

Dan sebelum Ana sadar, tiba- tiba Nick menyudutkan tubuh Ana sehingga punggungnya bersandar di tembok. Ana bisa mencium bau cologne yang selama ini di rindukan dari tubuh Nick. Napasnya memburu seiring dekatnya jarak diantara mereka tapi Nick sama sekali tidak menyentuhnya dan itu membuatnya frustrasi.

"Jawab aku Anastasia, apa aku terlihat mudah untukmu sampai kau bisa mengatakan itu padaku?"

"Bukan itu maksudku?"

Nick lantas tertawa mengejek. "Tentu saja kau menganggapku mudah karena akulah yang selama ini mengejarmu jadi kau bisa berpaling ke laki- laki lain sesuka hatimu."

"Bukan itu maksudku!"

"Sudahlah. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi."

Kemudian Nick pergi meninggalkan Ana yang masih terdiam di tempat.

"Apa kau masih lama berdiri di situ atau harus kujemput?"

Ana bahkan tidak sadar kalau telah mengangkat panggilan telponnya.

"Jack." Balas Ana tanpa ekspresi setelah mengetahui siapa yang sedang berbicra diseberang.

"Kau tampak seperti baru saja di campakkan dengan wajah seperti itu."

Kedua mata Ana memicing lalu berpaling ketika matanya melihat kearah sosok yang sedang melambaikan sebelah tangannya sementara tubuhnya bersandar pada pohon tidak jauh dari tempat Ana berdiri.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya dingin.

Jack mematikan panggilannya dan ia berjalan seolah- olah sedang mengulur waktu sementara pandanganya tak pernah lepas dari wajah Ana.

"Anastasia," desah Jack sesampainya ia dihadapan Ana. Diulurkannya tangannya seraya menyentuh wajah mulus serta cantik itu dengan punggung tangannya.

"Singkirkan tanganmu dariku, Jack."

"Kenapa sayang? Kau tidak menyukainya? Ingin aku menyentuh tempat lain?" Tangan Jack mulai tergantikan dengan bibir Jack disekitar tengkuk Ana. "Hm, aku selalu menyukai aroma yang berasal dari tubuhmu, sayang. Kenapa kita tidak pergi ke suatu tempat dan melakukan sesuatu yang orang dewasa biasa lakukan?"

"Hentikan, Jack!" Bentak Ana menjauhkan wajah Jack dari tubuhnya dan menatap tajam pria itu. "Kau mungkin berpikir kau bisa melakukan apa saja padaku karena kau tahu aku tidak mungkin memukulmu disini."

"Hahah sayang, kenapa tidak? Kau juga menyukainya, bukan? Kau menyukai seseorang yang mencium lehermu."

"Aku memang menyukainya tapi itu tidak akan pernah terjadi padamu."

"Kenapa? Apa aku kurang memuaskanmu? Katakan saja, sayang. Apa yang kau inginkan?"

"Kau. Yang kuinginkan adalah kau segera menyingkir dari hadapanku."

Jack tersenyum sekilas, "apa itu karena Nick?"

Kedua mata Ana memicing. "Kau melihatnya?"

"Oh, sepertinya tidak hanya aku yang mengetahuinya, sayang tapi hampir semua orang di kampusmu mengatakan kalau pacaran dengan Nick tapi..." perlahan Jack mendekatkan wajahnya ke telinga Ana, berbisik. "Tapi sepertinya hanya aku yang tahu kalau kau adalah Undefeated," ucapnya tersenyum.

"Jangan pikir aku akan termakan ancamanmu"

"Oh, sayang. Kau terlalu menganggap semua yang kulakukan dulu itu serius."

"Oh begitukah? Dengan tidur dengan para pelacur itu? Jawab aku, Jack. Sudah berapa banyak pelacur lain yang kau tiduri selama kita menjalin hubungan."

"Oh sayang aku hanya butuh pelampiasan akan hasrat biologisku, sayang. Tidakkah kau mengerti itu? Mereka tidak menjalin hubungan yang serius denganku lagipula kau selalu menolakku setiap kali aku mengajakmu jadi ya, jalan terbaik adalah dengan mencari pelampiasan lain."

Ana tertawa sinis. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Menjemputmu. Aku ingin mengajakmu makan."

"Tidak perlu. Aku tidak lapar."

"Kalau begitu temani aku makan. Aku lapar."

"Kau tuli ya? Aku bilang aku tidak lapar dan itu berarti aku tidak berniat untuk pergi kemanapun denganmu."

Jack terkekeh seraya mencium sudut bibir Ana, membuat kedua mata Ana seketika membelalak.

"Oh ayolah, sayang." Jack lantas menarik tangan Ana agar mengikuti dan Ana tidak punya pilihan lain selain kemana Jack membawanya. Dia sudah terlalu malas untuk berdebat dengan siapapun saat ini.

Disisi lain tanpa Ana sadari, Nick melihat semuanya dengan kedua tangan yang terkepal. Dia tidak menyangka akan melihat pemandangan itu dan tadinya berniat memberi Ana kesempatan kedua tapi ternyata kesempatan itu tidak akan pernah datang.

Nick mengenal Jack sebagai pemilik D'Roses dan tidak mengira kalau Ana diam- diam memiliki hubungan yang sepertinya cukup dekat, melihat bagaimana seringnya pria itu menyunggingkan senyum pada Ana. Nick tahu kalau Jack menyadari kehadirannya. Itulah sebabnya dia memberikan senyum penuh kemenangan ketika Ana tidak melihatnya dan justru masuk kedalam mobil Jack.

"Nick," ucap Ray pelan seakan takut melihat Nick mengamuk.

"Tidak sekarang, Ray." Ucap Nick menahan marah sementara matanya tidak pernah lepas dari mobil yang baru saja melewatinya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS