FIGHT - TUJUH
"Kau gila."
"Ya. Satu- satunya yang membuatku penasaran adalah Undefeated." Ujar Nick.
"Kenapa tiba- tiba kau membicarakannya?" Tanya Tom heran.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Nick mengatakannya, 2 tahun yang lalu dia pernah mengatakannya tapi Undefeat sangat sulit ditemukan seakan- akan setelah pertandingan selesai, dia juga ikut menghilang tanpa jejak. Mereka bertiga pernah melihat pertarungan Undefeat dan seketika merasa terkesima melihat caranya yang seakan- akan dia sudah mengetahui langkah apa yang akan dilakukan lawannya.
Tidak Ada yang pernah melihat wajah asli Undefeat tapi Nick sering mendengar dari mulut orang- orang yang pernah melawan Undefeat kalau dia sangat cantik tapi disaat yang bersamaan sangat mematikan.
Tidak seorangpun yang mengetahui alasan dibalik Undefeat menghilang secara tiba- tiba. Ada yang mengatakan kalau Undefeat mengalami kecelakaan parah dan meninggal di tempat, ada juga yang mengatakan kalau dia hamil sehingga dia memutuskan untuk berhenti tapi tidak ada satupun yang tahu mengenai kebenarannya hingga kemarin malam ketika dia sudah melawan si berat Gober, samar- samar dia dan Tom mendengar kalau Undefeat ada di kota ini.
"Tidak ada. Kau tahu keinginanku yang paling dalam adalah bertanding dengannya." Jawab Nick.
"Aku ragu dia masih sama seperti dulu. Maksudku sudah setahun lebih dia tidak pernah bertanding. Mungkin dia sudah hidup tenang bersama suami dan anaknya." Tukas Ray.
"Ya. Kurasa Ray benar. Kalaupun dia kembali me kehidupan ini, kurasa dia tidak akan sehebat dulu". Tambah Tom.
Nick terlihat berpikir. "Ya. Kurasa kalian benar."
"Lupakan Undefeat. Ngomong- ngomong bagaimana hubunganmu dengan Ana?" Tanya Tom yang membuat Nick seketika menghela napas. Ray dan Tom serentak tertawa.
"Apa seburuk itu?" Tanya Ray di sela tawanya.
"Tidak seburuk yang kau pikirkan. Hanya saja terkadang Ana bersikap sulit." Jawabnya membuat Ray dan Tom sama- sama mengernyit.
"Sesulit apa?" Tom bertanya.
Nick menghela napas berat. "Ana tidak mau menerima sesuatu tanpa alasan yang jelas. Apa kau ingat liontin bintang yang kita lihat di toko dulu?"
Mereka berdua sama- sama mengangguk.
"Ya. Sulit sekali menyakinkannya untuk menerimanya dan dia selalu menentang apapun yang kukatakan."
"Pasti itu membuatmu frustrasi." Imbuh Ray. "Kalau perempuan lain, aku yakin mereka akan langsung menyerahkan dirinya padamu. Sejak awal bertemu dengannya, aku sudah menduga kalau memang ada yang salah dengan otaknya."
"Lebih tepatnya dia unik, dia berbeda."
Seketika Nick menatap tajam kedua sahabatnya terutama pada Tom yang sepertinya baru saja memuji Ana.
"Jangan macam- macam kalian berdua. Ingat, Ana milikku dan hanya milikku." Nick menekankan.
" wow easy man. Kami hanya menganggap Ana sebagai saudara." Kata Tom
"Ya. Terlebih lagi Tom menyukai teman Ana." Tambah Ray yang membuat Tom seketika gelagapan.
"Teman Ana? Maksudmu Viona?"
Tom semakin salah tingkah.
"Tapi bukannya dia sudah punya..."
"Ya. Aku tahu dia sudah punya pacar. Aku hanya menyukainya okey? jadi hentikan pikiran konyol kalian berdua."
"Wow Tom, tidak kusangka. Apa sebaiknya kita membuat mereka putus?" Tanya Nick seraya memberi Tom tatapan penuh arti.
"Aku juga tadinya berpikir seperti itu. Biasanya itu berhasil." Timpal Ray menyetujui, membuat Nick tergelak.
"Jangan macam- macam kalian berdua dan hentikan pikiran jahat kalian." Sergah Tom.
"Kurasa kau benar- benar menyukainya."
"Hentikan! Aku lapar. Aku akan mencari makanan didapurmu Nick."
Lalu Tom berlalu meninggalkan Nick dan Tom yang masih tertawa karenanya.
.
.
.
"Hai maaf. Aku tidak bisa menerima panggilan. Tinggalkan pesan setelah bunyi bip, okey?"
Ana berusaha untuk tidak melempar ponselnya ke tanah saat itu juga ketika panggilannya lagi- lagi dialihkan ke pesan suara.
"Viona Anderson, dimana kau?! Apa yang kau lakukan? Kenapa selama dua minggu ini kau tiba- tiba menghilang? Hubungi aku kalau kau mendengar ini." Setelah itu Ana menekan tombol supaya pesan suaranya tersimpan.
"Kemana anak itu?" Batin Ana jengkel.
Tapi setelah dua hari, emosi Ana semakin memuncak.Viona sama sekali belum menghubunginya. Satu- satunya yang biasa menenangkannya adalah karena Nick menghiburnya dan mengirimkan sisi positif tiap kali kejengkelan yang bercampur rasa kuatir Ana pada Viona kembali muncul tapi siang ini Nick memberitahunya kalau dia akan terlambat datang ke kampus jadi dia tidak punya pengalih perhatian untuk meredakan kejengkelannya saat ini, belum lagi Claire dan kumpulannya membuat darah Ana semakin mendidih.
Ana baru saja keluar dari perpustakaan, mengembalikan buku dan sedang berjalan melewati lapangan ketika telinganya menangkap suara berisik. Jelas sekali dia dimaksudkan untuk mendengar pembicaraan itu, mengingat suara itu sengaja dibesar- besarkan.
"Hey, sudah dengar belum? Semalam aku melihat salah satu dari teman kelas kita di tempat itu. Kudengar dia pelacur atau simpanan om- om."
"Benarkah? Wah memalukan sekali." Timpal Sandra sambil sesekali melirik Ana yang lewat.
"Kudengar pacarnya bernama Leon. Apa pacarnya tahu tentang apa yang dilakukan pacarnya itu?"
Seketika tubuh Ana membeku ketika mendengar suara yang menyebutkan nama tak asing di telinganya.
"Bukannya Leon nama pacarnya Viona?" Batinnya.
"Apa sebaiknya aku juga ikut menikmatinya? Mungkin dia tidak menargetkan harga yang mahal apalagi dia teman kelas kita." Ujar laki- laki yang diketahui Ana bernama Peter.
"Mungkin saja. Bagaimana kalau kau tanya si nerd, mungkin saja dia menjadi mucikarinya." Jawab Claire masih dengan senyum liciknya.
"Woi Nerd, apa kau tahu berapa harga Viona semalam?" Teriak Peter tanpa memperdulikan kalau orang- orang yang berada di kampus sekarang berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap kearah Ana dengan tatapan ingin tahu.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Ana bingung yang dibalas dengan tawa mengejek.
"Sudah kuduga dia akan bilang seperti itu. Dia kan sahabatnya." Claire menimpali sinis.
Tenang Anastasia. Jangan terpancing... Ingat. Kontrol Ana...jangan ikut terpancing permainan mereka.
"Aku dengar kau orang yang mengatur jadwal Viona tiap malam. Bukannya selama beberapa hari ini temanmu itu kelelahan karena harus melayani para pria hidung belang itu?"
Tepat setelah Peter mengatakan itu, detik itu pula Ana langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah setelah sebelumnya menendang perut Claire sehingga menjauh dari jangkauan Peter.
Ana bisa merasakan kalau semua orang sedang menahan napas apalagi hidung Peter mulai mengeluarkan darah segar. Peter berusaha untuk melawan tapi latihan bertahun- tahun ditambah dengan amarah yang saat ini bergolak dalam dirinya semakin membuatnya bertambah kuat, Ana bahkan tidak mengedipkan matanya ketika tinju sudah dia layangkan secara bertubi- tubi ke wajah Peter. Ana sangat yakin kalau tulang hidung pria itu telah patah.
Peter hanya bisa pasrah ketika kepalan tangan Ana sudah separuh terangkat di udara hendak merontokkan giginya. Dia tidak pernah menyangka kalau Ana yang selalu dipanggil nerd bisa sekuat ini dan tatapan mata yang diberikan padanya, seperti membuat tubuhnya menjadi koma. Claire juga sudah berhasil tumbang dalam satu kali tendangan di sisi lapangan.
"Lock... on." Ucap Ana sedingin es, membuat bulu kuduk Peter serta merta merinding.
***
Comments
Post a Comment