LOVEHATE- LIMA BELAS

Brandon PoV...

Aku berusaha untuk tidak memperlihatkan raut wajah apapun pada Harry didepanku. Bukan apa- apa, saat ini dia sedang kesal karena memikirkan keterlambatannya melihat penampilan sang gadis pujaan hatinya.

Jujur, aku tidak mengerti dan penasaran gadis seperti apa dia. Harry tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya- maksudku menceritakan seseorang hingga sedetil ini.

Aku sebenarnya ingin langsung pulang saja setelah seharian ini berada di dalam pembangunan proyek yang aku dan Harry terlibat langsung dalam pengerjaannya. Biar bagaimanapun aku meninggalkan istriku pagi- pagi sekali dan aku sudah merindukannya seharian ini.

Aku tersenyum melihat betapa ramainya kafe yang dimiliki oleh salah satu sahabatku ini. Josh memang dari dulu bercita- cita memiliki kafe sendiri lengkap dengan live musicnya. Aku ingat, Josh selalu membawa gitarnya kemanapun dia pergi ketika kuliah dulu hingga mungkin hampir disamakan dengan gelandangan jalanan.

Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam dan semakin malam tempat ini semakin ramai khususnya dari para pasangan. Untuk sesaat aku melihat Harry dengan getir. Seharusnya aku bersama Elena dan bukannya dengan si kutu kupret yang terlihat jatuh cinta dengan salah satu pelayan Josh.

Aku dan Harry sama- sama mengambil tempat duduk dibagian belakang tapi masih bisa melihat keatas panggung dengan jelas. Josh hanya memberiku pandangan singkat ketika melihat kehadiranku dan Harry dan sibuk berbicara dengan seseorang yang terlindungi beberapa barang, terlihat jelas kalau pria itu sedang memohon.

"Hai, brothers. Kalian benar datang." Josh mengambil tempat duduk didepanku dan menyapa. "Sudah pesan minuman?"

"Sudah," Harry menjawab cepat, membuatku mengernyitkan dahi. "Dimana dia?"

Oh, sudah kuduga!

"Dibelakang panggung. Sebentar lagi dia akan tampil."

"Kenapa? Apa ada masalah?" Aku mulai bertanya penasaran melihat raut wajah Josh yang khawatir.

"Tidak ada. Hanya saja tadi dia sempat marah."

"Marah? Marah kenapa?"

Untuk sesaat Josh menghembuskan napasnya. "Sebenarnya dia tidak menyukai berada didepan banyak orang dan dilihat ketika sedang tampil."

"Apa maksudmu?"

"Band yang biasanya tampil disini berhalangan tampil. Itulah sebabnya aku memaksanya dan dia tidak menyukainya."

"Maksudmu dia juga bisa bermain alat musik?" Kali ini aku melihat tatapan kagum di kedua mata Harry.

Oh, pasti Harry akan semakin tergila- gila dengan gadis itu.

"Dia bisa bermain gitar dan bernyanyi." Jawab Josh.

"Wow."

Josh tersenyum atas ekspresi yang diperlihatkan Harry saat ini. "Tidak hanya kau yang berkata seperti itu tapi hampir semua orang disini yang beranggapan seperti itu. Mereka bahkan terus saja meminta Elena untuk tampil."

Deg!

Tunggu, apa baru saja ia mengatakan Elena?

Ah, tidak mungkin!

"Tapi aku berhasil membujuknya dengan dengan harga enam kali lipat." Lanjut Josh.

"Pasti penampilannya sangat bagus hingga orang- orang disini memintanya terus." Timpal Harry.

"Kau akan terkejut dan kagum melihat penampilannya. Dia luar biasa."

Tentu saja. Aku salah dengar tadi. Sial! Aku sudah sangat merindukannya.

Aku baru saja akan mengambil ponselku diatas meja, sekedar ingin mendengar suaranya ketika mendengar petikan gitar tidak jauh dari hadapanku dan tertegun.

Dia sedang duduk diatas kursi tinggi hanya ditemani gitar dalam pangkuannya dan disorot oleh lampu hingga tampak membuatnya seperti seorang malaikat. Dia memakai salah satu dress yang kubeli sementara rambutnya ia gelung keatas, memperlihatkan lehernya yang menggoda.

In the early morning hours
Someone wait for you
Among the blossoms
and the flowers
He will find you

Someone
Saw you today
But then you ran away
Into the blue

Who's that shadow
by the water
Who has come for you
In the lilac and the roses
I will hide you

Kemudian entah bagaimana, mata kami bertemu. Dia tampak terkejut tapi tetap melanjutkan liriknya tanpa sekalipun memalingkan wajahnya dariku dan aku juga tidak ingin memalingkan wajahku darinya.

Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya dan yang membuatku terkejut, jarinya sangat mahir memetik guitar bahkan tanpa sekalipun melihat.

Somehow the story goes
You've been followed by ghosts
Out in the blue
So go

My little one
I will sing a song until i know
My little one
All the night elves
keep an eye on you

For days and moons
And days and moons i wander
The days are long but
honey the moons are longer
Stars alight up my way
When i close my eyes and pray.

(Days and moons by Elsa Kopf)

Aku begitu terkejut dan tidak sadar ketika penampilannya berakhir dan digantikan dengan suara riuh tepuk tangan membahana dari orang- orang disekitarnya.

Aku bangkit dari tempatku duduk dan melihat dirinya yang membelakangiku- sedang menaruh gitarnya ketika ia berbalik menyadari kehadiranku dan tersenyum.

"Hai, bagaimana kau..." kalimatnya berhenti seiring dengan aku yang memegang tangannya kemudian melihat alisnya yang saling bertaut. "Brandon, apa yang....?"

"Penampilanmu luar biasa, Elena aku tidak tahu kalau kau bisa bermain musik." Seru Harry didekatku bersamaan dengan Josh dibelakangnya. Aku bisa melihat kalau Josh sedang memandangiku kemudian kebawah, ke tanganku yang terjalin dengan tangan Elena.

"Terima kasih," cicit Elena pelan dan aku berani bersumpah kalau aku melihat wajahnya yang memerah karena malu. Apa- apaan dia?

Kualihkan tanganku ke pinggangnya- membuat wajahnya seketika menoleh kearahku dan aku yang balas memandangnya. Tidak tahukah dia kalau banyak yang mengejarnya? Aku hanya ingin memperlihatkan ke semua orang kalau dia milikku.

"Eh Brandon, apa yang kau lakukan?" Elena berusaha melepaskan diri dari genggaman tanganku di pinggangnya tapi itu justru membuat tubuhnya semakin merapat di tubuhku.

"Elena, apa hubunganmu dengan Brandon?"

Untuk pertama kalinya aku bersyukur, Josh lah yang lebih dulu menyadarinya dan menyeringai dihadapan Elena yang sedang memberiku pandangan bingung juga dengan kedua sahabatku.

Ya. Katakan saja sayang. Katakan kalau kau milikku.

Elena tertawa dan sikapnya cukup membuatku terkejut. "Apa kau lupa dengan ceritaku tempo hari, Josh? Brandon adalah orang yang sebenarnya di jodohkan dengan Julia." Jawabnya membuat baik diriku maupun kedua pria dihadapanku masing- masing memandangi Elena.

"Jadi," Harry mengeluarkan suara lambat dan pelan. "Brandon adalah suamimu?"

Aku sungguh merasa bersalah dengannya saat ini.

"Tidak," aku kembali terkejut dengan cara Elena yang tersenyum. "Brandon seharusnya suami Julia."

Cukup sudah!

Apa- apaan dia menjawab seperti itu?!

Aku menarik tangannya, menyeretnya keluar dari tempat Josh- tidak memperdulikan tatapan orang- orang dan membawanya masuk kedalam mobil.

"Brandon, aku mau..." ucapan Claire terhenti ketika melihatku menarik tangan Elena setibanya kami di rumah dan tersenyum. "Oh baiklah. Silahkan lanjutkan." Aku tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan Claire saat ini. Aku hanya perlu Elena saat ini. Tidak ada yang lain.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentaknya sesampainya kami didalam kamar.

"Aku yang harusnya menanyakan itu. Apa maksudmu mengatakan hal itu tadi." Balasku tidak kalah kerasnya. "Mengatakan kalau aku suami Julia."

"Hah? Memang itu yang sebenarnya kan?"

Sial! Aku tidak tahan lagi. Kuraih tangannya dan mengarahkan sebelah tanganku di tengkuknya- memaksakan lidahku kedalam mulutnya.

Aku semakin menekan tubuhnya agar tidak lepas dari jangkauanku yang dengan gigih berusaha ditolaknya.cium bibirnya dengan kasar, memaksa memasukkan lidahku ke mulutnya yang dengan gigih dia tolak.

Sialan. Keras kepala sekali!

Aku kemudian mengarahkan bibirku ke lehernya, tahu leher adalah daerah paling sensitif pada tubuh wanita ketika aku mendengarnya mendesah. Tidak menyia- nyiakan kesempatan yang ada, kuraih kembali bibirnya dan berhasil ketika lidahku bertemu dengan lidahnya.

Rasanya sangat manis dan panas. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya hingga tidak ingin berhenti. Elena harus membayar atas apa yang dikatakannya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS