LOVE MISSION - 31
"Apa?"
"Ray"
"Tidak Soph. Apa- apaan ini, Kimberly Moss? Kau menikah?"
"Ray!" Sekali lagi Sophie memperingatkan.
Siapa yang menyangka kalau Ray pada akhirnya akan melihat dimana Jayce keluar dari apartemen Kimberly ketika pria itu berniat menjemput gadisnya- setidaknya itu yang dipikirkannya dulu mengingat dua hari yang lalu ia melihat bagaimana Kimberly sama sekali tidak berkutik ketika Jayce hendak mendekatinya.
Dan apa yang barusan dikatakan Sophie? Gadisnya sudah menikah? Omong kosong!
"Ray!" Sophie terpaksa menekankan namanya karena melihat Kimberly yang tampak syok.
Tadinya Sophie hendak memarahi Kimberly karena gadis itu berani mengijinkan Jayce menginap bersamanya dan itu lebih dari dua kali, padahal dia sudah menekankan maksudnya agar keduanya untuk sementara tidak bersama. Bagaimana kalau paparazzi melihat mereka berdua? Itu akan membuat karir Kimberly akan terganggu.
Tapi siapa yang menyangka kalau Ray akan mendengar semua isi pembicaraannya dan saat ini sedang dalam posisi murka. Kimberly bahkan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun lantaran terlalu syok melihat kemarahan Ray untuk pertama kalinya.
"Jawab aku, Kimberly!" Tekan Ray menampik tangan Sophie yang hendak menahannya.
"Ray? Kau... kau menyakitiku." Ucap Kimberly merasa kesakitan karena lengannya ditekan erat- erat oleh Ray.
"Katakan kalau yang dikatakan oleh Sophie tadi tidak benar. Kau tidak, salah. Kau belum menikah kan? Kumohon katakan kalau itu tidak benar!"
"Ray?"
"Sial! Siapa pria itu? Jangan katakan si brengsek Jayce."
"Ray?"
"Sial! Apa dia sudah melakukan sesuatu padamu? Apa dia menghamilimu?"
"Ray... tidak seperti itu."
"Kalau begitu dia memaksamu? Iya kan?"
"Ray, tidak..."
"Kalau begitu bagaimana kalian bisa menikah?! Kau bahkan baru bertemu dengannya!" Lalu tiba- tiba saja Ray mengalihkan pandangannya pada Sophie. Sophie yang tidak menyangka akan mendapatkan tatapan tajam dari saudaranya itu seketika merasa bergidik. "Apa ini juga salah satu dari misi konyol yang kau berikan padanya?" Tanyanya dengan tatapan menuduh.
"Tidak!" Jawab Sophie langsung. "Mereka bahkan sudah mendaftarkan pernikahan mereka di pengadilan tanpa kuketahui."
Serta merta kedua mata Ray membelalak karena kaget menatap Kimberly. "Kau apa?"
"Eh apa?"
"Kau menikah di pengadilan?"
"I- iya."
Ray mengerang frustrasi. "Sial! Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Kimmy?!" Bentak Ray membuat Kimberly kembali terdiam. "Kau menjalin suatu hubungan karena sebuah misi konyol kemudian kau juga menikah, kuharap itu bukan bagian dari misi konyolmu itu," ujarnya seraya memberi Sophie tatapan tajam. Dia masih menyalahkan Sophie karena memberikan saran yang tidak masuk akal itu pada gadis pujaannya. "Dan coba kutebak, dia sudah menyentuhmu, kan?"
"Eh?" Kedua mata Kimberly mengerjap. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Selain dia menciummu, apa dia juga melakukan sesuatu padamu?" Ray berusaha menahan geram ketika dilihatnya wajah Kimberly merona. "Sial... sial... sial..." rutuk Ray mengacak rambutnya, benar- benar marah lalu matanya kembali menatap Kimberly. "Apa artiku bagimu?" Tanya Ray tiba- tiba.
"Eh?" Kimberly menampilkan wajah bingung.
"Apa kau tahu kalau aku mencintaimu?"
"Ray!" Hardik Sophie ketika melihat kedua mata Kimberly membelalak.
"Ray, itu..." Kimberly tidak tahu harus merespon apa. Dia cukup terkejut mendapati Ray yang memiliki perasaan padanya. Dia pikir, Ray hanya menganggapnya selayaknya keluarga sekaligus sahabat.
"Aku mencintaimu, Kimberly Moss." Akunya semakin membuat wajah Kimberly berubah pias. Dia tahu apa yang saat ini dirasakannya. Dia senang karena Ray mencintainya karena dia pun mencintainya tapi satu hal yang pasti dia tidak pernah berpikir kalau perasaan yang dimilikinya adalah perasaan mencintai seperti dia mencintai Jayce. Jayce selalu membuatnya berdebar sekaligus merasa senang pada waktu yang sama tapi pada Ray, dia hanya merasa senang karena memiliki teman untuk diajak berbagi dan cerita.
Mungkin kalau dulu, Kimberly belum mengetahui apa perasaan cinta itu tapi seiring bertambahnya waktu, ditambah kebersamaannya dengan Jayce selama ini dia sudah menyadari apa itu cinta. Tanpa sadar Jayce telah mengajarkannya arti cinta.
"Ray! Hentikan! Kau membuatnya bingung." Sergah Sophie.
Ray tersenyum sinis. "Sudah seharusnya dia bingung. Selama ini dia terlalu asyik dalam dunianya sendiri tanpa menyadari kalau jauh sebelumnya sudah ada yang menyukainya." Ujar Ray kejam, semakin membuat Kimberly terbelalak. "Aku bukan bagian dari salah satu penggemarmu, Kimberly Moss. Apa yang kurasakan padamu jauh lebih daripada yang pria brengsek itu rasakan."
"Kau sudah keterlaluan, Ray!" Bentak Sophie marah.
"Dan untukmu, Sophie. Berhentilah menjadi tameng untuknya." Tunjuknya. "Dia sudah bisa membuktikan kalau dia mampu mengambil keputusan sendiri dalam pernikahannya jadi jangan lagi mencampuri apa yang sudah menjadi keputusannya."
"Astaga Ray!" Sophie menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ada apa denganmu? Bagaimana mungkin dalam satu malam kau bisa berubah menjadi sangat kejam?!"
"Seharusnya pertanyaan itu kau tujukan pada Kimberly. Dia yang lebih tahu pengertian dari kata kejam itu!" Tuntutnya
"Astaga Ray!" Sophie baru saja akan kembali memarahi Ray ketika mendadak kalimatnya terhenti seiring pesan yang masuk kedalam ponsel Kimberly.
Dengan gemetar Kimberly merogoh tasnya dan terdiam membaca pesan yang tertulis didalamnya.
"Bagus! Jadi sekarang dia sudah menjadi prioritas." Ucap Ray sinis.
"Ray, hentikan!" Hardik Sophie. "Siapa?" Tanyanya kemudian.
"Ini Barbara. Grandmere Jayce."
"Apa yang diinginkannya?"
"Dia memintaku untuk datang menemuinya."
"Oh cool. Temui saja keluarga barumu itu. Toh, pembicaraan ini sudah selesai." Sahut Ray semakin geram.
"Ray," Kimberly menahan tangan Ray sebelum pria itu melangkah. "A- aku minta maaf."
"Sekarang hubungan kita berakhir sampai disini, Kimberly Moss. Mulai sekarang kita tidak akan bertemu."
"Ray?" Kimberly tampak terguncang dan semakin terguncang ketika dengan kasar Ray menyentak tangannya dengan kasar.
Baik Sophie maupun Kimberly tidak ada yang berbicara. Inilah yang dulu Sophie khawatirkan. Dia mengira bantuan yang dulu diharapkan dari Ray setibanya mereka dari Jepang bisa membantu Kimberly agar bisa memisahkan gadis itu dari Jayce tapi ternyata mendadak dia diberitahu kalau mereka telah mendaftarkan pernikahan mereka. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Dan sekarang, dia mulai diserang dilema yang luar biasa melihat situasi saat ini. Dia jelas tahu kalau Kimberly sama sekali tidak mempunyai maksud untuk menyakiti perasaan Ray tapi dia juga tidak bisa melimpahkan semua kesalahan pada saudaranya itu. Dia tahu bagaimana Ray sangat mencintai sang model.
"Aku akan berusaha membujuknya. Pergilah. Temui orang itu." Ucap Sophie.
"Terima kasih, Soph."
.
.
Dua puluh menit kemudian Kimberly tiba di salah satu restoran terkemuka di New York dan terdiam ketika menyadari tidak satupun diantara mereka yang tersenyum padanya, bahkan Rhea juga sedang menatapnya dengan tajam.
"Aku tidak ingin berbasa- basi, Miss Moss." Ujar Barbara terlihat tenang tapi Kimberly menyadari ada nada dingin dalam suara itu, sama dengan nada bicara Ray sebelum dia berangkat kesini.
"Kimberly. Panggil saja Kimberly." Sahut Kimberly berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak muncul.
"Aku hanya ingin memastikan. Apa benar kau sudah menikah dengan cucuku?"
"Eh?"
"Dasar wanita penggoda! Kau sengaja menjebaknya, bukan? Kau menjebaknya agar dia mau menikah denganmu." Bentak Rhea mencengkram serbetnya erat- erat.
Untung saja mereka memilih tempat yang lebih privasi. Selain karena Barbara Caldwell adalah orang yang memiliki pengaruh, Kimberly juga tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat paparazzi selalu mengintai pergerakannya.
"Rhea, kendalikan amarahmu. Tentunya kita berdua tidak ingin membuat Ms. Moss terkejut, bukan? Apa kau terkejut, sayang? Apa kau mau minum lebih dulu?"
Kimberly mengangguk. "Ya. Ku- kurasa aku membutuhkan air putih." Jawabnya.
Beberapa menit kemudian air yang dimintanya tiba dan langsung diteguk hingga tandas olehnya.
"Jadi...?"
Kimberly bisa mendengar suara dengusan dari Rhea, di depannya.
"Ya." Jawab Kimberly tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Barbara tersenyum simpul. "Seberapa besar kau mencintai Jayce?"
"Apa?"
"Apa kau mencintainya?"
"Ya."
"Seberapa besar?"
"Aku sangat mencintainya."
"Apa kau rela melakukan apapun untuknya?"
"Ya."
Lagi- lagi Barbara tersenyum. "Kalau begitu, apa kau rela melepaskannya?"
***
Aelah si ray nyebelin nenek2 nyebelin si rhea2 juga nyebelin...cepat hush sana hei kalian bertiga org nyebelin 😤
ReplyDelete