LOVE MISSION - BONUS
"Bagaimana keadaan Kimmy?"
Untuk sesaat Jayce mendongak dari sisa dokumen yang harus ditanda tanganinya kearah London lalu mengendikkan bahunya sembari menatap curiga sahabatnya itu.
"Kau sepertinya jauh lebih perhatian pada istriku dengan semua pertanyaanmu itu." Ucapnya membuat London seketika tertawa.
"Terlalu posesif bisa membuatmu terluka," ucapnya membalas. "Lagipula aku yakin masih banyak pria diluar sana- tidak hanya aku- yang juga ingin mengetahui keadaan wanita yang kau sebut istrimu."
Jayce mendesah sembari berdiri dari tempatnya duduk dan mengambil sebotol red wine dari lemari penyimpanan di kantornya dan dua buah gelas- salah satunya ia serahkan pada London lalu menuangkannya.
"Kau benar."
"Apa dia masih menjalani pemotretannya?"
"Ya."
"Dan kau menyetujui di usia kehamilannya saat ini?" London memberinya tatapan takjub pada Jayce didepannya.
"Tidak ada yang bisa kulakukan," ujarnya. "Kimberly sangat menyukai pekerjaannya dan aku tidak tega jika harus melarangnya melakukan sesuatu yang ia sukai."
"Wow. Kau benar- benar jatuh cinta padanya, sobat."
"Kau benar," Jayce menyetujui.
"Dan bagaimana dengan bukumu yang dulu ia temukan?"
"Oh, itu. Aku membakarnya."
"Membakarnya?"
"Ya. Sebenarnya diawal aku menikahinya, dia sudah mengembalikan buku itu padaku dan tanpa pikir panjang, aku langsung membakarnya."
Sekali lagi, hal itu membuat London tertawa. "Jadi sebenarnya misi cinta yang ia lakukan dulu itu sudah berakhir tapi yang kau lakukan adalah mengubahnya menjadi sebuah ikatan pernikahan? Oh, koreksi kalau aku salah tapi kau memang kacau sobat dan kau memang selalu kacau jika bersamanya." Ledeknya bercanda.
"Kurasa dia sudah menarik perhatianku ketika dia menabrakku dulu."
Mendadak London tersedak. Sembari mengusap tumpahan winenya diatas celananya, ia berkata. "Tunggu, dia apa? Menabrakmu? Kapan?"
"Oh kejadiannya sudah sangat lama."
"Aku yakin kau belum menceritakan hal yang itu padaku."
Gantian Jayce yang kini tertawa.
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang terjadi." Ujarnya seraya mengingat bagaimana ekspresi wajah Kimberly kala itu. Matanya yang tampak polos dan ketidakpeduliannya setelah ia mengucapkan maaf masih teringat jelas dalam benak Jayce saat ini.
"Sepertinya bukan tidak terjadi apa- apa dalam definis yang kuketahui." Sindir London semakin membuat Jayce tertawa. "Kapan itu terjadi?"
"Kau ini seperti ibu- ibu tukang gosip. Apa sekarang kau memiliki kerja sambilan agar bisa menjual cerita cintaku?"
"Tanpa kau yang mengatakannya pun, aku sudah berniat menjualnya ke media dengan harga tinggi." Balasnya. "Jadi kapan tepatnya kau- maksudku Kimberly..."
"Waktu Sue menyatakan cintanya padaku."
"Hah?" London sukses melonggo. "Bukankah waktu itu kau..."
"Bersikap brengsek? Aku tahu."
"Dan kau justru malah menyuruhnya memakan sup yang membuatnya alergi?"
"Aku tahu tapi waktu itu aku belum terlalu merasakannya.
"Karena Rhea?"
Jayce mengangguk. "Ya. Kupikir aku masih memiliki perasaan pada Rhea."
"Ah, kutebak kau pertama kali memiliki perasaan cemburu ketika kita menjenguknya di rumah sakit, iya kan?"
Jayce menggeleng, membuat London mengurutkan keningnya. "Aku mulai merasakan perasaan tidak suka ketika ia mengatakan akan menginap bersama pria itu."
"Ray?"
"Tanpa menyebutkan namanya pun, kau tahu siapa yang aku maksud." Sahutnya jengkel, kembali membuat London terkekeh.
"Maaf Jayce, hanya ingin memastikan."
Jayce mencibir. "Oh dan ngomong- ngomong, bagaimana dengan permintaanku waktu itu? Apa kau sudah mendapatkan informasi dari orang yang kau mintai mencari tahu?" Tanyanya
Tanpa Jayce duga mendadak wajah London berubah, seraya menatap tajam Jayce, ia mulai bertanya. "Apa tepatnya yang Kimberly ceritakan padamu tentang panti sosial itu?"
Sembari mengendikkan bahunya, Jayce menjawab. "Dia mengatakan kalau dia tidak menyukai tempat itu karena banyak yang tidak menyukainya. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan karena tidak ada yang bisa mengurusnya maka pemerintah setempat mencarikan tempat tinggal untuknya dan salah satunya panti sosial tempat grandmere selama dua tahun ini melakukan amal. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang lain?"
"Ya. Memang apa yang terjadi?"
"Pernahkah kau berpikir alasan kenapa Kimberly tidak pernah bisa tersenyum hingga akhirnya memintamu melakukan misi denganmu?"
"Aku bukan penggemar dirinya dulu. Kaulah yang lebih banyak tahu dulu."
"Ya. Kau benar." Balasnya tersenyum. "Tapi awalnya kupikir itu adalah cara dia agar bisa mendapatkan sponsor dan penggemar. Kau tentu tahu bagaimana industri dalam bidangnya bisa mengeruk keuntungan. Ciptakan kesan yang berbeda agar bisa dilirik dengan sedikit tambahan misterius didalamnya dan boom! Kau akan disenangi lagipula Kimberly memang sangat cantik, terlepas dia tersenyum atau tidak tersenyum."
"Okey, kau bisa melewatkan kecantikan dimiliki oleh istriku. Dan?"
"Pria posesif ini benar- benar sudah mulai tidak masuk akal," gumamnya tapi masih bisa terdengar.
"Dan?" Desak Jayce sekali lagi.
"Baiklah... baiklah, Mr. Posesif," sejenak London menarik napas dalam lalu menghembuskannya. "Apa yang akan kau lakukan jika Kimberly dulunya mengetahui tentang pencucian uang yang dilakukan oleh para pengurus utama dari panti sosial itu dan agar bisa membuat Kimberly tutup mulut, mereka berusaha untuk memperkosa Kimberly sebelum Sophia Rios datang dan membawa pergi Kimberly dari tempat itu?"
Prang...
.
.
"Aku benci jika kau harus pergi lagi, Ray." Ucap Kimberly manja pada Ray dihadapannya.
Ray memang sengaja datang mengunjunginya karena merindukan wanita yang sedang hamil saat ini. Tak terasa kehamilan Kimberly sudah memasuki bulan keenam tapi meskipun begitu aura kecantikan masih terpancar dalam diri Kimberly dan semakin terpancar setiap harinya. Itu pulalah yang membuat Martin, fotografernya mati- matian membujuk dirinya agar mengabadikan moment kebahagian Kimberly saat ini.
"Kalau begitu ikutlah denganku dan tinggalkan pria itu."
"Siapa yang kau sebut pria itu, heh?" Mendadak Jayce muncul dari arah belakang Kimberly dan mendekap tubuh miliknya ke samping.
"Apa yang kau lakukan disini, Caldwell?" Ujar Ray setelah memutar matanya jengah.
"Menjemput istriku, tentu saja. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau sudah berada dipesawat yang akan membawamu kembali ke Yunani?"
"Terima kasih atas perhatianmu tapi pesawatku akan take off sekitar... dua puluh menit lagi jadi aku masih memiliki waktu." Balasnya seraya memegang sebelah tangan Kimberly dan meremasnya pelan. Semua itu tidak luput dari pengamatan Jayce, membuat Jayce terpaksa harus menghembuskan napas.
"Aku akan membiarkanmu kali ini karena ini hari terakhirmu di sini."
"Oh, jangan senang dulu. Apa Kimmy belum memberitahumu?"
Jayce berbalik agar bisa melihat Kimberly disampingnya lalu kembali berpaling. "Memberitahu apa?"
"Aku akan kembali lagi setelah dua bulan." Jawab Ray.
"Apa? Bukankah kau sudah memutuskan untuk tinggal disana?" Jayce tidak menyangka akan mendengar berita semacam ini.
"Udara Yunani sudah tidak cocok denganku lagipula Caldwell, aku tidak pernah mengatakan akan tinggal selamanya disana. Aku berada disana karena tugas kedokteranku dan sebentar lagi akan berakhir."
"Aku tidak masalah jika kau selamanya tinggal disana."
"Dan meninggalkan Kimberly seorang diri. Kurasa ti..."
"Ada aku yang bisa menjaganya." Potong Jayce marah.
Ray tersenyum. "Akan berbeda dengan kehadiran keluarga, iyakan Kim?"
"Kau tidak berniat membuatnya menjadi mudah, iya kan?"
"Aku ingin..."
"Oh ayolah kalian berdua," mendadak Sophie berinisiatif menghentikan perselisihan diantara kedua pria yang saat ini saling berhadapan. "Hormon- hormon kalian benar- benar tidak bisa diselamatkan lagi." Sergahnya jengkel tapi justru membuat Kimberly terkikik.
"Baiklah Ray, sebaiknya kau masuk." Ujar Kimberly seraya melepaskan genggaman tangan Ray dari tangannya.
"Kau mengusirku?" Ray pura- pura kaget dan sakit hati.
"Jangan berlebihan. Kau tahu bukan itu yang aku maksud."
"Tapi tetap saja kau mengusirku. Pada akhirnya aku tahu siapa yang lebih kau cintai."
Kimberly tertawa. "Kau berlebihan, Ray." Sahutnya tapi baik Ray maupun Jayce sama- sama terdiam. Untuk satu hal yang mereka berdua setujui, mendengar Kimberly tertawa adalah hal yang paling menyenangkan bagi mereka.
"Baiklah. Aku akan pergi." Ucap Ray mengalah.
Sesaat Kimberly memalingkan wajahnya pada Jayce dan Jayce menangkap kalau itu sinyal agar dirinya mau memperbolehkan Kimberly. Setelah saling mengucap salam perpisahan dan saling memeluk, Kimberly kembali berada disamping Jayce. Baru ketika Ray akan masuk ke pintu keberangkatan, Jayce memanggil namanya.
Baik Sophie maupun Kimberly tidak mengetahui apa yang menjadi pembicaraan mereka berdua. Mereka berdua memilih bicara empat mata, tapi apapun yang dikatakan oleh Jayce seakan membuat kening Ray mengernyit kemudian diikuti dengan anggukan kepala dari keduanya.
"Lakukan yang menurutmu terbaik, aku akan mempercayakan masalah ini di tanganmu. Seperti katamu tadi, kau adalah seorang Caldwell dan pengaruhmu cukup besar di negara ini."
Jayce tersenyum. "Terima kasih. Kutebak kita memiliki pemikiran yang sama dalam hal ini, iya kan?"
"Aku mungkin akan menyesalinya nanti."
"Aku juga. Sekarang pun aku sudah menyesalinya."
Ray dan Jayce kemudian sama- sama terkekeh. "Sampai ketemu lagi, Jayce."
"Ya. Begitupun denganmu, Ray."
Lalu keduanya berpisah. Jayce kembali berjalan kearah Kimberly dan Sophie yang menatapnya dengan terheran- heran.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Kimberly ingin tahu.
Jayce tersenyum seraya mengecup puncak kepala Kimberly.
"Hanya menurunkan beberapa senjata." Jawab Jayce kalem.
"Hah?"
"Ayo kita pulang," meskipun agak bingung dengan pernyataan Jayce barusan tapi Kimberly hanya mengangguk. Disisi lain, Sophie tersenyum. Dia bisa sedikit menebak apa yang para pria itu katakan karena ada beberapa kali kedua pria itu melihat kearah Kimberly.
"Kita akan berpisah dari sini, Kim, Jayce. Aku bawa mobil." Ucap Sophie.
"Baiklah sampai nanti, Soph." Balas Kimberly seraya memeluk wanita yang menjadi manager sekaligus keluarganya itu.
"Ya. Jaga Kimberly baik- baik, Jayce."
"Ya. Terima kasih karena menyelamatkannya."
Sophie menganggukkan kepalanya mengerti akan kalimat yang diucapkan oleh Jayce barusan. Sophie pergi lebih dahulu meninggalkan Kimberly dan Jayce di parkiran bandara ketika mendadak Jayce meraih tangan Kimberly dan menarik tubuhnya.
"Apa kau berusaha membuatku kehilangan kontrol tadi?" Tanyanya seraya mendekap tubuh Kimberly, yang serta merta membuat Kimberly mengalungkan kedua lengannya di sekeliling leher Jayce tapi tidak menekan perutnya yang sudah tampak membesar.
"Uh huh? Kau melihatnya?" Kimberly mengedipkan sebelah matanya, menggoda.
"Aku tidak mungkin tidak menyadarinya jika kau melihatku seperti ingin menelanjangiku saat itu juga."
Tiba- tiba saja kedua mata Kimberly mengerjap kaget lalu berubah menjadi pipinya yang memerah.
"Aku hanya ingin menciummu tadi," ucapnya pelan. Merasa malu karena Jayce mengira maksudnya lain.
Jayce terkekeh. "Aku tahu. Aku juga ingin menciummu tadi. Kau sangat cantik terlebih ketika tertawa tadi."
"Benarkah?"
Jayce mengangguk. Tersenyum. "Ya. Jadi apakah sekarang aku bisa mendapatkan ciuman dari malaikat yang diturunkan Tuhan untukku?"
Kembali Kimberly tertawa. "Aku mencintaimu, Jayce."
"Aku juga mencintaimu, Kimberly Moss." Dan masing- masing bibir mereka bertemu, menumpahkan hasrat satu sama lain yang berujung semakin dalam.
"Aku ingin kita kembali ke rumah dan melanjutkan kegiatan kita." Jayce mendesah penuh hasrat tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Kimberly.
"Ya."
.
.
"Aku tahu ini mungkin agak terlambat bagiku mengetahuinya."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Ini mengenai Kimberly."
"Kimberly?"
"Aku baru tahu apa yang dialaminya."
"Oh. Dan? Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mengusut tuntas kejadian yang dulu dialami Kimberly."
"Tidak akan mudah. Mereka memiliki pengacara yang handal dan apa kau pikir aku dan Sophie tidak melakukan hal yang sama seperti yang akan kau lakukan?"
Jayce mengangguk. "Aku tahu. Untuk itulah, selain aku ingin berterima kasih karena telah mengeluarkannya dari tempat itu, aku juga ingin kau mengetahui hal ini. Biar bagaimanapun Kimberly telah menganggapmu sebagai saudaramya."
Hening.
"Apa rencanamu?"
"Seperti kataku tadi, mengusut tuntas masalah ini dan menghentikan aliran dana di tempat itu."
"Itu tidak akan mudah."
"Tapi juga tidak sulit. Kau mengatakan kalau mereka memiliki pengacara, begitupun denganku bahkan mungkin yang kumiliki jauh lebih daripada yang mereka miliki."
"Sialan! Aku lupa kau adalah seorang Caldwell."
"Kurasa itulah keuntungan memiliki kekayaan."
"Aku tidak tahu selain kau posesif, kau juga sangat sombong."
Jayce tertawa. "Kurasa jika itu menyangkut masalah wanitaku, aku berhak untuk menyombongkan diri."
"Ya. Ya. Ya terserahlah. Dan apa yang akan kau lakukan pada Kimberly? Jangan terlalu melibatkan dirinya. Itu akan membuatnya trauma lagi dan bisa saja dia akan menjadi santapan yang empuk para paparazzi diluar sana."
"Hal itu sudah kupikirkan baik- baik."
"Lakukan yang menurutmu terbaik, aku akan mempercayakan masalah ini di tanganmu. Seperti kataku tadi, kau adalah seorang Caldwell dan pengaruhmu cukup besar di negara ini."
"Terima kasih. Kutebak kita memiliki pemikiran yang sama dalam hal ini, iya kan?"
"Aku mungkin akan menyesalinya nanti."
"Aku juga. Sekarang pun aku sudah menyesalinya."
"Sampai ketemu lagi, Jayce."
"Ya. Begitupun denganmu, Ray."
.
Sept 21, 2016
Feb
Aku bahkan membaca ulang ceritanya mbak feb lagi :D, rental girlfriendnya masih akan dilanjutin nggak mbak feb?
ReplyDeleteTentu. RG masih ada di draft, setelah BTY kelar, baru dia muncul.
DeleteEh, aku tersanjung ternyata ada juga yang mau baca setelah berpindah tempat. Terima kasih 😘
Mbak feb seharusnya tahu aku nge fans banget sama cerita2nya mbk feb :D, dan waktu itu kaget banget waktu mau baca ulang eh mbk feb ude hapus semuanya di watty T,T ... Untungnya yang di library entah kenapa masih bisa dibaca :)
ReplyDeleteIya semangat mbk feb :D, aku dan mungkin masih banyak lagi akan setia menunggu :D
Wow! Aku beruntung banget karena masih ada yang masih setia mendukung sampe kayak gini.
DeleteMakasih sayang 😙😙😙