LOVEHATE- DELAPAN BELAS
Aku yang pertama kali membuka kedua mataku dan langsung berhadapan dengan wajah Brandon yang tertidur pulas. Wajahnya tampak tenang dan luar biasa tampan. Aku mungkin tidak akan pernah bosan melihatnya dengan jarak yang sedekat ini. Meskipun aku masih merasakan perasaan bersalah pada Julia yang bahkan belum kuketahui keberadaannya hingga saat ini tapi aku juga tidak dapat menampik kalau perasaanku terhadap Brandon semakin besar.
Kutelusuri lekuk wajahnya dengan sebelah tanganku sementara pandangannya mengikuti seluruh jari- jariku. Aku tahu aku akan gila jika terlalu lama melihat wajah itu terutama bibirnya tapi tetap tidak ingin melepaskan darinya.
Aku kemudian beralih menyentuh rambutnya. Rambutnya lembut dan wangi. Ini konyol dan kekonyolanku semakin menjadi- jadi jika aku tetap meneruskan pengamatan diam- diamku.
Aku terdiam, masih dengan memandangi wajahnya dan dalam hati bersyukur. Tidak sekalipun Brandon pernah melepaskan pelukannya dariku semenjak kejadian malam itu- malam dimana aku berhubungan dengannya untuk pertama kali.
Aku tidak pernah menyesali apa yang telah kulakukan sekalipun itu menyakitkan karena aku tahu inilah yang aku inginkan. Aku bahkan tidak tahu apa jadinya jika Brandon memutuskan untuk tidak menyentuhku lagi sementara kami berdua memiliki kebutuhan yang perlu disalurkan.
Kuangkat kembali sebelah tanganku. Ingin menyentuh bibir itu lagi. Sudah lama aku tidak merasakannya dan sudah sangat merindukannya. Kenapa dia harus menjadi milik Julia dan bukannya diriku? Aku segera menghentikan kegiatanku setelah melihat pergerakan darinya tapi terlambat ketika mataku langsung berhadapan dengan mata biru miliknya.
Sial!
Kami saling berpandangan selama beberapa detik ketika merasakan benda kenyal itu di bibirku. Aku merindukannya dan refleks aku membuka kedua bibirku, membiarkan lidahnya masuk.
Aku terhanyut dalam ciuman yang Brandon berikan dan semakin menekan kepalanya ketika ia mulai menjelajahi bagian leherku. Aku melenguh, mendesah ketika merasakan sentuhannya dibalik piyama yang kukenakan hingga tanpa sadar semuanya telah terlepas dan aku tidak mengenakan apa- apa lagi.
Brandon telah berada diatasku dan menatapku dengan mata yang penuh kabut karena gairah dan menahan napas ketika melihatnya ikut melempar celana piyama yang dikenakannya. Ereksinya sangat terasa di bagian luar intiku dan mendamba ingin merasakannya.
"Bolehkah?" Suara Brandon terdengar sangat serak dan penuh gairah di telingaku, membuatku tertawa.
"Setelah kesulitan yang kita berdua lakukan, kau baru meminta persetujuanku?" Aku tertawa geli mendengarnya dan ikut membuatnya tertawa.
"Ya. Kurasa masuk akal."
Sisa pagi itu kami lakukan dengan melakukan hingga beberapa kali. Aku mungkin tidak akan bosan jika melakukannya dengan Brandon begitupun dengan dirinya. Kami berdua selalu mencapai kepuasan bersama- sama.
"Ucapan selamat pagi yang panas." Komentarnya membuatku meronah sementara jari- jarinya berkeliaran di sekitar punggungku yang telanjang. Kami masih berkeringat karena aktivitas pagi kami dan tersenyum ketika masing- masing dari kami bertemu pandang.
Kami baru keluar dari kamar ketika matahari sudah tinggi. Kalau bukan karena rasa lapar yang sangat, mungkin aktivitas di kamar mandi tadi akan berlangsung lebih lama dari yang biasanya.
Aku sedang membuatkan scrambled eggs dan beberapa omelet dengan Brandon yang sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya dibelakangku sambil sesekali menggodaku dengan ciuman yang dilayangkan di sekitar leher dan bahuku yang terbuka.
"Kita perlu makan, Brandon." Omelku karena tidak tahan dengan ciumannya yang bertubi- tubi di tubuhku. "Dan aku perlu pergi ke perpustakaan hari ini." Lanjutku.
"Aku akan membantumu. Referensi seperti apa yang kau butuhkan?" Tanyanya dengan nada menggoda.
Aku tertawa seraya memutar kedua bola mataku. "Lucu sekali. Yang jelas, yang aku tahu bukan referensi seperti yang kita lakukan tadi."
Dia memberiku pandangan sakit hati, yang main- main. "Aku tidak merujuk pada referensi yang seperti itu," kilahnya yang seketika membuatku berbalik dan memberinya kernyitan di dahi, curiga. "Tapi aku tidak keberatan jika kau juga menginginkannya." Lanjutnya membuatku tertawa seraya mendekatkan bibirku ke dekat telinganya dan berbisik.
"Aku juga menginginkannya, Brandon." Bisikku lalu kembali menegakkan tubuhku agar bisa kembali menatap wajahnya. "Tapi aku benar- benar sibuk hari ini." Kelakarku dan tanpa kuduga, Brandon langsung meraih wajahku dan melumat bibirku hingga aku tersenggal- senggal kehabisan napas.
"Itu hukuman karena telah menggodaku."
Aku baru saja akan protes ketika kembali ia melumat bibirku kali ini dengan sangat lembut, membuatku kehilangan pegangan dan ikut membalas ciumannya.
"Oh Tuhan, ke kamar saja kalian berdua!" Mendadak Claire muncul dari balik pintu dan menatap tajam kami berdua
"Diam saja Claire." Sungut Brandon jengkel seraya pelukannya dariku tapi sempat mengecup singkat bibirku.
Kuambil napasku dan kuhembuskan dengan sangat pelan lalu berbalik melanjutkan masakku yang sempat tertunda akibat Brandon.
"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Brandon setelah mengambil tempat duduk didekat Claire.
Aku menduga kalau Brandon sedang mencoba menetralkan ketegangan yang terjadi antara aku dan Claire. Aku juga tidak mungkin bisa menyalahkannya. Dari sudut mataku, aku melihat Claire mengangkat bahunya dengan malas seraya tangannya terjulur untuk mengambil sebuah apel diatas meja bersamaan dengan aku yang meletakkan hasil masakanku ke piring dan berjalan untuk memberikannya pada Brandon.
"Terima kasih sayang." Ucapnya seraya menyentuh tanganku dan mengecupnya, membuatku tersenyum malu- malu.
"Tidak ada yang menarik. Mendapatkan tugas dari dosen, mengerjakan kemudian tugas di kumpulkan. Selesai." Jawab Claire dengan mata sehabis melotot karena perlakuan Brandon barusan.
"Apa kau masih berhubungan dengan Luke?" Tanya Brandon kembali beralih pada adiknya.
Aku terpaksa menengadah. Luke? Apa nama pria itu? Kenapa rasanya nama itu tidak asing?
"Masih." Jawab Claire.
"Aku tidak mau kau macam- macam dengannya di rumah ini Claire. Sudah cukup aku melihatmu berciuman di dalam mobil dan kafe." Brandon mulai mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kentara.
"Ouch, look who's talking." Balas Claire sambil menatapku sinis tapi menyamarkannya menjadi semacam menggoda kakaknya itu. "Setahuku kau bahkan lebih parah dariku dalam urusan mencium wanita- wanita itu atau.... berhubungan."
"Claire!" Hardik Brandon tajam seraya langsung melihatku. Aku segera menampakkan wajahku yang normal dan cuek padanya meskipun terasa sangat sakit. Aku tahu aku bukanlah yang pertama untuk Brandon, seharusnya aku sudah mengingatkan hal itu pada diriku sendiri.
"Aku akan kembali ke kamar dan berganti pakaian." Aku berkata berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Aku akan menyusulmu." Balas Brandon membuatku terpaksa mengangguk.
Claire memberikan senyum sinisnya padaku sebelum Brandon kembali mengalihkam perhatiannya pada Claire. Aku tidak ingin mendengar apa pembicaraan mereka jadi cepat- cepat kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat itu. Berusaha untuk tidak menunjukkan apa yang sedang kurasakan dan langsung menutup pintu setibanya di kamar tidur.
***
Comments
Post a Comment