LOVEHATE- DELAPAN

Elena PoV...

Dasar pria diktator!

Tukang perintah!

Egois!

Aku merutuk benar- benar marah atas sikapnya yang tidak tahu diri. Apa sih masalahnya dengan pakaianku? Toh aku juga tidak pernah menyusahkan atau memaksanya memakai pakaianku.

Seumur- umur aku kuliah, aku tidak pernah ditatap sedemikian rupa karena dress kuning selutut yang kukenakan dan ini semua karena si brengsek Brandon mengganti hampir seluruh pakaianku dan membuangnya entah kemana.

Andai saja aku punya uang berlebih dengan senang hati aku akan membeli pakaian baru tapi akhir- akhir ini pengeluaranku meningkat dan tidak mungkin juga aku harus meminta uang pada Bibi Samantha atau pada Brandon.

Ugh! Memikirkan nama Brandon saja sudah membuatku kembali naik pitam.

Kudorong pintu kafe Josh dan mendapati tatapan tertegun darinya.

"E..Elena?"

Ya. Ya. Ya. Aku tahu arti tatapan itu. Seharian ini aku mengalaminya. Terima kasih Brandon! Ucapku marah dalam hati.

"Hai Josh." Aku memilih sekedar menyapa Josh yang sepertinya tidak ingin menyapa lebih dulu lalu berjalan menuju tempat kasir setelah sebelumnya menyimpan tas dan bukuku diatas meja dibelakang kasir.

Josh mengikuti masih tetap melihatku. "Ini benar kau Elena?" Tanyanya terperangah.

Kuputar mataku. Tentu saja!

"Berhenti menatapku seperti itu Josh." Aku mulai merasa jengah mendapat tatapan darinya.

"Kau terlihat, well berbeda."

Kuputar kedua mataku, benar- benar merasa jengkel dengan semua orang. Demi Tuhan! Ini hanya sebuah baju yang ya, okelah bukan yang biasa kukenakan.

"Ini semua akibat perbuatan Brandon." Kataku seraya memakai celemek khusus pengawai kafe milik Josh. Aku bukan pengawai sah di kafe ini, aku hanya orang yang sekedar ingin membantu Josh, lagipula aku bosan jika kembali ke rumah Brandon sementara pemiliknya sedang tidak berada di rumah apalagi jika harus berhadapan dengan Claire. Brandon pasti akan marah besar jika suatu saat aku memutuskan untuk menyiram Claire dengan air panas.

"Brandon? Suamimu itu?"

Aku berjengit, masih merasa tidak nyaman dengan status yang kusandang itu dan ya, dari sekian banyak orang yang bisa kuberi tahu. Hanya Joshlah yang Kupilih untuk menceritakan rahasiaku.

Josh sangat dewasa dalam menyikapi sesuatu dan dia jugalah yang melihat diriku yang sebenarnya ketika berada pada titik yang paling dasar atau nol. Kalau ada minus nol maka aku berada pada titik itu.

"Memang berapa banyak nama Brandon yang kau kenal?" Ucapku semakin jengkel.

Dia memperlihatkan wajah sedang berpikir kemudian menjawab. "Tidak banyak. Ada Brandonese, Antonio Brandons bahkan yang baru- baru ini pasangan selebritis bernama Brandogelina."

Mulutku menganga lebar mendengar jawabannya yang tidak lucu sama sekali dan secara refleks aku melemparkan sebuah kain bekas lap meja ke wajahnya tapi bukan Josh namanya jika tidak bisa menghindar dariku. Seperti kataku tadi, Josh pernah melihatku di titik paling dasar dan sudah pasti dia juga mengenal seperti apa diriku. Aku memberinya tatapan tajam, membuatku semakin jengkel karena dia terus saja tertawa- sama sekali tidak mengubris perasaan hatiku yang semakin gondok.

"Aku hanya bercanda," ucapnya setelah ia berhasil meredakan tawanya tapi aku tahu dia tidak sungguh dengan ucapannya. "Tidak perlu cemberut seperti itu. Jadi kenapa ini semua karena Brandon?" Tanyanya kemudian.

"Aku tidak tahu," kuhela napasku, lelah. "Tiba- tiba saja ketika aku ingin memakai pakaian, pakaianku raib dan menemukan pakaian seperti ini." Tunjukku kearah pakaian yang saat ini kukenakan.

"Jadi ini bukan satu- satunya?" Entah mengapa, aku merasa kalau saat ini Josh melihatku dengan tatapan takjub. "Dia orang yang tidak setengah- tengah ya?"

Sialan!

Apa yang dikatakan oleh Josh itu benar. Berhari- hari bersamanya membuatku merasa dia orang yang tidak suka ditentang, tukang perintah dan egois.

"Tapi kau terlihat cantik mengenakan pakaian itu." Ujar Josh yang langsung kuberi tatapan mendelik.

"Yang benar saja Josh!" Dengusku tak percaya. "Apa kau tidak menyadarinya? Aku memang sudah cantik dari awal dan ini semua tidak ada hubungannya dengan pakaian yang kukenakan." Sergahku tidak terima.

Josh terkekeh. "Aku jadi ingin mengenalnya."

Hah?

"Untuk apa?" Aku menatap Josh curiga.

Dia mengendikkan bahunya. "Well, tidak mudah memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Tadinya kupikir kau lebih memilih keluar hanya dengan bra dan celana dalam dibandingkan harus mengenakan pakaian yang kau tidak suka."

Kali ini aku tidak bisa menahan diri lagi dan memukul kepalanya dengan keras, membuatnya mengaduh kesakitan.

"Apa kau pikir aku senekat itu?" Tanyaku tersinggung.

"Kau memang orangnya nekat."

Aku baru saja akan menghajarnya lagi ketika pintu depan terbuka.

"Hai Harry."

Aku menoleh kearah Josh kemudian Harry yang sedang menatapku dengan intens. Apa lagi masalahnya?

"Hai Josh. Apa kabar?" Tanya Harry setelah mengalihkan tatapannya dariku. Mereka berdua berpelukan dengan hangat.

"Elena kenalkan ini Harry. Harry ini...."

"Elena" potong Harry cepat seraya menarik sebelah tanganku untuk bersalaman.

Josh memandangku dan Harry bergantian.

"Aku kemarin kesini dan Elena lah yang melayaniku." Jelas Harry pada Josh.

"Oh," Josh mengangguk. "Kau sendiri?"

"Ya. Kau tahulah dia sangat workhalic apalagi setelah pernikahannya."

"Pernikahan?"

Okey, ini bukanlah urusanku jadi aku meminta izin untuk pergi ke dapur melanjutkan apa yang sedang diperbuat Josh sebelum kedatanganku. Aku masih sempat mendengar suara Josh yang bertanya kaget pada Harry sebelum pintu menutup dibelakangku.

"Aku tidak menyangka kalau dia akan menikah karena....".

Aku mendesah melihat hasil rancangan Josh di dapur. Rupanya dia masih berniat melanjutkan usahanya membuat waffle. Sisa- sisa tepung dan tumpahan saus menyebar kemana- mana, membuat dapur ini terlihat seperti baru saja dihantam badai berskala richter.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS