LOVEHATE- DUA BELAS
Aku baru saja selesai menandatangani beberapa berkas ketika mendadak telingaku menangkap suara ribut dari luar disusul suara pintu yang dibuka paksa. Keningku seketika mengernyit kentara ketika memperhatikan wajah Claire yang menahan marah.
"Kenapa kau membekukan kartuku, Brandon?" Sergahnya.
Selama lima menit penuh aku tidak mengindahkan kehadirannya dan justru kembali berkutat dengan berkas dihadapanku ketika kembali mendongak. Harus kuakui Claire memiliki pertahanan yang kuat jika menyangkut apa yang diinginkannya.
"Jadi akhirnya kau datang menemuiku setelah semalaman kau tidak mengangkat telpon dan membalas pesanku?" Aku mengutarakannya dengan nada pelan tanpa melepaskan pandanganku darinya.
"Aku tidak perlu minta ijin darimu jika ingin menginap di luar."
Kuangkat kedua alisku dan menatapnya dengan tajam. "Jaga bicaramu young lady. Apa kau lupa siapa yang membayar tagihanmu setiap bulan?" Tanyaku dingin. "Aku tidak mau tahu, malam ini kau harus kembali ke rumah."
"Tapi Brandon..."
"Apa aku tadi bilang kalau aku tidak mau tahu? Setuju atau tidak setuju. Suka atau tidak suka. Kau harus kembali ke rumah." Potongku tidak ingin dibantah.
Aku bisa memaklumi sikap Claire yang memang terkadang sangat manja dan kekanak- kanakan, aku menyayangi Claire tapi itu tidak berarti aku akan menolerir segala tingkah lakunya apalagi dia sampai tidak memberitahukan keberadaannya semalaman.
"Apa kau mengerti?"
Tidak ada jawaban.
"Apa kau mengerti Claire Wilona?" Kembali aku mengeluarkan suara tajam padanya.
"Aku mengerti." Dia menjawab lirih.
"Mengerti apa?" Sentakku semakin membuatnya mengkeret. Sebenarnya aku kasihan melihatnya yang tampak tidak nyaman dengan tatapan intimidasi yang kuberikan. Biar bagaimanapun Claire sangat jarang dimarahi oleh siapapun.
"Mengerti kalau aku akan pulang malam ini." Kali ini Claire tidak ingin melihatku dan justru memandangi lantai.
"Bagus." Kuhela napasku lalu kembali memandangi berkas diatas meja ketika menyadari Claire yang masih menatapku.
"Aku akan mengaktifkan kembali kartumu. Pergilah." Putusku tidak ingin memperlihatkan perasaan bersalah di wajahku.
"Kenapa kau selalu membelanya?"
Kutautkan alisku, merasa bingung dengan maksud ucapannya. "Membela siapa?"
"Tentu saja perempuan itu." Kembali Claire meninggikan suaranya tapi tidak seperti ketika pertama kali ia datang.
"Dia punya nama Claire." Entah ada masalah apa antara dirinya dan gadis itu.
"Aku tahu dan aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu kenapa kau selalu membelanya."
Kupandangi Claire, menghembuskan napas lelah. Kuputuskan untuk meninggalkan berkas yang tergeletak didepanku dan beranjak untuk menghampirinya. Setibanya aku didepannya, kusentuh kedua pundaknya dengan tanganku dan menatapnya dengan sayang. Claire bukan tipe orang yang akan mudah membenci orang lain hanya saja adikku itu memang sangat keras kepala.
"Kau sudah tidak mencintaiku." Ucapnya membalas tatapan mataku padanya, membuatku mau tidak mau tersenyum.
"Apa kau cemburu?" Aku bertanya menggodanya.
Claire mencibir yang membuatku kembali tertawa. Adikku satu ini terkadang sangat menyebalkan dan menggemaskan dalam satu waktu mirip dengan Elena dan kemudian sesuatu mendadak terlintas dalam benakku mengenai kemiripan diantara mereka.
Apa itu penyebab kenapa mereka tidak bisa akur? Karena Claire cemburu?
Masih dengan senyum yang tersungging di bibirku, kupandangi Claire tepat ke matanya dan berujar. "Dengar Claire, aku masih mencintaimu dan menyayangimu. Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah atau tergantikan meskipun terkadang kau sangat menjengkelkan tapi aku tetap menyayangimu."
Hening sejenak ketika aku melihat wajahnya yang tersipu malu. Tuhan! Adikku ini ternyata masih sangat polos. Aku tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Apaan sih." Ujarnya malu- malu.
"Tapi kau juga harus tahu kalau apa yang kau lakukan kemarin itu tidak benar." Kataku lagi.
"Dia yang lebih dulu memulai Brandon."
"Dia masih berstatus istriku Claire."
Claire terdiam, berusaha mencerna apa yang kukatakan ketika ia ekspresi keras kepalanya kembali muncul. "Aku tetap tidak akan meminta maaf padanya." Sergahnya.
Aku mendesah dan tersenyum maklum. Setidaknya aku menduga kalau Claire sudah mengerti arti dari kalimatku. "Aku tidak akan memaksamu untuk meminta maaf padanya. Itu hakmu. Jika kau merasa kalau kau berbuat salah, kau harus meminta maaf tapi jika kau merasa apa yang kau lakukan itu benar, aku juga tidak akan meminta lebih padamu."
Hening sejenak.
"Aku tetap tidak akan meminta maaf." Kukuhnya keras kepala.
Aku tersenyum. Claire memang sangat memegang teguh gengsinya.
"Tidak masalah." Aku berusaha untuk terlihat tidak mempermasalahkannya. Biarkan Claire memutuskan apa yang terbaik atau tidak baik untuknya. Itu akan membuatnya banyak belajar.
Claire mendesah tampak lega. "Baiklah Brandon, aku akan pergi dulu dan pastikan kau mengaktifkan kembali kartuku."
Aku mengangguk hingga dia menghilang dari balik pintu keluar. Sepeninggal dirinya, segera kupijit pelipisku yang terasa sakit karena memikirkan hubungan yang terjadi diantara Claire dan Elena. Ini seperti ada perang tak kasat mata yang terjadi didepan hidungku dan aku diharuskan untuk mendukung salah satunya. Elena mungkin tidak mempermasalahkan jika aku memihak Claire tapi apakah aku akan baik- baik saja? Sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua?
Aku baru saja memikirkan kumungkinan- kemungkinan yang bisa kulakukan termasuk berniat mengunci mereka berdua di dalam gudang sempit hingga kemudian terlintas dalam pikiranku jika itu kulakukan, apakah pada akhirnya bukannya mereka baikan tapi malah saling membunuh?
"Maaf sir. Mr. Josh Moretz ingin menemui anda." Tiara, sekertarisku mendadak muncul memberitahukan kedatangan salah satu sahabatku.
Josh?
"Suruh dia masuk." Tiara mengangguk pelan kemudian disusul Josh yang melangkah masuk ke ruanganku.
"Hai Bro." Aku tersenyum mendengar sapaannya yang kelewat antusias dan berpelukan hangat. "Apa kabar?" Tanyanya setelah saling melepaskan diri.
"Baik. Bagaimana denganmu?" Balasku seraya menggiringnya duduk di atas sofa sementara aku berjalan menuju lemari tempat beberapa botol minumanku berada. "Gin? Vodka?" Tawarku. Dia mengangguk dan aku mengeluarkan Vodka dari tempatnya kemudian beralih untuk mengambil dua buah gelas dan membawanya ke meja dihadapan Josh.
"Tidak baik," dia menjawab sementara tatapannya menatapku dengan tidak suka. "Kau bahkan tidak memberi tahuku kalau kau sudah menikah."
Aku terkekeh. Tidak perlu berpikir panjang siapa yang memberitahunya. "Kutebak kalian bergosip di belakangku."
Josh ikut tertawa. "Hanya sedikit." Membuat kami saling menertawakan. "Jadi apa kau ingin membicarakannya?" Tanyanya setelah jeda yang panjang darinya.
"Membicarakan apa?" Aku bertanya bingung.
"Pernikahanmu."
Untuk sesaat, kuangkat kedua bahuku. "Well, tidak ada yang menarik. Jadi yang kudengar dari Harry kalau dia tertarik dengan salah satu pengawaimu?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Pengawaiku?" Alisnya bertaut. "Maksudmu Lena?"
"Oh jadi itukah namanya?"
"Dia bukan pengawaiku tapi dia orang yang sangat special di hatiku."
Kupandangi Josh lebih seksama. Apa sekarang mereka terlibat cinta segitiga? Menyukai wanita yang sama? Well, kalau begitu aku tidak akan ikut campur.
"Bagaimana kalau kau datang sabtu ini. Ada live music di kafeku. Aku juga sudah mengundang Harry dan kita bisa membicarakan tentang masa lalu, bagaimana?" Tawarnya kemudian.
"Ide bagus." Kuanggukkan kepalaku menyetujui idenya. Harry juga pernah mengatakan hal yang sama padaku lagipula sudah lama aku tidak mengobrol dengan mereka berdua.
"Bagus. Aku pergi dulu." Josh berdiri dari tempat duduknya membuatku kembali mengernyit. Tidak biasanya dia bersikap sangat terburu- buru jika bertemu denganku.
"Tapi kau belum meminum minumanmu."
"Trims tapi aku tidak ingin bertemu Lena dengan mulut bau alkohol."
Oh! Itu bukanlah jawaban yang kuharapkan untuk kudengar dan kurasa aku harus bersiap- siap berada diantara mereka jika terjadi pertempuran di antara mereka. Memikirkan hal itu membuatku teringat akan perselisihan tak kasat mata antara Elena dan Claire.
Kenapa aku selalu harus berada diantara kedua belah pihak?
***
Comments
Post a Comment